
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
***
"Uuhhh...."
Fiona melenguh dengan mata yang mengerjap pelan. Wanita itu baru terbangun setelah melayani n*fsu suaminya yang tak berkesudahan, Fiona merasa tubuhnya remuk, bahkan inti miliknya sangat perih.
"Uhhh.. Mas Akbar tega banget sama Fio! Tubuh Fio remuk ditindih mas Akbar!" gumam Fiona dengan lebih lirih.
Akbar yang baru keluar dari kamar mandi terkekeh mendengar gumamam istrinya. Dengan berbalut handuk dari pusar sampai di atas lulut, memperlihatkan perut sixpack miliknya Akbar mendekat ke arah Fiona yang belum sepenuhnya terbangun.
Akbar melihat jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul 2 siang. Lumayan lama juga ia mengurung istrinya untuk bercinta, bisa dikatakan setengah hari ia menuntaskan hasrat yang selama ini sudah tertahan.
Akbar mendekatkan wajahnya ke wajah Fiona, ia tersenyum saat melihat gurat kelelahan dari wajah Fiona saat ini. Punggung mulus istrinya kini sudah banyak bekas keunguan akibat ulah bibirnya. Akbar menggaruk tengkuknya, ternyata ia sangat ganas bahkan sampai membuat Fiona seperti ini.
"Bangun, Sayang! Kamu gak lapar?" tanya Akbar dengan lembut sembari mengelus pipi Fiona.
Akbar dan Fiona belum sama sekali sarapan. Akbar langsung menyantap makanan yang ada di hadapannya hingga membuat dirinya kenyang dan baru sekarang perutnya berbunyi karena merasa lapar. Tentu kalian tahu makanan yang Akbar maksud saat ini bukan?
"Uuhhh... Fio lapar tapi mata Fio gak bisa ke buka," guman Fiona yang sangat menggemaskan.
Akbar terkekeh, ia mengecup bibir Fiona dengan gemas. Duh istrinya ini kenapa selalu membuat jantungnya tak aman sih?
"Bangun dulu, Sayang. Telur gulung kesukaan kamu sudah ada di atas meja," bisik Akbar yang membuat mata Fiona langsung terbuka dengan sempurna, terlihat memaksakan diri memang tetapi demi telur gulung yang sangat nikmat sekali Fiona mencoba membuka matanya.
"Mana telur gulung Fio?" tanya Fiona dengan mencari dimana telur gulung kesukaannya.
"Mandi dulu baru makan ya!" ucap Akbar dengan lembut karena ia tak mau terpancing gairah dan berakhir menerkam Fiona kembali jika masih melihat tubuh polos Fiona dengan banyaknya lukisan bibir yang terdapat di tubuh Fiona karena ulahnya.
"Nanti aja ya! Fio udah lapar!" rengek Fiona dengan mengelus perutnya menampilkan wajah yang amat memelas yang tentu saja membuat Akbar yang melihatnya menjadi tidak tega.
"Pakai bajunya dulu!" ucap Akbar akhirnya mengalah. Akbar mengambilkan pakaian Fiona yang tergeletak di atas lantai kamar mereka.
__ADS_1
"Pakaikan baju Fio Mas Suami! Fio gak bisa gerak! Pasti bentar lagi Fio jadi kepiting," ujar Fiona dengan polosnya.
"Kepiting?" beo Akbar yang membuat Fiona menganggukkan kepalanya dengan polos.
"Jalan Fio ngangkang kayang kepiting gara-gara Mas suami!" sungut Fiona.
Akhirnya Akbar mengerti maksud istrinya, ia tertawa lirih mengacak rambut Fiona yang memang sudah berantakan sejak mereka bercinta. Bahkan jangan di tanya bagaimana keadaan kasur mereka, yang jelas berantakan sekali.
"Tapi enak, kan?" tanya Akbar menggoda istrinya.
Fiona mengangguk. "Enak sih! Fio suka, besok Fio mau lagi yang gaya apa ya? Hmmm...Fio suka yang waktu Fio duduk di atas Mas suami," ucap Fiona dengan polosnya yang membuat Akbar menelan ludahnya dengan susah payah.
Glek....
Secara tidak langsung Fiona telah menggodanya kembali dengan mengingat gaya bercinta mereka tadi. Emang sih Akbar yang mengajarkan Fiona dan Akbar tidak menyangka jika Fiona suka gaya yang memang Akbar sangat suka. Ahh istrinya benar-benar sangat istimewa.
"Kita akan coba lagi nanti!" sahut Akbar dengan semangat. Tentu saja Akbar tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membuat ia dan Fiona puas, terbang ke langit ke tujuh bersama.
Akbar memakaikan pakaian Fiona dengan menahan hasratnya saat melihat tubuh polos istrinya, Fiona dengan santainya memakan telur gulung bahkan ia tidak merasa malu ketika Akbar yang memakaikan bajunya.
Akbar menggelengkan kepalanya. Ia seperti mempunyai anak gadis yang sangat manja tetapi Fiona adalah istrinya yang InsyaAllah akan melahirkan anaknya kelak walau harus melakukan program bayi tabung nantinya.
***
"Jangan sentuh milikku!" ucap Zayden dengan keras saat Zayyen ingin meminjam pensil warna milik kembarannya tetap Zayden bereaksi dengan keras.
"Oke!" ucap Zayyen dengan singkat tanpa ingin meminjam milik kembarannya lagi.
Cika yang saat itu asyik menggambar akhirnya memperhatikan Zayden dan Zayyen secara bersamaan.
"Zayden gak boleh pelit sama kakak kamu sendiri!" tegur Cika.
Cika yang merasa kasihan dengan Zayyen akhirnya meminjamkan pensil warna miliknya.
"Ambil punya Cika, Zayyen!" ucap Cika dengan tersenyum.
__ADS_1
Zayyen menatap datar ke arah Cika. Ia tak mau Zayden semakin marah dengannya apalagi Cika yang baik kepadanya bisa memantik kemarahan di diri Zayden.
"Gak usah!" ujar Zayyen dengan datar. Zayyen kembali sibuk dengan legonya membiarkan hasil gambarnya tak diwarnai. Di dalam buku gambar itu Zayyen menggambar sosok seorang dokter muda yang sedang memeriksa pasien, Zayyen mengibaratkan jika dokter itu adalah dirinya sedangkan pasien itu adalah mamanya yang sampai saat ini masih terbaring di rumah sakit belum sadarkan diri.
"Gak usah baik sama Zayyen! Dia itu anak pembawa sial! Gara-gara dia mamaku kecelakaan," ucap Zayden dengan ketus.
Tangan kecil Zayyen terkepal dengan sangat erat.
Brak.....
Zayyen menggebrak meja dengan tangan kecilnya, ia menatap tajam ke arah Zayden. "Aku bukan anak pembawa sial!" teriak Zayyen dengan marah.
"Kamu anak pembawa sial! Mama sampai sekarang gak sadarkan diri karena kamu dan papa kamu itu!" ujar Zayden dengan tajam.
Zayyen berdiri dan mendekat ke arah Zayden, ia ingin memukul kembarannya tetapi Tri yang berada di dapur langsung berjalan dengan cepat menuju ke arah mereka.
"Zayden, Zayyen sudah!" teriak Tri dengan wajah cemasnya.
"Zayyen duluan Tante!" ujar Zayden dengan ketus.
"Zayden bohong! Zayden tadi yang buat Zayyen marah," ucap Cika jujur.
"Cika lebih bela Zayyen dari pada aku? Cika pacar Zayden kalau Cika lupa!" ucap Zayden dengan tajam.
"Tapi Cika gak suka Zayden bohong ke mama!" ucap Cika dengan kesal.
"Sudah-sudah kalian gak boleh berantem lagi! Sekarang yang jaga kalian itu Tante dan Tante gak suka ada keributan karena berantem seperti ini. Sekarang saling meminta maaf!" ucap Tri dengan tegas.
Zayyen dan Zayyen, kedua anak kembar itu seperti enggan untuk meminta maaf. Tetapi mendapatkan tatapan tajam dari tantenya keduanya saling berjabat tangan dengan malas-malasan.
"Kalian saudara kembar! Jangan berantem lagi ya, mama Tiara tidak suka melihat kalian seperti itu pasti mama akan sedih," ucap Tri dengan lembut.
Keduanya tampak terdiam dengan pandangan menunduk. Zayyen dan Zayden merasa bersalah dengan mamanya, tetapi tidak untuk berbaikan, terlebih Zayden seperti menaruh dendam kepada Zayyen bahkan menganggap Zayyen adalah penghalang antara dirinya dan Cika karena Cika akhir-akhir ini selalu membela kakaknya. Zayyen tak boleh merebut Cika darinya.
Tri hanya bisa menghela napasnya, dalam keadaan hamil seperti ini dirinya seperti tidak kuat menjaga ketiganya. Padahal Fathan sudah melarang tadi, tapi tetap saja Tri yang memaksa dan akhirnya menyerah, ia lebih baik menelepon suaminya untuk segera pulang dan menjaga ketiganya bersama, sebenarnya Tri tak masalah jika ketiganya bermain dan tak saling berantem, tetapi sepertinya bendera perang yang di kibarkan Zayden belum usai sampai sekarang. Harus bagaimana lagi Tri dan yang lainnya mendamaikan mereka, terutama Zidan. Ayah dari anak kembar itu pasti sangat pusing.
__ADS_1
***
Siapa yang bisa nebak cerita Zayden, Zayyen, dan Cika bakal gimana?