
...Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Hari ini Delisha sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Tentu saja Ikbal tak absen untuk mengantarkan gadis cantik dengan postur tubuh pendek itu untuk pulang ke rumahnya. Delisha sangat berharap jika Zayyen akan mengantarkan dirinya pulang juga. Namun, setelah berkunjung kemarin dan menemani dirinya tidur Zayyen sama sekali tidak terlihat lagi bahkan pesan yang Delisha kirim sama sekali tidak dibaca oleh Zayyen.
Kesedihan Delisha sedikit tertutupi dengan adanya Kimmy yang bersama dengan Ikbal, dengan rasa bahagia Delisha terus menggendong Kimmy dan menciumi wajah Kimmy dengan gemas, kucing yang masih berusia 5 bulan itu tampak sangat nyaman dengan pemilik dirinya yang baru. Kimmy tahu jika Delisha adalah gadis pencinta kucing.
"Pi, Mi, saya boleh bawa Delisha pergi sebentar?" tanya Ikbal saat mereka sudah berada di parkiran.
Ikbal memang sudah memanggil kedua orang tua Delisha dengan sebutan papi dan mami, karena sejak menjadi sahabat kakak dari Delisha, semua sudah seperti keluarga. Tetapi para sahabatnya jarang bertemu bahkan nyaris tidak bertemu dengan kedua orang tuanya yang sudah berpisah. Ikbal hanya tinggal sendiri di rumah mewah milik papanya sedangkan papanya sibuk dengan pekerjaannya dan jarang sekali pulang begitu dengan mamanya yang tak pernah datang menjenguknya hanya uang dan uang yang selalu mereka berikan. Ikbal merasa muak dengan kehidupannya dan ia sangat bahagia ketika diterima dengan sangat baik oleh keluarga sahabatnya.
"Mau kemana?" tanya Akbar dengan serius.
"Ke pantai, Pi!" ujar Ikbal tak kalah tegas.
Danish, Daniel, dan Dareel menatap sahabatnya dengan pandangan aneh. Sebab, ini adalah kali pertama Ikbal dengan berani mengajak Delisha pergi. Selama ini Ikbal masih terbayang dengan rasa penyesalan yang tak bisa diperbaiki sampai sekarang bahkan Ikbal hampir depresi karena rasa bersalahnya tersebut.
"Adek mau ke pantai!" ujar Delisha dengan berbinar. "Boleh ya, Pi, Mi!" ucap Delisha dengan memelas.
Fiona menatap suaminya. Ia tersenyum mengangguk kepada Akbar agar mengizinkan Delisha pergi bersama dengan Ikbal. Fiona yakin Ikbal mampu menjaga anaknya dengan sangat baik.
Akbar mengangguk juga setelahnya, jika nyonya di hatinya sudah berkata iya maka Akbar tak ada alasan untuk melarang Ikbal untuk membuat anaknya bahagia.
"Jangan terlalu malam pulangnya!" ucap Akbar dengan tegas.
"Jagain adek gue! Awas kalau sampai lecet!" ujar Danish dengan tegas.
"Pasti! Terima kasih Pi, Mi!" ucap Ikbal.
"Nitip anak gue!" ujar Ikbal mengambil Kimmy dari tangan Delisha dan memberikannya kepada Dareel.
Dareel mendelik kesal. Lelaki itu geli dengan kucing dan langsung memberikannya kepada Daniel.
"Ih Kal Dareel om yang jahat!" ucap Delisha mengerucutkan bibirnya saat melihat Kimmy diberikan begitu saja oleh Daniel.
"Kamu tahu kalau Kakak geli sama kucing!" ujar Dareel dengan bergidik ngeri.
__ADS_1
"Iya tahu! Jaga anak Delisha sama kak Ikbal ya! Awas kalau Kimmy lecet!" ucap Delisha yang membuat ketiga kakaknya pasrah dan dengan serentak ketiganya mengangguk ketika Delisha memberikan ultimatum kepada mereka.
"Bersenang-senanglah, Sayang!" ucap Fiona dengan mengelus kepala Delisha dengan lembut.
"Siap, Mami!" ucap Delisha dengan bahagia.
"Dah semuanya!" ujar Delisha melambaikan tangannya kepada kedua orang tua dan ketiga kakaknya saat gadis itu masuki mobil mewah Ikbal.
****
Deburan ombak yang sangat keras dan hembusan angin yang menyapa kedua pemuda pemudi yang baru saja sampai di pantai membuat hati keduanya sangat tenang.
Ikbal menggandeng tangan Delisha semakin mendekat ke arah bibir pantai.
"Kak Boleh duduk?" tanya Delisha yang sangat ingin duduk di pasir pantai.
"Ya!" ucap Ikbal yang membuat Delisha senang sampai bertepuk tangan.
Delisha menarik tangan Ikbal agar ikut duduk di sebelahnya. Ikbal yang awalnya enggan untuk mengotori celananya akhirnya pasrah juga karena melihat senyum Delisha dengan wajah penuh harap membuat Ikbal tidak tega sama sekali.
Delisha bahagia ketika Ikbal ikut duduk bersama dengan dirinya. Keduanya menikmati suasana tepi pantai dengan diam hingga Delisha merasa bosan.
"Kak ayo main pasir!" ujar Delisha.
Dari mata Ikbal memandang laut lepas dengan sangat dalam seakan menyampaikan suatu kerinduan yang tak pernah bisa tersampaikan.
Delisha melihat ke arah Akbar hingga wajahnya miring agar bisa melihat ekspresi Ikbal dengan jelas. "Kak Ikbal kenapa? Kak Ikbal sedih? Kak Ikbal gak suka ya Delisha ajak main pasir?" tanya Delisha dengan pelan.
Ikbal menghela napasnya. Lalu ia menatap Delisha sekilas. "Kakak lagi rindu dengan seseorang!" gumam Ikbal menatap pantai kembali.
"Kalau rindu kenapa gak diajak ketemu sih? Jangan gengsi, Kak! Kayak Delisha dong yang kalau rindu ya bilang rindu!" ujar Delisha dengan polos.
"Gak segampang itu! Kalau dia dekat sudah Kakak temui sejak dulu," ujar Ikbal.
"Emang dia dimana sih? Ayo ajak Delisha ke sana!" ucap Delisha dengan tegas.
"Surga! Kakak gak mau kamu ke sana dulu!" ujar Ikbal dengan menatap Delisha dalam.
"S-surga?" tanya Delisha dengan terbata.
__ADS_1
Ikbal mengangguk. "Namanya Erina. Gadis yang selalu ada untuk Kakak di setiap Kakak terpuruk. Bahkan perpisahan kedua orang tua Kakak pun dia yang menguatkan Kakak!" ujar Ikbal dengan tersenyum miris.
Bak menjelma menjadi pendengar yang baik Delisha terdiam ingin mendengar cerita Ikbal yang akhirnya mau berbicara panjang lebar kepadanya. Mungkin Ikbal sudah merasa nyaman dengannya sampai-sampai mau menceritakan hal yang sangat rahasia kepadanya.
"Baik banget kak Erina!" ujar Delisha dengan tersenyum.
Ikbal juga tersenyum. Senyum yang baru pertama kali Delisha lihat, ternyata Ikbal memiliki lesung pipi yang tipis dan membuat lelaki itu bertambah tampan setelah tersenyum.
"Kakak tahu tidak senyuman Kakak membuat Kakak terlihat sangat tampan sekali," puji Delisha yang membuat Ikbal terkekeh. Sepertinya es yang ada di dalam tubuh Ikbal mulai mencair saat bersama dengan Delisha.
"Tahu!" sahut Akbar dengan tegas.
"Erina meninggal karena penyakit jantung bocor yang dideritanya, awalnya Kakak sama sekali tidak mengetahui penyakit yang diderita Erin, gadis itu pandai menutupi penyakit dengan baik di hadapan Kakak agar Kakak tidak khawatir, hingga hidup Kakak berantakan setelah Erina tiba-tiba drop dan akhirnya dinyatakan kritis. Kakak ingin mendonorkan jantung Kakak tetapi jantung Kakak tidak cocok. Kakak terus mencari pendonor jantung yang cocok untuk Erina tetapi sebelum Kakak mendapatkannya Erina sudah tiada. Hidup Kakak semakin berantakan setelah kepergian Erina!" ujar Ikbal dengan sendu.
Delisha terdiam, mata gadis itu berkaca-kaca. "Apa Delisha juga akan pergi ke surga?" tanya Delisha dengan lirih.
Ikbal menatap manik mata Delisha dengan dalam. "Kakak gak akan biarin itu terjadi!" sahut Ikbal dengan tegas.
Ikbal memegang lengan Delisha hingga kedua mata mereka saling memandang satu sama lain. "Kamu akan terus hidup!" ujar Ikbal dengan tegas.
Ikbal memeluk Delisha dengan sangat erat. Ikbal tak akan sanggup jika harus kehilangan untuk kedua kalinya, jika perceraian orang tuanya bisa ia terima maka kepergian Delisha tidak akan bisa ia terima.
"Kak!" panggil Delisha dengan pelan saat merasakan tubuh Ikbal terguncang dengan hebat.
"Apapun yang terjadi jangan pernah berniat untuk meninggalkan Kakak!" ujar Ikbal
"Kakak nangis?" tanya Delisha dengan pelan.
tangan Delisha mengusap punggung Ikbal dengan lembut. "Kalau itu yang buat Kak Ikbal nangis Delisha janji gak akan pernah meninggalkan Kakak! Tapi Delisha capek, Kak! Apa Delisha gak boleh menyerah?" tanya Delisha dengan sendu.
"Gak boleh! Kamu harus hidup demi Kakak dan demi yang lainnya!" ujar Ikbal dengan tegas.
"T-tapi, Kak...D-delisha..."
"Kakal mohon bertahan!" pinta Ikbal. "Kakak akan berusaha untuk mendapatkan donor jantung dan paru-paru buat kamu!"
"Tunggu Delisha! Tunggu Kakak buat kamu bahagia ya?!" ucap Ikbal dengan sungguh-sungguh.
"Iya, Kak!"
__ADS_1
Keduanya berpelukan di saksikan ombak pantai yang semakin besar. Setelah puas mengungkapkan yang mengganjal di hatinya akhirnya Ikbal mengajak Delisha bermain pasir pantai, melihat Delisha bahagia membuat Ikbal juga bahagia.
"Senyuman indah kamu tidak boleh pudar Delisha!"