Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 44 (Terbongkar)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


*****


Perlahan mama Yesha membuka pintu tersebut. Ia pikir pintu kamar Fathan di kunci karena anaknya itu sedang bekerja, tetapi tidak. Pintu kamar itu tidak terkunci dan mama Yesha bisa masuk ke dalam kamar anaknya.


"APA YANG KAMU LAKUKAN DI KAMAR ANAK SAYA?" teriak Mama Yesha dengan penuh amarah saat melihat Tri tertidur di kamar Fathan.


Tri tersentak, tubuhnya yang lemas memaksa dirinya untuk bangun. Tatapan mama Yesha sangat tajam kepadanya yang membuat Tri takut menatap wanita paruh baya itu.


"Bangun!" ucap Mama Yesha dengan dingin.


Plak....


Mama Yesha menampar pipi Tri dengan kuat hingga wanita itu terhuyung kebelakang. "Semakin saya biarkan kamu semakin kurang ajar ya?! Berani-beraninya kamu tidur di kamar anak saya! Dasar wanita tidak tahu sopan santun!" ujar Mama Yesha dengan tajam.


"M-maaf Nyonya. Tapi saya dan mas Fathan sudah menikah," ucap Tri dengan pelan karena tak mau semakin disudutkan oleh mama Yesha. Biarlah pernikahan mereka terbongkar.


"Menikah? Menikah kamu bilang? Heh, anak saya tidak mungkin menikah dengan gadis kampungan seperti kamu. Kamu semakin halu ya," ucap Mama Yesha dengan sengit.


"S-saya tidak berbohong," ucap Tri dengan pelan.


Mama Yesha ingin menampar Tri kembali tetapi matanya tak sengaja menatap foto pernikahan Fathan dengan Tri.


Mama Yesha mengambil foto yang terpajang di nakas. Matanya menatap nyalang ke arah foto tersebut dan Tri yang menunduk tak berani menatap ke arahnya.


"K-kalian sudah menikah? Apa yang kamu lakukan terhadap anak saya hingga Fathan mau menikah dengan kamu, hah?" ucap Mama Yesha dengan tajam.


Prank....


Mama Yesha melempar foto pernikahan Fathan dengan Tri begitu saja hingga Tri memejamkan matanya, matanya berkaca-kaca saat melihat bingkai foto pernikahannya yang sudah pecah berserakan di lantai. Tri berjalan ke arah foto pernikahannya dan mengambilnya dengan perlahan, tetapi mama Yesha merebutnya.


"Jangan Nyonya!" teriak Tri memggeleng saat mama Yesha ingin merobek foto pernikahannya dengan Fathan.

__ADS_1


"Kamu tidak pantas menikah dengan Fathan!" desis Mama Yesha dengan tajam.


Srekkk...


Mama Yesha merobek foto pernikahan Fathan dengan Tri hingga menjadi dua bagian.


"Hiks...Kenapa Nyonya sangat jahat kepada saya?" tanya Tri menangis. Sungguh hatinya sangat sakit saat melihat foto pernikahannya dengan Fathan sudah robek.


"Kenapa? Karena kamu tidak pantas bersanding dengan anak saya!" ujar Mama Yesha dengan tajam.


"Mama!" teriak Fathan dengan menahan amarahnya saat melihat istrinya di perlakukan dengan begitu jahat oleh mamanya sendiri. Benar saja firasatnya, ada sesuatu yang terjadi kepada istrinya. Fathan tidak bisa melihat CCTV di ponselnya karena ponselnya kehabisan daya. Dan dengan perasaan yang tidak enak Fathan langsung melajukan mobilnya pulang ke rumah, ketika ia sampai Fathan melihat kekacauan yang terjadi akibat ulah mamanya.


Mama Yesha menatap Fathan dengan tajam. "Fathan, apa yang wanita ini berikan ke kamu hingga kamu mau menikah dengannya? Tubuhnya? Kamu mau menikah karena dia memberikan tubuhnya ke kamu? Iya? Jawab Mama, Fathan? Dia tidak lebih baik dari Tiara! Jadi ini alasan kamu tidak mau menikah dengan Tiara?! Kamu membuang berlian demi memungut sampah seperti Tri!"ucap Mama Yesha dengan tajam.


"CUKUP, MA! MAMA SUDAH SANGAT KETERLALUAN MENGHINA ISTRI FATHAN!" ucap Fathan dengan marah.


"Kamu berani membentak Mama demi membela wanita ini?" tanya Mama Yesha tidak percaya.


Mama Yesha menghela napasnya dengan kasar. "Mama tidak akan setuju dengan pernikahan kalian!" ucap Mama Yesha dengan tajam.


"Kamu tidak apa-apa kan, Hanum?" tanya Fathan dengan cemas.


Tri menggelengkan kepalanya dengan pelan tetapi ia masih menangis tanpa suara yang membuat Fathan cemas dengan keadaan istrinya saat ini.


"Kamu benar-benar berubah Fathan! Kamu berani melawan Mama hanya untuk membela seorang pengasuh seperti Tri?" ujar Mama Yesha mencolos.


"Hanum istri Fathan sekarang bukan pengasuh, Ma! Jadi, tolong hargai Hanum, dia menantu Mama sekarang. Hanum juga sedang mengandung cucu, Mama. Jika alasan Mama tidak suka dengan Hanum karena Hanum adalah wanita dari desa, Fathan minta tolong buka hati Mama. Cinta tidak bisa dipaksakan, Ma!" ujar Fathan dengan tegas.


"Hamil? Sampai kapan pun Mama tidak akan mengakui Tri sebagai menantu Mama dan anak itu tidak akan Mama anggap sebagai cucu hanya Cika cucu Mama satu-satunya," ucap Mama Yesha dengan tajam.


"Kamu harus menceraikan Tri secepatnya!" ucap Mama Yesha dengan tajam.


"Sampai kapan pun Fathan tidak akan menceraikan Hanum, Ma. Lebih baik Mama keluar dari rumah Fathan. Maaf Ma kali ini Mama sudah sangat keterlaluan," ucap Mama Yesha dengan tajam.


Mama Yesha mengepalkan tangannya, ia menatap tajam ke arah Tri. "Baik, Mama akan keluar tapi ingat sampai kapan pun Mama tidak akan setuju dengan pernikahan kalian!" ucap Mama Yesha dengan tajam dan langsung berlaku pergi begitu saja.

__ADS_1


Fathan menatap sang istri dengan cemas.


"Hiks..hiks.. " Tubuh Tri hampir limbung jika Fathan tidak memeluknya dengan erat.


"Sayang!" Fathan menidurkan Tri dengan perlahan.


"Aku memang tidak pantas menjadi istri kamu, Mas! Benar kata Mama kamu aku hanya wanita kam..."


"Ssstt...Mas enggak peduli status kamu, Hanum. Mas tulus mencintai kamu, jangan pernah dengarkan ucapan mama tadi ya," ujar Fathan dengan lembut.


"Hiks... T-tapi, ini menyakitkan Mas!" ujar Tri menepuk dadanya yang terasa sesak.


Fathan mengecup Kening Tri dengan lembut. "Suatu saat pasti hati mama akan terbuka dan bisa menerima kamu sebagai menantunya," ucap Fathan menenangkan sang istri yang terlihat kacau.


"Foto kita robek," ucap Tri dengan sedih.


"Mas bisa mencetaknya lagi lebih besar dari yang itu. Karena mama sudah tahu pernikahan kita, kita tidak perlu sembunyikan lagi," ujar Fathan dengan tersenyum.


Fathan menghapus air mata sang istri dengan lembut.


"Mas!" panggil Tri dengan lirih.


"Hmmm... Iya, Sayang!" sahut Fathan dengan lembut.


"Setelah anak ini lahir sebaiknya kita bercerai saja Mas!"


Rahang Fathan mengeras, ia tidak suka dengan ucapan Tri yang meminta cerai dengannya. "Tarik kata-katamu tadi, Hanum! Mas tidak suka!" ucap Fathan dengan tajam.


"T-tapi..."


"Tarik!" teriak Fathan dengan tajam.


Tri memejamkan matanya dengan memeluk tangan Fathan erat. "Maaf!"


Fathan yang sedang marah hanya diam tidak merespon ucapan sang Istri. Fathan tidak skan menceraikan Tri sampai kapan pun!

__ADS_1


__ADS_2