
...Mohon di baca ya!...
...Ada yang koment di bab 59 kalau aku ini mending gak usah jadi author karena gak update dan gak kasih penjelasan ke pembaca selama 5 hari aku up hanya 1 kali....
...Dan dia baru saja koment di hari ini seperti itu. Yang aku kesal dia koment asal yang buat mood ku buruk....
...Koment di bab 59 gak lihat ada update terbaru 2 bab. Hpnya yang rusak atau gak bisa lihat bab terbaru?...
...pertanyaan untuk kalian semua....
...Dalam 5 hari aku hanya up 1 kali? Adakah aku update seperti yang dia katakan 5 hari libur cuma satu kali up?...
...paling aku 3 hari karena sibuk lebaran kemarin selebihnya aku usahakan update setiap hari walau terkadang sehari bolong. Dan alasan kedua aku sudah update tapi pihak MT reviewnya lama, itu juga aku info kan di grup kan?...
...Kesal banget sama pembaca baru yang seperti itu. Setidaknya hargai penulis karena juga mempunyai kesibukan di dunia nyata....
...Author sensian?...
...Hei siapa yang gak sensi ke pembaca yg koment. 'Sebaiknya gak usah jadi author kalau begitu'...
...Anda yang koment seperti itu. Coba deh nulis sendiri biar tahu rasanya mood hancur gara-gara komenan seperti anda....
...Aku juga gak maksa buat baca cerita ini. Yang suka alhamdulillah, yang gak suka sebaiknya tinggalkan saja tanpa ada hate koment yang buat mood hancur....
...Huhu sabar-sabar......
...Maaf ye curhat....
...Happy reading...
****
Dengan perasaan yang begitu cemas terhadap kondisi papanya, Fiona terlihat begitu bersedih saat ini. Bahkan ia terlihat terburu-buru berjalan untuk menemui kedua orang tuanya. Akbar yang berada di sampingnya hanya bisa menghela napasnya.
"Kaki kamu itu pendek! Gimana cepatnya kamu berjalan masih kala dengan langkah kaki saya!" ucap Akbar yang membuat Fiona menatap Akbar.
Bukannya kesal Fiona malah menampakkan wajah memelas di hadapan Akbar. "Kaki Fio emang diciptakan pendek biar mudah di gendong," ujar Fiona. "Nah Om kan tinggi dan gagah nih. Gendong Fio dong sampai ke ruangan papa," ujar Fiona dengan santai.
Siapa yang kena mental di sini? Seharusnya Fiona tetapi mengapa malah Akbar yang kena? Ah...dasar bocah!
"Ommm!!" rengek Fiona dengan memegang lengan berotot Akbar.
"Jalan sendiri!" ujar Akbar dengan dingin.
"Biar cepat sampai ke ruangan papa, Om. Kaki Fio kan pendek pasti lama sampainya!" ujar Fiona dengan mata yang mengerjap lucu.
Tangan Akbar terkepal gemas dengan tingkah Fio yang sangat membuatnya kesal. Mau tak mau dan tidak ingin terus mendengar rengekan bocah di sampingnya akhirnya Akbar berjongkok di depan Fiona.
"Naik!" ucap Akbar dengan dingin.
__ADS_1
Fiona mengulum senyumannya. Ia lalu naik ke punggung Akbar dan melingkarkan tangannya di leher Akbar. Setelah Akbar berdiri kedua kakinya juga melingkar di pinggang Akbar.
"Berat gak, Om?" tanya Fiona dengan melihat wajah Akbar dari samping.
"Duh gantengnya jodoh Fio!" gumam Fiona di dalam hati dengan senyum-senyum sendiri.
"Tidak! Kayak kapas tidak terasa apapun! Ringan" ujar Akbar yang membuat Fio langsung cemberut.
"Ihhh.... Padahal Fio 49 kg udah naik 4 kilo," ujar Fiona dengan memperlihatkan 4 jarinya di depan wajah Akbar.
"Masih kalah berat sama alat gym saya!" ucap Akbar dengan enteng.
"Huhu.... Gak apa-apa deh Fio ringan soanya Om kan udah tua takut Om encok kalau Fio berat," ujar Fio memeletkan lidahnya.
Gubrakkk...
Jantung Akbar merosot masuk ke lambung! Akbar kena mental lagi oleh gadis polos yang berada di gendongannya.
"Tua-tua gini saya masih bisa gempur kamu sampai pagi!" ujar Akbar dengan kesal.
"Ooo iya? Ayo gempur Fio sampai pagi, Om! Ehh tapi.... gempur itu apa ya?" ucap Fiona dengan berpikir.
"Astaga...diam kamu Fio. Lama-lama saya pusing dengar ocehan kamu. Kamu nantangin saya? Awas saja kalau kamu minta ampun nanti kepada saya," ujar Akbar dengan sengit.
Fiona memeluk leher Akbar semakin erat. "Jangan marah-marah, Om. Nanti semakin tua loh, nanti gak bisa gendong Fio lagi," ujar Fio menowel jakun Akbar.
"KAKAK!" teriak Fiona saat melihat Fathan yang tak jauh darinya.
"Turunin Fio, Om!" ujar Fiona dengan cepat.
"Awas jatuh Fio!" peringat Akbar saat Fiona mencoba turun dari gendongannya dengan cepat.
Fio tak peduli, ia berlari menghampiri Fathan dan menubruk tubuh Fathan dengan kencang.
Akbar yang melihatnya mengepalkan kedua tangannya. Kenapa ia tidak suka melihat Fio memeluk lelaki lain? Fiona dan Fathan saling mengenal? Ada hubungan apa keduanya? Kenapa melihat kedekatan mereka hati Akbar merasa panas?
Fathan memeluk adiknya dengan erat. "Fio pulang sama siapa?" tanya Fathan dengan cemas, takut adiknya tersesat lagi karena Fio tidak mudah mengingat jalan bisa dibilang otaknya lemot ketika di suruh mengingat jalan.
"Sendiri. Mama suruh Fio pulang padahal Fio gak mau," jawab Fiona dengan jujur.
"Kenapa mau Fio! Kamu di sana aja sama tante dan om!" ujar Fathan dengan kesal. Mamanya benar-benar membuat Fathan naik darah. Ia takut Fiona akan di manfaatkan kepolosannya dengan mama Yesha demi kepentingan mama dan papanya sendiri.
"Fio mau ketemu papa," gumam Fiona memainkan jemarinya takut Fathan marah kepadanya.
"Gak usah ketemu papa! Kamu kakak antar ke bandara sekarang. Di sini gak aman untuk kamu," ucap Fathan dengan marah.
"Ayo!"
"K-kak, gak mau pulang. jodoh Fio di sini," cicit Fiona.
__ADS_1
"A-apa?" tanya Fathan yang merasa ia salah dengan.
"Jangan kasar sama perempuan!" ucap Akbar menarik tangan Fio yang di pegang oleh Fathan.
"Akbar, anda mengenal adik saya?" tanya Fathan dengan menaikan satu alisnya.
"Baru kenal. Gadis ini dengan seenaknya naik mobil saya. Jadi, ternyata Fiona adikmu?" tanya Akbar dengan santai.
"Iya, dan saya menyuruhnya untuk pulang ke Belanda karena tempat ini gak aman untuk gadis sepolos dia. Bisa-bisa dimanfaatkan oeh orang tua kami," ujar Fathan dengan kesal.
Fiona menggelengkan kepalanya. "Tolong Fio, Om. Fio gak mau balik ke Belanda lagi! Sekarang Fio betah di Indonesia," ucap Fiona merengek kepada Akbar.
"Fio!" panggil Mama Yesha saat melihat anaknya kembali.
"Mama!" gumam Fiona berjalan dan memeluk mamanya.
Fathan menghela napasnya, ia takut prasangkanya benar.
"Saya yang akan mengawasi Fiona langsung!" ucap Akbar menepuk punggung Fathan dengan pelan.
"Anda yakin? Usia Fiona saja yang dewasa tapi otaknya gak!" ujar Fathan. "Saya yakin anda akan terkena darah tinggi," ujar Fathan.
"Saya sudah terkena hipertensi sejak kemarin!" jawab Akbar dengan kesal.
"Sebaiknya Fio kembali ke Belanda setelah bertemu dengan papa!" ujar Fathan.
Akbar terdiam ia merasa tidak rela berpisah dengan Fiona. Entahlah, ia merasa aneh dengan dirinya sendiri.
Mama Yesha membawa Fiona ke ruangan suaminya. Dan Akbar tetap mengawasi mereka dari jauh bersama dengan Fathan.
Di dalam ruangan papa Handoko. Fiona menangis sesugukan melihat kondisi papanya yang sudah tidak berdaya, walau kasih sayang papanya tidak Fiona rasakan dengan lama karena ia memilih tinggal di Belanda bersama dengan om dan tantenya tetapi tetap saja hati Fiona sakit melihat kondisi papanya.
"Fio, tolong bantu Mama! Kakak kamu tidak bisa membantu Mama karena dia juga tertimpa masalah. Rumah sakit ini sudah berpindah tangan dan kakak kamu tidak bisa membantu membayar biaya rumah sakit papa. Kamu punya tabungan gak? Tolong bayarkan biaya administrasi dan obat-obat Papa," ujar Mama Yesha memohon kepada Fiona.
"Mama dan papa juga tidak mempunyai tempat tinggal Fio! Kamu cari kerja di sini ya untuk bantu mama dan papa," ucap Mama Yesha sekali lagi.
Fiona menatap mama dan papanya secara bergantian. Ia menggigit bibir bawahnya. Fiona ada tabungan untuk membuka usahanya sendiri. Ia sudah berencana dengan sangat matang untuk membuka toko pakaian, uang yang sudah ia tabung sangat lama sudah terkumpul untuk modal serta membeli tempat untuk usahanya. Tetapi ia tidak tega melihat keadaan papa dan mamanya yang terluntang-lantung seperti ini. Apalagi papanya butuh perawatan yang intensif.
"F-fio..."
"Kamu ada tabungan kan, Sayang? Uang yang di kasih papa selama ini masih kamu tabung, kan? Kamu juga pasti dapat uang dari tante dan om kamu. Mama pinjam ya Fio, Mama mau beli rumah untuk tempat tinggal kita serta membayar biaya rumah sakit papa yang tidak sedikit jumlahnya," ucap Mam Yesha dengan berbinar.
"Fio ada, Ma! Nanti Fio kasih ke Mama ya," ujar Fiona dengan tersenyum. "Yang terpenting sekarang papa bisa sehat dan kita mempunyai tempat tinggal lagi," ujar Fiona sekali lagi.
"Makasih ya, Sayang!" ucap Mam Yesha memeluk Fiona.
Fiona membalas pelukan mamanya. "Sama-sama, Ma!"
"Gak apa-apa tabungan Fio habis yang terpenting papa dan mama sehat!" gumam Fiona di dalam hati. "Gak apa-apa impian Fio kembali dikubur untuk sementara waktu yang penting mama dan papa!"
__ADS_1