
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
*****
Mama Yesha menatap suaminya dengan wajah berbinar, rencananya akan berjalan dengan mulus jika Fiona mau menikah dengan lelaki kaya. Dia tidak ingin jatuh miskin dan apa yang ditawarkan lelaki itu membuatnya gelap mata, mama Yesha dengan tega ingin menikahkan anaknya dengan duda kaya dengan anak 3 bahkan tubuhnya juga terlihat gendut dengan perut membuncit.
"Pa, Mama ada kenalan. Dia sedang mencari istri setelah istri pertamanya meninggal dunia. Dia akan memberikan mahar yang sangat besar jika kita mau menikahkan dia dengan Fiona. Anak itu pasti nurut, Pa! Kita bisa hidup enak lagi kalau Fiona mau menikah dengannya!" ujar Mama Yesha dengan berbinar.
Papa Handoko menggelengkan kepalanya, ia ingin bicara tetapi sangat sulit. "Ja..eng.mmpp.."
"Jangan, Ma! Jangan lakukan itu!" ucap Papa Handoko di dalam hati karena selama Fiona merawatnya dengan tulus, ia sadar jika selama ini dirinya bukan ayah yang sangat baik untuk Fiona sampai-sampai anak perempuannya tak mau tinggal bersama dengan dirinya dan istrinya, Fiona malah memilih tinggal bersama dengan tante dan omnya, adik ipar dari papa Handoko sendiri.
"Papa ngomong apa sih?" tanya Mama Yesha dengan kesal karena ia sama sekali tak mengetahui ucapan suaminya yang terdengar tidak jelas akibat stroke yang suaminya alami.
"Kehidupan kita pasti bakal terjamin lagi, Pa! Dan Papa bisa sembuh. Mama tidak bisa meminta tolong kepada Fathan karena anak itu masih marah besar dengan kita bahkan selama papa dirawat di sini terhitung hanya dua kali Fathan melihat Papa itu pun hanya sebentar saja," ujar Mama Yesha dengan sendu.
"Pak Banu akan memberikan 10 milyar jika Fiona mau menikah dengannya, Pa. Mama sudah setuju dengan pak Banu, Mama hanya tinggal mempertemukan Fiona dengan pak Banu," ujar Mama Yesha dengan tersenyum.
"Saya akan berikan 500 milyar jika anda memberikan Fiona kepada saya!" ucap seseorang yang membuat mama Fiona menatap ke arah lelaki tersebut.
"P-pak A-akbar!" ucap Mama Yesha dengan gugup melihat tatapan Akbar yang sangat tajam ke arahnya.
Tangan Akbar mengepal dengan sangat erat, niatnya ke rumah sakit ingin bertemu dengan Fiona tetapi ia malah mendengar ucapan dari mama Yesha yang membuat darahnya mendidih karena emosi. Jika mama Yesha bukan wanita mungkin Akbar sudah menghajar wanita tua di depannya ini.
Orang tua mana yang tega menjual anaknya demi mendapatkan uang kepada pria yang tak tulus menyayangi Fiona? Mama Yesha sudah gila karena harta.
"Kenapa? Kaget dengan kedatangan saya ke sini? Saya bisa saja menghancurkan kalian lebih dari pada ini tetapi jika Fiona yang akan menjadi tumbalnya saya tidak akan rela. Saya akan berikan uang berkali-kali lipat jika kalian menyerahkan Fiona kepada saya!" ujar Akbar dengan dingin.
Mama Yesha tampak mencuit ketika Akbar berbicara. Arsitek terkenal sampai ke mancanegara itu seperti mengeluarkan taring tajamnya.
"Kalian menjual Fiona maka saya yang akan membelinya. Uang kan yang kalian butuhkan?" ujar Akbar dengan dingin.
__ADS_1
Fiona yang baru saja dari ruangan kakaknya menatap kedua orang tuanya dan Akbar dengan pergantian.
"O-om Akbar mau beli Fiona? E-enggak usah Om kan Fiona bukan barang masa mau dibeli sih?" ujar Fiona dengan bingung. Otak lemotnya tidak bisa bekerja dengan baik.
Akbar menarik Fiona dengan cepat hingga tubuh mungil perempuan itu terggelam di dadanya, Akbar menutupi Fiona dengan jas hitam yang ia pakai hingga gadis itu hanya bisa terdiam menikmati irama jantung Akbar yang begitu menenangkan.
"500 milyar cukup untuk membungkam mulutmu Yesha?" tanya Akbar dengan tajam.
Mama Yesha menelan salivanya dengan kasar. Ia tidak bisa berkata-kata saat di hadapan Akbar.
"M-mama mau jual Fiona ke Om Akbar?" tanya Fiona yang berusaha mengintip karena Akbar tak mengizinkannya melihat wajah mamanya sama sekali.
"Diam Fiona!" ujar Akbar dengan tegas.
"Ihhh Om gimana sih kok Fio di suruh diam. Om mau ajak Fio nikah bilang dong masa harus beli dulu ke mama. 500 milyar lagi. Berapa digit itu coba? Nanti Om gak punya uang lagi Fiona banyak makan loh om. Telur gulung, sate, bakso, mie ayam, sosis, es krim, masih banyak lagi jajanan Fio pasti om gak sanggup beliin jajan buat Fio kalau duitnya om kasih mama," ujar Fiona dengan polosnya.
"Seribu tusuk telur gulung pun saya akan belikan Fio! Jangan banyak bicara untuk saat ini! Saya sedang berbicara penting dengan mamamu itu! Atau sehabis saya beli kamu, kamu saya jadikan pemulung di jalanan supaya bisa memberikan uang ke saya. Kamu mau?" ujar Akbar dengan kesal.
Otak Fiona benar-benar sangat polos dan terlihat eerr... **n. Kedua kata itu sangat beda tipis untuk megambar sosok Fiona. Dan Akbar semakin tidak rela jika Fiona jatuh ke orang lain. Fathan ingin menjodohkan Fiona, mama Yesha ingin menjual Fiona dengan pria tua hidung belang dan itu membuat pikiran Akbar tidak tenang lebih baik ia kehilangan uang 500 milyar daripada kehilangan Fiona.
"Gak mau!" rengek Fiona dengan manja. "Jangan jadiin Fiona pemulung Om. Nanti Fio jadi hitam!" ujar Fiona merengek seperti anak kecil.
Akbar mati-matian untuk tidak terkekeh gemas ke arah Fiona. "Makanya diam!" ujar Akbar dengan tegas.
Akbar beralih ke mama Yesha kembali. "Cukup tidak?" tanya Akbar dengan cukup.
Mama Yesha mengangguk dengan cepat dan matanya berbinar bahagia. "Beritahu Banu jika Fiona saya yang membeli dan jangan pernah mengusik apa yang sudah menjadi milik saya, termasuk kalian manusia busuk," ujar Akbar dengan tajam.
"Mama dan papa gak bau busuk kok Om. Mama udah Fio kasih parfume dari Belanda," ujar Fiona dengan polosnya.
"Ck...mau jadi pemulung setelah ini?" tanya Akbar dengan tajam.
Fiona menggelengkan kepalanya dan menutup mulutnya dengan tangannya agar tidak berbicara yang berpotensi ia akan jadi pemulung.
__ADS_1
Akbar mengambil cek dari dalam dompetnya, dan mengambil bolpoin yang berada di saku jasnya, ia langsung membubuhi tanda hitam di cek tersebut. Tulisan tersebut tertera uang yang sangat besar untuk membungkam mulut keji mama Yesha. Andai saja Akbar bisa memberikan penyakit sudah ia berikan stroke kepada mama Yesha saat ini juga.
"Saya ingatkan sekali lagi. Fiona sudah menjadi milik saya. Semua aset yang kalian punya juga sudah menjadi milik saya dan jangan sekali-kali kalian mengusik milik saya seujung kuku pun. Jika itu terjadi maka habis kalian dengan saya, saya akan membuat kalian menjadi manusia yang paling rendah jika berani mengusik Fiona. Gerak-gerik kalian akan saya awasi mulai sekarang terutama kamu Yesha!" ujar Akbar tanpa menyebut tante di depan nama mama Yesha, Akbar sudah sangat geram dengan wanita itu.
"Ayo pergi!" ujar Akbar kepada Fiona.
Fiona hanya diam, sikap dingin Akbar membuat Fiona sedikit paham jika lelaki itu sedang serius. Tetapi Fiona masih bingung dengan ucapan menjual dan membeli yang tertuju kepadanya.
"Om!" cicit Fiona saat keduanya sudah sampai di mobil Akbar.
"Hmmm.." dehem Akbar. Amarah di dalam dirinya belum mereda jadi Akbar tak banyak bicara.
"Om beli Fiona bukan untuk dijadikan pemulung, kan? Atau jadi pembantu Om?" tanya Fiona dengan cemas.
"Kalau iya kamu bisa apa? Mau menolak? Tidak bisa Fio karena uang saya sudah habis untuk membeli kamu," ujar Akbar berbohong. Baginya kehilangan uang 500 milyar tidak ada apa-apanya dibandingkan Fiona yang harus jadi korban kejahatan mama Yesha.
"Jangan dong Om! Ommm Akbarr jangan jadiin Fio pemulung atau pembantu ya, ya! Ommm!" rengek Fiona dengan menarik lengan Akbar.
Akbar menghela napasnya, ia membawa kepala Fiona ke dadanya. Ia mengelus rambut Fiona dengan lembut. "Nurut sama saya maka kamu gak akan jadi pemulung!" ujar Akbar dengan lembut.
Fiona mengangguk dengan senang. "Kok Om beli Fio sih? Mama kok jual Fio? Apa Fio gak se berharga itu di mata mama? Fio tahu, Fio tidak pintar seperti kak Fathan tapi Fio merasa uang lebih penting untuk mama dari pada Fio. Kemarin aja tabungan Fio habis di minta mama. Apa uang hasil menjual Fio untuk pengobatan papa ya, Om?"
Fiona menjeda ucapannya, lalu ia mendongak menatap ke arah wajah Akbar dengan pandangan polosnya. "Om, Fio laper mau telur gulung!" ucap Fiona dengan mengerjap lucu.
Argghh...
Akbar menggigit hidung Fiona dengan geram. Suasana yang tadinya melow langsung berubah karena ucapan Fiona yang menginginkan telur gulung.
"A-aduh sakit!" rengek Fiona. Tetapi setelah itu Akbar mengelus hidung Fiona dengan lembut.
"Uang saya habis!" ujar Akbar dengan kesal.
Fiona cemberut. "Ayo mulung bareng om uangnya untuk beli telur gulung!"
__ADS_1
"Astaga Fiona!"