Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 50 (Kehilangan Belahan Jiwa)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya. ...


...Happy reading...


*****


Tok..tok...


"Mama!" teriak Fathan dengan keras, ia tidak peduli hari yang semakin larut. Fathan datang ke rumah orang tuanya dengan keadaan yang sangat kacau, tubuh yang basah dan menggigil tak membuat Fathan mengurungkan niatnya untuk menemui kedua orang tuanya. Fathan yakin kepergian istrinya karena perbuatan kedua orang tuanya yang sama sekali tidak menyukai Tri. Sejak Tri bekerja di rumahnya kedua orang tuanya sudah tidak suka, entah apa penyebab kedua orang tuanya tidak menyukai Tri yang jelas Fathan sangat membenci perbuatan kedua orang tuanya.


"Mama! Papa! Keluar kalian!" teriak Fathan dengan mata yang memerah karena menangis. Bagaimana tidak menangis, Fathan kehilangan sang istri yang sedang mengandung anaknya. Hati Fathan benar-benar terluka karena kepergian Tri yang sama sekali tidak Fathan ketahui. Apakah istrinya baik-baik saja? Apakah sang istri tidak kehujanan? Apakah Tri sudah makan? Pertanyaan itu terus bergelut di pikiran Fathan hingga kepalanya seakan ingin meledak sekarang.


Ceklek....


"Astaga Fathan... Kenapa kamu malam-malam datang ke rumah Mama dengan keadaan yang sangat kacau seperti ini? Ayo masuk! Ganti baju dulu, Fathan! Nanti kamu sakit!" ucap Mama Yesha syok saat melihat penampilan anaknya yang sangat kacau dengan keadaan pakaian yang sudah basah kuyup bahkan bibir Fathan terlihat pucat. Dan jika mama Yesha melihat tangan Fathan sudah memutih dan keriput karena dingin yang ia rasakan saat ini.


"Ada apa, Ma? Siapa malam-malam begini yang bertamu? Tidak tahu waktu apa ini sudah jam 2 dini hari," ujar Papa Handoko dengan kesal.


Fathan menatap kedua orang tuanya dengan tajam, emosinya tertahan saat melihat wajah kedua orang tuanya yang panik melihat keadaan dirinya yang sangat kacau. Tak sadar kah mereka Fathan seperti ini karena perbuatan mereka? Orang tua egois! Itulah kata yang Fathan sematkan untuk kedua orang tuanya.


"Katakan dengan jujur Mama dan Papa yang mengusir Tri, kan?" tanya Fathan dengan tajam kepada kedua orang tuanya.


Mama Yesha menatap sang suami dengan gugup setelah itu raut wajah tampak biasa saja menatap ke arah Fathan. "Maksud kamu apa Fathan? Mama sama Papa sama sekali tidak mengerti!" ucap Mama Yesha dengan tenang.


"Kami sama sekali tidak tahu apa-apa Fathan! Jangan sembarangan menuduh kedua orang tuamu! " timpal Papa Handoko dengan tegas. Anaknya ini berani menuduh dirinya hanya karena pembantu miskin itu, mau ditaruh mana mukanya jika rekan bisnisnya mengetahui jika Fathan menikahi seorang pembantu atau pengasuh anaknya sendiri. Papa Handoko tidak bisa membayangkan jika itu terjadi dan untung saja Tri menepati janjinya untuk meninggalkan anaknya karena yang paling cocok bersanding dengan Fathan adalah Tiara bukan Tri.


"Jangan bohong! Fathan tahu kalian penyebab Tri meninggalkan Fathan! Kalian orang tua yang sangat kejam memisahkan orang yang dicintai Fathan!" ucap Fathan dengan mata yang memerah.


"Katakan dimana istri Fathan, Pa, Ma? Demi Tuhan, Fathan sangat mencintai Hanum dan mengkhawatirkan bayi kembar kami. Hanum sedang mengandung cucu kalian, tidak kah kalian bisa berbaik hati karena kehadiran cucu? Hiks... Hidup Fathan akan hancur jika tidak ada Hanum! Tolong kali ini Papa dan Mama mengerti perasaan Fathan! Fathan tidak ingin kehilangan lagi! Ini menyakitkan untuk Fathan, Pa, Ma!" ucap Fathan dengan meneteskan air matanya di depan kedua orang tuanya. Sisi rapuhnya terlihat di depan kedua orang tuanya sekarang.


"KATAKAN DIMANA ISTRI FATHAN!" teriak Fathan yang kehilangan kesabarannya.

__ADS_1


"DIMANA, PA!" ucap Fathan menarik baju papanya dengan mata memerah dan sangat tajam.


"Berani sekali kamu membentak Papa, Fathan! Sudah Papa katakan jika Papa tidak tahu dimana Tri! Istri kamu pergi berarti wanita itu tahu diri jika dia tidak pantas untukmu! " ucap Papa Handoko dengan tajam.


"HANUM SANGAT PANTAS UNTUK FATHAN! SANGAT PANTAS, PA! JIKA TUDUHAN FATHAN INI BENAR, FATHAN TIDAK AKAN MEMAAFKAN KALIAN! TIDAK AKAN PERNAH!" ucap Fathan dengan penuh emosi.


Jika buka kedua orang tuanya Fathan sudah menghajar mereka, tetapi Fathan masih ingat jika yang di depannya ini adalah kedua orang tua kandungnya.


"Benar kata papamu Fathan. Berarti Tri tidak tulus mencintai kamu, buktinya dia pergi begitu saja. Sudahlah lupakan saja Tri!" ucap Mama Yesha dengan enteng yang membuat Fathan semakin emosi.


"Argghh..."


Bukk....


Fathan memukul tembok di sebelah mamanya. Ia melampiaskan kekesalannya dengan memukul tembok, tak ada rasa sakit yang ia rasakan. Tatapannya bengis menatap mamanya yang ketakutan.


"KALIAN TIDAK MENGERTI PERASAAN FATHAN! KALIAN EGOIS!" ucap Fathan dengan penuh emosi.


"Fathan mau kemana kamu? Masuk ke rumah dulu kamu harus ganti pakaian!" ucap Mama Yesha cemas jika anaknya akan jatuh sakit.


Tetapi Fathan sama sekali tidak mendengarkan ucapan mamanya. Pikirannya sudah kacau, separuh jiwanya sudah di bawa oleh Tri.


Ya, Fathan kacau! Fathan frustasi! Ia kesal! Ia cemas! Semua rasa bercampur aduk menjadi satu di hatinya yang membuat Fathan semakin kalut hingga melajukan mobilnya dengan sangat kencang tanpa mengindahkan teriakan mama dan papanya yang menyuruhnya tetap tinggal.


"Hiks...hiks... Mas hancur tanpa kamu, Hanum! Sangat hancur! Argghhhh...."


****


Dengan tubuh yang menggigil hebat Tri meringkuk di emperan toko dengan beralasan kardus bekas. Air matanya tak berhenti turun mengingat kebersamaanya dengan Fathan.


"Hiks... Mas di sini dingin!" ucap Tri dengan lirih. Giginya bergemelutuk dengan hebat dan bibir yang sangat pucat. Ia tidak mungkin pulang ke rumah orang tuanya untuk malam ini.

__ADS_1


Tri ingin kembali pada Fathan tetapi ia tidak ingin kehilangan kedua anaknya. Biarlah Tri menahan rasa sakitnya karena kedua mertuanya yang kejam.


Tri meringkuk takut saat dua orang preman mendekatinya.


"Sendirian aja, Mbak? Mau kami temani? " tanya pria bertubuh besar dengan banyak ya tato di tangannya.


Tri menggelengkan kepalanya dengan takut. "E-enggak! S-saya bisa sendiri! Kalian pergi! " ucap Tri dengan takut.


"Enggak usah takut, Mbak! Kami temani ya! Di sini cuaca sangat dingin!" ucap preman yang satu lagi.


"Kalian pergi atau aku akan berteriak! " ujar Tri dengan ketakutan.


"Hahaha... Tempat ini sudah sepi, Mbak! Ayolah kami temani!" ucap Preman dengan tawa yang mengejek.


"A-ambil barang saya saja! T-tapi tolong pergi! " ucap Tri memberikan ponselnya dengan bibir gemetar.


Kedua preman itu saling memandang. Ponsel di tangan Tri adalah ponsel mahal keluaran terbaru yang diberikan Fathan untuknya. Kedua preman itu tahu jika ponsel tersebut ponsel mahal dengan cepat salah satu preman itu mengambil ponsel Tri.


"Hahaha... Kali ini kita dapat jekpot yang sangat luar biasa. Tinggalkan saja perempuan ini!" ucap preman itu dengan menatap ponsel di tangannya dengan berbinar.


"Hahaha... Ayo!"


Kedua preman tersebut pergi begitu saja yang membuat Tri lega walaupun ia sudah kehilangan ponselnya. "Maafkan aku, Mas! Aku takut anak kita kenapa-napa jadi aku menyerahkan ponsel itu!" ucap Tri mengelus perutnya yang terasa kram.


"Aakhhh... Ssstttt... Mama mohon bersabarlah!" gumam Tri dengan lirih.


Untung saja uang yang ada di tangannya masih ada walau tak seberapa tapi cukup untuk Tri pulang ke rumah kedua orang tuanya.


"Mas maafkan aku! Hikss... Ini semua bukan keinginanku. Mereka mengancam menggugurkan kandunganku jika aku tidak pergi dari kehidupanmu. Aku memilih pergi bukan aku tak cinta mas Fathan tetapi keadaan memaksaku melakukan itu. Hiks... Aku merindukanmu, Mas! Aku merindukanmu dan Cika!" gumam Tri dengan lirih. Hatinya meraung perih saat sakit hatinya seakan ditusuk belati yang sangat kejam.


Adakah mertua sejahat itu di dunia ini? Yang tega memisahkan anaknya dengan menantunya yang sedang hamil? Rasanya Tri ingin berteriak untuk membuat dadanya yang terhimpit terasa lega.

__ADS_1


Pandangan Tri buram, kepalanya mulai terasa berat dengan perut yang terasa kram luar biasa. Hingga ia tidak bisa lagi menahan sakitnya dan Tri pingsan di sana tanpa ada satu pun orang yang menolongnya.


__ADS_2