
...📌Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
***
Inilah yang membuat Ikbal sangat malas menginap di rumah kedua orang tuanya pasalnya sang adik selalu ingin mengusai istrinya sejak dulu sampai usia adiknya 5 tahun sekarang.
"Aldo minggir ah!! Jangan peluk-peluk istri Kakak!" ujar Ikbal dengan kesal.
"Gak boleh pelit, Kak! Berbagi itu indah kata mama," ujar Aldo sangat polosnya.
"Boleh berbagi tapi gak berbagi istri juga kali. Awas ahh! Atau Kakak bawa kak Delisha pulang lagi nih," ujar Ikbal dengan mengancam sang adik yang sialnya sangat mirip dengannya ini.
Delisha terkikik geli saat suami dan adik iparnya terus berebut seperti ini jika bertemu. "Delisha di belah dua saja kalau gak biar Aldo sama Mas gak rebutan mulu," ujar Delisha dengan terkekeh.
"Gak boleh kamu cuma milik Mas!"
"Kak Delisha milik Aldo ihh! Aldo bilang Mama ya kalau Kak Ikbal cubit Aldo," ujar Aldo dengan kesal.
"Ehhh curut sejak kapan Kakak nyubit kamu? Ngadi-ngadi kalau ngomong!" ujar Ikbal dengan kesal.
Semenjak kelahiran adiknya, Ikbal sudah tidak tenang dan benar saja kan adiknya ingin mengusai istrinya sekarang.
"MAMA BAWA ALDO NIH! ALDO GANGGU IKBAL SAMA DELISHA!" ujar Ikbal dengan kesal.
"GAK MAU MA!" teriak Aldo tak mau kalah.
"Mas sudah ya! Nanti kalau Aldo sudah tidur kamu bisa sepuasnya sama aku," ujar Delisha dengan mengelus kepala adik iparnya dengan sayang yang membuat Aldo merasa menang dan memeletkan lidahnya ke arah Ikbal untuk mengejek sang kakak.
Ikbal menghela napasnya dengan kasar, ia ingin sekali mencubit adiknya karena gemas dan kesal. Ikbal tidak rela jika Aldo mengusai istrinya karena 5 tahun berlalu Delisha semakin terlihat dewasa dan sangat cantik sekali yang membuat Ikbal selalu uring-uringan ketika dirinya meninggalkan Delisha untuk bekerja.
"Awas kamu Do!" ujar Ikbal menatap adiknya dengan tajam.
"Yang, jangan lama-lama ya sama Aldo-nya! Mas ke bawah dulu," ujar Ikbal mencium kening Delisha dengan lembut.
"Iya, Mas!"
"Lama Kak!"
"Gak bisa! Atau Kakak gak jadi nginap di sini," ujar Ikbal yang membuat Aldo mengerucutkan bibirnya.
"Sana-sana keluar dari kamar ini! Aldo mau berduaan dengan kak Delisha!" ujar Aldo dengan kesal.
Ikbal tampak geram tetapi bukannya takut Delisha malah tertawa melihat wajah kesal suaminya. Setelah kepergian Ikbal, Aldo menatap kakak iparnya dengan wajah polosnya.
"Aldo sudah gak sakit lagi, kan? Kata Mama kemarin kamu demam makanya Kakak ke sini," ujar Delisha mengelus kepala adiknya dengan sayang.
"Sudah minum obat, Kak! Kakak ke sini Aldo langsung sehat," ujar Aldo dengan menampilkan deretan gigi putihnya yang membuat Delisha gemas.
Sejak Aldo bayi, Delisha sering sekali mengasuh Aldo makanya mereka sangat dekat sekali yang membuat Ikbal terkadang kesal namun juga bahagia karena istri dan adiknya bisa sangat sedekat itu. Dari adanya Aldo lah Delisha tampak dewasa dalam berpikir karena Delisha ingin juga memiliki anak yang lucu seperti Aldo dan Deon. Mengingat Deon, Delisha jadi merindukan keponakannya itu.
"Kenapa sih Kakak sama kak Ikbal gak tinggal di sini saja? Kamar di rumah Papa kan banyak yang kosong," ujar Aldo yang membuat Delisha terkekeh.
"Kakak sudah menikah dan lebih baik rumah sendiri karena lebih nyaman. Nanti Kakak akan sering ke sini," ujar Delisha dengan lembut.
__ADS_1
"Janji ya, Kak!" ujar Aldo.
"Janji adek kesayangan kak Delisha!"
"Yeee..Makasih Kakak cantik," ujar Aldo dengan senang.
"Ya sama-sama, Dek!"
***
"Kenapa muka kamu kesel gitu?" tanya Tomi kepada anak sulungnya.
"Gara-gara Aldo yang selalu mengusai istri Ikbal!" jawab Ikbal dengan datar.
Tomi menggelengkan kepalanya. "Adek kamu demam karena merindukan Delisha. Seminggu gak ketemu Delisha karena kamu bawa Delisha ke luar kota dia jadi demam," ujar Tomi memang benar adanya.
"Kamu tahu kan sedekat apa mereka berdua bahkan sejak bayi Aldo lebih sering sama kamu dan Delisha. Kenapa sekarang jadi rebutan Delisha?" ujar Tomi yang menepuk punggung anaknya.
"Kesel aja sama Aldo, Pa! Makin besar makin ngeselin," ujar Ikbal yang membuat Claudia yang mendengarnya menggelengkan kepalanya.
"Sudah-sudah. Nanti Delisha juga sama kamu lagi. Mau makan gak? Biar Mama ambilkan," ujar Claudia.
"Gak Ma. Tunggu Delisha aja baru Ikbal makan. Sudah terbiasa makan berdua kalau makan tanpa Delisha nasinya gak bisa ketelen," ujar Ikbal.
"Bucin!" ejek Claudia dengan terkekeh.
"Biarin Ma!" ujar Ikbal dengan masa bodoh karena emang itulah kenyataannya.
Akhirnya Tomi dan Ikbal mengobrol soal pekerjaan menunggu Delisha turun dari kamar Aldo walaupun di dalam hati Ikbal merasa kesal dengan adiknya itu tapi mau bagaimana lagi karena Aldo masih kecil makanya Ikbal sedikit mengalah kepada adiknya.
***
Delisha tidak membedakan antara di rumah kedua orang tuanya serta rumah mertuanya sebab mertuanya juga sangat menyayanginya sebagai anak kandung bukan menantu itulah yang membuat Delisha dan kedua mertuanya tidak ada jarak.
"Mama ada sayur asam, ikan goreng sama sambal. Mau Mama buatkan telur gulung?" tanya Claudia saat menantunya mendekat ke arahnya.
"Lagi gak pengin terus gulung, Ma! Ikan sama sambal aja," ujar Delisha yang sudah merasa sangat lapar.
"Tumben gak mau telur gulung?" tanya Claudia dengan heran.
"Sebelum ke sini sudah beli banyak Ma, hehehe..." sahut Delisha yang membuat Claudia tertawa.
"Pantas saja! ajak suami kamu makan katanya mau makan sama kamu kalau gak nasinya gak bisa ketelen," ujar Claudia yang membuat Delisha terkekeh.
Bayi besarnya itu masih saja sangat manja. "Manja banget anak Mama satu itu. Tahu gak Ma seminggu lalu kan Delisha gak mau ikut ke luar kota eh Mas Ikbal ngambek Ma," ujar Delisha dengan terkekeh.
"Ngambek? Bisa juga dia ngambek sama kamu?" tanya Claudia dengan terkekeh.
"Iya Ma sok-sokan ngambek tapi Delisha diemin terus mas Ikbal rengek peluk Delisha bilang 'jangan di diemin aku, Sayang' Haha kalau ingat itu Delisha mau ketawa Ma," ujar Delisha tertawa bersama dengan mama mertuanya yang membuat Ikbal dan Tomi melihat ke arah dapur.
Ikbal yang mengetahui sang istri sudah turun langsung berjalan menghampiri Delisha. "Yang, laper!" ujar Ikbal dengan manja.
"Tuh kan Ma. Mama lihat sendiri gimana manjanya Mas Ikbal kayaknya sifat Delisha sama Mas Ikbal ketukar, Ma!"
"Benar kata kamu, Sayang!" sahut Claudia dengan terkekeh.
__ADS_1
"Manja sama istri sendiri ya gak salah dong!" ujar Ikbal membela diri.
Delisha mengambil piring setelah itu menaruh nasi dan lauk yang lumayan banyak karena ia berbagi dengan Ikbal, sejak menikah Ikbal sudah jarang makan sendiri karena Delisha selalu menemaninya bahkan menyuapi dirinya.
"Mama ke kamar Aldo dulu ya. Kalian makan yang banyak," ujar Claudia meninggalkan kedua anaknya.
"Iya, Ma!"
Claudia dan Tomi memang sudah menginginkan cucu dari Ikbal dan Delisha tetapi keduanya tidak menuntut karena kehadiran anak adalah pemberian Yang Maha Kuasa. Claudia dan Tomi menunggu dengan sabar sampai akhirnya nanti Delisha hamil.
Delisha mencuci tangannya dan duduk di kursi pantry bersama sang suami.
"Kayaknya enak!" ujar Ikbal dengan tak sabaran.
"Tentu, Mas. Ini kan masakan Mama!" ujar Delisha yang mulai menyuapi Ikbal dengan tangannya.
"Apalagi di suapin kamu," ujar Ikbal dengan tersenyum.
Ikbal mengacak rambut istrinya dengan sayang. "Sudah dewasa makin cantik saja istri Mas!" ujar Ikbal memandang Delisha dengan penuh cinta.
"Emang dulu Delisha gak cantik?"
"Cantik, Sayang. Banget malah tapi versi dewasa lebih buat Mas gak bisa jauh dari kamu," ujar Ikbal yang kembali menerima suapan istrinya.
"Kenapa?" tanya Delisha terkekeh.
"Karena banyak lelaki yang mendekati kamu. Ingat gak 6 bulan lalu saat kita jalan ke mall padahal di situ ada Mas tapi mereka terang-terangan mau minta nomor ponsel kamu," ujar Ikbal dengan kesal.
"Ingat banget, Mas. Anak-anak SMA itu bilang kalau Delisha ini adiknya Mas Ikbal," ujar Delisha dengan terkekeh.
"Dan itu sangat menyebalkan sekali," ujar Ikbal yang membuat Delisha tertawa.
"Mas!"
"Hmmm.."
"Kita sudah 5 tahun lebih menikah hampir 6 tahun malah kalau aku gak bisa kasih kamu anak gimana? Kan kata dokter karena Delisha banyak mengkonsumsi obat-obatan waktu itu makanya Delisha belum hamil sampai sekarang," ujar Delisha dengan sendu.
"Masih ada Aldo sama Deon yang bisa kita bawa ke rumah kita. Gak masalah ada atau tidaknya anak karena Mas menikahi kamu untuk menemani Mas sampai tua bukan karena anak. Anak itu rezeki, kalau di kasih ya alhamdulillah kalau tidak ya syukuri saja itu artinya kita di suruh pacaran terus," sahut Ikbal dengan santai.
Bukan tak menginginkan adanya anak di dalam pernikahan mereka tetapi Ikbal harus membuat istrinya berpikir tenang agar tidak drop dengan masalah ini toh mereka bukan tidak bisa memiliki anak.
"Tapi..."
"Setahun lagi kita tunggu kalau kamu gak hamil juga kita program bayi tabung. Gak usah di ambil pusing. Mama sama mami juga gak menuntut kita mempunyai anak secepatnya, kan?" ujar Ikbal dengan tenang.
Delisha tersenyum inilah yang Delisha suka dari suaminya, selalu bisa menenangkan hatinya saat merasa gundah seperti ini.
"Makan lagi, Sayang! Gak usah mikirin soal anak," ujar Ikbal mengelus pipi istrinya yang cabi.
"Makasih, Mas! Kamu selalu bisa buat hati aku tenang," ujar Delisha mencium bibir suaminya.
"Mancing-mancing suami nih ceritanya. Tunggu selesai makan, Sayang! Gak sabaran banget!"
"Ihh apaan sih Mas!"
__ADS_1
"Hahaha..."