Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 103 (Baik-baik Saja)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya...


...Happy reading...


***


Tiara dengan di temani oleh Zidan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, ketika ia mengadu tentang sakit kepalanya kepada Zidan bahkan sejenak melupakan anaknya.


Dokter Ridwan menatap hasil rontgen kepala Tiara. "Tidak ada hal serius yang harus kita takutkan. Kemarin hanya refleks otak Tiara yang sudah lama tidak bekerja, setelah ini dan melakukan pengobatan berjalan Tiara kembali pulih," ucap dokter Ridwan yang membuat Zidan dan Tiara lega.


Tiara takut akan melupakan anak dan orang-orang sekitarnya, tetapi penjelasan dokter Ridwan membuat hatinya tenang.


"Makasih, Dok!" ucap Tiara dengan ramah.


"Sama-sama. saya salut dengan kamu Dokter Tiara yang mampu bertahan saat semua dokter termasuk saya menyatakan anda sudah meninggal hanya dokter Zidan yang tetap mempertahankan anda bahkan menikahi anda saat anda sedang terbaring tak sadarkan diri," ucap dokter Ridwan dengan tersenyum.


Senyuman dokter Ridwan mengundang rasa cemburu di hati Zidan. "Dok, jangan memuji istri saya di depan saya bahkan jika saya tak mengetahuinya pun anda dilarang memuji dirinya karena hanya saya yang pantas memuji istri saya sendiri," ujar Zidan yang ditertawai oleh dokter Ridwan.


"Dokter-dokter ternyata anda sangat cemburuan sekali," ujar dokter Ridwan menggelengkan kepalanya.


Zidan hanya merespon dengan mendengus kesal sedangkan Tiara hanya bisa tersenyum tipis melihat kelakuan suaminya. Suami? Mendengar kata suami membuat hati Tiara bahagia.


"Baiklah, sepertinya tugas saya kali ini sudah selesai. Saya keluar dulu, jika ada apa-apa langsung panggil saya saja ya," ujar dokter Ridwan yang di angguki keduanya.


"Terima kasih, Dok!" ucap Zidan dan Tiara bersamaan.


"Sama-sama! Saya permisi!"


Setelah kepergian dokter Ridwan. Zidan menatap istrinya dengan sangat dalam, bahkan ia membiarkan lengannya menjadi bantal untuk istrinya.


"Mas!" panggil Tiara dengan pelan memainkan kancing kemeja suaminya dengan tangan kirinya.


"Kenapa, Ay?" tanya Zidan dengan menyelipkan rambut Tiara ke belakang telinga wanita itu.


"Tentang dokter Barra. Bisakah dia di bebaskan saja?" tanya Tiara dengan pelan.


Tiara sudah mengetahui jika Barra sudah di penjara tetapi hatinya bukan merasa lega. Namun, ia merasa kasihan kepada Barra. Mengetahui kondisi orang tua angkat Zayyen yang kadang seperti orang gila membuat Tiara menjadi tidak tega.

__ADS_1


"Mas gak setuju! Kamu tahu kan dia serakah mau memiliki Zayyen seorang diri? Pokoknya Mas gak akan melepaskan tuntutan itu," ucap Zidan dengan tegas.


"Aku mohon Mas! Bebaskan dia, aku tahu Barra sayang banget sama Zayyen. Bahkan aku bisa lihat kalau di mata Zayyen tersimpan kerinduan pada orang tua angkatnya. Aku gak mau Zayyen menerima aku hanya karena sebuah rasa bersalah, sekarang aku membebaskan Zayyen mau tinggal di mana. Kita bisa atur jadwal Zayyen tinggal bersama kita dan juga Rose dan Barra," ucap Tiara dengan tulus.


"Tapi, Ay! M-mas..."


Tiara meletakkan jari telunjuknya di bibir Zidan. "Zayyen akan tetap menjadi anak kandung kita. Tak masalah dia memiliki 4 orang tua sekaligus yang sangat menyayanginya," ujar Tiara yang membuat Zidan mengela napasnya, jika Tiara sudah memohon seperti ini tidak ada alasan Zidan untuk menolaknya. Sebisa mungkin Zidan menuruti semua kemauan Tiara termasuk membebaskan Barra walau sebenarnya hatinya tak ikhlas sama sekali membebaskan Barra.


"Ya sudah jika itu yang kamu mau. Mas akan membebaskan Barra," ucap Zidan dengan lembut.


"Makasih, Mas!" ucap Tiara dengan terus.


"Makasihnya bisa dengan ciuman?" tanya Zidan dengan berharap.


Tiara tertawa dan menyentuh bibir Zidan dengan lembut.


Cup...


Zidan tersenyum dan menahan tengkuk Tiara agar ciuman mereka sedikit lama. Keduanya menikmati ciuman romantis tersebut hingga Zidan melepaskan ciuman mereka setelah di rasa Tiara kehabisan napas. Napas keduanya menderu, Tiara dan Zidan tersenyum bersama dengan menyatukan kening mereka.


"Ciuman dulu setelah sembuh baru bikin adek buat si kembar," bisik Zidan yang membuat pipi Tiara memerah.


"I love you too!"


Zidan memeluk Tiara dengan erat. "Tangan palsu kamu besok datang, Sayang. Pakai ya!" ucap Zidan dengan lembut.


Tiara tampak berpikir, setelahnya ia mengangguk dan tersenyum. "Iya, Mas!" ucap Tiara yang membuat Zidan bahagia.


Suara kegaduhan dari luar ruangan Tiara membuat keduanya saling memandang satu sama lain.


"Mas keluar sebentar ya. Kamu di sini aja jangan kemana-mana," ucap Zidan yang di angguki oleh Tiara.


Tiara kembali memejamkan matanya saat Zidan benar-benar keluar dari ruangannya.


***


"Tiara harus tanggungjawab dengan apa yang terjadi kepada anak saya! Dia sudah sadar, kan? Saya akan membawa kasus penculikan Sabrina ke jalur hukum!" ucap papa Sabrina dengan tajam.

__ADS_1


Ayah Felix menyeringai. "Anda tidak bisa melaporkan menantu kesayangan saya ke kantor polisi!" ucap ayah Felix dengan dingin.


"Cih apa yang kalian banggakan dengan wanita psikopat yang sekarang sudah cacat itu hmm? Wanita itu sudah mendapatkan karmanya," ucap papa Sabrina dengan dingin.


"Setidaknya istri saya adalah wanita yang baik. Sikapnya yang seperti itu karena kelakuan anak Om yang tak tahu diri. Mengambil anak saya dengan Tiara dan mengakui jika Zayden adalah anak saya dengannya," ucap Zidan dengan dingin.


Papa Sabrina menyeringai akhirnya mantan menantunya keluar juga. "Selera kamu benar-benar rendahan, Zidan. Setelah bercerai dengan anak saya kamu malah kembali pada mantan kekasihmu yang sekarang sudah cacat," ucap papa Sabrina dengan mengejek Tiara yang membuat Zidan geram tangannya terkepal dengan sangat erat.


"Siapa yang rendahan di sini. Istri saya atau anak anda? Istri saya jelas hanya saya yang memilikinya tapi dengan Sabrina anda yakin anak anda sesuci itu hmm? Bahkan jika bukan karena mabuk saya tidak akan pernah menyentuh tubuh murahannya, saya beri tahu ke Om ya, anak anda itu sudah sering dipakai oleh banyak pria. Itu artinya anak anda sudah menjadi barang bekas saat menikah dengan saya. Bahkan beberapa kali ia menggugurkan janinnya karena tidak tahu siapa ayahnya. Sayang sekali anak anda sangat murahan," ejek Zidan yang membuat papa Sabrina geram.


"Kurang ajar! Berani sekali kamu merendahkan anak saya, Zidan! Lelaki tak tahu di untung. Kamu sudah membuat kesabaran saya habis, saya akan membuat kalian hancur," ucap papa Sabrina dengan dingin.


Zidan terkekeh. "Kali ini saya tidak takut, Om. Saya berbicara kebenarannya dan sekarang Sabrina mendapatkan karmanya, rahimnya bermasalah dan tidak bisa mempunyai anak itulah sebabnya dia mengakui Zayden sebagai anaknya. Sayang sekali saya mengetahui fakta itu sudah terlambat, tapi saya bersyukur karena bangkai jika di simpan rapat pun akan ke cium juga baunya," ujar Zidan dengan tajam.


"Saya bisa menuntut anak anda kembali Tuan Attar dengan banyaknya skandal yang ia lakukan bahkan bisa mencoreng nama baik perusahaan anda. Jika anda tidak mau perusahaan anda yang menjadi taruhannya maka diamlah," ujar ayah Felix dengan dingin.


"Saya sudah memiliki bukti kuat tentang banyaknya skandal yang Sabrina lakukan. Seorang anak dari Attar Dewangga, orang yang di segani di dunia bisnis ternyata tidak sebaik yang kita kira selama ini. Bagaimana anda mau berdamai atau karier anda hancur di tangan anak anda sendiri?" ucap ayah Felix dengan dingin.


"Jangan melupakan fakta itu Tuan Attar. Keputusan ada di tangan anda, tetapi jika anda tetap ingin melaporkan menantu saya ke polisi saya pastikan foto-foto anak anda dengan bersama pria-pria akan tersebar. Dan saya yakin ketika foto itu sudah tersebar pasti klien-klien Tuan akan memutuskan kerja sama terutama dua perusahaan raksasa milik Brawijaya dan Mahendra Grup. Sangat di sayangkan sekali jika anda bangkrut dan tidak bisa merawat anak anda yang saat ini masih sekarat," ucap ayah Felix yang membuat papa dari Sabrina itu tampak terdiam.


Attar yang haus akan kekuasaan itu tidak akan membiarkan karier-nya hancur karena membela anaknya sendiri. Anaknya terlalu hidup bebas seperti dirinya, walaupun dia memiliki istri tetapi Attar sering menyewa wanita malam untuk memuaskan n*fsunya yang tak puas dengan istrinya. Tetapi ibu dari Sabrina itu tetap sabar dan mempertahankan pernikahannya walaupun sudah mengetahui sikap buruk suaminya. Ibu Sabrina adalah wanita yang lemah lembut dan sangat berbeda jauh dari Sabrina maka dari itu Attar sangat bisa memaafkan istrinya sendiri. Tetapi apakah setelah ini kesabaran istrinya masih ada? Entahlah hanya takdir yang akan menentukan semuanya, hanya takdir yang akan menghancurkan seorang Attar Dewangga dan takdir itu akibat dari rasa tak puasnya terhadap sesuatu. Attar mencintai istrinya tetapi n*fsu mengalahkan semuanya bahkan mengorbankan wanita yang sudah sangat tulus mencintainya.


Tanpa sepatah kata pun Attar pergi meninggalkan ayah Felix dan juga Zidan. Keduanya tersenyum puas ketika melihat ketidakberdayaan papa dari Sabrina itu.


"Bagaimana dengan Tiara? Apa kata dokter Ridwan?" tanya ayah Felix dengan khawatir.


"Tiara baik-baik saja, Pa. Dan tidak ada yang harus dikhawatirkan sekarang," ujar Zidan dengan tersenyum.


"Syukurlah!"


"Yah, bisa ke kantor polisi? Tiara memintaku untuk mencabut tuntutan Barra," ucap Zidan dengan tak ikhlas.


"Princess kesayangan Ayah ternyata sudah kembali. Ayah tahu Tiara adalah wanita yang sangat baik seperti Tiara yang baru saja kita kenal. Ayah akan lakukan itu jika Tiara akan bahagia, ayah akan ke kantor polisi sekarang juga, jaga Tiara dengan baik," ucap Ayah Felix dengan menepuk punggung Zidan.


"Iya, Yah. Terima kasih!"


"Kamu tahu kan kalau Ayah akan melakukan apapun untuk princess kesayangan Ayah hmm? Jadi, jangan berterima kasih! Cukup bahagiakan princess Ayah karena dia sudah banyak menderita," ucap Ayah Felix dengan mata berkaca-kaca seperti ayah kandung Tiara bukan Zidan. Sesayang itu ayah Felix dengan Tiara maka tidak salah jika sampai saat ini walaupun sudah berdamai dengan kedua orang tuanya Tiara lebih menyayangi kedua mertuanya dari pada kedua orang tua kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Tanpa Ayah minta pun Zidan akan bahagiakan dia, Yah. Zidan gak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya."


__ADS_2