
...Jangan lupa ramaikan part ini ya guys. Bom like dan komentarnya juga jangan lupa ya....
...Terima kasih yang sudah mampir!...
...Happy reading...
****
Keesokan harinya Fathan benar-benar membuktikan ucapannya untuk menikahi Tri. Saat ini Fathan, Tri, dan Cika sudah berada di dalam mobil menuju desa kedua orang tua Tri.
Tri tampak gelisah duduk di kursi penumpang sebelah Fathan. Apakah ini keputusan yang tepat untuknya? Tri menggigit kuku jarinya, ia takut mama dan papa Fathan akan murka jika mengetahui anaknya telah menikah secara diam-diam dengannya apalagi kedua orang tua Tiara yang terkenal egois.
Fathan melirik ke arah Tri, ia tahu kekasihnya sedang gelisah tetapi keputusannya sudah bulat, Fathan akan menikahi Tri walau tanpa sepengetahuan keluarganya. Masalah pasti akan datang di rumah tangganya nanti dan Fathan akan menjalaninya dengan baik jika ada Tri bersamanya.
"Kita berapa hari di rumah bapak, Mas?" tanya Tri dengan gelisah.
"Kalau bapak izinin kita akan menginap selama tiga hari, Hanum. Saya tidak bisa meninggalkan rumah sakit berlama-lama," jawab Fathan dengan tersenyum.
"T-tiga hari Mas? T-tidak kelamaan ya?" tanya Tri dengan gugup.
"Kenapa? Kamu seperti tidak suka saya menginap di rumah kedua orang tua kamu, Hanum?" ucap Fathan dengan datar.
"B-bukan begitu, Mas. Rumah bapak dan ibu sempit, banyak suara kodok dan jangkrik setiap malam. S-saya takut Mas Fathan dan Cika merasa tidak nyaman," ucap Tri dengan terbata mencoba menjelaskan salah satu kegelisahannya.
"Wah ada suara kodok sama jangkrik ya, Ma? Cika jadi tidak sabar dengerin suaranya," ucap Cika dengan berbinar pasalnya dia tidak pernah mendengar suara hewan tersebut di rumahnya.
Fathan terkekeh, ia menatap Tri dengan geli. "Saya juga tidak sabar," bisik Fathan di telinga Tri.
"T-tidak sabar ingin mendengar suara kodok dan jangrik?!" ucap Tri dengan cengo. Bisa-bisanya anak dan ayah tersebut merasa tidak sabar ingin mendengar suara hewan yang selalu menganggu tidurnya setiap malam itu jika berada di rumah kedua orang tuanya. Aneh! Pikir Tri di dalam hatinya.
"Bukan!" jawab Fathan dengan tersenyum misterius.
"Jadi?" tanya Tri dengan bingung.
"Bercinta denganmu di kamarmu," bisik Fathan yang mampu membuat Tri merinding. Tri jadi membayangkan mereka bercinta di kamarnya, suara erangannya tidak bisa terkontrol dan pastinya kedua orang tuanya akan mendengar suaranya belum lagi bunyi decitan ranjangnya nanti. Ini gawat! Tri tidak ingin merasa malu di hadapan kedua orang tuanya.
"Ada Cika di sini, Mas!" cicit Tri dengan gelisah.
Fathan mengulum senyumnya dengan manis. "Jangan gelisah dan tegang seperti itu. Setelah kita menikah sesuatu itu pasti menjadi kebutuhan biologis kita. Tidak peduli di mana pun melakukannya asal denganmu saya merasa bahagia, seperti sangat seru jika bisa melakukan itu di kamarmu," ucap Fathan dengan terkekeh.
Jangan ditanya Cika, gadis kecil itu hanya merasa bingung dengan apa yang papa dan mamanya bicarakan tetapi Cika tak ambil pusing karena dirinya sudah sangat tidak sabar sampai di rumah mamanya yang di dalam pikirannya itu sangat mengasyikkan sekali.
****
__ADS_1
Setelah 4 jam perjalanan menggunakan mobil akhirnya Fathan, Tri, dan Cika sampai di rumah kedua orang Tri yang memang sangat sederhana. Rumah kecil tersebut hanya terbuat dari kayu namun tampak sejuk di lihat karena banyaknya bunga yang tumbuh di sana. Sepertinya ibu dari Tri sangat menyukai bunga terlihat dari banyaknya tanaman hias di sana.
"Pak mobil siapa yang berhenti di rumah kita?" tanya sebuah suara yang sangat Tri kenali.
"Bapak juga tidak tahu, Bu!"
Tiba-tiba saya matanya berkaca-kaca karena dirinya sudah lama tidak pulang menemui kedua orang tuanya. Tri ingin segera memeluk mereka.
"Ayo turun. Itu bapak dan ibu sudah ada di depan, mereka sangat penasaran siapa yang datang," ucap Fathan dengan tersenyum.
Tri menangguk dengan tersenyum. Ia membuka pintu mobil dengan perlahan dan membuat kedua orang tuanya terus menatap siapa yang keluar dari mobil tersebut dengan membawa anak.
"Tri, Ya Allah ini kamu Ndok?" tanya ibu Tri bernama Harni itu dengan berkaca-kaca.
"Iya, Bu. Ini Tri," jawab Tri dengan tersenyum dan memeluk kedua orang tuanya dengan erat.
"Kamu pulang sama siapa, Ndok?" tanya Bapak Tri bernama Bagus tersebut dengan haru. Setelah gagal menikah Tri pergi dari rumah untuk bekerja dan tidak pernah pulang walaupun kedua orang tuanya merindukannya karena wanita itu merasa malu.
Tetangga Tri berbisik-bisik saat mobil mewah berada di depan rumah orang tua Tri. "Mungkin itu majikan Tri. Mana mungkin Tri memiliki kekasih, lelaki yang ingin menikah dengannya saja membatalkan pernikahan mereka. Sayang banget anaknya pak Bagus jadi perawan tua," bisik tetangga Tri.
"Iya, benar. Mana mungkin ada yang mau menikah dengannya, lihat Tri sama sekali tidak menarik apalagi pekerjaannya hanya sebagai pembantu," sahut tetangga Tri dengan sinis.
Tri yang mendengar gunjingan tetangganya untuk dirinya hanya bisa tersenyum tipis.
"Ini...."
"Saya kekasih Hanum, Pak. Kedatangan saya ke sini untuk melamar Hanum," ucap Fathan dengan tegas membuat tetangga yang sudah julid tadi menjadi syok tidak menyangka.
"Pasti gagal lagi seperti sebelumnya," bisik mereka dengan sinis. Mana mungkin Tri menikah dengan orang kaya dan sangat tampan tersebut, Tri sudah tiga kali gagal menikah dan pasti yang ke empat kalinya juga gagal.
"M-mau melamar anak saya?" tanya pak Bagus dengan terbata.
"Sebaiknya kita masuk dulu. Kita bicarakan saja di dalam, kasihan juga anak kecil ini sudah tidur," ucap Pak Bagus dengan ramah.
"Mari masuk, Nak!" ucap Bu Harni dengan tersenyum.
"Baik, Bu!"
Fathan ikut masuk ke rumah kedua orang tua Tri. Ia sangat miris melihat isi rumah Tri yang terlihat usang, sofa yang sudah bolong, genteng yang sudah bocor dan lantai yang sudah tidak bagus lagi.
"Maaf ya Nak rumah kami seperti ini," ucap Pak Bangus merasa tidak enak dengan Fathan.
"Tidak apa-apa, Pak," ucap Fathan dengan tersenyum.
__ADS_1
"Silahkan duduk, Nak!" ucap bu Harni dengan ramah.
Fathan menangguk dengan Cika yang berada di dalam gendongannya yang sudah tertidur sejak tadi.
"Mas sini Cika aku bawa ke kamar," ucap Tri dengan lembut yang membuat Fathan tersenyum dan memberikan Cika kepada Tri.
"Cika ini anak saya Pak, Bu!" ucap Fathan yang melihat kebingungan dari kedua wajah calon mertuanya.
"Anak?" tanya Pak Bagus.
"Iya, Pak. Saya sudah menduda selama 5 tahun karena istri saya meninggal sewaktu melahirkan anak saya. Sebelumnya Cika tidak pernah bisa dekat dengan orang asing tetapi dengan Hanum ia langsung sangat akrab seperti ibu dan anak kandung yang membuat saya tersentuh," jelas Fathan yang membuat kedua orang tua Tri lega. Mereka pikir Fathan adalah pria beristri yang akan menjadikan Tri istri simpanan.
"Alhamdulillah saya pikir Nak..."
"Nama saya Fathan, Pak!"
"Oo iya Bapak pikir Nak Fathan ingin menjadikan anak Bapak istri simpanan. Maaf Bapak sudah berpikir buruk dengan Nak Fathan," ucap Pak Bagus tak enak hati.
Fathan tersenyum merasa wajar dengan pemikiran calon mertuanya. " Mungkin ini terkesan mendadak untuk Bapak dan Ibu, kedatangan saya ke sini untuk melamar sekaligus menikahi Hanum. Apakah Bapak dan Ibu merestui kami?" tanya Fathan dengan tegas.
Fathan tersenyum saat Tri membawakan minum untuknya dan kedua orang tua Tri serta untuk Tri sendiri.
"Kami setuju-setuja saja jika Nak Fathan memang serius dengan Tri. Mengingat masa lalu menyakitkan membuat kami merasa kasihan dengan Tri yang sudah tiga kali gagal melangsungkan pernikahan sampai-sampai tetangga kami selalu menghina Tri," ucap Pak Bagus dengan sendu.
"Alhamdulillah jika Bapak menerima lamaran saya. Insya Allah saya bukan lelaki seperti itu, Pak. Jika begitu apakah bisa pernikahan kami terlaksana malam ini atau besok?" tanya Fathan dengan hati-hati.
Tri menundukkan wajahnya tidak berani menatap ekspresi wajah kedua orang tuanya. Pulang-pulang Tri langsung dinikahi oleh majikannya sendiri. Apa kata orang tuanya?
"Kenapa mendadak sekali? Keluarga Nak Fathan tidak datang?" tanya Bu Harni dengan syok merasa ada yang tidak beres.
Fathan menghela napasnya dengan perlahan sebelum menjelaskan apa yang terjadi kepada calon mertuanya walau tidak semuanya. "Keluarga saya memang tidak mengetahui keinginan saya untuk menikahi Hanum. Tetapi saya sangat mencintai anak Bapak dan Ibu, ada permasalahan keluarga yang tidak bisa saya jelaskan kepada Bapak dan Ibu tetapi saya janji akan selalu membuat anak Bapak dan Ibu bahagia," ucap Fathan dengan tegas.
Pak Bagus dan bu Harni menatap ke arah Tri yang terlihat diam. "Ndok...."
"Tri mencintai mas Fathan, Pak, Bu! Tri tahu banyak konsekuensi yang akan Tri terima karena menikah tanpa restu kedua orang tua mas Fathan. Tetapi Tri ke sini meminta dan memohon agar bapak dan ibu merestui kami," ucap Tri dengan lirih.
"Apa kamu yakin, Ndok?" tanya Pak Bagus dengan baik-baik.
"Yakin, Pak!" jawab Tri dengan mantap. Keputusannya semoga menjadi jembatan untuk membuat orang tua Fathan merestuinya nanti.
Pak Bagus menghela napasnya dengan perlahan. "Jika Tri bahagia kami akan merestui pernikahan kalian. Nanti Bapak dan Ibu akan panggil kepala desa untuk mengurus semuanya. Mungkin besok kalian akan menikah setelah berkas-berkas pernikahan kalian selesai," ucap Pak Bagus pada akhirnya.
"Terima kasih, Pak!" ucap Fathan dengan bahagia akhirnya sebentar lagi hanya menunggu hitungan jam Tri akan menjadi istrinya dan dia bebas menyentuh Tri kapan saja.
__ADS_1