
...Jangan lupa ramaikan part ini ya...
...Happy reading...
****
Semua keluarga Akbar maupun Fiona sudah hadir untuk menjenguk Fiona. Mereka sangat syok mengetahui Fiona di culik oleh orang suruhan Aurel, mantan sahabat sekaligus istri dari Akbar.
Fathan menatap adiknya dengan khawatir. Semenjak di bawa ke rumah sakit Fiona sampai sekarang belum sadarkan diri.
"Fio, bangun! Jangan kalah sama trauma kamu, Dek. Buktikan sama orang-orang jika kekurangan kamu bukan penghalang untuk kamu bahagia," gumam Fathan dengan sendu.
Mama Yesha menatap Fiona dengan menangis. "Sayang, maafkan Mama, Nak! Fio bangun ya, Sayang!" pinta Mama Yesha dengan sendu.
"Fathan, adek kamu gak apa-apa, kan? Kenapa dari tadi gak bangun-bangun?" tanya Mama Yesha dengan khawatir.
Semua orang menatap dan mencemaskan keadaan Fiona dan ketiga anaknya karena sejak tadi Fathan terlihat bungkam.
Fathan menghela napasnya dengan berat. "Fio hampir saja keguguran kalau Akbar tidak cepat membawa Fio ke rumah sakit. Kejadian dulu terulang kembali yang mengakibatkan trauma Fio kembali datang," ujar Fathan yang membuat semua orang menahan napasnya dengan ekspresi sedih mereka hingga suara pintu terbuka di mana Akbar kembali datang dengan wajah yang sangat cemas.
Akbar berjalan dengan cepat ke arah Fiona. Tak ada suara yang ia keluarkan, lelaki itu memeluk Fiona dengan erat. "Mi, bangun!" pinta Akbar dengan suara yang sangat serak karena ia menahan tangisnya agar tidak keluar di depan keluarganya.
Tak ada yang berani bertanya kepada Akbar termasuk para kakak-kakak Akbar. Mereka tahu pasti Akbar sangat terpukul dengan kejadian di mana Fiona di culik dan hampir di perkosa. Andai Akbar terlambat mungkin Fiona sudah di gilir oleh penculik itu.
"Eughh..."
Fiona melenguh dengan mata yang mulai mengerjap perlahan. "JANGAN MENDEKAT!" teriak Fiona dengan ketakutan saat melihat banyaknya orang di dekatnya.
"PERGI KALIAN! JANGAN SENTUH FIO!" teriak Fiona dengan meringkuk.
Akbar dan yang lainnya khawatir. "Kalian keluar biar saya yang akan memenangkan Fio!" ujar Akbar dengan tegas.
"T-tapi..."
"Ma, tolong. Fio saat ini takut keramaian," ujar Akbar dengan tegas kepada mertuanya
__ADS_1
Mama Yesha menganggukkan kepalanya. Ia tidak tega melihat keadaan Fiona yang meringkuk ketakutan. Begitu pun dengan yang lainnya bahkan Ulan sangat cemas melihat keadaan adik iparnya tersebut. Fiona yang biasanya sangat ceria terlihat sangat ketakutan ketika melihat orang banyak sekarang. Aurel benar-benar sangat licik, setelah ini ia akan mengajak suaminya untuk bertemu dengan Aurel di penjara dan memberikan pelajaran kepada wanita ular itu.
Semua orang sudah keluar dari ruangan Fiona. Kini, tinggal Akbar yang berada di dalam bersama dengan Fiona.
"Sayang!" panggil Akbar dengan pelan tetapi tidak ada respon dari Fiona. Wanita itu tetap meringkuk ketakutan dengan wajah yang amat pucat.
"PERGI!" teriak Fiona dengan ketakutan saat Akbar mencoba memegang tangannya.
Akbar memejamkan matanya, ia menguatkan hati untuk tidak menangis di depan Fiona. Dengan cepat Akbar menangkup wajah Fiona dengan kedua tangan besarnya.
"Lihat mata, Mas! Ini Mas, Fio! suami kamu!" ucap Akbar dengan tegas.
"B-bukan! Kamu jahat!" ucap Fiona memejamkan matanya karena takut saat melihat wajah Akbar karena yang di bayangan Fiona bukan Akbar melainkan lelaki yang hampir memperkosanya.
"BUKA MATA KAMU, SAYANG! INI MAS!" teriak Akbar agar Fiona mau membuka matanya.
Akbar mengguncang tubuh Fiona dengan perlahan. Akbar menghela napasnya saat mata Fiona perlahan terbuka.
"M-mas suami!" panggil Fiona memeluk Akbar dengan erat hingga Akbar bisa bernapas dengan lega dan membalas pelukan istrinya tak kalah eratnya dan mencium puncak kepala istrinya dengan lembut.
"Hiks...om-om jelek tadi mau unboxing Fio. Padahalkan cuma Mas Suami yang boleh," ucap Fiona dengan menangis.
Mendengar ucapan Fiona, tangan Akbar kembali mengepal dengan erat dengan rahang yang mulai mengeras.
"Ssst... Om-om jeleknya udah mas pukul. Siapa yang berani nyentuh milik Mas gak akan Mas lepaskan gitu aja, Sayang!" ucap Akbar dengan lembut walau dalam hati ia menahan amarahnya.
"Huhuhu...Fio takut hiks...hikss," ucap Fiona dengan gemetar saat bayangan itu kembali datang.
Akbar terkejut saat merasakan jika tangan istrinya sangat dingin. Akbar dengan perlahan naik ke brankar dan membawa Fiona berbaring di sana. Akbar membawa tangan Fiona masuk ke dalam bajunya dan menyentuh dadanya agar tangan istrinya kembali hangat, ia menatap wajah Fiona dengan dalam dan memainkan rambut Fiona dengan lembut.
"Gak usah takut Mas udah kasih pelajaran buat mereka yang udah berani nyentuh kesayangan Mas," ujar Akbar agar Fiona tak merasa trauma kembali.
"Anak kita gak rewel, kan?" tanya Akbar mengelus perut Fiona dengan lembut.
"Anak kita gak suka sama om-om jelek itu. Tadi perut Fiona sakit gara-gara mereka," rengek Fiona dengan manja.
__ADS_1
Akbar tersenyum samar dengan tetap memberikan kehangatan kepada Fiona.
Cup...
Cup...
"Jangan takut lagi ya. Mas udah ada di sini," ucap Akbar dengan lembut. Untung saja ia tidak kehilangan ketiga anaknya dan untung saja Fiona tidak kenapa-napa walau trauma itu menghampiri istrinya.
"Mas Suami gak boleh pergi kemana-mana lagi! Kalau Mas Suami kerja Fio harus ikut," rengek Fiona dengan manja.
Akbar mengangguk dengan mantap karena ia pun tak akan tega meninggalkan Fiona tanpa pengawasannya kembali.
"Mau tidur tapi di puk-puk!" rengek Fiona.
Akbar terkekeh. Ia memeluk Fiona dan mulai menepuk-nepuk punggung Fiona dengan perlahan, Akbar merasa lega ketika trauma Fiona tak berlangsung dengan lama tetapi Akbar takut jika Fiona kembali histeris ketika di tempat ramai.
"Anak baik Papi sehat-sehat di dalam perut mami ya!" ucap Akbar dengan pelan saat Fiona kembali tertidur setelah Akbar menepuk-nepuk punggung Fiona memberinya ketenangan.
"Makasih kalian tetap mau bertahan di perut Mami! Jaga Mami ya karena Mami kalian adalah orang yang istimewa," gumam Akbar dengan lirih.
Akbar menyeka air matanya yang tiba-tiba saja keluar.
"Mas bersumpah tidak akan melepaskan para orang-orang licik itu terutama Aurel, Sayang!" gumam Akbar dengan mata tajamnya.
Sedangkan yang lainnya bernapas lega saat Fiona tak lagi histeris saat bersama dengan Akbar. Dari balik kaca besar di ruangan Fiona mereka menyaksikan bagaimana Akbar sangat menyayangi Fiona dan sangat melindungi Fiona.
"Alhamdulillah kalau Fio dan ketiga anaknya tidak kenapa-napa. Saya tidak bisa membayangkan jika Akbar harus kehilangan salah satu dari mereka," ujar Ulan dengan sendu.
"Aurel benar-benar licik," gumam Fathan.
Alan mengangguk membenarkan. "Kalau begitu kami pamit. Kalau Akbar mencari kami bilang saja kami menemui Aurel," ujar Alan dengan tegas.
"Baik. Saya harap wanita itu di hukum seberat-beratnya," ujar Fathan yang diangguki oleh mama Yesha.
"Kalian tenang saja pasti Akbar sudah melakukannya," ucap Alan dan Adrian berbarengan karena mereka tahu bagaimana watak Akbar ketika sudah menyangkut dengan orang yang paling ia sayangi dan cintai jika terluka karena seseorang. Dan Aurel lupa akan fakta jika Akbar akan menjadi iblis saat Fiona terluka.
__ADS_1