
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Seminggu sudah Zevana menjadi istri seorang Haidar, seminggu juga ia mendapatkan siksaan batin maupun fisik bahkan karena larangan Haidar dirinya tak boleh mengizinkan mamanya pulang ke Indonesia untuk melihat keadaannya. Bahkan karena larangan Haidar juga Zevana melarang kakaknya untuk datang ke apartemen. Banyak alasan agar sang mama dan kakak percaya padanya yang membuat Zevana sering menangis tengah malam sendirian. Saat Haidar menyentuhnya dengan kasar, saat tamparan, jambakan, serta siksaan yang lain yang membuat Zevana sadar apa yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan yang bisa mengubah karakter orang lain kepada dirinya.
"ZEVANA!" teriak Haidar dengan keras saat tak melihat makanan ada di meja pantry.
Zevana yang terkejut karena gadis itu ada di kamarnya untuk beristirahat langsung berlari tergopoh-gopoh ke arah dapur.
"A-ada apa, Kak?" tanya Zevana dengan terbata saat melihat Haidar begitu tajam menatap dirinya seakan ia membuat kesalahan yang sangat fatal dan membuat Haidar sangat murka.
"Istri macam apa lo, hah? Mana makanan buat gue? Gue itu laper lo gak ada masak sedikit pun? Lo benar-benar gak becus jadi istri," ujar Haidar dengan tajam dan memegang dagu Zevana dengan kuat yang membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Aakkhhh...sakit, Kak! K-katanya Kakak akan pulang larut malam. Jadi, Zeva gak ada masak," ujar Zevana menjelaskan.
"L-lagi pula Kakak gak mau memakan masakan Zeva," lanjut Zevana yang membuat Haidar bertambah mencengkeram dagi Zevana dengan kuat.
"Lo sudah berani melawan ternyata. Lihat saja apa yang akan gue lakuin ke lo setelah ini!" ujar Haidar dengan tajam.
"Sini lo!" ujar Haidar dengan dingin menarik rambut Zevana dengan kuat.
"K-kak, ampun! Zeva akan masak, Kak. T-tapi tolong jangan siksa Zeva kali ini Kak hiks..." ujar Zevana dengan menangis.
Haidar tak mempedulikan permohonan Zevana, ia terus menarik Zevana hingga masuk ke kamarnya. Haidar membawa Zevana ke dalam kamar mandi, ia mengisi air di bathtub hingga penuh. Setelah penuh, Haidar mencelupkan wajah Zevana ke dalam air dengan waktu yang lumayan lama.
Haidar menyeringai saat tangan Zevana bergerak dengan gelisah. Jangan tanyakan lagi bagaimana keadaan Zevana sekarang, ia kesulitan bernapas karena wajahnya tenggelam di air.
gelembung-gelembung air terlihat jelas ketika Zevana berusaha untuk tidak meminum air.
"Ini akibatnya lo melawan sama gue, Zeva!" ujar Haidar dengan tersenyum iblis.
Haidar menarik kepala Zevana dari dalam air. Zevana mengambil napas sedalam-dalamnya.
"Hiks...ampun, Kak!" ujar Zevana dengan wajah pucat dan mata memerah.
Haidar mencelupkan wajah Zevana kembali dan menariknya kembali begitu seterusnya hingga Haidar merasa puas. Zevana tak lagi sanggup menangis, bahkan ia sudah pasrah saat Haidar menggeretnya ke luar dari kamar mandi dan mendorong hingga jatuh di atas kasur.
Haidar melepaskan seluruh pakaiannya. "Gue pulang larut malam bukan berarti lo gak masak!" ujar Haidar dengan tajam.
__ADS_1
Zevana tak mampu lagi menjawab karena ia berkata apapun pasti akan selalu salah di mata Haidar. Setiap hari Zevana memasak untuk suaminya tetapi Haidar selalu membuang makanannya dan mengatakan makanan yang ia masak adalah sampah sepertinya. Tak ingin membuang-buang makanan Zevana sengaja tidak memasak bahkan dirinya tak lapar sedikit pun, ia hanya meratapi nasibnya yang seperti ini sekarang. Di kurung bagaikan tahanan yang tak boleh keluar bahkan bertemu keluarga sebentar saja.
Zevana sudah pasrah saat pakaiannya di robek dan Haidar kembali menyentuhnya dengan kasar. Kali ini tak ada isakan yang keluar dari bibir Zevana tetapi air matanya terus mengalir tanpa bisa ia cegah. Kalian tahu kan sakitnya menangis tanpa suara?
Saat berhubungan Haidar enggan sekali menatap wajah Zevana. Ada rasa kecewa, sakit, benci, jijik, dan kasihan kepada Zevana. Bagaimanapun mereka pernah seperti kakak adik sebelum Zevana merubah dirinya menjadi seperti ini.
"Argghhh..."
Haidar mendapatkan pelepasannya. Ia melepaskan penyatuan mereka, dan betapa terkejutnya Haidar melihat wajah Zevana yang sangat pucat. Tetapi rasa keterkejutan itu dan rasa khawatir yang ada di dalam dirinya ia kesampingkan membuat Haidar seakan menjadi lelaki yang tak memiliki belas kasih sedikit pun, hatinya sudah membeku karena Zevana. Andai saja Zevana tidak melakukan cara licik untuk memilikinya mungkin Haidar tidak akan pernah kasar kepada Zevana.
"Lo sudah selesai gue pakai. Bawa baju lo dan kembali ke kamar lo!" ujar Haidar dengan dingin yang membuat hati Zevana berdenyut sakit. Serendah itukah dirinya di mata Haidar sekarang?
Zevana tersenyum, senyum pedih yang membuat Haidar tercenung. Tanpa kata Zevana memunguti pakaiannya yang sudah dirobek oleh Haidar, dengan langkah tertatih, ia mencoba keluar kamar Haidar tetapi tiba-tiba saja pandangannya gelap dan...
Brukkk...
Zevana pingsan tepat di hadapan Haidar.
"Ck... Jangan bercanda, Zeva! Gue tahu lo jago akting biar gue kasihan ke lo, kan? Gue gak peduli sama lo! Dengar itu Zeva!" ucap Haidar dengan tajam
1 menit...
2 menit...
Haidar berjalan ke arah Zevana. "Sstt... Panas!" ujar Haidar dengan meringis saat merasakan tubuh Zevana yang sangat panas.
Tiba-tiba tatapan Haidar berubah menjadi sendu. "Apa gue terlalu kejam?" monolog Haidar dengan lirih.
****
Delisha menatap Ikbal dengan bingung. Saat datang pagi ini wajah Ikbal sudah terlihat sangat masam sekali yang membuat Delisha dan yang lainnya heran.
"Mas pacar kenapa?" tanya Delisha dengan pelan.
Ikbal menghela napasnya dengan kasar. "Mama hamil," jawab Ikbal yang membuat Delisha melongo.
"Delisha mau punya adik ipar ya?" tanya Delisha dengan bertepuk tangan yang membuat Ikbal mendelik kesal.
"Kamu kok senang sih, Sayang? Bukannya sedih? Apa kata orang-orang kalau Mas yang sudah berumur 19 tahun dan beberapa bulan lagi sudah menginjak 20 tahun baru mempunyai adik? Beda 20 tahun, Sayang! Coba bayangkan?" ujar Ikbal dengan frustasi.
"Hahaha...Ya gak apa-apa dong, Kak. Nanti adiknya bisa main sama Delisha," ujar Delisha dengan tersenyum yang membuat Ikbal berdecak kesal.
__ADS_1
"Bal seharusnya lo yang kasih cucu ke kedua orang tua lo. Tapi lo kalah start sama papa lo, Bal!" ujar Danish dengan tertawa.
"Ck... Diam lo ah! Gue lagi kesal sekarang! Bisa-bisanya mereka rujuk dan kasih gue adik," ujar Ikbal dengan mengacak rambutnya dengan kasar.
Daniel datang ke ruangan adiknya dengan wajahnya yang amat sangat kacau. Ia langsung menarik lengan Ikbal sampai Delisha , Fiona, dan Mikaela menjerit terkejut.
"Sini lo, Bal! Lo harus minta maaf ke Naura sekarang!" ujar Daniel dengan dingin.
"Gue emang akan meminta maaf ke Naura," jawab Ikbal dengan tenang agar tidak tersulut emosi seperti Daniel sekarang.
"Gara-gara lo Naura seperti ini! Dia gak mau ketemu sama gue, Bal! Gue sudah bujuk Naura untuk keluar kamar tapi dia gak mau, Bal. Lo tahu gak seberapa khawatirnya gue sekarang?! Gue sangat ingin mengajar lo, Bal! Tapi gue ingat lo itu tunangan adek tersayang gue! Gue gak akan melakukan sesuatu yang membuat Delisha menangis tapi gue cuma minta lo meminta maaf ke Naura sekarang!" ujar Daniel dengan tajam.
"Niel, Papi gak pernah mengajarkan kamu seperti itu! Kalau ada apa-apa bicarakan baik-baik," ujar Akbar dengan tegas.
Mikaela, gadis itu sampai ketakutan hingga membuat Dareel harus membawa Mikaela keluar sebentar.
"Maaf, Pi! Tapi Daniel kesal dengan Ikbal. Naura ternyata bukan adik tiri Ikbal, Pi. Dia bukan anak pelakor melainkan anak dari karyawan papa Ikbal sendiri yang sudah meninggal akibat kecelakaan yang di alami papa Ikbal dan papa Naura, Dan sekarang Naura mengurung dirinya di kamar gak mau menemui siapa pun. Daniel khawatir, Pi!" ujat Daniel dengan frustasi.
"Kamu sudah dobrak pintu kamar Naura? Takutnya dia melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri," ujar Fiona yang semakin membuat Daniel kalut.
"Mi, Daniel harus pergi!" ujar Daniel dengan detak jantung yang menggila.
"Bal, pergilah! Biar bagaimana pun kamu harus meminta maaf ke Naura!" ujar Akbar dengan tegas.
"B-baik, Pi!"
"Gue ikut!" ujar Danish yang diangguki oleh Ikbal.
Fiona memeluk Delisha yang tampak diam. Mungkin anaknya terguncang karena baru ini melihat sang kakak marah.
"Mi!" gumam Delisha dengan lirih.
"Iya, Sayang!"
"Naura gak akan kenapa-napa, kan?" gumam Delisha dengan pelan.
"Enggak, Sayang! Kamu gak boleh stres ya! Ingat kata dokter Ridwan kamu harus banyak istirahat. Sekarang Delisha istirahat sama Mami ya biar Delisha cepat keluar dari rumah sakit," ujar Fiona dengan tersenyum lembut.
"Tapi Delisha takut, Mi!" ujar Delisha dengan gelisah.
"Nurut sama Mami, Sayang! Kamu gak mau kan buat Mami sedih lagi?" tanya Akbar dengan tegas.
__ADS_1
Delisha menggelengkan kepalanya. Delisha berusaha untuk tenang tetapi tetap saja pikirannya sangat kalut memikirkan Naura. Pasti hati sahabatnya sedang hancur sekarang.