Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 114 (Kelahiran Baby Triplets)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya...


...Happy reading...


****


Fiona tampak tenang saat para suster mendorong kursi roda-nya menuju ke ruang operasi tetapi tidak dengan Akbar yang terlihat gugup bahkan wajahnya sangat pucat. Ini adalah pengalaman pertamanya menemani Fiona melahirkan, ini juga anak pertamanya setelah 15 tahun ia menantikan kehadiran buah hati dan ia mendapatkannya dari Fiona hingga 3 sekaligus.


"Sayang ada yang sakit gak?" tanya Akbar dengan cemas.


Fiona menggelengkan kepalanya saat ia baru sampai di ruang operasi. "Gak ada Mas Suami. Hihi Mas Suami kayak mau melahirkan bukan Fiona nih," ucap Fiona dengan terkikik geli melihat ekspresi wajah suaminya yang sejak kemarin terlihat berbeda, seperti tertekan dan mencemaskan keadaannya.


"Ibu bisa pindah ke brankar sekarang karena dokter Fathan akan menyuntik bius di punggung anda," ujar suster Pipit dengan tersenyum.


"Harus di suntuk ya, Sus? Gak bisa digantikan dengan obat lain? Punggung istri saya tulang loh, pasti rasanya sangat sakit," ujar Akbar dengan menelan ludahnya dengan kasar. Dia saja tak tega menyakiti Fiona dan ini Fathan dengan sengaja menyuntik punggung Fiona? Fathan benar-benar! Batin Akbar merasa geram.


Suster Pipit tertawa pelan mendengar penuturan Akbar. Lelaki tua itu terlihat sangat panik ketika istrinya mau melahirkan, sedangkan ibu hamil dengan perut yang sangat membuncit itu terlihat santai menatap Akbar.


"Suntik epidural memang harus di lakukan saat ingin melakukan operasi cesar, Pak. Suntik ini di lakukan agar ibu Fiona tidak merasakan nyeri pada daerah rahim, leher rahim, dan bagian atas vag*na. Ini adalah bius yang membuat bagian bawah tubuh ibu Fiona mati rasa tetapi tidak membuat ibu Fiona hilang kesadaran sepenuhnya. Pak Akbar tenang saja ibu Fiona akan baik-baik saja setelah ini, dokter Fathan tidak mungkin mencelakai adiknya sendiri," jelas suster Pipit.


Akbar baru paham, ia menganggukkan kepalanya tetapi tetap saja rasa cemasnya tidak berkurang sedikit pun. Fathan datang bersama dengan Zidan, dua dokter hebat itu akan saling bekerja sama untuk mengeluarkan ketiga anak Akbar.


"Tegang amat itu muka!" ejek Zidan yang membuat Akbar mendengkus kesal. Di saat seperti ini Zidan masih berani mengejeknya mentang-mentang Zidan seorang dokter kandungan dan Tiara juga sedang hamil sekarang lelaki itu berani sekali mengejeknya.


"Gimana gak tegang, istri saya mau melahirkan! Memperjuangkan hidup dan matinya demi ketiga anak saya!" sahut Akbar dengan sewot.


"Ya ampun suami kamu galak banget, Fio. Udah tua sih ya jadi gampang banget marah," ujar Zidan pada Fiona.


Fiona terkikik geli saat Zidan selalu mengejek suaminya. "Umur boleh tua tapi jiwa masih muda dong," ucap Fiona tak mau kalah.


"Saya emang tua tapi asal kamu tahu saya masih bisa membuat Fiona mengandung tiga anak saya sekaligus di rahimnya," ujar Akbar dengan kesal sedangkan Zidan hanya tertawa.

__ADS_1


Sedangkan Fathan mempersiapkan suntik untuk adiknya. Ia membiarkan Fiona mengobrol dengan Zidan karena apa yang di lakukan Zidan adalah sebuah kesengajaan agar Fiona tidak tegang, ini adalah cara Zidan agar pasiennya tidak tegang dan takut.


"miring ke samping kiri, Dek!" ujar Fathan yang membuat Fiona tiba-tiba menelan ludahnya dengan kasar saat melihat suntik yang di pegang kakaknya.


"Mas Suami!" panggil Fiona dengan memegang tangan Akbar dengan erat.


Fiona dan Akbar sama-sama memejamkan mata saat Fathan mulai menyuntikkan obat bius ke punggung Fiona.


Fiona meneteskan air matanya saat merasakan suntik itu masuk ke kulitnya. Fiona tidak bisa menjabarkan rasa sakitnya yang jelas rasanya sangat nikmat bahkan genggaman tangannya di lengan Akbar semakin bertambah kencang.


"Sakit, Mi?" tanya Akbar dengan serak.


Fiona mengangguk tanpa suara, rasanya bibirnya keluh untuk bergerak dan tenggorokan terasa kering yang hanya bisa Fiona lakukan adalah menggenggam tangan suaminya.


Suster Pipit dan para suster yang lainnya mulai membantu Fathan dan Zidan. tirai pengalang antara Fiona dan dokter yang bekerja mulai di bentangkan. Fathan mulai menyayat perut adiknya dengan serius dan fokus.


Sedangkan Akbar berada di atas kepala Fiona, ia terus menggenggam tangan Fiona dengan erat dan menciumi seluruh wajah Fiona dengan sayang. Baru kali ini di umurnya yang menginjak 51 tahun Akbar merasakan bahagia mempunyai anak, perasaannya campur aduk ketika menemani sang istri melahirkan, Akbar tak bisa membayangkan perut istrinya di sayat untuk mengeluarkan ketiga anaknya. Rasa sayang Akbar semakin bertambah saat menyaksikan perjuangan istrinya, jika dulu dirinya dan Aurel tidak bercerai mungkin sampai saat ini Akbar tidak merasakan bagaimana menjadi seorang ayah. Berkat Fiona Akbar menjadi sosok lelaki yang sempurna.


Suara bayi pertama memenuhi ruang operasi yang membuat kebahagiaan Akbar membuncah bahkan lelaki itu sampai mengeluarkan air mata bahagianya.


"Anak pertama kita sudah lahir, Sayang!" ucap Akbar dengan tersenyum bahagia.


"Tangisannya kencang banget, Fio suka suaranya!" ujar Fiona dengan pelan.


Akbar mengangguk membenarkan. Suara tangisan pertama anaknya adalah hal yang sangat membahagiakan.


"Mukanya Akbar banget. Anak kamu cuma numpang di rahim kamu, Fio!" ujar Zidan yang membuat Fiona cemberut.


"Mas Suami curang pasti!" ujar Fiona yang membuat Akbar menautkan kedua alisnya.


"Curang?" beo Akbar dengan bingung.

__ADS_1


"Iya! Mas Suami kasih apa ke adonan anak kita sampai mirip Mas Suami? Fio kan yang mengandung mereka masa gak mirip sama Fio sih! " protes Fiona dengan cemberut.


"Sayang, please jangan bercanda dulu. Ini belum selesai," keluh Akbar yang memang masih merasa tegang karena kedua anaknya belum dikeluarkan.


"Siapa yang bercan..."


Oekkk...Oekkk...


Ucapan Fiona terhenti saat tangisan anak keduanya terdengar kembali. "Hiks...hiksss.. Fio udah punya tiga bayi !" ujar Fiona yang merasa haru dengan kehadiran anak-anaknya.


Jangan di tanya Akbar bagaimana. Hati lelaki itu seperti letusan kembang api yang berwarna-warni.


Tak lama juga tangisan anak ketiga mereka terdengar sangat nyaring yang membuat Akbar lega dan bahagia secara bersamaan saat melihat ketiga anaknya lahir dalam keadaan sehat dan tanpa kekurangan suatu apapun. Bahkan Akbar terus mencium wajah Fiona dan menggumamkan kata terima kasih kepada istrinya karena telah berhasil melahirkan ketiga anaknya.


Fathan juga merasa lega saat berhasil membantu kelahiran ketiga keponakannya yang berjenis lelaki semua.


Ketiga bayi Akbar dan Fiona sudah dibersihkan oleh para suster. Akbar dengan takut-takut menggendong anaknya karena ketiganya terlihat mungkin sekali, Akbar takut tulang anaknya akan patah. Akbar mulai mengazani anaknya secara bergantian bahkan air mata Akbar sampai menggenang di pelupuk matanya.


"Makasih jagoan! Kalian telah membuat Papi bahagia. Berkat kehadiran kalian sekarang Papi bisa merasakan bagaimana menggendong anak sendiri," gumam Akbar menatap wajah ketiga anaknya dengan takjub.


"Setelah ini coba lagi perempuan ya!" ujar Zidan yang dihadiahi jitakan oleh Fathan.


"Bekas jahitan adek gue belum kering goblok!"


****


Danish Mahendra


Daniel Mahendra


Dareel Mahendra

__ADS_1



__ADS_2