Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 39 (Ruang Rahasia)


__ADS_3

...Hei jangan lupa ramaikan part ini yam Tinggalkan jejak kalian dengan bom like dan komentar....


... Happy reading...


*****


Tiara memasuki ruang rahasia yang selama ini menjadi tempat favoritnya. Setelah pertemuannya dengan Zayden untuk kedua kalinya entah mengapa perasaannya menjadi tidak menentu.


Tiara menghidupkan saklar lampi ruangan tersebut, ruangan yang tadinya gelap kini terlihat terang. Tiara berjalan ke arah lemari dan membukanya dengan perlahan, ia tersenyum mengambil foto dirinya dan bayi yang ia gendong. Tiara mengusap foto itu dengan mata yang sudah berair karena menahan tangis. Lemari tersebut di penuhi pakaian bayi berwarna biru, hitam, dan putih.


"Mama kangen, Nak!" gumam Tiara dengan lirih. Tiara menghapus air mata di sudut matanya dengan perlahan, lalu ia mengambil salah satu baju yang sudah pernah di pakai anaknya. Baju tersebut ia cium aromanya dalam-dalam, sesak tentu saja Tiara merasakan itu. Dipaksa berpisah dengan anak sendiri dan tidak pernah melihat wajahnya ketika anaknya sudah besar membuat Tiara menjadi ibu yang sangat memprihatinkan dan menyedihkan sekali tetapi berkat adanya Tika di dalam dirinya Tiara masih bisa bertahan, bertahan dengan kesakitan yang ia rasakan seorang diri tanpa ada satu pun yang mengetahuinya kecuali dirinya sendiri.


Tiara meletakkan baju itu kembali dengan rapi. Lalu ia menutupnya dengan pelan, ia menatap sekelilingnya kamar yang ia desain untuk anaknya dengan rasa sesak. Tangannya terkepal dengan mata yang berkilat marah.


"Dasar pembohong! Lihat saja apa yang akan aku lakukan pada wanita sepertimu!" ucap Tiara dengan kemarahan yang begitu mengusai dirinya.


Tak mau kembali menjadi lemah Tiara keluar dari kamar itu, tubuhnya langsung mematung saat Zidan berada di depannya.


"Ngapain kamu di kamar Mas?" tanya Zidan dengan penasaran.


"Bukan urusanmu!" ucap Tiara menormalkan ekspresinya yang terkejut akan kedatangan Zidan yang berada di apartemennya tiba-tiba.


Zidan menatap Tiara dengan penuh selidik. Dulu kamar ini adalah kamar Zidan yang diperuntukkan untuk bekerja, apartemen yang diberikan Zidan untuk Tiara memiliki dua kamar tetapi Zidan tidak tahu jika saat Tiara pulang ke Indonesia Tiara sudah mengubah desain kamarnya menjadi kamar anak yang sangat elegan dan cocok untuk anak lelaki.

__ADS_1


Tiara langsung mengunci kamar itu dengan cepat, ia tidak mau Zidan mengetahui tempat rahasianya sekarang.


"Mas pinjam kuncinya, Mas mau istirahat di sini," ujar Zidan tanpa rasa bersalah, santai dan terlihat tenang yang membuat Tiara muak dengan wajah itu, wajah yang sudah menorehkan luka begitu dalam di hatinya.


"Kamu tidak berhak lagi datang ke sini. Silahkan keluar dari apartemen saya!" ucap Tiara dengan tajam.


Zidan menghela napasnya dengan perlahan. "Kita harus bicara, Ay. Mas akan menjelaskan semu...."


"Tidak ada yang perlu anda jelaskan dokter Zidan! Sekarang anda keluar dari apartemen saya! Atau anda mau mengambil apartemen ini kembali? Dengan senang hati saya akan memberikannya kembali kepada anda, tunggu saya akan mengambil suratnya terlebih dahulu tetapi beri saya waktu untuk membereskan semua barang saya yang ad.."


Cup...


Zidan mencium bibir Tiara dengan cepat, tanpa bergerak hanya menempel di sana. Ia tidak suka dengan ucapan Tiara yang membuat hatinya merasa nyeri karena rasa bersalah dan rasa penyesalan yang sangat mendalam ia rasakan.


Wajah Tiara merah padam, jika dulu ia sangat suka dengan ciuman ini maka sekarang Tiara sangat membenci sentuhan Zidan. Tiara mendorong tubuh Zidan dengan kuat, matanya penuh dengan kilatan marah, tangannya juga terkepal dengan sangat erat.


Tiara menampar Zidan dengan kuat hingga pipi pria itu memerah karena tamparannya. Menurut Zidan tamparan Tiara untuknya tidak sebanding dengan yang apa yang dirasakan Tiara dulu, Zidan menerima tamparan Tiara dengan lapang dada dan tanpa berbicara.


"Menjijikkan!" desis Tiara dengan tajam dan menghapus bekas bibir Zidan yang ada di bibirnya dengan kasar.


Zidan terkekeh lirih, matanya penuh akan sarat terluka akan penolakan Tiara yang terang-terangan kepadanya. "Sebegitu menjijikkan kah aku di matamu sekarang, Ay?" tanya Zidan dengan lirih.


Alter ego Tiara yang saat ini menguasai tubuh Tiara menatap Zidan dengan penuh kebencian. "Jika anda sudah tahu jawabannya kenapa bertanya kepadaku lagi? Jangan pernah menyentuhku walaupun hanya seujung kuku, tubuhku tidak serendah itu yang bisa anda sentuh lalu anda tinggalkan begitu saja! Anda tahu saya menyesal telah mengenal dan sangat mempercayai anda dan juga Sabrina, ternyata kalian sama saja seperti sampah, berpura-pura baik di hadapan saya tapi menghancurkan saya secara diam-diam. Kali ini saya tidak akan tinggal diam, kesakitan yang kalian berikan kepada saya maka saya akan kembali kesakitan itu jauh lebih menyakitkan dari pada yang saya rasakan!" ucap Tiara dengan tajam.

__ADS_1


"Ay, kamu salah paham! Kami menikah karena perjo...."


"Stop! Saya tidak perlu mendengarkan penjelasan anda! Semuanya percuma! Anda tidak bisa mengembalikan hati saya yang sudah remuk tak tersisa. Saya salah selama ini menaruh kepercayaan kepada anda. Dulu saya pikir keluarga adalah tempat ternyaman, tetapi saya salah itu adalah awal kesakitan saya. Mencoba berpikir positif setelah kesakitan yang saya rasakan saya mulai bisa sangat mempercayai anda dan Sabrina sebagai kekasih dan sahabat yang baik, tetapi kalian menusuk saya dari belakang. Menghilang tanpa kabar ternyata kalian menikah di belakang saya! Dari awal jika niat anda mendekati saya hanya untuk mengambil kesucian saya lalu membuang saya maka saya tidak ingin mengenal anda dan Sabrina. Di dunia ini tidak ada yang benar-benar bisa dipercaya! Keluarga, kekasih, sahabat semuanya munafik! Hanya diri saya sendirilah yang mengerti bagaimana harus berjuang di dunia ini!" teriak Tiara penuh kemurkaan.


"Ay, percayalah kepergianku bukan keinginan diriku termasuk menikah dengan Sabrina!" ujar Zidan dengan frustasi, ia tidak tahu seperti apa lagi menjelaskan kepada Tiara.


"PERGI! AKU TIDAK BUTUH SIAPA PUN DI DUNIA INI! AKU HANYA BUTUH DIRIKU SENDIRI, SETIDAKNYA AKU TIDAK PERNAH MELUKAI DIRIKU SENDIRI WALAUPUN SEBENARNYA AKU INGIN! AKU MUAK BERADA DI SINI, BERADA DI DUNIA YANG SAMA DENGANMU!" teriak Tiara mendorong tubuh Zidan agar keluar dari apartemennya.


"Aku akan mengembalikan semua yang kamu beri! Aku akan kembalikan Zidan!" ucap Tiara dengan napas yang menggebu.


"TIARA! STOP MENJADI ORANG LAIN!" bentak Zidan.


"Kamu tidak seharusnya menghidupkan karakter orang lain dalam dirimu. Dia bukan teman, dia bisa melukaimu kapan saja! Please dengarkan Mas!" ujar Zidan memohon.


"Aku yang tahu bagaimana aku bukan kamu!" desis Tiara dengan tajam.


"Kamu jangan mau dikuasai olehnya Tiara! Di dunia ini masih ada orang yang tulus," ujar Zidan dengan tegas.


"Cukup! Keluar sekarang!"


"Tiara!"


Brak...

__ADS_1


Zidan menghela napasnya dengan kasar. Bagaimana cara dirinya untuk membuat Tiara seperti dulu? Tiara benar-benar tidak mempercayai orang lain lagi. Wanita itu sudah terluka sejak lama hingga ia seperti ini.


"Semoga kamu tidak melakukan sesuatu yang akan merugikan kamu dan orang lain, Ay!"


__ADS_2