
...ð Jangan lupa bom like dan komentar ya biar author semakin semangat updatenya nih....
...Happy reading...
***
Zevana langsung di bawa Haidar ke apartemen pria itu. Berat bagi Zidan dan Zayyen untuk melepas Zevana tetapi tanggungjawab Zevana sudah pada Haidar sekarang, keduanya tidak bisa melarang.
Brak..
Haidar menjatuhkan koper Zevana dengan keras hingga Zevana terkejut dengan apa yang Haidar lakukan sekarang.
"Bawa koper lo ke ruangan itu! Gue gak mau tidur bareng lo!" ujar Haidar dengan dingin.
"K-kak tapi kita udah jadi suami istri," ujar Zevana dengan terbata.
Haidar tersenyum sinis. "Itu menurut lo! Tapi tidak menurut gue, Zevana! Bagi gue, lo sekarang adalah jal*ng milik gue yang bisa gue pakai kapan pun gue mau! Ini kan yang lo mau? Lo bisa memiliki raga gue Zevana tapi gak dengan hati gue! Ingat itu!" ujar Haidar dengan tajam.
Haidar mencengkram dagu Zevana dengan kuat hingga gadis itu meringis dan mengeluarkan air mata. "Terus menangis Zevana karena itu membuat gue senang!" ujar Haidar dengan sinis.
"Kak Haidar yang Zeva kenal tidak jahat seperti ini hiks!" ucap Zevana dengan menangis karena ia tak menyangka sikap baik Haidar kepadanya akan berubah menjadi kasar seperti ini.
"Jahat? Lo menuduh gue sebagai orang jahat?" tanya Haidar dengan tertawa sinis. Tawa yang sangat menyeramkan untuk Zevana sekarang.
"Ya gue jadi jahat sekarang! Hahaha... Dan gue jahat karena lo!" ujar Haidar dengan tajam.
"Sini lo! Biar lo tahu seberapa jahatnya gue sekarang!" ujar Haidar dengan dingin.
"Akhh...K-kak pelan-pelan!" ujar Zevana saat Haidar menarik tangannya dengan kasar menuju ruangan yang Zevana tidak tahu itu apa.
Haidar membuka kunci ruangan tersebut, ia membawa Zevana masuk ke dalam sana.
Gelap...
Ruangan yang sempit itu terlihat sangat gelap sekali. Zevana gemetar karena ketakutan melihat tempat ini yang sangat pengap sekali.
Haidar menghidupkan sakelar lampu yang membuat Zevana sedikit lega. Tetapi kelegaan itu tidak berlangsung dengan lama ketika ia mendengar kata-kata Haidar yang sangat menusuk hatinya.
"Ini kamar lo sekarang! Terserah lo mau bersihkan atau tidak, gue gak peduli," ujar Haidar dengan tajam dan mendorong Zevana hingga terjatuh di lantai yang sangat kotor.
"K-kak, Zeva gak mau di sini! Zeva takut, Kak! Di sini pengap. Pasti banyak tikus dan kecoanya kan, Kak? Ruangannya juga sangat kecil," ujar Zevana dengan takut memegang kaki Haidar.
Haidar mendorong Zevana agar tidak memegangi kakinya lagi. "Gue gak peduli, Zeva! Sekalipun lo mati di ruangan ini!" ujar Haidar dengan tajam.
Nyutt....
"K-kak..." Zevana meneteskan air matanya saat Haidar berbicara begitu lantang tentang ketidakpedulian Haidar pada dirinya lagi. Apakah Haidar sangat membencinya sekarang? Ingin rasanya Zevana menangis dengan kencang sekarang karena ia sangat takut tidur di tempat yang seperti ini.
Haidar berjongkok di hadapan Zevana. Ia tersenyum sinis menatap Zevana yang menangis. "Gue gak mau ada satu orang pun dari keluarga lo dan keluarga gue yang mengetahui ini semua. Gue melarang lo untuk ketemu Zayyen atau siapa pun di luar sana tanpa gue! Kalau lo melanggar, lo akan habis di tangan gue!" ujar Haidar dengan tajam.
Haidar berdiri dan dengan langkah cepat dia keluar dari gudang kecil miliknya yang ada di apartemen ini.
Brakk...
"KAK HAIDAR JANGAN DITUTUP PINTUNYA ZEVA TAKUT!" teriak Zevana mengedor pintu dengan kuat.
"BERISIK! GUE MAU ISTIRAHAT!" teriak Haidar dengan sarkas.
"Hiks...Kak Zeva takut!" ucap Zevana yang berusaha membuka pintu tersebut. Namun sayang pintu tersebut sudah di kunci oleh Haidar dari luar yang membuat Zevana tidak bisa keluar.
Cit..Cit..
Zevana menghapus air matanya saat mendengar bunyi sesuatu dari balik kerdus yang ada di sampingnya.
__ADS_1
"KYAA...TIKUS HIKS..."
"KAK PLEASE BUKA PINTUNYA, KAK! ZEVA TAKUT TIKUS!! HIKS.. BUKA KAK! ZEVA MOHON HIKS..."
Dari luar Haidar mendengar semuanya, ia merasa tidak tega harus melakukan ini kepada Zevana karena bagaimanapun mereka sudah dekat sejak dulu. Tapi mengingat Zevana telah menjebaknya hingga dirinya harus bertanggung dengan menikahi Zevana membuat rasa tak tega itu lenyap entah kemana.
"JANGAN BERISIK ATAU GUE AKAN SIKSA LO LEBIH DARI INI!" teriak Haidar yang membuat Zevana menahan isakannya dengan menggigit jarinya.
"Hiks...Hus pergi! Jangan mendekat Zeva mohon!" ujar Zevana dengan pelan saat tikus tersebut berjalan ke arahnya.
"Pergi hiksss!" ujar Zevana dengan menangis.
Zevana menahan isakannya bahkan kakinya sampai gemetar saat tikus tersebut berjalan di kakinya.
"Hiks Mama, Zeva takut!" gumam Zevana hingga tubuhnya merosot ke bawah setelah tikus tersebut kembali bersembunyi di kerdus-kerdus.
***
Pyar...
"Zeva!" gumam Tiara yang tidak sengaja menjatuhkan gelas minumnya.
"Ya Allah, kenapa hatiku gak tenang seperti ini. Apa yang terjadi dengan putriku?" gumam Tiara dengan lirih.
Tiara menepis perasaan buruknya. "Zevana baru saja menikah. Mungkin ini perasaan kehilangan Zeva karena dia sudah menikah secepat ini," guman Tiara dengan lirih.
"Lindungi anakku ya Allah. Berikan kebahagiaan untuk pernikahannya walaupun pernikahan anakku terjadi karena sebuah insiden," do'a Tiara dengan sangat tulus. Hati nurani Tiara sangat kuat sekali tetapi ia mencoba menepis karena ia tahu Haidar adalah orang baik dan tak mungkin menyakiti anaknya.
***
"Mas!" gumam Fiona memanggil suaminya saat mereka selesai menjenguk Delisha yang belum sadarkan diri sampai pagi ini, mereka masih cemas saat belum melihat Delisha membuka mata. Seakan masih ada yang kurang di hidup mereka.
"Kenapa, Sayang? Mau telur gulung?" tanya Akbar mencairkan suasana yang sedikit haru.
Saat ini mereka akan pulang karena keduanya belum istirahat sama sekali. Tapi Delisha sudah ada yang menjaga yaitu Danish dan Daniel bergantian dengan Ikbal dan juga Nevan atau para sepupu Delisha yang lainnya dari pihak keluarga Mahendra.
"Terus apa, Sayang?"
"Perasaan aku sudah sedikit lega, Mas. Delisha kembali sehat walaupun belum sadarkan diri sampai pagi ini tapi aku yakin anak kita akan segera sadar," gumam Fiona dengan tersenyum.
"Perasaan Mas juga lega, Sayang. Rasanya beban yang ada di pundak Mas sudah menghilang," sahut Akbar dengan mengecup puncak kepala Fiona dengan sayang.
"Sudah bisa tidur dengan nyenyak. Mas kurusan, aku gak mau setelah ini Mas yang sakit!" ujar Fiona menatap wajah suaminya yang sudah di makan usia tetapi tetap saja masih terlihat sangat tampan. Garis ketampanan keluarga Mahendra tidak bisa di hilangkan hanya karena usia mereka.
Akbar tersenyum. "Mas sudah tua wajar kalau sakit. Yang terpenting istri Mas yang cantik ini selalu ada di dekat Mas dalam keadaan sehat maupun sakit nantinya," ujar Akbar dengan lembut.
Supir yang membawa mereka hanya bisa tersenyum melihat keromantisan majikannya yang tak pernah hilang dari dulu sampai sekarang.
"Gak sabar mau sampai rumah. Mau tidur sambil meluk kamu," ujar Akbar dengan terkekeh.
Fiona tersenyum. Ia masuk ke pelukan Akbar dengan sangat nyaman. Pelukan ternyaman miliknya selain Fathan dan ketiga anak lelakinya.
***
Malam harinya...
Mikaela merasa canggung saat ia harus berbaring di sebelah Dareel yang selalu tidur dengan kebiasaan bertelanjang dada. Mikaela sudah mendapatkan pengobatan dari dokter yang membuat nyeri di pergelangan kaki dan tangannya akibat pemasungan yang dilakukan oleh ayah tirinya mulai menghilang.
Mikaela tidak tahu jika Frengki sekarang di sekap oleh Dareel di suatu tempat dengan kaki dan tangan yang juga terpasung.
Mikaela baru menyadari kamar Dareel sangat luas sekali bahkan terdapat miniatur pesawat dan pilot yang sangat banyak di sebuah lemari kaca milik Dareel. Apakah suaminya adalah seorang pilot?
Dareel yang berpura-pura memejamkan matanya perlahan membuka matanya. Ia memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Mikaela yang membuat gadis itu terkejut.
__ADS_1
"Kenapa belum tidur?" tanya Dareel kenapa Mikaela.
"B-belum ngantuk," jawab Mikaela dengan terbata.
Dareel mengela napasnya. Ia membawa Mikaela ke dalam pelukannya bahkan kepala gadis itu ia letakkan di lengannya. Posisi seperti ini semakin membuat Mikaela canggung dan sangat gugup apalagi Dareel bertelanjang dada yang menampilkan perut berototnya.
"Malam pertama menjadi suami istri. Menurutmu apa yang akan di lakukan kedua pengantin baru saat malam pertama?" tanya Dareel yang semakin membuat Mikaela gugup.
Mikaela sangat tahu apa yang Dareel maksud tetapi Mikaela sangat takut untuk melakukannya. Dia belum siap! Sungguh!
"A-aku tidak tahu!" ucap Mikaela dengan gugup.
Dareel terkekeh, ia tahu Mikaela masih takut dan gugup kepada dirinya. "Membuat anak! Kamu mau melakukannya malam ini?" tanya Dareel dengan menatap Mikaela.
"A-aku..." Tenggorokan Mikaela tercekat tubuhnya panas dingin dengan ucapan Dareel yang terlalu spontan untuk dirinya.
Lagi dan lagi Dareel tertawa dengan mengacak rambut Mikaela dengan gemas. "Aku tidak akan melakukannya sebelum kamu siap. Malam ini kita akan bercerita tentang kehidupan masing-masing. Bagaimana?" tanya Dareel dengan pelan.
"M-mas sudah tahu kehidupanku seperti apa," ujar Mikaela yang membuat Dareel tersenyum.
"Baiklah. Kamu bebas bertanya apapun tentangku malam ini," ujar Dareel.
"M-mas tidak akan marah?" cicit Mikaela. Ia takut banyak bertanya yang membuat Dareel tidak nyaman dan malah membencinya.
"Tidak!" jawab Dareel dengan singkat.
"Miniatur pesawat dan pilot sebanyak itu. Apakah Mas seorang pilot?" tanya Mikaela dengan melihat wajah tanpa suaminya.
"Lebih tepatnya calon pilot. Bulan depan saya sudah bisa menerbangkan pesawat pertama saya," ujar Dareel yang membuat Mikaela takjub.
"G-gimana rasanya naik pesawat?" tanya Mikaela dengan antusias. Sejak kecil Mikaela mempunyai cita-cita untuk naik pesawat.
"Luar biasa. Kita bisa melihat keindahan bumi dari atas," sahut Dareel yang membuat Mikaela semakin ingin menaiki pesawat.
"Bulan depan apakah mau terbang bersama suamimu ini hmm?" tanya Dareel yang mengetahui impian Mikaela.
"A-apakah boleh?" tanya Mikaela dengan mengerjapkan matanya yang membuat Dareel gemas.
"Tuhan... Bagaimana bisa aku tidak mencintainya sedang dia saja mempunyai daya tarik seperti magnet yang membuat diriku selalu ingin dekat dengannya. Sungguh ini sangat gila! Berapa lama lagi aku harus menahan untuk tidak menyentuhnya?" gumam Dareel di dalam hati.
"Asal kamu menurut kepadaku maka semua akan bisa aku lakukan. Begini saja, kalau kamu mau aku akan meminjam jet pribadi milik pakdeku. Tapi jika aku pun mendapatkan izin terbang darinya," ujar Dareel.
Mikaela menggelengkan kepalanya. "Bulan depan saja, Mas!" gumam Mikaela dengan pelan.
"Baiklah!" ujar Dareel dengan tersenyum.
Dareel memberanikan diri untuk mengusap bibir Mikaela. Hingga ia tidak sadar semakin mendekatkan wajahnya kepada Mikaela hingga gadis itu mematung saat bibirnya di kecup oleh Dareel.
"Balas ciumanku!" gumam Dareel dengan serak.
Mikaela menelan ludahnya dengan kasar. Apakah ini saatnya ia harus menyerahkan dirinya seutuhnya kepada Dareel? Dareel dengan gemas menggigit bibir bawah Mikaela karena gadis itu tak kunjung membalas ciumannya hingga bibir gadis itu terbuka. Dengan begini Dareel bisa mengusai bibir Mikaela dengan mudah.
Dareel melepaskan ciumannya setelah puas mencicipi bibir Mikaela yang sangat manis untuknya. "Tidurlah!" gumam Dareel mengusap bibir Mikaela yang sedikit bengkak karena ulahnya.
"I-iya..." Buru-buru Mikaela menutup mata agar Dareel tidak mencium bibirnya lagi yang membuat Dareel tersenyum gemas.
***
ð Gimana perasaan kalian setelah membaca part ini?
ð Kasihan sama Zevana?
ð Hayo ada yang iri sama Mikaela dicium Mamas Dareel calon pilot idaman ciwi-ciwi ðĪŠðĪŠ
__ADS_1