Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 85 (Fiona Cemburu)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


****


Akbar heran dengan Fiona, semenjak bertemu dengan Aurel di mall tadi Fiona terus cemberut dan tidak mau berbicara kepadanya. Biasanya gadis itu akan banyak bicara dan meminta makanan ini dan itu, tetapi kali ini Fiona tidak meminta apapun selain es krim tadi yang membuat Akbar pusing dan lebih sangat pusing dari biasanya saat Fiona dalam mode diam seperti ini.


Akbar banyak membeli makanan bahkan tekur gulung kesukaan Fiona tetapi gadis itu sama sekali tidak tergiur dan malah semakin memusuhinya. Keterdiaman Fiona membuat Akbar bingung dan merasa jika suasananya sangat hambar.


"Fio mau kemana? Ini saya sudah belikan telur gulung banyak sekali," ucap Akbar dengan menenteng beberapa kantung kresek berisi makanan.


"Kamar!" jawab Fiona dengan ketus.


Fiona terus berjalan menuju kamarnya dengan wajah yang sangat cemberut. Sedangkan Akbar hanya bisa menghela napasnya dengan perlahan dan mengikuti langkah Fiona.


"Yakin gak mau telur gulung? Enak loh ini kan tadi saya belinya di tempat biasa," ujar Akbar terus membujuk Fiona.


Fiona tampak memutar matanya, lalu ia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ke arah Akbar lebih tepatnya ke telur gulung yang Akbar bawa. Fiona mengambilnya dengan cepat.


"Es krimnya untuk om aja. Makan sama tante Aurel sana sampai mencret!" ucap Fiona dengan ketus.


Akbar menautkan kedua alisnya lalu ia tersenyum geli. Akbar menahan pintu kamar Fiona saat gadis itu ingin menutupnya dengan kencang.


"Saya mau makan sama kamu bukan sama Aurel," ucap Akbar dengan tersenyum.


Fiona sama sekali tidak luluh, ia malah masuk ke kamarnya dan duduk di karpet bulu dengan tenang membuka kantung kresek itu dan memakan telur gulungnya dengan kasar.


"Bagi saya dong! Kamu tega biarin calon suami kamu kelaparan hmm? Saya belum makan apa-apa loh, biasanya saya selalu kekenyangan pergi sama kamu kali ini saya tidak makan apapun," ucap Akbar memeluk Fiona dari belakang.


"Makan aja sana sama mantan istri sampai muntah dan mencret!" ucap Fiona dengan ketus.

__ADS_1


Akbar tersenyum geli, ia meletakkan dagunya di bahu Fiona dengan perlahan. "Kamu tahu tidak? Kalau kamu lagi cemburu kamu itu lucu sekali," ucap Akbar semakin mengeratkan pelukannya di perut Fiona.


"Siapa yang cemburu? Fio cuma kesel sama wajah tante tua itu! Fio mau tarik rambutnya, cakar wajahnya, tendang perutnya, robek mulutnya, congkel matanya biar gak kegatelan sama Om Akbar! Kalau masih suka kenapa cerai? Fio gak akan biarin itu ulat gatel dekat-dekat Om Akbar!" cerocos Fiona dengan tetap memakan telur gulungnya ternyata diam sejak tadi membuat perutnya berbunyi dan lapar.


Akbar terkekeh, ia menoel pipi Fiona dengan gemas. "Itu namanya cemburu, Sayang! Saya suka kamu cemburu seperti ini itu artinya kamu mencintai saya!" ucap Akbar dengan terkekeh.


"Kalau gak cinta mana mungkin Fio mau menikah dengan om-om. Ya mending cari yang muda tapi karena cinta Fio mau," ucap Fiona dengan ketus yang membuat Akbar kembali masam.


Akbar menselonjorkan kakinya hingga Fiona seperti duduk di pangkuannya. "Anak kecil kalau cemburu nyeremin!" gemes Akbar.


Akbar menatap wajah Fiona dari samping, dilihat begitu intens dengan Akbar membuat Fiona tidak tahan dan menjadi salah tingkah sendiri.


"Bisa gak sih matanya gak usah lihat Fio! Fio kan jadi gugup!" protes Fiona.


Akbar menggeleng. "Gak bisa, kamu terlalu cantik! Jadi, mata saya selalu melihat ke arah kamu," gumam Akbar dengan tersenyum geli pada dirinya sendiri yang bisa-bisa terus menggombali Fiona yang sedang kesal kepadanya.


"Kamu tadi sudah janji untuk memberikan ciuman sepuasnya kepada saya. Jadi, saya mau menagih janji itu!" ucap Akbar dengan melihat ke arah bibir Fiona yang terus bergerak memakan telur gulung dan membuat Akbar menelan ludahnya dengan kasar, pikirannya sudah berkelana entah kemana yang membuat hasrat Akbar kembali datang menyerangnya.


"Fio kan cuma minta beli es krim jadi ciumannya batal!" sahut Fiona yang membuat Akbar kesal.


Akbar ingin merengek kepada Fiona tetapi ia menahannya karena merasa malu kepada Fiona.


"Tapi kan Fio gak min..."


Cup...


Belum sempat Fiona menyelesaikan ucapannya Akbar sudah membungkam Fiona dengan ciumannya. Gadis itu terlihat syok dan terdiam.


"Telur gulungnya lebih lezat saat dari dalam mulut kamu ternyata," ucap Akbar menyeringai yang membuat Fiona salah tingkah dengan kedua pipi merona dan terasa panas saat lidah Akbar mengambil telur gulung dari dalam mulutnya.


"Jijik, Om!" rengek Fiona.

__ADS_1


"Bekas istri saya kenapa saya harus jijik? Malah makanan ini terasa sangat nikmat di lidah saya," ucap Akbar dengan serak.


Akbar mengecup tengkuk Fiona dengan lembut yang membuat gadis itu melenguh pelan. Tubuh Akbar panas dingin sesuatu di bawah sana ingin memberontak keluar saat mendengar suara Fiona yang membuat gairahnya ingin meledak tentu saja itu membuat kepala Akbar pusing tujuh keliling.


Akbar kembali mencium bibir Fiona kali ini terkesan kasar dan tergesa-gesa. Pikiran Akbar masih normal, ia hanya mencium Fiona yang sangat menggemaskan tetapi Akbar tidak bisa mengontrol tangannya sendiri. Tangan itu ternyata sudah bergerilya di paha Fiona.


Fiona merasa tubuhnya panas, ia baru pertama kali merasakan yang seperti ini hingga hatinya gelisah tetapi menikmati dan membalas ciuman Akbar. Tangan Akbar sudah menyelusup ke dress Fiona membelai sesuatu di saja yang membuat suara Fiona kembali terdengar indah di telinganya.


Fiona memejamkan matanya, seakan seperti terkena ombak Fiona merasakan tubuhnya bergetar saat tangan Akbar dengan nakalnya bermain di area sensitif.


"Om, Fio mau pipis!" ucap Fiona dengan menahan sesuatu.


"Pipis aja, Sayang!" sahut Akbar dengan serak.


Tubuh Fiona bergetar dengan hebat. Ia merasa tubuhnya sangat lemas. "Om, Fio ngompol!" adu Fiona yang membuat Akbar terkekeh geli.


"Enak?" tanya Akbar dengan jahil.


Fiona mengangguk. "Fio baru kali ini ngompol di celana rasanya enak. Ternyata tangan Om bisa buat Fio ngompol," ucap Fiona dengan polosnya.


Shitt...


Akbar malah semakin tak tahan dengan tingkah polos Fiona yang sangat menggemaskan menurutnya. Lama-lama Akbar tidak tahan jika tidak menyentuh Fiona.


"Pernikahan kita harus dipercepat! Saya ingin Unboxing kamu secepatnya!" ucap Akbar dengan serak.


"Kenapa unboxingnya gak sekarang, Om? Emang harus nunggu kita nikah dulu ya?" tanya Fiona dengan mata mengerjap lucu.


Akbar menahan geramannya. "Saya maunya saat kita sah tapi kalau kamu maunya sekarang ayo!" ucap Akbar.


"Nanti aja deh. Telur gulung Fiona belum habis!"

__ADS_1


"FIONA BERANI KAMU MEMAINKAN GAIRAH SAYA!"


"Salah Fio apa?"


__ADS_2