
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
***
Zevana menjatuhkan dirinya di kasur setelah dengan helaan yang begitu berat terdengar dari mulutnya. Tampak beban berat yang sedang ia pikul membuat Zevana tidak bisa tidur malam ini. Rasanya ia masih sangat berat untuk mengambil keputusan bagaimana hubungannya dengan Haidar ke depannya.
"Mama!" panggil Raiden yang terbangun setelah merasakan mamanya tidur di samping dirinya.
Zevana langsung menghapus air matanya dengan kasar agar Raiden tidak mengetahui jika dirinya sedang menangis.
"Kenapa bangun, Sayang?" tanya Zevana menatap ke arah wajah Raiden yang entah mengapa sangat mirip dengan Haidar sehingga dirinya tak bisa melupakan Haidar sampai sekarang. Setiap menatap Raiden ada rasa rindu yang tersimpan begitu rapih di hatinya untuk Haidar, seseorang yang telah membuatnya jatuh cinta sekaligus membuatnya terluka.
"Raiden ke bangun, Ma!" sahut Raiden dengan pelan.
"Sini Mama peluk biar tidur lagi," ujar Zevana dengan tersenyum.
Raiden menggelengkan kepalanya dengan perlahan. "Ma, Raiden pengin punya keluarga utuh seperti teman Raiden yang lainnya. Raiden iri dengan mereka yang bisa berkumpul bersama papa dan mamanya, mereka bermain bersama, bercanda bersama, liburan bersama. Apakah Raiden tidak bisa seperti itu, Ma?" tanya Raiden yang membuat hati Zevana berdenyut sakit.
"S-sayang.... Maafkan Mama! Mama tidak bisa kembali ke Papa. Banyak hal yang Mama pertimbangkan, Nak!" ujar Zevana dengan sendu.
"Tapi kenapa, Ma? Selamanya Raiden gak punya keluarga lengkap ya, Ma?" tanya Raiden yang semakin membuat dada Zevana sesak.
"Kan ada om ayah! Kalau Mama menikah dengan om ayah kita akan menjadi keluarga yang utuh juga. Raiden gak keberatan, kan?" tanya Zevana yang membuat Raiden langsung terdiam.
"Jadi selamanya Raiden gak bisa sama Papa ya, Ma?Kalau itu yang buat Mama bahagia Raiden gak masalah, Ma!" gumam Raiden dengan tersenyum pedih. Begitu dewasa sekali pikiran Raiden kecil ini hingga Zevana ingin menjerit menangis sekarang karena telah membuat anaknya berpikir dewasa sebelum waktunya, membuat sang anak harus menerima kenyataan yang sangat menyakitkan sekali jika kedua orang tuanya tidak bisa berkumpul kembali.
"R-rai..."
"Raiden ngantuk, Ma! Raiden tidur lagi ya, Ma!" ujar Raiden dengan pelan dan langsung membelakangi mamanya.
Raiden menyeka air matanya dengan pelan, harapannya sudah pupus dan Raiden harus menerima kenyataan jika ia tidak bisa berkumpul dengan papanya. Padahal Raiden selalu membayangkan jika papa dan mamanya kembali bersama dan mereka menjadi keluarga yang bahagia.
"Permintaan Raiden gak muluk-muluk. Raiden gak minta mainan yang banyak yang bisa menghabiskan uang Mama, Raiden gak minta sesuatu yang berlebihan. Raiden cuma minta mama dan papa bersama apa itu tidak bisa diwujudkan Ya Allah? Raiden bukan mau mama menikah dengan om ayah. Walaupun om ayah baik tapi dia bukan papa kandung Raiden," gumam Raiden di dalam hati mungkin jika Zevana mengetahui isi hati anaknya saat itu juga Zevana sudah menangis terisak.
__ADS_1
Zevana menatap punggung kecil anaknya saat di Swiss Raiden tidak pernah meminta apapun kepada dirinya bahkan saat anak se-usia Raiden meminta mainan kepada orang tuanya Raiden sama sekali tidak memintanya, pernah Zevana membelikan mainan untuk anaknya tetapi jawaban Raiden membuat hati Zevana berdenyut sakit.
'Untuk apa Mama beli mainan ini? Raiden gak butuh, Ma! Mending uangnya Mama tabung buat kita kembali ke Indonesia.'
Kata-kata Raiden itu yang membuat Zevana menangis dalam diam. Begitu sangat berharapnya sseorang Raiden agar bisa bertemu dengan papanya tetapi setelah berada di sini Raiden belum sama sekali bisa berbincang dengan papanya seperti papa dan anak. Sejahat itukah Zevana kepada Raiden hingga mental anaknya ia pertaruhkan?
"Raiden!"
"Sudah tidur, Sayang?" tanya Zevana dengan pelan.
"Kalau besok kita bertemu dengan papa kamu mau?" tanya Zevana yang membuat Raiden langsung menatap Zevana dengan berbinar bahkan ia langsung menghadap ke arah mamanya dengan ekspresi yang sangat bahagia.
"Benar, Ma? Mama gak bohong?" tanya Raiden dengan berbinar.
"Gak, Sayang. Ketemu om ayahnya kita batalin dulu ya. Raiden mau ketemu papa, kan? Mama akan mewujudkannya tapi jangan meminta Mama untuk kembali bersama papa dulu ya. Mama masih butuh waktu memikirkan semuanya harus kembali bersama papa atau tidak," ujar Zevana dengan perlahan. Semoga anaknya mengerti dengan ucapannya.
"Iya, Ma! Boleh Raiden telepon Papa? Boleh ya, Ma? Nomor teleponnya ada di kartu pasien Raiden waktu itu! Ayo telepon Papa, Ma!" ujar Raiden dengan tak sabaran yang membuat Zevana tak kuasa menolak permintaan anaknya.
"Sebentar ya Mama cari dulu," ujar Zevana yang bangun dari kasur dan langsung mencari kartu pasien Raiden untuk mencari nomor Haidar.
Setelah menemukannya Zevana langsung terpaku karena nomor itu sangat ia hafal sejak dulu dan masih tersimpan rapih di kontak ponselnya.
"Kamu yang ngomong ya!" ujar Zevana yang di angguki oleh Raiden dengan senang hati.
Tutt...tutt...tutt....
{Ha...}
"Halo Papa! Ini Raiden!" ujar Raiden dengan cepat sebelum papanya menyelesaikan perkataannya.
{R-raiden? A-anak, Papa?} tanya Haidar dengan terbata karena ia masih tak menyangka jika Raiden yang menelepon dirinya saat dirinya ingin beranjak tidur karena memikirkan perkataan Zevana bersamanya tadi. Haidar sudah sangat senang jika Zevana akan memberikan kesempatan kedua untuk dirinya namun Haidar tidak tahu anggukkan Zevana adalah anggukkan agar Haidar melepaskan dirinya dengan cepat karena Zevana tidak ingin terlalu lama bersama dengan Haidar bukan keputusan dari dalam hatinya.
"Iya, Pa!"
{Sebentar. Papa mau lihat wajah kamu lagi boleh kan Papa video call kamu? Tapi Mama marah tidak? Karena ini sudah malam!} tanya Haidar dengan hati-hati dan perasaan yang membuncah karena rasa bahagia yang ia rasakan saat ini.
__ADS_1
Raiden menatap mamanya, Zevana juga mendengar apa yang Haidar katakan karena panggilan sudah di speaker oleh Raiden.
"Boleh ya, Ma?!"
Zevana hanya mengangguk yang membuat Raiden memekik senang. "Kata Mama boleh, Pa!"
{Ya sudah Papa ubah panggilannya ya!} ujar Haidar dengan bahagia.
Panggilan sudah berubah membuat mata Haidar berkaca-kaca saat menatap anaknya yang sangat mirip dengannya.
{Raiden maafkan Papa yang tidak menjadi Papa yang sempurna untuk kamu. Maafkan Papa yang tidak melihat perkembangan kamu di dalam perut Mama sampai kamu lahir ke dunia, maafkan Papa yang tidak mengazani kamu saat kamu lahir. Papa salah, Nak. Kamu mau memaafkan Papa, kan?} tanya Haidar dengan meneteskan air matanya.
"Raiden selalu memaafkan Papa. Raiden mau ketemu Papa," ujar Raiden menatap Haidar dengan mata teduhnya.
"Papa bisa kan ketemu Raiden sama mama besok? Raiden mau jalan-jalan sama Papa mama!" pinta Raiden yang membuat Haidar tersenyum.
{Apapun untuk anak Papa. Besok Papa belikan mainan yang banyak untuk Raiden ya,} ujar Haidar dengan berbinar karena begitu senang saat besok ia akan bertemu dengan Raiden dan juga Zevana.
"Apa boleh?" tanya Raiden dengan hati-hati karena ia sangat jarang meminta mainan bisa di hitung permainannya yang ada di rumah. Raiden selalu menolak pemberian Indra tetapi ada juga yang ia terima untuk menghargai pria baik tersebut.
{Boleh, Nak! Kamu boleh meminta apapun ke Papa!}
"Termasuk Papa dan mama kembali bersama?" tanya Raiden yang membuat Haidar terdiam begitu pun dengan Zevana yang mendengarkan percakapan ayah dan anak tersebut.
{Itu sedang Papa usahakan, Nak. Do'akan Papa ya! Sekarang ponselnya boleh di kasih ke Mama gak? Papa mau bicara sama mama}
"Boleh! Sebentar ya, Pa!"
Zevana langsung berpura-pura memejamkan matanya yang membuat wajah Raiden menjadi sendu.
"Yah, mama sudah tidur Pa!" gumam Raiden dengan kecewa begitu pun dengan Haidar.
{Tidak apa-apa. Sekarang Raiden tidur ya biar besok gak kesiangan ketemu Papa}
"Iya, Pa. Selamat malam!"
__ADS_1
{Selamat malam jagoan Papa}
"Terima kasih Zevana karena kamu memberikan kesempatan untuk aku bisa bertemu dengan Raiden," ucap Haidar di dalam hatinya menatap wajah sang anak yang memejam matanya dengan damai. Haidar baru mematikan ponselnya setelah memastikan Raiden tertidur dengan nyenyak.