Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 142 (Rasa Bersalah Zayyen)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Tubuh Delisha mematung saat melihat Zayyen kembali ke rumahnya. Ia melihat wajah pria itu yang sangat kacau. Ada apa dengan Zayyen? Kenapa wajah pria itu terlihat bersedih?


"Kakak balik lagi?" tanya Delisha dengan polosnya.


Grep...


Zayyen memeluk Delisha tanpa aba-aba hingga membuat Delisha mematung secara tiba-tiba. Tumben sekali Zayyen memeluknya tanpa ia minta, dan tentu saja Delisha merasa senang.


Tetapi tidak dengan Ikbal yang melihat Zayyen memeluk Delisha. Tangan pria itu terkepal dengan sangat erat seakan ingin meninju wajah Zayyen dengan kencang, hatinya memanas saat Zayyen memeluk Delisha dengan erat.


"Kakak kenapa?" tanya Delisha dengan bingung.


Zayyen melepaskan pelukannya, ia menatap Delisha dengan lekat. "Ini tas lo!" ujar Zayyen memberikan tas Delisha.


"K-kak..." Delisha tercekat tetapi tangannya tetap menerima tasnya kembali.


"K-kakak gak buka tas Delis..."


"Gue buka! Dan gue tahu semuanya!" ujar Zayyen dengan cepat dan memotong ucapan Delisha begitu saja.


"Kenapa lo rahasia-in ini semua dari gue? Lo gila ya!" ucap Zayyen dengan tajam.


Mata Delisha berkaca-kaca. "Delisha gak mau buat Kak Zayyen khawatir," ujar Delisha dengan pelan.


Zayyen menghela napasnya. "Lo itu pacar gue seharusnya gue berhak tahu itu semua!" ujar Zayyen dengan tajam.


Ikbal yang mendengar suara Zayyen tak bersahabat ketika berbicara dengan Delisha seakan tidak terima, ia ingin menghampiri keduanya dan memberikan pelajaran untuk Zayyen. Namun, tangan Ikbal ditahan oleh Danish.


"Biarkan Delisha menjelaskan semuanya. Kak Zayyen berhak tahu itu," ujar Danish dengan tegas.


Ikbal mendengkus sebal. Akhinya ia kembali masuk ke kamar Danish untuk memenangkan hatinya yang tiba-tiba sangat kacau. Ikbal tak suka ada yang berkata tajam kepada Delisha termasuk Zayyen pacar Delisha sendiri.


Sedangkan Delisha masih tercekat di depan Zayyen, gadis itu tak tahu harus berkata apa lagi karena Zayyen sudah mengetahui penyakitnya yang selama ini ia sembunyikan.


"Delisha mohon jangan kasihani Delisha!" ujar Delisha dengan lirih.


Tangan Delisha saling bertautan dan bergerak gelisah. Sedangkan Zayyen terus menghembuskan napasnya dengan perlahan, fakta tentang penyakit Delisha yang ia ketahui seakan mengguncang jiwanya.


"Sejak kapan?" tanya Zayyen dengan datar.

__ADS_1


Delisha menatap manik mata Zayyen dengan dalam. "Jangan marah, Kak!" rengek Delisha memberanikan diri memeluk Zayyen.


"Gue tanya sejak kapan lo punya penyakit itu?" tanya Zayyen dengan tegas.


"S-sejak Delisha umur 8 tahun," gumam Delisha lirih.


"Dan gue orang yang gak mengetahui penyakit lo? Hanya gue?" tanya Zayyen dengan terkekeh sinis.


Delisha menggeleng. "Kak Cika, Kak Nevan, Kak Nessa, Nayla juga gak tahu penyakit Delisha," gumam Delisha dengan pelan.


"Bodoh!" ujar Zayyen dengan datar. Tetapi setelah itu ia membalas pelukan Delisha dengan erat.


"Mulai sekarang apapun tentang lo semuanya gue harus tahu," ucap Zayyen dengan tegas.


"Janji gak akan mengasihani Delisha?!" ujar Delisha dengan pelan. "Lebih baik Kakak seperti biasa dari pada baik tapi karena tahu penyakit Delisha," ungkap Delisha dengan jujur.


"Janji!" gumam Zayyen dengan pelan.


Sejujurnya Zayyen juga tak tahu bagaimana perasaannya. Saat tahu penyakit Delisha, Zayyen merasa bersalah dan khawatir yang sangat mendalam kepada gadis yang berada di pelukannya ini. Tetapi jika disuruh untuk mencintai gadis ini Zayyen sama sekali belum bisa, tak tahu mengapa mencintai Delisha yang sangat baik dan cantik sangat susah untuknya mungkin dengan berperilaku baik kepada Delisha lama-kelamaan Zayyen bisa menerima kehadiran Delisha di hidupnya.


"Udah minum obat?" tanya Zayyen dengan pelan.


"Belum kan obatnya ada di dalam tas sekolah," jawab Delisha dengan polosnya.


"Minum sekarang!" ujar Zayyen dengan tegas.


"T-tapi..."


"Minum sekarang! Mulai detik ini gue jadi dokter pribadi lo!" ucap Zayyen dengan tegas yang membuat Delisha tersenyum semangat.


"Kakak mau nungguin Delisha minum obat? Delisha ambil minum dulu di dapur dulu," ucap Delisha dengan semangat.


"Ayo gue temenin!" ucap Zayyen dengan tegas.


Zayyen menggandeng tangan Delisha dengan erat. Akhirnya Zayyen mengikuti langkah Delisha menuju dapur di rumah gadis itu.


"Nona muda mau apa? Biar Bibi ambilkan!" ucap pelayan yang melihat Delisha memasuki dapur.


Banyak pelayan yang menunduk ke arah Delisha dan juga Zayyen. Sebenarnya Zayyen risih diperlakukan seperti ini, tetapi ia harus tetap tenang demi melihat Delisha benar-benar meminum obatnya.


"Delisha mau ambil minum hangat, Bibi! Biar Delisha aja ya, Bibi bisa buatkan teh hangat untuk kak Zayyen kasih juga cemilan ya, Bi!" ucap Delisha dengan ramah.


"Baik Nona Muda!" ucap pelayan tersebut dengan sopan.


"Kak Zayyen kenapa? Kak Zayyen gak suka banyak pelayan di dapur ya? Bentar Delisha suruh mereka pergi ya!" ucap Delisha dengan lembut.

__ADS_1


"Bibi-bibi yang cantik bisa tinggalkan Delisha sama kak Zayyen? Kak Zayyen gak suka keramaian," ujar Delisha kepada seluruh pelayan di rumah kedua orang tuanya bahkan ada chef khusus untuk membuat makanan Delisha di sana.


"Baik Nona Muda," sahut para pelayan dengan tersenyum tipis. Mereka sering melihat Delisha tersenyum ceria tetapi kali ini auranya tampak berbeda apa karena ada Zayyen di samping Delisha kali ini.


Zayyen belum mengetahui soal Kimmy sama sekali karena Delisha tahu Zayyen sangat anti dengan kucing maka dari itu Delisha sudah meletakkan Kimmy di kandangnya agar tidak bertemu dengan Zayyen. Delisha takut Zayyen akan marah jika mengetahui Kimmy adalah pemberian Ikbal.


Zayyen tampak lega setelah para pelayan pergi. Dirinya juga sudah diberikan teh hangat dan beberapa cemilan yang diletakkan dimeja pantry. Zayyen mengeluarkan semua obat Delisha dan ia mengambil satu persatu obat dari tempatnya.


"Buka mulut lo!" ujar Zayyen saat Delisha sudah berada di hadapannya. Keduanya duduk berhadapan sekarang dan dengan leluasa Zayyen memaksa Delisha untuk meminum obatnya.


Mau tak mau Delisha membuka mulutnya, rasa pahitnya obat langsung Delisha rasakan saat berada di lidahnya, dengan cepat Delisha meminum air hangatnya agar obat itu segera tertelan begitu seterusnya hingga semua obat tertelan oleh Delisha.


"Bagus!" ucap Zayyen mengusap bibir Delisha dengan pelan.


"Buka mulut lo lagi!" perintah Zayyen kepada Delisha.


"Mau ngapain Kak?" tanya Delisha was-was.


"Buka aja!" ujar Zayyen dengan cepat.


Delisha membuka mulutnya dan Zayyen memperhatikan lidah Delisha yang tampak berwarna kebiruan tidak seperti orang sehat pada umumnya.


"Tangan lo!" ucap Zayyen dengan tegas.


Delisha memberikan tangannya kepada Delisha lalu ia menghela napasnya saat melihat warna keuangan di ujung kuku Delisha dan pandainya lagi Delisha memberikan kutek berwarna ungu di sana.


"Pinter banget siapa yang ngajarin?" tanya Zayyen dengan datar


"Hah? Apanya, Kak?" tanya Delisha dengan bingung.


"Kutek kuku berwarna ungu supaya sama dengan warna memar di kuku! Udah jelaskan sekarang?!" ucap Zayyen dengan tegas.


Delisha meringis. "Habisnya kuku Delisha jadi jelek biar gak jelek Delisha pakai kutek warna ungu," sahut Delisha dengan polosnya.


Zayyen menghela napasnya dengan pelan. Baru kali ini ia menemukan orang sakit seperti Delisha. "Gue gak mau tahu obat ini harus lo minum rutin, atau kalau perlu setiap lo minum obat gue akan datang untuk memastikan. Sekarang istirahat, besok gue jemput," ujar Zayyen dengan tegas.


"Kak Zayyen mau antar Delisha ke sekolah?" tanya Delisha dengan berbinar.


"Yaps. Mungkin setiap hari gue bisa antar lo ke sekolah tapi untuk jemput lo pulang sekolah gue gak janji karena tugas gue di kampus dan rumah sakit banyak," ujar Zayyen dengan tegas.


"Gak apa-apa Delisha senang banget! Terima kasih Kak Zayyen!" ujar Delisha dengan bahagia.


Zayyen tersenyum kecut terbiasa acuh dengan Delisha dan sekarang seperti ini terasa aneh untuknya. Apakah ini baik untuk Delisha ke depannya?


Entahlah Zayyen sama sekali tidak tahu!

__ADS_1


__ADS_2