Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 41 (Dia Siapa?)


__ADS_3

...Jangan lupa like, vote, dan komen ya!...


...Happy reading...


*****


Dokter Barra mengangguk. "Dari awal sudah ku katakan jika kamu boleh menjenguknya. Tetapi kamu yang menolak," ujar Dokter Barra dengan dingin.


"Tidak usah mengungkit masa lalu. Aku memanggilmu hanya untuk meminta kamu mengirimkan video dia!" ujar Tiara dengan tajam.


"Baiklah aku...."


"Video dia? Dia siapa?"


"Dokter Zidan!"


Zidan menatap keduanya dengan penuh selidik. "Dokter Barra, tolong jelaskan video dia? Video dia siapa yang anda maksud dengan dokter Tiara?" tanya Zidan dengan tajam.


Dokter Barra menatap Tiara. "Bukan siapa-siapa, Dok. Kami hanya membahas video yang di kirim dokter Fathan tentang kinerja dokter profesional," ujar Dokter Barra dengan tenang walau sebenarnya hatinya sudah berdetak takut ketahuan.


"Nanti kita bahas lagi Dok. Saya permisi!" ucap Tiara dengan cepat.


Dokter Barra mengangguk paham karena sedikit banyaknya ia mengerti bagaimana kehidupan Tiara di Paris seorang diri tanpa keluarga.


Zidan memegang pergelangan tangan Tiara dengan kuat, ia menatap Tiara dengan tajam. Instingnya mengatakan jika Tiara dan Barra sedang menyembunyikan sesuatu darinya. "Jelaskan!" ucap Zidan dengan tegas.


"Apa yang harus dijelaskan, Dok? Dokter Barra sudah mengatakannya dengan jelas," ucap Tiara dengan tegas mencoba tersenyum kepada Zidan tetapi senyuman iyu terlihat aneh di mata Zidan. Senyuman itu bukan senyuman tulus untuknya, kenapa sangat menyakitkan sekali mengetahui fakta itu?


Tiara melepaskan tangan Zidan dengan paksa lalu ia melenggang pergi dari hadapan kedua dokter yang saling menatap dengan tajam.


Setelah kepergian Tiara, Zidan menatap Barra dengan penuh selidik. "Ada hubungan apa dokter dengan Tiara?" tanya Zidan dengan hati yang memanas karena cemburu.


"Tidak ada. Hanya sebatas rekan kerja saja. Kenapa anda terlihat seperti cemburu dokter Zidan?" tanya dokter Barra menaikkan satu alisnya.

__ADS_1


Zidan tampak geram, sepertinya ia tidak akan mendapatkan informasi apapun dari rekan kerjanya ini. Tanpa menjawab apapun Zidan pergi meninggalkan dokter Barra yang terlihat menggelengkan kepalanya.


"Seandainya aja dulu anda tidak meninggalkan Tiara mungkin Tiara tidak akan menjadi seperti ini!"


*****


Fathan terlihat sangat posesif sekali dengan Tri. Sejak mengetahui sang istri hamil sikap Fathan terlihat over protektif, apalagi Fathan adalah dokter kandungan yang akan terus menjaga asupan istri dan kedua anaknya dengan sangat ketat.


"Aku pulang naik Taxi saja ya, Mas!" ujar Tiara meminta izin.


"Enggak! Tunggu Mas sebentar. Mas periksa pasien Mas sebentar. Hanya lima orang karena sudah janji setelahnya pasien Mas akan ditangani oleh dokter yang lain," ujar Fathan dengan tegas.


"Aku gak enak sama pasien Mas pasti mereka sudah menunggu untuk diperiksa sama Mas Fathan," ujar Tri menghela beratnya.


"Mas dokter profesional masa karena mengantarkan aku pulang Mas tinggalin pasien Mas sih," ujar Tri dengan lembut.


Fathan menghela napasnya dengan perlahan, ia menatap Tri dengan dalam dan memegang pundak sang istri dengan lembut. "Kamu lebih penting dari apapun. Tunggu Mas sebentar!" ucap Fathan dengan tegas.


"Duduk di sini dulu, Hanum! Mas mau periksa pasien! Jangan kemana-mana oke! Biar kamu gak bosan mainkan ponsel Mas saja!" ucap Fathan dengan lembut.


"Bawa saja! Mas gak perlu, kamu boleh pesan apa saja lewat ponsel Mas. Mas keluar dulu, Sayang!" ujar Fathan mengusap rambut Tri dengan lembut dan beralih pada perut Tri.


"Papa kerja dulu, Sayang!" ujar Fathan dengan tersenyum.


Pipi Tri memanas karena ucapan lembut Fathan saat mengusap perutnya. Tak lupa Fathan meninggalkan kecupan di keningnya istrinya sebelum berlalu keluar meninggalkan Tri sendirian.


"Papa kamu manis banget, Nak!" gumam Tri mengusap perutnya. Kebahagiaannya membuncah setelah dirinya mengetahui jika sedang hamil anak kembar. Kedua orang tuanya harus tahu itu, mereka akan pulang kampung sekalian mengecek pembangunan rumah kedua orang tuanya yang masih berjalan.


Tri memainkan ponsel suaminya. Ia masuk ke aplikasi belanja online dan mengetik baju bayi, Tri menjadi gemas sendiri melihat baju bayi kembar. Ia masukkan ke keranjang sebelum memesan, ketika nanti sudah waktunya Tri akan memesan baju-baju itu, selain baju Tri juga memasukkan pesanan sepatu ke dalam keranjang belanja online baik pakaian lelaki atau pun perempuan karena Tri belum mengetahui jenis kelamin anak-anaknya.


"Mama jadi gak sabar beli ini semua untuk kalian. Kira-kira kalian lelaki atau perempuan?" gumam Tri dengan pelan. "Kalau lelaki kalian harus bisa menjaga kak Cika dengan baik. Jika kalian perempuan harus rukun dengan kak Cika ya, walaupun kak Cika bukan terlahir dari rahim mama tetapi kasih sayang mama sama," gumam Tri mengusap perutnya yang masih datar.


****

__ADS_1


Barra membukakan pintu mobilnya untuk Tiara setelah wanita itu ingin ikut dengannya. Dengan ragu dan keputusan yang sudah bulat Tiara masuk ke dalam mobil Barra dengan perasaan yang tidak menentu.


Barra sedikit berlari mengitari mobilnya sendiri. Setelah itu ia masuk dan mengendarai mobilnya dengan tenang.


"Tidak perlu gugup seperti itu. Dia pasti senang bertemu denganmu," gumam Barra dengan tersenyum.


Tiara menghela napasnya dengan kasar. Jujur saja Tiara sangat gugup sekali, ini sudah 4 tahun berlalu dan Tiara akan menatap wajah seseorang yang amat sangat ia rindukan walaupun sering ia tutupi kenyataan itu.


"Aku boleh tanya?" tanya Barra dengan pelan.


"Apa?" tanya Tiara dengan singkat.


"Kamu tidak akan mengambil dia secepat itu dari kami, kan?" tanya Barra dengan raut wajah sedihnya.


Tiara menatap Barra dengan sorot mata yang penuh akan luka. "Kalian lebih cocok mengurusnya dari pada aku!" ucap Tiara dengan serak setelah itu ia memalingkan wajahnya ke jendela enggan menatap Barra karena Tiara tidak ingin terlihat lemah di depan Barra.


"Tiara!" panggil Barra dengan pelan. Barra memberanikan diri untuk menggenggam tangan Tiara. "Aku gak bermaksud seperti itu," gumam Barra lembut.


"Tidak apa-apa!" jawab Tiara dengan singkat.


Sedangkan Zidan yang masih berada di rumah sakit melihat Tiara memasuki mobil Barra menjadi uring-uringan sendiri. Kapan mereka dekat? Kenapa Zidan melewatkan moment penting seperti ini.


"Argghhh Fathan!" teriak Zidan dengan keras memasuki ruangan Fathan.


"Bisa ketuk pintu dulu tidak?" tanya Fathan dengan tajam.


"Tidak bisa! Gara-gara lo pergi dan pekerjaan lo diahlikan ke gue, gue gagal mengikuti Tiara bersama Barra! Kapan mereka bisa sedekat itu, hah? Kenapa gue melewatkan kedekatan mereka? Rasanya gue ingin membakar wajah Barra yang sok perhatian dengan Tiara!" ujar Zidan dengan frustasi.


"Barra sudah punya istri gak mungkin suka sama Tiara!" ujar Fathan dengan santai.


"Gak mungkin? Tiara cantik apa yang tidak mungkin? Bisa saja Barra mengkhianati istrinya. Jika sampai benar Tiara punya hubungan dengan Barra, lo yang gue salahin!" ujar Zidan dengan tajam.


Orang yang di marah oleh Zidan hanya terkekeh geli. Seorang Zidan emang sangat bucin dari dulu kepada Tiara namun sayang takdir mereka tak seindah bayangan mereka.

__ADS_1


"Sialan!"


__ADS_2