
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
***
Sejauh apapun kita berpisah anakku darah mama dan papa akan tetap mengalir di tubuhmu.
Mama akui kesalahan mama yang tak pernah merawatmu bahkan asi pun tak sampai 2 tahun kamu dapatkan dari mama.
Masih adakah kesempatan untuk mama agar bisa merawatmu, memelukmu, dan memberikan kasih sayang kepadamu?
Zayyen, Zayden... kembalilah kepada mama, Nak! Jangan pernah meninggalkan mama sebab mama akan mati jika kalian tak ada di samping mama. Kalian yang telah direnggut paksa dari mama masihkah ada pelukan untuk mama walau hanya sekali dalam hidup mama?
Mama rindu kalian Nak!
Salam sayang dari mama untuk jagoan kembar mama!
~Tiara~
*****
Zidan memasuki ruangan Fathan dengan membanting pintu ruangan Fathan dengan keras, hingga si pemilik ruangan tersebut menatap tajam ke arah Zidan.
"Pintu gue rusak lo mau ganti?" tanya Fathan dengan sarkas.
"Gue ganti pintu lo berapa pun lo mau!" ujar Zidan dengan sengit.
Fathan menatap sahabatnya dengan datar, ia mengamati wajah Zidan yang terlihat emosi. Sepertinya ada masalah yang terjadi hingga sahabatnya seperti ini.
"Ada apa?" tanya Fathan dengan tegas.
"Barra gak mau menyerahkan anak gue. Dia akan tetap mempertahankan Zayyen. Gue dan Tiara akan menempuh jalur hukum untuk mengambil Zayyen dari Barra. Lo tahu? Barra sudah melanggar perjanjiannya dengan Tiara. Gue gak tega lihat keadaan Tiara yang seperti ini terus, gue juga gak mau anak gue terus tinggal dengan Barra dan istrinya walaupun mereka menyayangi Zayyen tetap saja gue dan Tiara yang paling berhak atas Zayyen," ucap Zidan dengan menggebu.
__ADS_1
"Egois banget si Barra. Gue akui ini bukanlah permasalahan yang mudah karena di sini mental anak lo yang akan menjadi taruhannya. Zayyen tahunya jika Barra dan istrinya adalah kedua orang tua kandungnya, tidak mudah bagi Zayyen menerima lo dan Tiara walau Zayyen ada di tangan lo dan Tiara. Tapi gue juga gak akan membiarkan Tiara seperti ini, bukan gue ada rasa hanya saja Tiara mantan adik ipar gue dan Zayyen adalah keponakan gue. Gue bantu untuk cari pengacara buat kalian berdua," ujar Fathan dengan tegas.
Zidan mengangguk. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. "Gue gak tenang kalau Zayyen belum bersama gue dan Tiara. Lo tahu kan selama seminggu Tiara demam dan hampir step kalau gue gak bergerak cepat waktu itu, dalam tidurnya pun dia memanggil nama Zayyen. Tiara merasa bersalah dengan Zayyen dan Zayyen, terlebih Zayyen yang harus jatuh ke tangan orang lain seandainya kedua anak gue jatuh ke tangan gue waktu itu semua gak akan serumit ini, Tan!" ucap Zidan mengacak rambutnya dengan frustasi.
"Ini semua gara-gara om Ezra, tante Erlin dan Sabrina! Ketiga orang itu benar-benar. Astaga gue gak mau berkata kasar untuk kedua orang tua wanita yang gue cintai tapi mereka pantas mendapatkan makian dari gue. Hewan yang sangat buas pun akan menyayangi anaknya bahkan melindungi anaknya dari ancaman bahaya. Tetapi mereka? Mereka pantasnya disebut apa? Argghhh...."
Zidan meluangkan emosinya dengan bercerita kepada Fathan. Dan Fathan memahami apa yang sedang menimpa sahabatnya.
"Sebaiknya lo temani Tiara. Jangan biarkan dia sendiri, orang yang memiliki alter ego akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang mereka mau, mereka terkenal sangat nekad sekali. Jangan sampai lo lengah dan Tiara dikuasai alter egonya," peringat Fathan yang membuat Zidan sadar ia telah membuat kesalahan.
"Gue temui Tiara sekarang," ujar Zidan dengan panik.
"Lo tenang pasti semua bakal teratasi dengan mudah. Gue udah cari pengacara yang bisa mengatasi masalah lo dan hak asuh Zayyen akan jatuh ke tangan lo dan Tiara," ujar Fathan menepuk pundak Zidan.
"Thanks... Dari dulu lo bisa diandalkan," ujar Zidan sedikit merasa lega.
****
Barra masuk ke rumahnya dengan langkah tegas dan terkesan tergesa-gesa.
"Zayyen!"
"Ada apa Mas? Kenapa kamu berteriak-teriak seperti ini tidak seperti biasanya? Zayyen sedang tidur siang setelah pulang sekolah," ujar Rose dengan bingung kenapa sikap suaminya berbeda dari biasanya.
Rose meneliti wajah Barra dengan intens, ia melihat raut kecemasan di sana. Ada apa sebenarnya yang membuat suaminya cemas dan bersikap aneh seperti ini? Pasti ada sesuatu yang membuat Barra seperti ini? Kenapa juga Barra pulang cepat? Ada apa? Benak Rose banyak sekali dipenuhi pertanyaan yang membuat Rose sangat penasaran.
"Tenang, Mas! Ada apa? Cerita sama aku!" ujar Rose menjalankan kursi rodanya mendekati suaminya.
Barra menghembuskan napasnya dengan peelahan secara berulang-ulang, lalu ia berjongkok di hadapan istrinya dengan wajah tersenyum tipis.
"Tiara dan Zidan akan mengambil Zayyen dari kita. Tapi aku janji akan mempertahankan Zayyen untuk kamu, Sayang. Tolong selama aku bekerja kamu tetap menjaga Zayyen dengan baik ya jangan sampai Tiara, Zidan atau siapa pun menemui anak kita. Zayyen anak kita sampai kapanpun," ujar Barra mengusap pipi tirus istrinya.
Barra melakukan ini agar istrinya kembali sehat walaupun tak bisa berjalan kembali karena dokter sudah memvonis Rose lumpuh permanen dan tidak bisa memiliki anak. Zayyen adalah sumber kebahagiaan sang istri, ia tak ingin kebahagiaan istrinya kembali direnggut! Barra tidak akan terima dan tidak akan membiarkan itu terjadi.
__ADS_1
Mata Rose berkaca-kaca. "A-aku gak mau kehilangan Zayyen, Mas! J-jangan ambil Zayyen dari aku hiks...hikss.. Aku akan mati jika Zayyen pergi!" ujar Rose dengan menangis.
Barra memeluk istrinya dengan sangat erat. "Aku akan melakukan apapun agar Zayyen tetap bersama dengan kita, Sayang! Aku janji! Jangan menangis lagi ya, aku sakit melihat kamu menangis seperti ini," ujar Barra dengan pelan.
Tanpa disadari oleh mereka Zayyen melihat kedua orang tuanya yang sedang berbicara walau tak bisa mendengar apa yang kedua orang tuanya ucapkan Zayyen mengepalkan kedua tangan kecilnya melihat mamanya menangis hati Zayyen merasa teriris.
"Zayyen gak akan membiarkan siapa pun membuat mama memangis!" ujar Zayyen dari lantai dua di mana kamarnya berada. Zayyen kembali ke kamarnya dengan memikirkan pertemuannya dengan anak yang sangat mirip dengannya tadi.
Flashback...
Zayyen menunggu supir yang biasa menjemputnya dengan bermain lego seperti biasa hingga ada dua orang anak yang mendekat ke arahnya. Dari seragam sekolahnya itu adalah sekolah yang dekat dengan sekolahnya.
"Zayden, Cika senang banget mama udah pulang! Cika mau punya adik kembar sebentar lagi," ujar Cika dengan riang saat bercerita dengan Zayden.
Zayden juga mendengarkan cerita Cika dengan menatap wajah cantik gadis kecil yang sudah Zayden klaim menjadi miliknya.
"Zayden bahagia jika Cika bahagia. Jangan sakit lagi ya," ujar Zayden dengan tulus.
"Iya, Zayden!" ucap Cika dengan tersenyum.
Zayyen melihat gelang yang terjatuh di tanah, ia mengambilnya dan memberikan pada gadis yang mencuri perhatiannya sejak tadi. Karena ia pikir gelang itu adalah milik gadis cantik itu.
"Punya kamu?" tanya Zayyen dengan singkat.
Zayden langsung bersikap waspada saat ada anak lelaki yang mendekati miliknya. Hingga wajah kecilnya mematung saat menatap wajah lelaki yang sama dengan wajahnya.
"Loh kok Zayden ada dua?" tanya Cika dengan bingung.
Zayyen menatap datar keduanya. "Mas Zayyen ayo pulang!" teriak supir yang menjemput Zayyen.
Zayyen langsung pergi meninggalkan keduanya dengan wajah yang amat bingung. Kenapa wajahnya sangat mirip dengan anak lelaki itu?
Sekali lagi Zayyen menghadap ke belakang untuk melihat mereka. Mengapa hatinya merasa tenang berada di dekat keduanya?
__ADS_1
"Apa mama melahirkan anak kembar?" gumam Zayyen di dalam hati.