
...Jangan lupa ramaikan partai ini ya! ...
...Happy reading...
***
Ikbal merebahkan tubuhnya di sofa setelah memastikan mamanya tertidur dengan nyenyak setelah minum obat. Ikbal langsung teringat dengan Delisha dan kedua kucing kesayangannya.
Ikbal mengambil ponselnya yang berada di saku celananya. Ikbal mengeryit heran saat banyaknya telepon dari Angga dan Sandy bahkan kedua sahabatnya misscall sampai 20 panggilan yang sama sekali tak dijawab oleh dirinya karena Ikbal sengaja men-silent ponselnya karena tak ingin menganggu tidur mamanya.
Ikbal beralih ke whatsapp. Dan di whatsapp juga kedua sahabatnya banyak mengirimkan chat kepada dirinya.
"Woy!"
"Bos!"
"Kemana sih manusia kutub satu ini?"
"BOS BACA CEPAT CHAT GUE YA ELAH! DELISHA MASUK RUMAH SAKIT, PENYAKIT JANTUNGNYA KUMAT KARENA HAIDAR BAWA DELISHA PAKAI MOTORNYA. SEKARANG KEADAAN DELISHA KRITIS!"
Deg...
Ikbal langsung melotot dan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. "Brengsek! Haidar mati lo di tangan gue!" ujar Ikbal dengan sangat dingin bahkan wajahnya sangat terlihat menyeramkan sekali.
Ikbal langsung bangun dari sofa dan meninggalkan ruangan mamanya begitu saja. Ia harus memberikan pelajaran untuk Haidar karena pria itu sudah membuat gadis yang ia cintai bahkan ia lindungi dengan segenap jiwa dan raganya kembali merasakan penderitaan karena ulah Haidar.
Langkah Haidar begitu tegas dan sangat terlihat cepat. Beruntung mamanya juga dirawat di rumah sakit yang sama dengan Delisha yaitu rumah sakit milik Fathan. Bahkan tanpa bertanya pun seakan Ikbal tahu dimana Delisha, kaki pria itu melangkah semakin mendekat ke arah ruang operasi. Entahlah Ikbal hanya mengikuti langkah kakinya saja yang membawa dirinya ke sini.
Dan benar saja di sana sudah banyak orang yang menunggu Delisha bahkan Akbar dan Fiona serta ketiga sahabatnya sangat terlihat kacau sekali. Bukan hanya mereka tetapi para keluarga dan juga Angga dan Sandy yang sudah berada di sana. Ikbal juga melihat Zayyen dengan wajah yang babak belur, firasat Ikbal mengatakan jika Delisha seperti ini juga akibat keteledoran pria itu.
Tangan Ikbal semakin terkepal erat hingga urat-urat tangannya terlihat. Pria itu berjalan semakin mendekat ke arah Zayyen yang tampak diam menatap jendela ruang operasi.
Bukk...
Bukk...
"Argghhh.. "
Zayyen mengerang kesakitan saat mendapatkan pukulan kembali di perutnya. Semua orang tampak terkejut saat Ikbal tiba-tiba menyerang Zayyen dengan brutal.
"Apa-apaan lo?" ujar Zayyen tidak terima ketika Ikbal menyerangnya secara tiba-tiba.
Zayyen yang tidak terima ingin membalas perbuatan Ikbal yang memukulnya.
Bukk...
__ADS_1
Bukk...
Zayyen memukul wajah Ikbal dengan kencang, tampak sekali Zayyen juga emosi karena Ikbal. Tetapi Ikbal terlihat biasa saja saat Zayyen memukulnya walau sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah segar.
Bukkk..
Bukk...
"Ikbal, Zayyen, sudah!" teriak Akbar dengan tegas saat kedua pemuda itu berantem di depan matanya.
Ikbal menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Ia menyeringai ke arah Zayyen. "Kalau lo gak bisa jaga Delisha dengan baik bilang! Biar gue yang jaga Delisha!" ujar Ikbal dengan dingin.
"Delisha pulang bersama dengan Haidar pasti karena lo lama jemput Delisha, kan? Kesalahan yang sudah terjadi dua kali. Pertama lo meninggalkan Delisha seorang diri di taman waktu itu sampai gue datang barulah Delisha tampak ceria kembali karena melihat lo dengan... "
"Apa? Zayyen pernah meninggalkan Delisha di taman begitu saja?" tanya Akbar dengan syok memotong ucapan Ikbal yang ingin mengatakan jika Zayyen bersama dengan Cika sampai tega meninggalkan Delisha seorang diri di taman.
"Benar begitu Zayyen?" tanya Akbar dengan dingin.
Zayyen tampak meringis kesakitan tetapi ia mengangguk dengan pelan karena memang itu kenyataan yang terjadi.
"Benar-benar lelaki tidak bertanggungjawab! Setelah ini kamu harus menjauhi anak saya! Anak saya tidak pantas mengemis cinta seorang yang tak pernah menghargai perasaannya!" ujar Akbar dengan tajam.
Akbar menatap Zidan dengan tajam. "Ajarkan anakmu untuk menghargai seorang wanita! Saya pastikan jika Zayyen akan menyesal setelah ini!" ujar Akbar dengan dingin yang membuat Zidan menghela napasnya.
"Ini semua memang kesalahan anak saya. Saya akan memberikan pelajaran untuknya nanti!" ujar Zidan dengan tegas karena bagaimanapun Zayyen bersalah dalam hal ini.
Angga dan Sandy dengan sigap berdiri di sisi kanan dan kiri Ikbal saat lelaki itu masih mengibarkan bendera perang untuk Zayyen begitu pun dengan Zayyen yang masih menahan amarahnya untuk Ikbal, ia merasa tidak rela Delisha dekat dengan Ikbal. Jadi, Ikbal yang membawa Delisha pulang sewaktu di taman. Mengingat itu tangan Zayyen terkepal menahan emosi, jika tidak semua orang menyalahkan dirinya mungkin Zayyen sudah menghajar Ikbal kembali.
"Tahan Bos!" ujar Angga dan Sandy bersamaan.
"Bawa gue ke Haidar!" ujar Ikbal dengan dingin.
"M-mau ngapain Bos?" tanya Sandy dengan terbatas karena Sandy masih merasakan amarah yang sangat besar dalam diri Ikbal dan kali ini mungkin untuk Haidar.
"Jangan banyak bacot kalau kalian berdua masih mau melihat wajah jelek kalian tanpa tanda pukulan dari gue!" ujar Ikbal dengan dingin.
Sandy dan Angga langsung menelan ludahnya dengan kasar. Kenapa keduanya juga ikut merasakan amarah Ikbal sih? Pria itu jika sudah marah maka akan sangat menyeramkan sekali, kan mereka jadi takut.
Akbar dan yang lainnya hanya bisa menggelengkan kepalanya saat Ikbal masih meledak. Akbar membiarkannya saja, ia ingin tahu sampai mana Ikbal menyayangi anaknya.
Yang lainnya juga menatap Ikbal dengan mengelus dada. Zidan dan Tiara juga melihat ketulusan di mata Ikbal untuk Delisha tidak seperti anaknya. Apakah selama ini Zayyen mempermainkan hati Delisha?
Begitupun dengan Fathan dan juga Tri. Mereka hanya bisa menenangkan Fiona yang sejak tadi tidak mempedulikan keributan yang terjadi, adik mereka terlihat terpukul bahkan Fiona sama sekali tidak bersuara yang membuat semua orang khawatir.
Zayden juga datang bersama dengan Cika. Ia menyeringai saat melihat kembarannya dihajar oleh Ikbal. Mungkin jika tahu Delisha ditinggalkan oleh Zayyen karena bersama dengan Cika maka perang saudara antar mereka pasti terjadi.
__ADS_1
Sedangkan Cika menelan ludahnya dengan kasar. Jadi, di taman waktu itu Zayyen sedang bersama dengan Delisha? Jika ia tahu maka Cika akan menolak ketika Zayyen mengantarkannya pulang. Yang membuat Cika semakin terkejut karena mengetahui fakta jika adik sepupunya memiliki penyakit jantung dan selama ini orang tuanya menyembunyikan semua itu darinya. Tapi mengapa? Apakah Cika adalah wanita yang sangat jahat?
"Delisha maafkan Kakak, Dek!" gumam Cika di dalam hati karena di hantui rasa bersalah oleh gadis kecil yang selalu ceria di mana saja. Jadi, selama ini kecerian Delisha hanya untuk menyembunyikan kesakitannya?
Setelah kepergian Ikbal dengan kedua sahabatnya keadaan menjadi hening kembali bahkan semua orang menatap pintu operasi yang tak kunjung terbuka. Di dalam hati mereka berdoa untuk Delisha, gadis ceria itu sedang berjuang di dalam sana.
***
Brakk...
"Haidar sini lo!" teriak Ikbal dengan murka.
Tentu saja Haidar sangat terkejut dengan kehadiran Haidar dan kedua temannya. Zevana yang berada di sana langsung menelan ludahnya dengan kasar saat melihat kemarahan di wajah Ikbal.
Ikbal mencengkeram baju Haidar dengan kuat. Ia menatap Haidar dengan tajam, Haidar meringis saat tangannya kembali ngilu karena tangannya retak akibat injakan Danish yang terlalu kencang.
"Mau apa lo?" tanya Haidar dengan tajam. Haidar tampak tenang saat Ikbal memperlihatkan kemarahannya yang sangat luar biasa.
"Gue mau apa? Mau hajar muka lo! "
Bukk....
Bukk...
Ikbal meninju wajah Haidar dengan kencang hingga pria itu terjatuh dari brankar.
"Kak sudah! Hiks.. Kak Haidar sedang sakit! Kenapa semua orang memukulinya?" ujar Zevana dengan histeris dan menangis melihat Haidar yang kembali dihajar oleh Ikbal. Bahkan lelaki itu sampai jatuh dari brankar hingga tersungkur di lantai.
Zevana mendekat ke arah Haidar yang tampak kesakitan. Kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk membalas pukulan Ikbal.
"Brengsek! Lo benar-benar sialan!" teriak Ikbal dengan tajam.
Brakk...
"Pukul gue! Pukul gue lagi! Gue tahu gue salah karena buat Delisha seperti itu! Sampai saat ini gue pun dihantui rasa bersalah," ujar Haidar dengan dingin.
"K-kak..."
"Diam zeva! Gue mau bicara dengan Ikbal dan kedua temannya ini! Lo pikir, lo dan yang lainnya aja merasa sedih dengan keadaan Delisha sekarang? GUE JUGA! BAHKAN GUE YANG SANGAT TERPUKUL KARENA GUE YANG MENYEBABKAN DELISHA SAMPAI HARUS DIOPERASI. JIKA GUE BISA MENUKAR NYAWA GUE BUAT KESELAMATAN DELISHA MAKA GUE AKAN MELAKUKAN ITU TERMASUK MENDONORKAN JANTUNG DAN PARU-PARU GUE BUAT DELISHA! TAPI SIALNYA JANTUNG DAN PARU-PARU GUE GAK COCOK! GUE SAYANG SAMA DELISHA, GUE CINTA SAMA DELISHA! LO PUAS UDAH HAJAR GUE, HAH?" teriak Haidar dengan emosi.
Zevana mematung mendengar ucapan Haidar. "Jadi, selama ini cinta Zevana hanya sepihak?" gumam Zevana di dalam hati dengan perasaan sendu. Hatinya sangat sakit mengetahui fakta jika Haidar tidak memiliki rasa kepadanya.
"RASA BERSALAH GUE LEBIH BESAR UNTUK DELISHA! TAPI GUE LEBIH MARAH KETIKA ZAYYEN TIDAK MEMPEDULIKAN DELISHA. BAHKAN DENGAN TEGA MEMBUAT GADIS ITU MENUNGGU DI HALTE BUS SAAT TEMAN-TEMANNYA SUDAH PULANG SEMUA. GUE YANG AKAN MEMBUAT DELISHA BAHAGIA JIKA ZAYYEN GAK BISA BUAT DELISHA BAHAGIA. DI HADAPAN ZEVANA, GUE MENGATAKAN JIKA AKAN MEREBUT DELISHA DARI TANGAN ZAYYEN!"
Ikbal menyeringai. "Lo maupun Zayyen gak akan bisa memiliki Delisha! Ingat itu! Karena apa? Karena kalian dua lelaki yang sama sekali tidak berguna untuk Delisha!" ujar Ikbal dengan tenang.
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu Ikbal keluar dari ruangan Haidar yang diikuti oleh Angga dan Sandy yang mengikutinya sejak tadi.
"Brengsek!" umpat Haidar yang tak menyadari raut wajah Zevana yang terlihat sendu. Padahal gadis itu sudah sangat percaya diri jika selama ini Haidar menyukainya.