
...Jangan lupa follow instagram aku ya : author_syafitri Di sana akan ada postingan dari novel aku....
...Ramaikan part ini!!...
...Happy reading...
****
Barra menatap istrinya dengan sendu. "Berdoa ya Sayang semoga persidangan ini kita yang menang!" ujar Barra dengan tegas.
Rose membalas tatapan suaminya tak kalah sendunya. "Zayyen gimana, Mas? Bagaimana kalau dia tahu kita bukan orang tua kandungannya? Bagaimana jika Tiara yang menang? Pasti Zayyen akan bertanya mengapa dia di bawa dengan Tiara? A-aku gak sanggup jika harus kehilangan Zayyen, Mas! Zayyen anak kita! Aku gak mau kehilangan Zayyen!" ujar Rose dengan sendu.
Hati Rose merasa tidak tenang kala sebentar lagi mereka akan pergi ke persidangan mempertahankan hak asuh Zayyen.
"Apa benar Zayyen bukan anak kandung Mama dan Papa?" tanya Zayyen dengan tatapan dingin namun tersirat akan kesedihan di matanya.
"Z-zayyen," ucap Barra dan Rose dengan gugup.
Barra mendekat ke arah anaknya dan berjongkok di hadapan Zayyen. "Kamu anak Papa dan Mama!" ujar Barra dengan tegas.
"Kalau Zayyen anak Papa dan Mama tapi kenapa harus melakukan persidangan untuk hak asih Zayyen? Apa benar tante Tiara dan lelaki itu adalah orang tua kandung Zayyen?" tanya Zayyen dengan dingin.
Sebagai anak yang cerdas Zayyen merasa ada yang disembunyikan oleh kedua orang tuanya. Jika dirinya anak kandung dari Barra dan Rose kenapa mereka sibuk untuk mempertahankan hak asuhnya? Jika Zayyen anak dari Tiara dan Zidan tapi kenapa kedua orang tuanya tega memberikan dirinya pada orang lain? Permasalahan ini membuat otak kecilnya merasa bingung! Zayyen harus mempercayai siapa?
Rose menjalankan kursi rodanya mendekat ke arah Zayyen. "Kamu adalah anak kami sampai kapan pun, Sayang. Kami sangat menyayangimu dan tidak ingin kehilanganmu," gumam Rose dengan sendu.
__ADS_1
"Tapi kenapa tante Tiara mangatakan jika Zayyen ini adalah anak kandungnya? Kalian berbohong kepadaku? Aku ini sebenarnya anak siapa? Tolong jawab!" ujar Zayyen bak seperti orang dewasa yang mengintimidasi kedua orang tuanya. Zayyen butuh jawaban yang membuat hatinya tak tenang dan dirinya tidak bisa tidur dengan nyenyak dalam seminggu ini akibat ia bertemu dengan Tiara dan Zidan yang mengaku sebagai orang tua kandungnya.
Barra memegang lengan anaknya dengan pelan. "Lihat Papa! Mungkin ini akan menyakiti hatimu dengan kejujuran Papa, Zayyen. Tapi kamu anak yang cerdas, sepertinya kamu harus mengetahui semuanya."
Jeda sejenak. Barra menatap manik mata Zayyen dengan dalam begitu pun dengan Rose hatinya sudah berdenyut sakit karena sebentar lagi Zayyen mengetahui semuanya. Apakah setelah ini Zayyen akan membencinya dan memilih tinggal bersama dengan kedua orang tua kandungnya? Tetapi walaupun begitu Rose dan Barra akan tetap memperjuangkan hak asuh Zayyen agar jatuh ke tangan mereka kembali.
"Kamu memang bukan anak kandung papa dan mama. Kamu memang bukan terlahir dari rahim Mama Rose. Tetapi sejak bayi kamu sudah tinggal bersama kami, Sayang. Memang benar Tiara dan Zidan adalah kedua orang tua kamu tetapi mereka tidak menginginkan kamu, tepatnya mama kamu tidak ingin mempunyai anak hingga kamu diberikan kepada kami agar kami asuh karena kami tidak bisa mempunyai anak. Sedangkan kembaran kamu di bawa oleh papa kamu dengan mama tiri kamu. Mama kamu lebih mementingkan pendidikannya dari pada kamu dan kembaran kamu sebagai anaknya. Dan sekarang dia ingin merebut kamu dari papa dan mama, tentu papa dan mama menolaknya karena kamu tetap akan menjadi anak kami. Makanya kami harus melakukan persidangan untuk mempertahankan hak asuh kamu, Zayyen! Sekarang kamu tahu kan alasan papa dan mama melakukan persidangan?" ucap Barra panjang lebar. Tentu saja yang ia katakan adalah sebuah kebohongan agar Zayyen mempercayainya dan membenci Tiara, dengan begitu Zayyen tidak akan tinggal bersama dengan Tiara karena pasti Zayyen akan membenci Tiara dan juga Zidan.
Jahat? Egois? Ya, Barra akui dia jahat dan egois karena mencuci pikiran anaknya agar membenci kedua orang tua kandungnya sendiri karena dengan begitu dia tidak akan kehilangan Zayyen. Barra akan melakukan apa saja agar Rose bahagia.
Rose melihat ke arah suaminya. Ia tidak menyangka jika Barra akan berbicara seperti itu kepada Zayyen.Tetapi Rose merasa lega melihat tatapan Zayyen yang mulai melunak kepada dirinya dan Barra.
"Zayyen benci mereka! Zayyen gak mau tinggal dengan penjahat seperti tante Tiara! Bagi Zayyen kedua orang tua kandung Zayyen adalah papa dan mama!" ucap Zayyen dengan dingin. Sorot matanya begitu tajam seakan bisa menghunus siapa saja yang melihatnya.
Hati Zayyen merasakan sakit yang amat luar biasa saat menerima kenyataan jika kedua orang tua kandungnya tidak menginginkan kehadirannya. Zayyen ingin menangis tetapi tidak bisa wajahnya selalu datar dan dingin seakan air mata engga untuk keluar dari mata elangnya.
*****
Tiara tampak terlihat tegang saat dirinya dan Zidan sudah duduk di ruang persidangan bersama dengan yang lainnya. Tentu ibu Mala, ayah Felix dan Zayyen juga ikut hadir mensupport Tiara dan Zidan sedangkan kedua orang tua Tiara tidak hadir karena Tiara tidak memberitahukan perihal ini kepada orang tuanya, semenjak Tiara memutuskan untuk hidup sendiri hubungan dirinya dan kedua orang tuanya semakin dingin bahkan mereka terlihat sebagai orang asing yang tak saling mengenal. Entahlah kedua orang tua Tiara seperti enggan berurusan dengan Tiara menurut mereka Tiara hanya membawa kesialan untuk mereka.
Barra dan Rose juga sudah hadir bersama dengan Zayyen. Ketegangan juga mereka rasakan hingga persidangan pun di mulai.
Ketua hakim sudah memulai persidangan mereka.
"Saya ada bukti perjanjian saya dengan Barra 5 tahun lalu Yang Mulia," ujar Tiara dengan tegas di dampingi oleh pengacaranya.
__ADS_1
"Bisa anda berikan bukti itu," ujar ketua hakim dengan tegas.
Tiara mengangguk dan memberikan bukti perjanjiannya dengan Barra.
"Yang Mulia, sejak 5 tahun ini Zayyen sudah menjadi anak saya di mata hukum. Jadi saya keberatan jika hak asuh Zayyen jatuh kepadanya. Jadi, Yang Mulia harus mempertimbangkan itu semua. Mengingat mental Zayyen juga diperjuangkan di sini," ujar Barra dengan tegas.
Ketua hakim membaca perjanjian Tiara dengan Barra.
"Isi perjanjian ini sudah ditandatangani oleh anda Tuan Barra bahwa anda akan memberikan Zayyen kepada Nona Tiara di saat Nona Tiara akan mengambil Zayyen," ujar ketua hakim dengan tegas.
"Itu memang benar Yang Mulia. Tetapi mental anak kecil seperti Zayyen harus diutamakan, dia mengetahui jika saya dan istri saya lah yang menjadi kedua orang tuanya. Dia pasti bingung ketika ada orang lain yang mengaku sebagai kedua orang tuanya. Saya mohon anda mempertimbangkan semuanya Yang mulia."
"Izin berbicara Yang Mulia!" ucap Zidan dengan tegas.
"Ya silahkan Tuan Zidan!"
"Kami ingin hak asuh Zayyen jatuh kepada kami Yang Mulia. Sebagai orang tua kandung dari Zayyen kami menuntut atas Tuan Barra yang tidak menepati perjanjiannya dengan ibu dari anak-anak saya. Sebagai seorang dokter kami juga paham bagaimana menyembuhkan mental anak kami, Zayyen hanya butuh waktu untuk menerima kami kembali. Tiara menyerahkan Zayyen kepada Tuan Barra karena keterpaksaan yang membuatnya harus memilih hal yang paling sulit di hidupnya. Ibu mana pun tidak akan ingin menyerahkan anaknya kepada orang lain. Jadi, Yang Mulia kami ingin hak asuh Zayyen jatuh ke tangan kami!" ucap Zidan dengan tegas.
Hening...
Semuanya tampak hening. Pengacara profesional yang mendampingi Zidan dan juga Tiara tampak berbicara kepada ketua hakim. Begitu pun pengacara dari Barra dan Rose. Kedua pengacara tersebut tampak mempertahankan kubu masing-masing, hingga sidang keputusan akan dibacakan.
"Sebagaimana bukti yang telah kalian bawa di persidangan ini. Dan semua pembelaan kalian yang sudah saya dan wakil hakim ketua telaah maka kami memutuskan hak asuk anak atas Zayyen akan jatuh kepada...."
****
__ADS_1
Ehh gantung!!!
Sengaja biar tegang๐๐๐