Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 78 (Showroom Mobil)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


*****


"Woahhhhh..."


Fiona berteriak heboh saat melihat deretan mobil mewah berjejer di garasi rumah mewah milik Akbar. Dari mobil BMW, Ferrari, Lamborghini, Pajero dan masih ada beberapa yang Fiona tidak ketahui namanya.


"Satu, dua, tiga, empat, lima..... sepuluh."


Fiona menghitung deretan mobil mewah yang berada di garasi milik Akbar dengan mata yang berbinar.


"Om Akbar!" teriak Fiona kegirangan memanggil Akbar yang sedang mencuci salah satu mobil mewah miliknya yang akan dipakainya hari ini.


"Hmmm..." balas Akbar dengan menatap Fiona heran, sebab gadis itu terlihat sangat bahagia ketika masuk ke garasi mobil miliknya.


Fiona menghampiri Akbar seperti anak kecil yang mendapatkan permen, ia meloncat-loncat dengan rasa bahagia yang membuat Akbar menggelengkan kepalanya. Bukankah dirinya seperti mempunyai anak gadis?


"Kamu kenapa Fio?" tanya Akbar dengan gemas.


"Fio baru tahu kalau di rumah Om juga buka Showroom mobil," ujar Fiona dengan mengerjapkan matanya menatap Akbar.


"Hah? Showroom mobil? Saya gak buka showroom mobil di rumah, Fio!" ujar Akbar syok bahkan pria itu hampir saja menjatuhkan selang air yang ia bawa.


"Mobil yang di pajang di sana itu apa namanya kalau bukan showroom? Om bohongin Fio terus nih padahal buka showroom di rumah. Tapi kok gak ada karyawannya ya?" tanya Fio dengan cerewet.


Akbar menghela napasnya. "Itu semua mobil saya bukan milik showroom. Showroom mobil dan motor saya ada tapi bukan di rumah," ujar Akbar dengan gemas.


"P-punya Om semua? S-sepuluh?" tanya Fiona dengan mengangkat 10 jari tangannya di depan mata Akbar.


"Sebelas Fio sama yang saya cuci ini!" ujar Akbar dengan gemas.


Fiona menatap mobil mewah berwarna hitam yang sedang di cuci oleh Akbar dengan menelan ludahnya sendiri.


"Om ngepet ya bisa sekaya ini? Beli Fio 500 Milyar, mobil banyak, rumah mewah, Om pasti ngepet atau gak pelihara tuyul di rumah," tuding Fio.

__ADS_1


Akbar menjitak kepala Fiona dengan pelan. Ia gemas sekaligus kesal dengan tudingan yang Fio tunjukkan kepadanya. "Iya saya pelihara tuyul. Kamu tuyulnya. Atau gak kamu yang jadi b*bi ngepetnya, saya yang jaga lilin tiap malam biar saya tambah kaya," ujar Akbar dengan kesal.


"Sakit!" rengek Fiona dengan manja mengelus keningnya yang dijitak oleh Akbar padahal jitakan itu sangat pelan. Fiona saja yang ingin mendapatkan perhatian dari Akbar supaya lelaki itu tidak kesal kembali.


Akbar jadi panik sendiri, ia meletakkan selang air di bawah lalu mendekati Fiona dan mengelus kening Fiona dan meniupnya dengan perlahan.


"Sakit banget?" tanya Akbar merasa bersalah.


"He'em," angguk Fiona dengan wajah yang sangat imut.


Akbar gemas dengan calon istrinya sendiri. Eh calon istri? Ia saja belum meminta restu kepada Fathan atas rencananya yang akan meminang Fiona secepatnya.


Cup...


Cup....


"Sudah gak sakit lagi, kan?" tanya Akbar dengan lembut.


Fiona tersenyum malu. "Enggak, Om. Ciuman Om ternyata obatnya hehehe," jawab Fiona dengan sangat jujur bahkan terlihat sangat polos sekali.


"Mobil yang ada di rumah ini semua koleksi saya," ucap Akbar dengan jujur karena memang ia sangat suka mengoleksi mobil mewah, ada kepuasan tersendiri setelah ia bisa membelinya dengan hasil kerjanya.


"Koleksi? Fio pernah lihat teman Fio koleksi mobil tapi miniaturnya. Kok Om beda?" tanya Fiona dengan bingung.


"Kenapa harus miniatur kalau bisa beli yang asli?!" ucap Akbar dengan santai yang membuat Fiona melongo.


"Saya suka mengoleksi mobil asli," ujar Akbar.


"Kalau Fio suka cowok-cowok korea. Berarti Fio bisa nih koleksi mereka di rumah Fio," ujar Fiona dengan berbinar.


"Apa? Coba ulangi sekali lagi!" ujar Akbar dengan tajam merasa terpancing dengan ucapan Fiona yang sangat polos.


"Fio suka cowok-cowok korea karena mereka gan..."


Cup...


Akbar mencium bibir Fiona dengan cepat. "Kamu hanya boleh memuji satu orang sebagai pria yang sangat tampan. Yaitu saya!" bisik Akbar di telinga Fio.

__ADS_1


Gadis itu mematung. Fiona salah? Omongan Fiona salah? Kalau iya dirinya salah maka kesalahan kali ini sangat menguntungkan bibirnya yang kembali dicium oleh Akbar.


"Aaa...Kak Fathan, Fio udah dewasa!" teriak Fiona dengan malu-malu.


Akbar mendelik lalu terkekeh sendiri karena ucapan Fiona yang ia dengar di telinganya sangatlah lucu dan menggelitik perutnya. Akbar menggelengkan kepalanya saat Fiona kembali melompat kegirangan.


Akbar mengelus rambut Fiona dengan lembut. "Masuk ke rumah dan mandi setelah itu pakai dress berwarna merah yang sudah saya letakkan di lemari kamar kamu. Sebentar lagi kita akan bertemu keluarga besar saya," ujar Akbar dengan tegas.


"K-keluarga besar?" tanya Fiona dengan terbata pasalnya mendadak jantungnya berdetak sangat cepat, perutnya mulas seketika, sampai dirinya sesak pipis. Apa ini? Kenapa Fiona seperti ini? Rasanya sangat menakutkan sekali hingga perutnya saja terasa mulas seperti ini.


"Iya, Fio! Cepat! Besok baru kita bertemu dengan kakak kamu!" ujar Akbar dengan gemas.


"Gak bisa di tunda ya, Om?" tanya Fiona dengan memelas.


"Gak bisa! Ayo masuk!" ujar Akbar dengan tegas.


"Duh perut Fiona mulas tiba-tiba," gumam Fiona dengan lirih.


"Saya gak mau kamu koleksi cowok-cowok korea! Lebih baik kamu koleksi satu pria yaitu saya. Saya lebih tampan dari mereka!" ujar Akbar dengan tegas.


Fiona mengerucutkan bibirnya. "Jadi gak boleh nih? Ya udah deh koleksi hello kitty aja," ujar Fiona dengan cemberut.


"Ayo masuk, Fio! Atau saya mandikan kamu pakai selang air ini!" ujar Akbar dengan tegas.


"Kalau berani wlekk..." ejek Fiona menjulurkan lidahnya di depan Akbar.


Akbar yang hemas langsung mengarahkan selang air ke tubuh Fiona. Bukannya marah Fiona malah tertawa hingga keduanya bermain air bersama.


"Awas kamu ya Fio!" ujar Akbar dengan gemas.


"Kejar Fio kalau bisa Om!" ejek Fiona yang semakin membuat Akbar tertantang untuk mengejar Fiona.


Keduanya berlari-larian hingga Fio yang tertawa dan takut tertangkap oleh Akbar ke sandung kakinya sendiri. Fiona memejamkan matanya dengan takut jika dirinya sampai jatuh pasti rasanya sangat sakit apabila mengenai lantai di bawah yang dipasang bata jalan.


Dengan sigap Akbar menarik pinggang Fiona hingga tubuh Fiona menempel dengan tubuh Akbar. Keduanya yang sudah basah kuyup saling bertatap mata tanpa berkedip hingga Akbar mendekatkan bibirnya ke bibir Fiona. Lagi dan lagi Akbar mencium bibir Fiona dengan mesra kali ini bibir Akbar bergerak dengan lembut memgusai bibir Fiona.


"Kamu milik saya Fio!" ucap Akbar dengan serak menahan gairah yang tiba-tiba saja datang.

__ADS_1


__ADS_2