
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
*****
Mobil Barra sudah berhenti di halaman rumahnya. Keduanya saling terdiam setelah Barra mematikan mesin mobilnya, ia membiarkan Tiara diam tanpa suara dengan mata yang bergerak gelisah.
"Ayo turun!" ujar Barra dengan tegas.
Tiara menggigit bibir bawahnya dengan memainkan tangannya yang berkeringat, jelas sekali wanita itu terlihat sangat gugup bahkan jika Barra bisa mendengar detak jantungnya saat ini pasti lelaki itu akan menertawakannya.
"A-aku tidak bisa!" ujar Tiara menghirup napas dalam-dalam. Tiara merasa pasokan udaranya menitipis saat ini.
"Papa!" teriak bocah lelaki yang seusia Zayden.
Tiara tersentak dengan suara itu, ia langsung menatap wajah anak itu dari dalam mobil, senyumannya melengkung dengan sangat indah ketika menatap wajah tampan anak lelaki tersebut.
"Zayyen!" gumam Tiara dengan lirih.
"Tunggu apa lagi? Ayo keluar! Sapalah Zayyen!" ujar Barra mencoba berbesar hati untuk mempertemukan Tiara dengan Zayyen, ibu dan anak yang sudah lama berpisah karena sebuah alasan yang tidak diketahui siapa pun kecuali Tiara, Barra dan istrinya.
Tiara mengangguk dengan perlahan, dengan tangan gemetar Tiara membuka pintu mobil Barra. Kakinya terasa berat melangkah saat ia sudah berada di hadapan Zayyen.
"Mama, Papa bawa tante cantik!" teriak Zayyen yang membuat hati Tiara berdenyut sakit saat anaknya sendiri memanggilnya dengan sebutan 'tante' tetapi dengan orang lain ia memanggilnya dengan sebutan 'mama' yang sangat manis didengar telinga Tiara. Sangat miris sekali!
Istri Barra keluar dari dalam rumah dengan menjalankan kursi rodanya sendiri. Senyuman istri Barra langsung memudar saat melihat siapa yang datang bertamu ke rumahnya.
Barra menggendong Zayyen dengan cepat saat anak angkatnya itu menatap Tiara dengan pandangan penuh selidik. Sikap Zayyen memang lebih pendiam, ia tidak suka dengan orang baru. Tetapi entah mengapa hatinya mengatakan jika wanita di depannya ini adalah orang baik.
"Salam sama Tante Tiara, Zay!" ujar Barra dengan lembut.
__ADS_1
Awalnya Zayyen ingin menolak tetapi melihat wajah Tiara yang seperti menahan tangis akhirnya Zayyen mengulurkan tangannya yang di sambut dengan tangan gemetar oleh Tiara.
"B-boleh Ma... Maksud Tante, boleh Tante peluk kamu?" tanya Tiara dengan menahan tangisnya.
"Enggak mau!" ucap Zayyen dengan cepat.
Mendapatkan penolakan dari anaknya sendiri membuat air mata Tiara langsung jatuh membasahi pipinya tetapi dengan cepat Tiara mengusapnya.
"Zayyen gak boleh seperti itu!" ucap Barra dengan tegas.
"Tiara silahkan masuk!" ucap istri Barra dengan tersenyum, ia tidak mau Zayyen berlaku tidak sopan kepada Tiara.
"A-aku hanya ingin memeluk Zayyen sebentar saja!" ucap Tiara dengan tercekat.
"Zayyen ayo peluk Tante Tiara sebentar saja!" perintah Rose kepada Zayyen.
Dengan penuh kebimbangan akhirnya Zayyen mau memeluk Tiara dengan Tiara menggendong anaknya setelah Barra memberikan Zayyen kepadanya. Tiara memeluk Zayyen dengan erat, sungguh ia sangat merindukan anak sulungnya ini.
"Tante jangan nangis!" ucap Zayyen dengan datar.
"T-tante kelilipan!" ujar Tiara dengan tersenyum.
"Kenapa harus sangat mirip dengan Zidan?" gumam Tiara di dalam hati.
"Dokter Barra, Rose terima kasih atas kebaikan kalian," ujar Tiara dengan tulus. Kali ini Tiara lah yang benar-benar berkata karena Tika atau alter ego Tiara sejak tadi diam saja dan tidak muncul sama sekali di pikiran Tiara.
"Sama-sama, Tiara!" ujar Rose dengan tersenyum.
Andai Rose bisa memiliki anak pasti dirinya tidak akan mengangkat anak Tiara seperti ini. Sejak kecelakaan itu rahimnya di angkat, Rose yang hampir berputus asa dan mengakhiri hidupnya akhirnya bertemu dengan Tiara di Paris saat sang suami dulu bekerja di sana dan mengobati dirinya di sana yang sudah hampir mati. Tetapi Rose benar-benar sangat menyayangi Zayyen seperti anak kandungnya sendiri.
****
__ADS_1
Rose menatap Tiara yang sedang menatap Zayyen belajar dengan legonya, ya anak itu lebih suka berdiam diri dengan memainkan lego untuk mengasah otaknya seperti ini dari pada bermain seperti seusia anak lainnya.
"Aku seperti melihat dua susi di dalam diri Zayyen. Terkadang dia seperti Zidan dan terkadang dia sepertiku yang terus belajar karena ingin melihat kedua orang tuaku bangga," gumam Tiara tanpa sadar membuat Barra dan Rose saling pandang.
"Ya Zayyen sangat pintar sepertimu!" ujar Barra menimpali.
Tiara tersenyum tetapi tiba-tiba ia teringat akan Zayden. Ya kedua anak itu sangat mirip dengannya dan Zidan. Ah Tiara kamu mikir apa? umpat Tiara di dalam hati.
"Tiara kamu kenapa?" tanya Rose denga khawatir.
"Tidak apa-apa, Rose!" ucap Tiara dengan tersenyum dipaksakan.
"Tiara aku boleh bertanya?" tanya Rose dengan pelan.
"Boleh. Ingin bertanya apa?" tanya Tiara menatap Rose yang berada di kursi roda karena sebuah kecelakaan Rose lumpuh total, tetapi Rose sangat beruntung memiliki suami seperti Barra yang sangat setia. Bukan seperti dirinya yang ditinggalkan begitu saja oleh Zidan di saat ia sedang mengandung.
"Apa kedatangan kamu ke sini untuk mengambil Zayyen dari kami? J-jujur aku belum siap kehilangan Zayyen, selama ini Zayyen penyemangat hidupku. Dan apa kedatangan kamu ke sini diketahui oleh kedua orang tuamu? A-aku takut jika mere..."
"Cukup! Jangan membahas apapun! Kali ini aku akan menentang siapa pun yang ingin merusak kebahagiaan Zayyen! Dia tidak boleh sepertiku! Kalian adalah orang tua yang pantas untuk mengurus Zayyen jika waktunya telah tiba kalian harus siap sesuai dengan perjanjian yang kita buat. Tentu kalian tidak lupa akan hal itu, kan?" ujar Tiara dengan tajam.
Barra menatap istrinya dan memberikan kode agar tidak membuat Tiara marah. Rose ysng mengerti langsung meminta maaf kepada suaminya melalui tatapan mata.
"Maafkan aku!" ujar Rose pada akhirnya.
****
Zidan tidak bisa fokus dengan pekerjaannya kali ini. Ia berulang kali salah memberikan obat kepada pasien hingga ditegur oleh suster yang bekerja dengannya. Zidan mengusap wajahnya dengan kasar, bayangan Tiara bahagia bersama dengan Barra membuat hatinya memanas. Zidan menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Ia membuka laci dan mengambil diary Tiara dengan perlahan, dan tanpa sengaja selembar kertas kecil jatuh dari sana.
"Apa itu?" tanya Zidan pada dirinya sendiri.
Zidan berjongkok untuk mengambil kertas tersebut di lantai.
__ADS_1
"Foto USG? Kembar?"