Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 38 (Diary Part 2)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya. Dan tinggalkan jejak kalian....


...Happy reading...


***


"Mas marah sama aku?" tanya Tri dengan takut-takut.


Fathan menaikan sebelah alisnya lalu ia tersenyum tipis kepada Tri yang terlihat tegang. "Mana mungkin Mas bisa marah sama kamu jika jatuhnya Cika saja bukan kesalahan kamu!" jawab Fathan dengan lembut.


Fathan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya dan menyelipkannya di belakang telinga Tri. Ia meneliti wajah Tri yang tampak pucat dengan sangat serius yang membuat wanita itu tegang seketika.


"Kamu sakit?" tanya Fathan dengan cemas.


Tri menggeleng dengan pelan. "Aku cuma kelelahan aja, Mas. Tapi gak tau kenapa rasanya tuh lelah banget," jawab Tri dengan jujur.


"Ayo ke kamar Mas periksa dulu," ucap Fathan dengan tegas dan langsung menggendong Tri di depan.


Tri mengalungkan tangannya di leher Fathan, ia bersandar di bahu Fathan dengan nyaman. Fathan berjalan ke kamar mereka, tetapi ia mendengar hembusan napas Tri yang teratur. Apakah istrinya itu sudah tertidur? Kenapa cepat sekali bahkan ini belum ada 5 menit Fathan menggendong Tri menuju kamar mereka?


"Hanum!" panggil Fathan dengan perlahan tetapi tidak ada jawaban dari Tri.


Fathan terkekeh melihat istrinya yang sudah tertidur di gendongannya. Dengan sedikit kesusahan Fathan membuka pintu kamar mereka, setelah terbuka Fathan berjalan perlahan menuju ke arah kasur dan menidurkan Tri dengan perlahan.


Fathan duduk di pinggir kasur dengan memperhatikan wajah Tri yang tampak begitu pulas. Lalu Fathan mengambil kalender kecil yang berada di nakas kecil di sampingnya.


"Ini tanggal 13 seharusnya kamu sudah haid sejak dua minggu yang lalu," gumam Fathan menghitung kapan hari terakhir haid istrinya. Bibir Fathan menyunggingkan senyuman yang sangat merekah jika prediksinya ini benar.

__ADS_1


Cup...


Cup...


Fathan mengecup bibir Tri dengan gemas lalu beralih ke perut Tri dan mengusapnya dengan sangat lembut. "Jika perkiraan Papa benar kamu sudah ada di dalam perut mama, Sayang!" gumam Fathan dengan terkekeh senang.Tetapi Fathan harus memastikan semuanya terlebih dahulu mengingat gejala istrinya yang mudah kelelahan dan begitu manja kepadanya membuat Fathan yakin jika anaknya sudah tumbuh di rahim sang istri.


Fathan mengambil peralatan dokternya untuk mengecek keadaan Tri yang sedikit pucat. "Jangan buat mama sakit, Nak!" gumam Fathan dengan pelan.


"Pantas saja Hanum sedikit pucat dan gampang lelah. Tekanan darahnya rendah," gumam Fathan.


Setelah selesai memeriksa istrinya. Fathan mengambil ponselnya dengan cepat untuk menghubungi seseorang. "Sus, saya hari tidak kembali ke rumah sakit. Tolong semua pasien saya dialihkan pada dokter Zidan saja. Dan besok tolong buatkan jadwal untuk ibu Tri Hanum Pratiwi. Pastikan dia adalah pasien pertama yang saya periksa besok," ujar Fathan dengan tegas.


"Baik, Dok. Ada lagi, Dok?" tanya Suster Pipit yang bekerja dengan Fathan.


"Tidak ada! Ya sudah saya tutup!" ujar Fathan.


"Terima kasih telah memberikan aku kebahagiaan yang begitu sempurna Hanum! Cika pasti senang mendengar kabar jika dia akan segera mempunyai adik. Aku semakin mencintaimu!" bisik Fathan dengan pelan.


*****


"Sial*n Fathan! Mentang-mentang sudah punya istri seenaknya saja dia mengalihkan pasiennya kepadaku!" ucap Zidan dengan kesal.


Bagaimana tidak kesal pasiennya juga lumayan banyak ditambah dengan pasien Fathan yang lumayan banyak juga padahal Zidan ingin rileks hari ini tetapi karena Fathan dirinya tidak bisa santai hanya untuk melihat Tiara saja Zidan tidak bisa.


Zidan memijit pelipisnya. Waktu satu jam cukup untuknya beristirahat kali ini, ia membuka laci kerjanya dan mengambil diary Tiara yang ia bawa. Zidan membuka lembaran diary milik Tiara dan berhenti pada tulisan Tiara yang belum ia baca.


^^^Mas Zidan adalah kekasih yang sangat aku percaya dalam hidupku. Semua kebutuhannku Mas Zidan yang memenuhi. Bukankah aku terlihat seperti istrinya? Hihihi betapa bahagianya jika aku bisa menjadi istrinya. Di ratu kan oleh lelaki yang sangat aku cintai begitu membahagiakan rasanya. Seharusnya papa adalah cinta pertamaku, tetapi aku dipatahkan oleh presepsi itu karena bagiku mas Zidan adalah cinta pertamaku dan akan menjadi cinta terakhirku hingga aku mati. Mungkin jika dia meninggalkanku, aku bisa mati! Mungkin saja ragaku bernyawa tetapi jiwaku telah mati karena aku tidak sanggup kehilangannya.^^^

__ADS_1


Zidan menghela napasnya dengan berat, ia menatap langit-langit ruangannya untuk menghalau air matanya yang hendak jatuh, setelah di rasanya keadaan hatinya mulai membaik Zidan kembali membaca lembar berikutnya.


^^^Tidak terasa hubunganku dengan mas Zidan sudah berjalan 2 tahun. Semua hariku aku lewati dengan sangat bahagia walau aku merasa sedih jika menyangkut mama dan papa yang selalu membedakanku dengan kak Tika. Hari ini mas Zidan memberikanku apartemen mewah miliknya karena aku kabur dari rumah, aku sudah tidak tahan dengan sikap mama dan papa yang selalu mengabaikan aku. Terima kasih mas Zidan kamu sangat baik kepadaku. Bukankah aku terlihat seperti kerikil di jalanan lalu di pungut olehnya?^^^


"Bukan, Ay! Kamu bukan kerikil jalanan tetapi berlian yang disia-siakan oleh kedua orang tuamu lalu aku merawatmu dengan penuh kasih sayang dan cinta," gumam Zidan dengan lirih.


^^^Aku bahagia sekali mas Zidan ingin melamarku hari ini. Ya dia mengatakan itu dengan sangat manis kepadaku dan aku tidak sabar ingin menjadi istrinya. Tetapi kebahagiaanku sirna saat papa membentak dan menolak lamaran mas Zidan. Apakah aku tidak pantas untuk bahagia? Kenapa mama dan papa menolak lamaran mas Zidan untukku? Saat ini hatiku hancur karena lagi dan lagi masa depanku kedua orang tuaku yang menentukan, papa dan mama menyuruhku untuk kuliah kedokteran seperti kak Tika dan meninggalkan mas Zidan, aku tidak mau tentu saja aku menolaknya. Aku ingin terus bersama dengan mas Zidan walau harus menentang mereka karena mas Zidan sumber kekuatanku saat ini dan sampai kapanpun.^^^


Zidan menghembuskan napasnya yang tiba-tiba terasa sesak. Ia mengingat kejadian di mana ia di bentak dan di usir dari rumah kedua orang tua Tiara saat itu. Memang dulu Zidan tak sekaya keluarga Tiara, perusahaan papanya tidak sebanding dengan perusahaan kedua orang tua Tiara tetapi Zidan yakin bisa memenuhi kebutuhan hidup Tiara jika mereka menikah saat itu. Tetapi lamarannya di tolak mentah-mentah bahkan perusahaan papanya terancam bangkrut karena campur tangan papa Tiara.


^^^Sejak lamaran mas Zidan di tolak sikap mas Zidan mulai berubah kepadaku. Mas Zidan lebih pendiam dari biasanya saat bertemu denganku. Hingga hari ini Mas Zidan meneleponku dan ingin bertemu denganku. Aku langsung meng-iya-kan dengan senang. Sikapnya kembali romantis seperti biasa dan memanjakan aku. Kami menghabiskan waktu seharian dengan bersama hingga hujan turun begitu deras, aku yang sangat takut akan petir memeluk mas Zidan dengan erat dan entah bisikan setan dari mana aku dan mas zidan melakukan hubungan suami istri yang masih dilarang karena kami belum menikah. Aku terbuai akan sentuhan lembutnya. Kini, aku sudah memberikan diriku seutuhnya kepada mas Zidan.^^^


Zidan tersenyum manis mengingat kejadian itu. Ia juga sangat memuja tubuh Tiara yang begitu mempesona untuknya.


^^^Kemana mas Zidan? Kenapa sejak kejadian itu mas Zidan tidak bisa dihubungi begitu pun dengan Sabrina. Pikiranku terus berpikir yang tidak-tidak tentang mereka. Mas Zidan kamu tidak akan meninggalkan aku setelah mengambil kesucianku, kan?^^^


"Maafkan aku, Sayang!" gumam Zidan dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya.


^^^Bagaikan di sambar petir tubuhku merosot di lantai kamar mandi saat aku mengetahui jika aku hamil anak mas Zidan. Aku senang tentu saja tetapi aku begitu takut mas Zidan tidak mau bertanggungjawab, ini sudah dua minggu mas Zidan tak mengabariku. Nomor ponselnya pun tidak aktif, apa mas Zidan pergi meninggalkan aku begitu saja? Hatiku hancur saat mengetahui fakta jika mas Zidan telah pergi dan aku tak tahu dia di mana. Lalu bagaimana caranya aku membesarkan anak ini? Aku tidak menyangka kamu sebrengsek itu padaku Mas!^^^


Tok...tok....


Zidan tersentak saat ada yang mengetuk pintunya. Ia menghapus air matanya dengan kasar dan menutup kembali buku diary milik Tiara lalu ia masukan kembali ke dalam laci.


"Masuk!" ucap Zidan dengan tegas.


"Dok, ini sudah waktunya untuk memeriksa pasien," ucap suster dengan sopan yang bekerja dengan Zidan.

__ADS_1


"Oke baiklah!" jawab Zidan sekenanya karena pikirannya masih berda di diary itu padahal sedikit lagi ia akan mengetahui di mana anaknya. Sepertinya Zidan harus banyak bersabar untuk hari ini.


__ADS_2