
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading ...
*****
Sabrina menatap kedua orang tua Tiara dengan serius. Ketiga terlibat omongan sejak saat Sabrina mendatangi mereka.
"Apakah Tiara sudah tahu jika kita yang memisahkan dia dengan Zidan serta kedua anak kembarnya?" tanya Sabrina dengan tatapan was-was.
Papa Ezra menggelengkan kepalanya pertanda bahwa Tiara tidak pernah tahu tentang kebenaran yang sebenarnya. "Anak itu tidak tahu!" jawab Papa Ezra dengan tenang.
Sebagai anak bungsu seharusnya Tiara menjadi anak kesayangan mereka. Tetapi kedua orang tua Tika dan Tiara sama sekali tak menyayangi Tiara, anak kesayangan mereka adalah mendiang Tika karena sejak dulu mereka menginginkan anak lelaki setelah adanya Tika tetapi yang lahir adalah bayi perempuan yang membuat papa Ezra dan mama Erlin kecewa, rasa kecewa itu semakin dalam saat mama Erlin melahirkan Tiara rahim mama Erlin harus di angkat itulah mengapa keduanya tidak menyayangi Tiara. Mungkin ada rasa sayang itu di hati mereka namun sudah tertutup dengan rasa kecewa yang tidak seharusnya mereka tampakkan kepada Tiara yang tidak tahu apa-apa. Bukankah setiap anak tidak meminta untuk dilahirkan di dunia ini?
"Tiara tidak mungkin tahu jika saya dan suami saya yang mengancam Zidan dan keluarganya untuk menjauhi Tiara. Tiara adalah wanita yang lemah," ujar Mama Erlin yang membuat Sabrina tersenyum puas. Sabrina awalnya juga tak percaya jika ada orang tua yang tidak menginginkan anaknya bahagia tetapi Sabrina merasa senang karena dengan begitu ia bisa memiliki Zidan seutuhnya. Namun sayang, pernikahan dirinya dan Zidan tidak berlangsung dengan lama karena saat itu ia ketahuan sedang jalan dengan lelaki lain. Tetapi ia yakin bisa kembali memiliki Zidan dan kembali menyingkirkan Tiara. Wanita itu tidak boleh bahagia!
"Hahaha....Aku senang jika Tiara belum mengetahui rencana kita, Om, Tante!" ujar Sabrina dengan tertawa.
Mama Erlin hanya tersenyum tipis entah mengapa tiba-tiba ia terbayang wajah kecewa Tiara kepadanya yang membuat hati mama Erlin merasa sakit. "Ada apa denganku hari ini?" gumam Mama Erlin yang merasa hatinya tidak enak.
Tanpa di sadari oleh mereka Tiara mendengar percakapan ketiganya, tangannya terkepal dengan sangat erat. "Enggak boleh nangis Tiara! Kamu gak butuh mereka!" ucap Tiara dengan senyuman yang sangat misterius tetapi air matanya tetap saja jatuh membasahi pipinya.
"J-jadi mereka yang sengaja memisahkan aku dengan mas Zidan? K-kenapa mas Zidan gak pernah cerita?" gumam Tiara dengan lirih.
__ADS_1
Tiara menghapus air matanya dengan kasar, senyum devil tersungging di bibirnya. "Nikmati saja kebahagiaan sementara kalian Pa, Ma, Sabrina! Setelah itu aku tidak akan membiarkan kalian hidup dengan tenang!" ujar Tiara tak lain adalah Tika alter ego Tiara yang sangat memiliki dendam yang mendalam.
Setelah mengetahui fakta yang sebenarnya Tiara meninggalkan rumah kedua orang tuanya dengan perasaan yang teramat hampa. sebenci itukah kedua orang tuanya kepada dirinya yang tidak mengetahui apa-apa sampai tega memisahkan dirinya dengan Zidan?
Dan kebencian itu semakin tumbuh di hati Tiara! Rasa untuk membalaskan dendamnya semakin besar kepada kedua orang tua dan mantan sahabatnya! Mereka juga tidak pantas hidup bahagia! Ketiganya harus mendapatkan ganjaran yang setimpal!
****
Zayden menatap Cika yang masih tidur dengan wajah yang teramat sendu. Rasanya kehidupannya hampa tanpa keceriaan gadis kecil di depannya ini yang sedang terbaring lemah di rumah sakit. Gadis yang ia klaim menjadi pacarnya ini kenapa bisa jatuh sakit hingga separah ini. Apakah papanya dan om Fathan tidak becus menjadi dokter? Rasanya Zayden ingin marah kepada mereka berdua.
"Papa!" panggil Zayden dengan dingin yang membuat Zidan yang sedang duduk menunggu anaknya menatap Cika menghela napasnya dengan kasar.
"Kenapa lagi? Mau nangis lagi karena tahu Cika sakit? Cengeng banget anak Papa!" ejek Zidan kepada Zayden.
Zidan menghela napasnya saat melihat wajah sendu anaknya yang menatap Cika dengan cemas saat melihat Cika harus melakukan transfusi darah. "Zayden, Papa ini hanya dokter bukan Tuhan yang bisa menyembuhkan penyakit, Papa hanya perantara saja. Kamu berdoa saja agar Cika cepat sadar," ujar Zidan pada akhirnya yang tidak tega melihat anaknya seperti ini.
Zayden mengambil tangan Cika yang tidak di infus dan menggenggamnya dengan erat. "Zayden janji tidak akan pernah meninggalkan Cika!" gumam Zayden dengan lirih. Dan apakah janji anak kecil itu akan sampai ia dewasa atau malah melupakan janji yang ia ikrarkan sendiri?
Ceklek.....
Zidan menatap ke arah pintu yang terbuka, ia tersenyum melihat Tiara lah yang datang. Pandangan wanita itu tertuju pada Zayden, Tiara berjalan ke arah Zayden dengan perlahan.
"Zayden!" panggil Tiara dengan lirih.
__ADS_1
"Iya, Mama! Kenapa wajah Mama pucat? Mama sakit juga?" tanya Zayden dengan cemas.
Tiara menyentuh tangan anaknya dan ia letakkan di pipinya. "Mama sayang Zayden!" gumam Tiara dengan lirih sebelum matanya tertutup yang yang membuat Zidan cemas.
"Ay!" ucap Zidan hampir berteriak jika ia tidak mengingat Cika sedang sakit.
Zidan memangku tubuh Tiara. Ada apa dengan Tiara kenapa wanita itu tiba-tiba saja seperti ini? Zidan menepuk-nepuk pipi Tiara dengan pelan tetapi tetap saja Tiara tidak membuka matanya.
"Papa, mama kenapa?" tanya Zayden dengan khawatir anak kecil itu ingin menangis sekarang. Dua perempuan kesayangannya tiba-tiba saja jatuh sakit.
"Papa tidak tahu mama kenapa!" ucap Zidan tak kalah khawatirnya. Ia membopong Tiara dan menidurkannya di sofa. Zidan memeriksa Tiara dengan cepat.
"Sadar, Ay! Cerita sama Mas kamu kenapa?" tanya Zidan dengan cemas.
"Ay!" panggil Zidan dengan lirih.
"Mama!" panggil Zayden dengan terisak.
"eughh..."
Tiara melenguh memegang kepalanya yang mendadak pusing, ia menatap Zidan dengan pandangan yang teramat sendu.
"Kenapa kamu sembunyikan semuanya dari aku?"
__ADS_1