
...Jangan lupa ramaikan partai ini ya! ...
...Happy reading...
***
Zayyen sangat syok saat ia di telepon papanya dan disuruh kembali ke rumah sakit padahal dirinya sedang menjernihkan pikirannya hingga lupa untuk menjemput Delisha yang menunggunya di sekolah hingga kejadian naas yang membuat Delisha harus kembali ke rumah sakit dengan keadaan yang tidak terbilang baik.
Zayyen menelan ludahnya dengan kasar saat mendengar kemarahan papanya. Ia juga merutuki dirinya sendiri karena melupakan janjinya untuk menjemput Delisha hari ini.
"Pa, ada apa sebenarnya? Kenapa Papa sangat marah dengan Zayyen?" tanya Zayyen dengan bingung.
"Astaga, Zayyen! Cepat ke rumah sakit sebelum om Akbar marah dengan kamu. Kamu sudah berjanji kepadanya untuk menjemput Delisha pulang sekolah tetapi apa kamu tidak menjemput Delisha, kan? Delisha pulang bersama dengan Haidar tetapi Haidar membawa motornya dengan kecepatan tinggi hingga penyakit jantung Delisha kambuh!" ujar Zidan panjang lebar yang membuat Zayyen mematung seakan jantungnya berhenti berdetak sekarang mendapatkan kabar Delisha tengah berada di rumah sakit.
Deg...
"P-papa bercanda, kan?" tanya Zayyen dengan terbata.
"Di saat seperti ini kamu bilang Papa bercanda Zayyen? Astaga benar-benar kamu ya! Cepat ke rumah sakit sekarang!" bentak Zidan dengan keras sepertinya Zidan terlihat sangat emosi dengan Zayyen kali ini, dirinya juga tengah pusing memikirkan Zayden dengan sekarang anak pertamanya juga membuat darah tingginya naik. Bisa-bisa Zidan juga jatuh sakit karena kedua anaknya.
Zayyen langsung menyambar kunci mobilnya yang berada di atas nakas. Ia keluar dari kamarnya dan berpapasan dengan Tiara dan juga Zevana yang tengah bercanda di ruang tengah.
"Mau kemana lagi, Kak?" tanya Tiara kepada anak sulungnya yang terlihat sangat terburu-buru dengan wajah yang terlihat panik sekali. Ada apa dengan anaknya? Apakah sesuatu telah terjadi?
"Zayyen harus ke rumah sakit, Ma. Jantung Delisha kembali kambuh karena Haidar," ujar Zayyen dengan panik. Walaupun dirinya tak mencintaimu Delisha tetapi bagaimanapun Delisha adalah kekasihnya dan Zayyen juga merasakan kekhawatiran yang tak bisa Zayyen jabarkan sendiri, ia sangat takut Delisha kenapa-napa.
"A-apa? Mama dan adek kamu ikut ya!" ujar Tiara dengan cemas. Bagaimanapun Delisha sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri, keceriaan Delisha sangat membuatnya bahagia.
Zevana juga merasa cemas bahkan kecemasan dirinya juga untuk Haidar, lelaki yang ia cintai secara diam-diam.
Zayyen mengangguk dan akhirnya Tiara juga Zevana mengikuti langkah Zayyen memasuki mobil.
"Kak kok bisa Delisha sama kak Haidar?" tanya Zevana saat ketiganya memasuki mobil dan Zayyen sudah menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi tetapi ia tetap harus berhati-hati karena mamanya trauma dengan kecelakaan.
"Sebenarnya Delisha menunggu Kakak untuk menjemputnya tapi Kakak lupa," jawab Zayyen dengan jujur dan dengan ringisan rasa bersalah terdengar di telinga Zevana dan juga Tiara.
"Kamu itu perhatian sedikit kenapa dengan Delisha! Kurang apa lagi Delisha? Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari Zayyen!" ujar Tiara dengan kesal.
"jika terjadi sesuatu dengan calon mantu Mama, kamu akan Mama hukum!" ujar Tiara dengan tegas yang membuat Zayyen menelan ludahnya dengan kasar.
Semua orang memarahinya hari ini akibat kecerobohan dirinya sendiri. Zayyen tak becus menjaga Delisha.
__ADS_1
Apakah sebaiknya mereka putus saja? Zayyen tak mau terus-terusan mengecewakan Delisha nantinya! Tapi kenapa hatinya seakan tidak rela jika mereka putus? Dan kenapa pula hati dan pikirannya tidak sejalan? Zayyen benar-benar pusing dengan perasaannya sendiri.
****
Ikbal menatap mamanya dengan sendu. Mendapatkan kabar jika mamanya pingsan saat bekerja dan dilarikan ke rumah sakit membuat Ikbal sangat kalut sekarang, pikiran pemuda itu sangat kacau. Mamanya hampir kehilangan nyawanya karena gila bekerja setelah cerai dengan papanya bahkan mamanya terlihat kurus.
"Ma, Ikbal salah tidak kalau mengharapkan mama dan papa kembali bersama? Tapi Ikbal tidak mau membuat mama semakin terluka karena kehadiran wanita itu dan anaknya. Ikbal masih sangat kecewa dengan papa," gumam Ikbal dengan sendi menatap wajah mamanya yang sangat pucat.
Penyakit asam lambung yang mamanya derita hampir menghilangkan nyawa mamanya.
"Claudia!" panggil seseorang yang sangat Ikbal kenal.
Ya, itu adalah suara papanya. Tangan Ikbal langsung terkepal dengan sangat erat saat papanya datang bersama dengan wanita yang telah merusak kebahagiaan mamanya dan juga dirinya.
"Ngapain anda ke sini membawa wanita perusak rumah tangga orang?" tanya Akbar dengan tajam kepada papanya. Bahkan Ikbal sangat enggan memanggil papanya, Ikbal merasa keduanya adalah orang asing walau ikatan darah keduanya tidak bisa dihilangkan.
"Ikbal jaga ucapan kamu. Dia juga mama kamu!" ucap Tomi dengan tegas.
"Cih.. Mamaku hanya satu dan itu mama Claudia!" ujar Ikbal dengan dingin menatap wanita yang berada di samping papanya dengan dingin. Ikbal sangat muak melihat wajah wanita itu, terlihat polos tetapi mampu menghancurkan kebahagiaan orang lain.
"Eugh.. "
"Mama!" panggil Ikbal dengan bahagia sekaligus lega saat melihat mamanya membuka mata setelah 3 jam tidak sadarkan diri.
Tomi menatap mantan istrinya dengan sendu. Tak bisa dipungkiri jika dirinya masih sangat mencintai Claudia. Tetapi ia tak bisa membiarkan Claudia terus terluka jika masih bersama dengan dirinya.
Lidya, menatap suaminya dengan sendu. Ia merasa tidak ada gunanya di sini. Perlahan tapi pasti Lidya keluar dari ruangan Claudia di saat sang suami tak melihatnya karena asyik menatap Claudia dengan penuh kerinduan yang sangat mendalam.
"Mana yang sakit, Ma? Ikbal panggilkan dokter ya!" ujar Ikbal dengan lembut.
Claudia menggelengkan kepalanya. "Mama kangen sama kamu!" ungkap Claudia dengan jujur.
"Ikbal juga kangen Mama!" sahut Ikbal memegang tangan mamanya dengan erat.
"Claudia!" gumam Tomi yang membuat Claudia menatap ke arah mantan suaminya dengan tersenyum miris. Tak bisa dibohongi jika dua tahun ini Claudia sangat merindukan Tomi.
"Ngapain kamu di sini!" tanya Claudia dengan sinis.
Claudia menatap anaknya. "Ikbal tolong usir dia ya! Mama gak mau melihat wajahnya lagi!" ujar Claudia dengan bersungguh-sungguh.
"Clau, Mas..."
__ADS_1
"pergi!" ujar Claudia dengan keras.
"Anda dengarkan mama saya tak mau melihat wajah anda lagi! Sekarang anda keluar dari ruangan mama saya!" ujar Ikbal dengan tajam.
"Claudia dengarkan penjelasan Mas dulu ya! Dua tahun Mas membiarkan kamu menenangkan diri, ini saatnya Mas menjelaskan semuanya kepada kamu dan Ikbal. Ada sesuatu yang harus Mas luruskan kepada kalian berdua," ujar Tomi dengan memohon.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan! Kita sudah berakhir cukup lama!" ujar Claudia dengan dingin.
"Keluar, pa! Sebelum Ikbal memanggil security!" ujar Ikbal dengan tajam.
Kali ini Tomi mengalah, ia lebih memilih keluar dari ruangan Claudia, wanita yang sampai saat ini masih sangat ia cintai. Tomi sangat khawatir dengan keadaan Claudia, tidak pernah Tomi melihat Claudia sakit hingga dirawat di rumah sakit. Bahkan wanita yang dulunya tidak bekerja karena selalu ingin menyambut kepulangannya dengan baik kini berubah karena dirinya.
"Tinggal bersama Mama ya Ikbal! Mama gak sanggup jika harus kehilangan kamu juga!" pinta Claudia kepada anaknya setelah mantan suaminya sudah keluar.
"Iya, Ma! Ikbal akan bersama Mama!" ucap Ikbal dengan tersenyum.
Sibuk menjaga mamanya yang sedang sakit membuat Ikbal tak membuka ponselnya padahal banyak sekali pesan dari sahabatnya yang mengatakan jika Delisha sedang menjalankan operasi, mungkin ketika tahu keadaan Delisha seperti ini karena Haidar dan juga kecerobohannya Zayyen, Ikbal akan marah dengan Haidar seperti ketiga kakak kembar Delisha.
***
Akbar mencengkram baju Zayyen dengan kencang saat lelaki itu baru saja datang dengan anaknya yang tengah berjuang di dalam sana.
"Dari awal saya percaya dengan kamu karena anak saya sangat mencintai kamu. Tapi kali ini saya kecewa dengan kamu, Zayyen. Jika kamu tidak bisa menyanggupi amanah saya bilang langsung kepada saya! Jangan abaikan anak saya hingga dia menunggumu sangat lama dan berakhir di meja operasi!" ujar Akbar dengan tegas.
Bukk...
Tanpa aba-aba dan tidak bisa menghindar dari pukulan Danish, Zayyen terlihat kesakitan. Tiara dan Zidan hanya bisa diam karena memang anaknya bersalah asal Zayyen masih baik-baik saja.
"Pacar gak berguna! Kalau udah gak suka sama adek gue lagi bilang! Biar gue suruh buat Delisha menjauh dari lelaki yang tidak perhatian seperti lo!" ujar Danish dengan tajam.
"Maaf!" hanya kata itu yang keluar dari bibir Zayyen saat ini dan tampangnya juga masih terlihat tenang yang membuat kakak kembar Delisha tersulut emosi.
"Lo memang tidak benar-benar mencintai adek gue, kan? Kali ini gue gak akan mengizinkan lo ketemu adek gue lagi! Lebih baik kalian putus!" ujar Daniel dengan tajam
Akbar mengangkat tangannya agar anaknya tidak terpancing amarah yang semakin dalam. Akbar menatap Zayyen dengan tajam. "Delisha adalah putri kesayangan saya! Keteledoran kamu membuat saya hampir kehilangan anak saya! Jika kamu memang tidak mencintai putri saya maka lepaskan Delisha sebelum anak saya semakin terluka! Saya benar-benar kecewa dengan kamu, Zayyen!" ujar Akbar dengan tegas yang membuat Zayyen terdiam.
Ketika semua orang memintanya untuk meninggalkan Delisha kenapa hatinya merasa tidak rela? Ada apa ini? Bahkan Zayyen hanya pasrah saat kakak-kakak Delisha memukulinya.
Dengan berjalan tertatih-tatih Zayyen melihat ke arah jendela besar yang menghubungkan dirinya dengan Delisha.
"Gue emang gak mencintai lo tapi gue gak mau kehilangan lo dengan cara yang seperti ini! Bertahanlah Delisha!" gumam Zayyen di dalam hati bahkan matanya juga sendu dengan berkaca-kaca, hatinya sakit melihat banyaknya dokter yang sedang berjuang menyelamatkan nyawa Delisha.
__ADS_1
Haruskah Zayyen melepaskan Delisha?