
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
***
Zayyen mengantarkan Cika pulang ke rumahnya. Bisa-bisanya ia melupakan keberadaan Delisha yang sekarang bersama dengan Ikbal.
"Terima kasih ya, Zayyen!" ucap Cika dengan tulus.
"Sama-sama. Cepat masuk ini sudah malam," ujar Zayyen dengan tersenyum.
Ya Zayyen mengajak Cika jalan-jalan untuk mengurangi kesedihan gadis itu tetapi ia melupakan Delisha begitu saja, mereka terhanyut dengan suasana yang keduanya ciptakan dan melupakan pasangan masing-masing.
Cika mengangguk dengan tersenyum hangat. Ia melambaikan tangannya ke arah Zayyen yang mulai melajukan mobilnya meninggalkan Cika.
Cika berjalan masuk ke rumahnya dan sudah ada Nevan yang berada di sana dengan tatapan yang tidak bisa dijabarkan.
"Kakak dari mana?" tanya Nevan dengan tegas.
"Kenapa bisa bersama dengan kak Zayyen? Aku, papa, mama, apalagi kak Zayden sangat mengkhawatirkan Kakak! Kak Zayden terlihat sangat kacau tadi. Nevan bukan sok dewasa menasehati kakak, tapi Nevan berhak untuk mengingatkan Kakak! Kak Zayyen dan kak Zayden itu adalah saudara kembar tak baik rasanya jika kakak mempunyai masalah dengan kak Zayden apalagi hanya sebuah kesalahpahaman Kakak langsung cerita dengan kak Zayyen. Seharusnya Kakak selesaikan dulu masalah Kakak dengan kak Zayden!" ujar Nevan dengan tegas.
"Zayden ada cerita?" tanya Cika tak suka karena mengingatkan dirinya dengan kejadian tadi.
"Ya! Dan itu hanya sebuah kesalahpahaman! Sekretaris kak Zayden yang menggodanya bukan kak Zayden yang menginginkan. Nevan hanya ingatkan Kakak, hargai kak Zayden selagi dia masih memperjuangkan Kakak! Jika kak Zayden sudah pergi dari sisi Kakak pasti Kakak akan menyesal nantinya," ujar Nevan yang membuat Cika tersadar.
"Besok Kakak akan temui kak Zayden. Tapi untuk sekarang Kakak perlu istirahat!" ujar Cika pada akhirnya.
Nevan menganggukkan kepalanya. "Ingat Kak. Delisha pacar kak Zayyen!" ujar Nevan dengan tegas dan setelah itu pergi meninggalkan Cika yang terdiam mematung.
"Bodoh! Kenapa kamu bisa lupa jika Zayyen sudah mempunyai kekasih dan kekasih Zayyen adalah adik sepupu kamu sendiri!" umpat Cika kepada dirinya sendiri.
Dengan perasaan bersalah Cika memasuki kamarnya dengan perasaan yang tak enak sama sekali.
***
Delisha tersenyum senang saat Ikbal mengikuti kemauannya. Saat ini keduanya masih di mall berdua tentu saja dengan izin kedua orang tua Delisha dan ketiga kakak posesif-nya setelah Delisha berkata jika Zayyen memiliki tugas yang amat penting
__ADS_1
"Kak Boleh beli boneka kucing?" tanya Delisha dengan mata mengerjap lucu.
"Boleh!"
"Boleh beli baju banyak?"
"Boleh!"
"Boleh beli semua yang ada di mall ini?" tanya Delisha menguji Ikbal yang terlihat diam sejak tadi.
"Boleh!" ujar Ikbal dengan tenang.
Ikbal mengambil sesuatu di dompetnya yang membuat Delisha mengeryot bingung.
"Kartu hitam?" gumam Delisha dengan melongo.
"Ambil!" ucap Ikbal memberikan black card kepada Delisha yabg terlihat bengong.
"U-untuk apa?" tanya Delisha dengan linglung.
"Beli telur gulung!" sahut Ikbal dengan datar.
"Sepuasnya!" sahut Ikbal dengan menatap Delisha dengan gemas.
"Ini untuk Delisha?" tanya Delisha tak percaya.
Ikbal mengangguk. "Habiskan aja!" ujar Ikbal dengan santai.
"Beneran?" tanya Delisha dengan mata yang berbinar. Walau dirinya adalah anak orang kaya juga bahkan kekayaannya orang tuanya hampir sama dengan Ikbal tetapi tetap saja Delisha merasa seperti tak pernah melihat black card yang ada di tangannya padahal ia sudah sering melihatnya bahkan memegang satu black card yang diberikan oleh papinya.
"Delisha punya dua kartu hitam sekarang!" ujar Delisha dengan senang.
Ikbal menggenggam tangan Delisha dengan erat. "Beli apa aja yang kamu mau!" ucap Ikbal yabg membuat Delisha senang seakan sakit hatinya karena Zayyen menghilang sejenak karena Ikbal mampu meratukan dirinya dengan cara berbeda lelaki itu sendiri.
"Gendong Delisha pegel!" rengek Delisha.
Tanpa kata Ikbal mengangkat tubuh kecil Delisha. Ikbal seperti menggendong adiknya saat ini.
__ADS_1
"Kemana?"
"Ke toko boneka!" jawab Delisha dengan semangat.
"Oke!"
Ikbal benar-benar memanjakan Delisha malam ini. Semua keinginan gadis itu Ikbal turuti tanpa berpikir takut jika uangnya akan habis, selagi Delisha senang maka Ikbal akan ikuti kemauan gadis itu.
****
Zayyen tersenyum bahagia saat bisa bersama dengan Cika. Tetapi setelah itu Zayyen menghentikan mobilnya secara mendadak saat ia mengingat Delisha yang ia tinggalkan di taman seorang diri.
"Sial!" umpat Zayyen dengan kesal. Bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan gadis itu seorang diri di taman?
Delisha selalu menuruti kemauannya. Apakah gadis itu tetap menunggunya?
Zayyen menjalankan mobilnya kembali dengan kecepatan penuh. Kali ini hatinya gelisah karena ia meninggalkan Delisha seorang diri di taman. Rasa bersalah menyeruak di hati Zayyen saat ini.
Akhirnya Zayyen sampai di taman di mana ia pergi bersama dengan Delisha tadi setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama. Zayyen langsung keluar dari mobilnya, ia berjalan dengan tergesa-gesa ke tempat di mana ia dan Delisha duduk tadi tetapi Delisha sudah tidak ada di sana.
"Delisha!" teriak Zayyen dengan keras.
"Delisha!"
"Delisha!"
Zayyen terus berteriak memanggil nama Delisha berulang kali. Tetapi hasilnya nihil tak ada lagi Delisha di taman ini, taman ini sudah sangat sepi. Zayyen takut terjadi sesuatu dengan Delisha sekarang.
"Arghh...bodoh!" teriak Zayyen menjambak rambutnya sendiri.
Zayyen mengambil ponselnya, ia menghubungi Delisha tetapi ponsel gadis itu tidak aktif yang membuat Zayyen kesal dengan dirinya sendiri.
Zayyen baru sadar jika ada pesan dari Delisha beberapa jam yang lalu.
"Kak, maafin Delisha sudah membuat kakak kesal. Haus Delisha udah hilang kok Kak lihat senyuman Kakak. Terima kasih sudah mau ke taman bersama Delisha!"
Zayyen menggenggam ponselnya dengan perasaan kesal. Gadis itu membuat dirinya kacau sekarang! Rasa bersalah seakan datang begitu saja menghampiri hatinya.
__ADS_1