
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Cika memasuki kantor kekasihnya dengan sangat ceria karena dirinya sudah membawakan sarapan untuk Zayden seperti yang lelaki itu minta kepada dirinya, banyak yang menyapa dirinya dengan sangat ramah dan Cika membalasnya dengan senyuman manisnya.
"Pagi Bu Cika!" sapa karyawan Zayden dengan ramah karena mereka tahu Cika adalah calon istri Zayden dari dulu tapi karena sebuah kecelakaan yang menyebabkan Zayden amnesia akhirnya pernikahan mereka di tunda.
"Pagi! Tuan Zayden sudah datang?" tanya Cika kepada mereka.
"Sudah, Bu. T-tapi..."
"Tapi apa?" tanya Cika dengan heran saat wajah karyawan Zayden tampak panik.
"Wanita kemarin datang lagi, Bu! Dan sekarang berada di ruangan tuan Zayden," ujar salah satunya dengan menunduk.
"APA? AWAS SAJA DIA!" ujar Cika dengan tajam dan tangan yang terkepal dengan erat.
"Aduh gimana ini? Pasti akan terjadi perang Dunia ketiga," gumam salah satu karyawan saat melihat Cika marah dan berjalan ke arah ruangan Zayden.
"Aku dukung bu Cika! Dia baik, dia cantik! Kalaupun dia harus berpisah dengan Tuan Zayden aku rasa itu yang terbaik karena selama ini bu Cika berjuang sendiri," ujar salah satu di antara mereka.
"Benar! Aku juga mendukung bu Cika."
Sedangkan Cika berjalan ke arah ruangan Zayden dengan amarah yang sudah menggebu. Sesampainya di pintu ruangan Zayden, Cika menghentikan langkahnya dengan sejenak guna menetralkan hatinya dan harus bersikap tenang untuk melawan pelakor yang akan merebut Zayden darinya.
Ceklek...
"Wah ternyata ada tamu," ujar Cika dengan tenang walaupun sebenarnya hatinya tak karuan karena jarak antara Zayden dan wanita terbilang sangat dekat bahkan keduanya hampir terlihat seperti orang yang ingin berciuman.
"Sudah lama nona Rianti? Apakah ada kepentingan dengan calon suami saya sampai pagi-pagi sekali anda di sini," ujar Cika dengan tenang.
"Tidak ada nona Cika. Tapi Tuan Zayden yang mengundang saya kemari. Bukankah begitu Tuan?" tanya Rianti dengan tersenyum mengejek ke arah Cika.
"Apakah anda bisa keluar sekarang? Karena saat ini saya dan Tuan Zayden akan sarapan bersama. Saya tidak mau ada pengganggu di antara kami," ujar Cika dengan tenang.
"Saya tidak akan keluar sebelum Zayden yang menyuruh saya!"
Zayden yang melihat amarah di mata Cika langsung menatap Rianti. "Keluar!"
"Tapi!!"
"Saya bilang keluar!" ujar Zayden dengan dingin.
Rianti mencibik kesal. Padahal sedikit lagi ia bisa menggoda Zayden untuk menjadi miliknya tetapi karena kedatangan Cika semua rencananya gagal. Rianti dengan kesal keluar dari ruangan Zayden dan meninggalkan keduanya begitu saja.
"Mana sarapan saya?" tanya Zayden dengan tenang seperti tidak terjadi sesuatu.
"Kamu terlihat tidak bersalah ya?" ujar Cika dengan terkekeh sinis.
__ADS_1
"Emang saya salah apa?" tanya Zayden dengan enteng.
"Salah apa? Kamu enteng banget ngomongnya Zayden! Kamu gak pernah menghargai perasaan aku! Kamu marah saat aku dekat dengan lelaki lain tapi setiap ada yang mendekati kamu, kamu menyambut mereka dengan hangat. Kalau kamu bosan sama aku bilang, Zayden!" ujar Cika dengan amarah yang menggebu.
"Mereka yang menggoda saya duluan!" ujar Zayden dengan datar.
"Tapi kamu sambut dengan hangat?! Kamu berubah Zayden! Kamu bukan Zaydenku yang dulu! Dulu bahkan sampai memecat sekretarismu demi biar aku tidak salah paham. Tapi sekarang hahaha... Mungkin benar cinta yang dulu kamu berikan kepadaku sudah pudar," ujar Cika dengan terkekeh dan mata yang berkaca-kaca.
"Jangan kekanak-kanakan, Cika!"
"Kekanak-kanakan kamu bilang? Aku bahkan rela berjuang sendiri demi kamu bisa mengingat aku lagi, aku melakukan hal konyol agar kamu kembali mengingat tentang kita. Tapi rasanya itu sia-sia, Zayden! Aku menyerah!" ujar Cika dengan tersenyum pahit.
Cika meletakkan kotak nasi yang ia bawa di atas meja dan itu semua tak luput dari penglihatan Zayden yang masih terlihat tenang karena Zayden merasa kemarahan Cika bukanlah yang pertama kali dan pasti wanita itu akan luluh lagi setelahnya.
Cika melepaskan cincin pertunangannya dengan Zayden. "Aku kembalikan. Mungkin ini terakhir kalinya aku bekerja di sini, kita tidak mempunyai hubungan apapun setelah ini Zayden! Kamu akan bebas dari orang sepertiku," ujar Cika dengan tegas.
"Pakai!" ujar Zayden dengan dingin.
"Aku sudah tidak memerlukan itu lagi! 5 tahun lebih aku berjuang sendiri dan sedikitpun gak kamu hargai perasaan aku, Zayden! Aku menyerah! Aku melepaskanmu!" ujar Cika dengan lirih dan langsung pergi begitu saja.
"Cika!" panggil Zayden dengan kuat.
Saat Zayden ingin mengejar Cika tetapi niat itu ia urungkan karena Zayden berpikir Cika butuh sendiri dan setelah ini pasti akan membaik seperti biasa. Zayden mengantongi cincin yang di lepas Cika dan setelah itu Zayden membuka kotak bekal buatan Cika dan memakannya dengan tenang seakan masalah yang terjadi barusan tidak ada.
***
Cika menatap ke luar dari balik jendela mobil, hatinya benar-benar tidak baik-baik saja hari ini dan respon Zayden terlihat begitu sangat santai. Apakah kehilangan dirinya membuat Zayden senang? Akhirnya Cika tahu rasanya berjuang sendiri di dalam hubungan dan itu benar-benar tidak mengenakan sekali.
Cika melajukan mobilnya keluar dari kantor Zayden dengan hati yang tak tenang. Hancur, kecewa, sedih, ia rasakan secara bersamaan. Dan kali ini yang ia butuhkan hanya mamanya yang selalu mengerti perasaannya.
Dalam perjalanan pulang air mata Cika terus mengalir mengingat bagaimana sikap dingin Zayden kepada dirinya. Bagaimana perjuangan dirinya yang tak di hargai oleh Zayden. Bolehkan Cika menyerah walau sebenarnya ia sangat mencintai Zayden sejak dulu dan sampai sekarang.
Sesampainya di rumah Cika langsung masuk ke dalam rumahnya dan mencari keberadaan mamanya yang sedang menyiapkan bahan masakan yang akan di masak untuk nanti malam di acara pertunangan Nessa bersama dengan keluarganya yang lain.
"Loh kenapa? Sayang kenapa tiba-tiba pulang peluk Mama sambil menangis seperti ini?" tanya Tri kepada Cika.
"Hiks..hiks..." Bukannya menjawab Cika malah terus menangis terisak di pelukan mamanya yang membuat Tri bingung sekaligus kasihan dengan anaknya.
"Kak Cika kenapa? Nad jadi sedih," ujar Nadine dengan mata berkaca-kaca.
"Nad sama Mami Fio dulu ya! Mama mau ajak Kakak ke kamar dulu," ujar Tri dengan lembut. Ya memang keluarga suaminya sedang berkumpul sedangkan keluarganya tidak bisa datang mungkin saat pernikahan Nessa baru mereka akan datang.
"Kak Nad-Nad sini!" ajak Delisha yang memang gemas dengan kakak kecilnya ini.
Nadine berjalan ke arah Fiona dan Delisha. "Kak Delisha jangan panggil kak Nad-Nad terus," ujar Nadine protes yang membuat Delisha terkekeh.
"Ih gemes. Mami mau anak kayak Nad-Nad," ujar Delisha kepada Fiona.
"Ya minta sama suami kamu. Masa minta sama Mami," ujar Fiona dengan menggelengkan kepalanya.
"Nanti Delisha minta sama mas Ikbal! Kak Nad-Nad elus perut Delisha dong biar anak Delisha gemesin kayak Kak Nad-Nad," ujar Delisha.
__ADS_1
"Anak? Kak Delisha mau punya anak kayak Nad? Minta sama Papa sana!" ujar Nadine.
"Kok sama papa sih?"
"Kata kak Nayla karena Papa yang bikin Nad," jawab Nadine yang membuat Fiona dan Delisha hampir tersedak air liur mereka sendiri.
"Delisha mau minta sama suami Delisha aja!"
"Emang bisa mirip Nad?"
"Ihhh... Makanya elus perut Delisha biar nanti kalau jadi mirip Kak Nad-Nad!"
"Iya deh. Jangan marah-marah Kak!" ucap Nadine yang membuat Delisha terkekeh.
"Delisha mau culik kak Nad-Nad nanti ah," ujar Delisha yang sudah merencanakan agar Nadine bisa ia bawa pulang.
"Nad bilangin Papa nih!"
"Delisha punya mainan banyak di rumah ayolah nanti ikut Delisha ya!" ujar Delisha dengan memelas.
"Nad pikir-pikir dulu," sahut Nadine yang membuat Delisha cemberut.
***
"Cerita sama Mama ada apa? Kenapa tiba-tiba pulang sambil nangis gitu?" tanya Tri dengan lembut.
"A-aku menyerah, Ma! Aku melepaskan Zayden sudah cukup perjuangan Cika buat dia ingat Cika dan yang lainnya, Ma! Kali ini Cika benar-benar menyerah, Ma!" ujar Cika dengan terisak.
"Kamu yakin, Sayang?" tanya Tri dengan pelan.
"Hiks..hiks...buat apa Cika bertahan Ma kalau Zayden sendiri juga tidak mau berjuang untuk kesembuhannya?"
"Ya sudah kalau itu yang kamu mau setelah lamaran adik kamu. Nanti papa sama Mama datang ke rumah Tiara untuk membatalkan pertunangan kalian secara baik-baik," ujar Tri memeluk anaknya.
"Hiks...sakit, Ma!"
"Iya, Sayang. Mama tahu tapi jangan berlarut-larut dalam kesedihan ya," ujar Tri dengan lembut.
Tri menatap anaknya dengan sendu. Cika lagi dan lagi dipatahkan hatinya dengan orang yang sama. Dan Tri tidak bisa membiarkan anaknya terus terluka jika perpisahan mereka adalah jalan yang terbaik maka Tri akan mendukungnya agar Cika tidak selalu sakit hati.
***
Siang harinya di kantor Zayden...
Zayden mencari keberadaan Cika dengan bingung, ia pikir Cika masih ada di kantornya setelah pertengkaran mereka tadi. "Kalian ada yang melihat Cika?" tanya Zayden kepada karyawannya.
"Bu Cika tadi keluar kantor, Pak. Sejak pagi tadi belum kembali," ujar karyawannya yang membuat Zayden tiba-tiba di landa rasa khawatir.
"Oke terima kasih!"
Zayden mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Cika tetapi teleponnya di reject oleh Cika sampai pada akhirnya ponsel Cika tidak bisa di hubungi kembali.
__ADS_1
"Shiitt...dia benar-benar marah!"