
...๐ Jangan lupa ramaikan part ini ya. Ngetik part Naura selalu nangis ๐ญ...
...๐Jangan lupa ramaikan novel terbaru author juga ya. Beri dukungan ke novel 'Suami Bayaran Nona Rania'...
...*...
...*...
...Happy reading...
***
Daniel mengusap wajahnya dengan kasar saat ia mengikuti Naura diam-diam. Entah mengapa ia menjadi sangat hobi mengikuti Naura pulang dari kantornya, dan betapa terkejutnya Daniel saat Naura berjalan kaki sampai ke rumah. Kenapa gadis itu tidak naik gojek seperti biasa? Bahkan saat Naura beli di warung Daniel ada di sana mengawasinya, entah dorongan dari mana Daniel terus mengikuti Naura hingga sampai ke rumahnya.
Setelah 30 menit berdiam diri di mobil dengan menatap rumah Naura akhirnya Daniel memutuskan untuk pulang ke rumah, tak mungkin ia berada di mobil terus menerus di sini. Gengsi yang membuat Daniel tak mau menumpangi Naura, padahal ia sangat khawatir saat melihat Naura berjalan seorang diri di malam yang dingin seperti ini.
"Tante Jesica kemana? Kenapa setiap aku mengikuti Naura pulaang aku tidak ada melihat tante Jesica di rumahnya?" monolog Daniel setelah ia memutar mobilnya untuk pulang ke rumahnya.
"Aaahhh sudahlah kenapa aku repot-repot memikirkan semua itu!" ujar Daniel dengan cuek.
Sesampainya di rumah Daniel tersenyum melihat kedua orang tuanya sedang bercanda. "Papi, jangan sampai Daniel punya adik lagi!" ujar Daniel dengan terkekeh membuat Akbar tersenyum.
"Papi sudah tua, Daniel! Papi hanya ingin cucu dari anak-anak Papi," ujar Akbar dengan tersenyum.
Akbar merasa harus memberikan kenangan yang sangat manis bersama dengan istri serta anak-anak dan cucunya, usianya sudah tak lagi muda, bisa saja ia meninggal kapanpun.
"Kamu kapan menikah?" tanya Akbar yang membuat Daniel tersenyum kecut.
"Nanti saja, Pi! Kak Danish juga belum menikah," ujar Daniel yang duduk di sebelah maminya.
"Mi tambah cantik saja," ujar Daniel memeluk maminya.
"Hei boy... Ini istri Papi jangan muji-muji mami di depan Papi!" ujar Akbar dengan kesal.
Fiona terkekeh, ia mencium suami dan anaknya dengan bergantian.
"Pinjam sebentar, Pi!" ujar Daniel dengan terkekeh.
Akbar menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Mandi sana, Kak! Kenapa akhir-akhir ini pulangnya lama?" tanya Fiona dengan menatap anaknya.
"Banyak pekerjaan, Mi. Ya sudah Daniel mandi dulu ya! Kak Danish mana?" tanya Daniel dengan pelan.
"Biasa! Dia sama Keisya keluar," ujar Fiona yang membuat Daniel mengangguk mengerti. Dasar bucin memang kembarannya itu!
"Daniel ke kamar dulu, Mi, Pi!" ujar Daniel yang di angguki kedua orang tuanya.
"Rumah sepi ya Mi gak ada Deon sama Delisha. Apa kita suruh Mikaela nginap saja di sini ya, Mi. Dareel juga lagi terbang ke Medan, kan!" ujar Ikbal dengan pelan.
"Iya, Pi. Kalau Delisha hari ini jadwal menginap di rumah mertuanya, Pi. Jadi, Panggil Deon dan Mikaela saja untuk menginap di sini. Sebentar biar Mami telepon ya," ujar Fiona dengan tersenyum.
"Iya, Mi!"
Akbar dengan santai tertidur di paha istrinya sambil memandang wajah Fiona yang semakin tua semakin cantik saja.
"Mi, kalau Papi meninggal Mami bakal menikah lagi gak? Tapi bayangin Mami menikah lagi Papi gak rela," gumam Akbar yang membuat Fiona menghentikan gerakkan tangannya untuk mencari kontak Mikaela.
"Papi ngomong apa sih? Hanya Papi suami Mami sampai kapanpun!" ujar Fiona dengan tegas yang membuat Akbar menghela napasnya dengan lega.
"Mami jangan nikah lagi ya pokoknya biar kita bisa ketemu lagi dii surga!" ujar Akbar dengan mencium tangan Fiona yang membuat Fiona berkaca-kaca.
"Jangan buat Mami takut!" ujar Fiona dengan suara bergetarnya.
"Hei, Sayang. Jangan nangis maafin Mas ya!" ujar Akbar memeluk Fiona dengan erat.
__ADS_1
"Sudah-sudah, Sayang," ujar Akbar merasa bersalah.
Fiona memeluk suaminya dengan sangat erat. Akhir-akhir ini pikiran Fiona sangat takut sekali jika tiba-tiba Akbar meninggalkan dirinya.
"Cup-cup istriku yang paling cantik. Kesayanganku jangan nangis lagi ya, nanti di ejek sama Deon loh!" ujar Akbar dengan bercanda yang membuat Fiona tersenyum tipis.
Cup...
"Maaf ya, Sayang!" gumam Akbar dengan tersenyum.
"Iya, Mas!"
***
Naura berusaha mengambil ponselnya. Ia mencari kontak mamanya dan menelepon mamanya dengan menahan sakit yang ia rasakan pada perutnya.
Tutt...tut...
[M-ma, tolon..ng...]
[ APA LAGI SIH NAURA? JANGAN TELEPON-TELEPON MAMA LAGI NAURA! MAMA LAGI SIBUK!]
Tut...
"Ma...hiks..."
"Naura gak kuat, Ma!"
Naura meringkuk kesakitan dengan air mata yang terus keluar. Ingin menghubungi Daniel tetapi ia sama sekali tidak mempunyai keberanian sama sekali.
Bahkan Naura sama sekali tidak bisa tertidur, ia terus meringkuk dengan terisak menahan sakit yang bahkan membuat wajah Naura sangat pucat.
****
Pagi harinya....
Daniel sudah berada di kantor seperti biasanya, ia melihat ke arah meja kerja Naura.
"Naura belum datang, Tuan! Mungkin sebentar lagi sampai," ujar Rianti yang juga merasa heran karena biasanya Naura yang paling cepat datang dari pada dirinya tapi hari ini ketika dia sampai Naura juga belum ada di sebelahnya.
Daniel mengangguk. "Jika dia sudah sampai suruh ke ruangan saya dengan segera!" ujar Daniel dengan tegas.
"Iya, Tuan!"
Rianti memandang Daniel ketika lelaki itu masuk ke ruangannya. "Ada hubungan apa Tuan Daniel dengan Naura?" gumam Rianti dengan lirih.
Sedangkan Daniel tidak fokus dalam bekerja karena Naura tak kunjung datang ke ruangannya. Ini sudah 15 menit berlalu, dan akhirnya Daniel memutuskan keluar ruangannya.
"Dimana Naura?" tanya Daniel dengan dingin.
"D-dia belum datang Tuan!" ujar Rianti dengan takut saat melihat kemarahan di wajah Daniel.
"Sudah kamu hubungi Naura?" tanya Daniel dengan dingin.
"Sudah, Tuan. Tetapi ponselnya sama sekali tidak aktif," ujar Rianti dengan jujur.
"Shittt..."
"Handle semua meeting hari ini. Saya keluar dulu! Jika ada yang mencari saya katakan saya mempunyai kepentingan yang tidak bisa ditunda," ujar Daniel dengan tegas.
"Baik, Tuan!"
"Mau kemana Tuan Daniel ya? Apakah mau menemui Naura?" monolog Rianti dengan lirih.
****
Daniel mengemudikan mobilnya dengan cepat, perasaannya sama sekali tidak enak memikirkan Naura yang tak kunjung datang ke kantor.
__ADS_1
"Kamu di mana Naura? Kenapa sih aku masih mengkhawatirkan kamu? Kenapa aku gak bisa gak peduli sama kamu? Kenapa, hah?" teriak Daniel dengan tajam.
Bukkk...
Daniel memukul stir mobilnya dengan kencang. Ia menambah gas mobilnya agar segera sampai di rumah Naura. Setelah sampai Daniel langsung keluar dari mobilnyamobilnya dan berjalan dengan cepat ke rumah Naura.
"Naura!" panggil Daniel dengan keras.
Tokkk..tokkk...
"Naura buka pintunya!" teriak Daniel dengan tak sabaran.
Tak ada jawaban dari Naura membuat Daniel dengan nekad mendobrak pintu rumah Naura dengan kuat. Satu kali, dua kali, dan dobrakan ketiga kalinya barulah Daniel bisa membuka pintu rumah Naura.
"Naura!" panggil Daniel mencari keberadaan Naura.
Naura mendengar semuanya, ia berusaha bangun dari berbaringnya. Daniel datang pasti karena dia tidak ke kantor dan ingin memarahinya.
"K-kak Daniel!" panggil Naura dengan lirih.
Tubuh Naura sangat lemas bahkan untuk berjalan pun terasa sulit baginya. Daniel yang mendengar suara Naura langsung mencari ke arah sumber suara, ia membuka tirai gorden kamar yang hanya ada di rumah Naura.
"Naura!" pekik Daniel dengan terkejut saat Naura kembali meringkuk saat rasa sakit itu kembali datang.
"Hiks...hiks..sakit!" gumam Naura menggigit bibir bawahnya.
Pandangannya pun sudah mulai memudar. Daniel mendekat ke arah Naura dan langsung menggendong Naura.
"Apa yang terjadi?" tanya Daniel dengan panik melihat Naura sangat pucat seperti tidak ada aliran darah lagi.
"P-perut N-naura s-sakit b-banget, k-kak!" gumam Naura dengan menahan rasa sakitnya.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" ujar Daniel dengan cepat membawa Naura ke dalam mobilnya.
Naura memejamkan matanya untuk mengurangi rasa sakit pada perutnya.
"Naura masih dengar saya, kan?" tanya Daniel dengan panik.
Naura mengangguk dengan pelan yang membuat Daniel lega. Daniel mendudukkan Naura di kursi depan, mengatur kursi tersebut agar Naura bisa berbaring di sana. Naura sudah tidak bisa berpikir lagi, rasa sakit pada perutnya membuat dirinya tidak bisa berkata-kata.
"Akhhh...." teriak Naura memegang perutnya. Naura merasa nyawanya sudah akan lepas dari raganya.
Dengan perlahan Naura melihat ke arah Daniel yang mulai menjalankan mobilnya. Bahkan wajah Daniel terlihat begitu sangat panik.
"K-kak..."
Daniel melihat ke arah Naura. Ia memegang tangan Naura dengan erat, begitu dingin dan membuat Daniel sangat takut.
"Diamlah kita akan ke rumah sakit!" ujar Daniel dengan tegas.
Naura menggelengkan kepalanya. "Kak, maafkan Naura ya! Naura merasa hidup Naura sudah gak lama lagi. Ini sakit banget, Kak. Mungkin lebih baik Naura pergi! Naura sayang, Kak Daniel! Naura cinta sama Kak Daniel! Ssstt..." Naura memejamkan matanya untuk mengatur napasnya karena tiba-tiba saja rasa sakit itu datang dengan hebatnya.
"Cukup Naura! Jangan banyak berbicara!" ujar Daniel dengan marah.
Naura tersenyum dan memegang tangan Daniel begitu kuat yang membuat Daniel terkejut mencoba menguatkan Naura.
"Naura sudah gak sanggup, Kak! Kalau Kakak nanti bertemu mama Naura katakan pada mama kalau Naura sangat menyayangi Mama! Kak, jika Naura meninggal nanti tolong makamkan Naura di dekat makam papa Naura ya! Naura takut sendirian, Kak!"
"NAURA CUKUP! KAMU AKAN SEMBUH!" teriak Daniel yang tak kuat mendengar ucapan Naura yang sangat melantur seperti itu.
"AARGGHHH..."
"NAURA!" panggil Daniel dengan panik.
"S-selamat t-tinggal k-kak D-daniel," ucap Naura dengan napas yang tidak teratur.
"Enggak! Jangan katakan kalimat itu! Bangun Naura!"
__ADS_1
"NAURA!!"
Tidak! Daniel tidak ingin kehilangan Naura lagi! Naura tidak akan meninggalkan dirinya! tidak akan!