Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 200 (Ketakutan Daniel)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan ppart ini ya!...


...Happy reading...


***


"Tante kunci cadangan kamar Naura mana?" tanya Daniel dengan cemas.


Kenapa sejak tadi ia tidak kepikiran soal kunci cadangan? Sangking paniknya Daniel tidak berpikir sampai ke sana.


Jesica juga sama. Wanita itu juga sedang kalut bahkan ia sudah menelepon Tomi, tetapi pria itu tidak bisa datang sekarang karena Claudia sedang hamil muda dan terus mual setiap paginya.


"Sayang!" panggil Daniel menggendor pintu Naura tetapi tak ada sautan dari dalam sana.


"Ini, Nak!" ujar Jesica setelah berhasil menemukan kunci cadangan kamar Naura.


Daniel tampak sedikit lega. Ia langsung mengambil kunci tersebut dari tangan Jesica dan membuka pintu Naura dengan tak sabaran.


Pertama kali yang Daniel dan Jesica lihat adalah betapa berantakannya kamar Naura. Banyak sekali pecahan kaca di sana yang membuat jantung keduanya berdetak sangat kencang karena sebuah rasa khawatir yang sangat mendalam.


"NAURA!!!" teriak Jesica histeris saat melihat sang anak tak sadarkan diri dengan banyaknya pil yang berserakan di lantai serta darah yang mengalir dari pergelangan tangan Naura.


Daniel langsung menghampiri Naura. "SAYANG BANGUN!" teriak Daniel dengan histeris.


Tangan Daniel gemetaran saat memeriksa denyut nadi Naura. Lemah, itu artinya kekasihnya masih hidup, kan? Naura tidak akan meninggalkan dirinya, kan? Ketakutan Daniel membuat pria itu sangat kalut.


Jesica yang sudah lemas langsung terduduk di lantai melihat kondisi anaknya. Naura melakukan percobaan bunuh diri dengan meminum obat tidur sebanyak itu dan menyayat pergelangan tangannya sendiri.


Pedih!


Sakit!


Sesak!

__ADS_1


Semua rasa yang membuat Jesica ingin berteriak dengan kencang sekarang. Jesica tidak mau kehilangan Naura! Dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain Naura.


"Astaghfirullah, Niel! Ayo cepat bawa Naura kke rumah sakit sebelum Naura kehabisan darah!" ujar Danish dengan terkejut.


Apalagi Ikbal, pria itu sangking terkejutnya hanya bisa terdiam kaku dengan rasa bersalah kepada Naura. Gadis itu tak salah apa-apa selama ini dan Ikbal malah sangat membenci Naura. Sekarang hati mana yang lebih sakit? Ya, Naura! Hati Naura lah yang lebih sakit. Batinnya teriksa hingga Naura berpikir untuk mengakhiri hidupnya.


Setelah Danish berkata seperti itu. Daniel langsung tersadar dan langsung membopong Naura keluar dari kamar gadis itu.


"Tante, ayo saya bantu!" ujar Danish yang kasihan melihat Jesica seakan tidak bisa berdiri dan berjalan setelah melihat kondisi Naura.


Danish membantu Jesica. Setelah itu ia menepuk punggung Ikbal yang membuat Ikbal langsung sadar dan mengikuti langkah mereka.


"Please....Lo gak boleh kenapa-napa gue belum minta maaf sama lo!" gumam Ikbal di dalam hatinya.


****


Tak ada yang berani memberitahu kondisi Naura sekarang pada Delisha. Mereka takut terjadi sesuatu dengan Delisha yang baru saja pulih dari operasi dan belum boleh di perbolehkan pulang ke rumahnya. Dokter Ridwan mengatakan jika Delisha boleh pulang 3-5 hari lagi setelah pemeriksaan terakhir Delisha dinyatakan sudah sembuh total dari penyakitnya.


Setelah dokter keluar dari ruangan Naura. Jesica dan Daniel masuk, untung saja nyawa Naura masuk terselamatkan walau Naura harus mendapatkan transfusi darah sebanyak 2 kantong dari Daniel karena darah mereka sama.


Biarlah Naura beristirahat asal Naura tidak membuat jantung Jesica seakan copot seperti tadi.


"Tante istirahat saja biar Daniel yang menunggu Naura!" ujar Daniel dengan pelan.


"Seharusnya kamu yang istirahat, Niel. Kamu pasti lemas karena darah kamu baru saja di ambil, biar Tante saja yang menjaga Naura," ujar Jesica dengan sendu.


"Enggak, Tan! Daniel gak kenapa-napa. Tante istirahat saja," ujar Daniel dengan tegas.


Jesica tahu bagaimana Daniel sangat mencintai Naura. Jesica juga tidak akan menyangka jika mereka masih berhubungan keluarga Tomi karena sebentar lagi Ikbal akan menikah dengan Delisha. Mengapa jalan hidupnya seperti ini? Seandainya saja suaminya tidak meninggal mungkin Jesica tidak akan sepusing ini. Lelah memikirkan kehidupannya yang sudah berantakan Jesica duduk di sofa sampai ketiduran.


Sedangkan Daniel, menggenggam tangan Naura dengan erat. Tubuhnya lemas sehabis diambil darahnya untuk ia berikan kepada Naura.


"Jangan seperti ini ya, Sayang! Kakak gak mau kehilangan kamu!" gumam Daniel dengan lirih.

__ADS_1


Daniel menatap dalam wajah Naura yang terlihat sangat pucat. Hampir saja dirinya kehilangan Naura, dadanya sesak saat mengingat Naura tak sadarkan diri di kamarnya.


"Kamu masih ada Kakak, mama, dan Delisha!" ujar Daniel dengan sendu.


Merasa dirinya semakin lemas Daniel meletakkan kepalanya di brankar Naura dengan menggenggam tangan Naura erat seakan takut jika Naura akan pergi meninggalkan dirinya. Hingga Daniel tertidur berharap Naura akan segera sadar.


****


Seminggu lagi adalah kelulusan Zayyen menjadi mahasiswa kedokteran tetapi hidupnya hampa saat kedua orang tuanya tidak ada di dekatnya, Zevana juga sulit untuk ditemui. Zayyen lebih memilih tinggal di rumah kedua orang tua angkatnya kembali sambil menunggu kedua orang tua serta Zayden kembali ke Indonesia. Zayyen sangat syok mengetahui fakta jika kembarannya hilang ingatan bahkan Zayden tak ada mengingat kenangan mereka satu pun.


"Bang, ayo makan!" ucap Rose dengan lembut.


Barra yang sedang berada di rumah menatap anaknya dengan tegas. "Kenapa, Bang? Masih mengingat Delisha? Kamu sendiri yang melepaskannya jadi kamu harus ikhlas jika Delisha bahagia dengan orang lain," ujar Barra yang membuat Zayyen menghela napasnya dengan berat.


"Nanti saja Zayyen makannya, Ma!"


"Zayyen sudah berusaha, Pa! Tapi tetap saja tidak bisa? Zayyen memang bodoh melepaskan gadis secantik dan sebaik Delisha. Jika Zayyen bisa menerima kehadiran gadis lain pun Zayyen tidak akan pernah mendapatkan yang seperti Delisha dan mungkin Zayyen tidak akan pernah mencintai dia," ujar Zayyen yang membuat Barra dan Rose terkejut.


"Bang, jangan gitu ah! Gak baik loh! Sekarang gak usah pikirkan hal seperti itu dulu. Abang mau lanjut kuliah kedokteran di mana? Kali ini biar Mama dan papa yang membiayai," ujar Rose dengan tulus.


"Zayyen mau ambil spesial jantung di Inggris, Ma. Boleh?" tanya Zayyen yang membuat Rose tersenyum.


"Boleh dong. Ya kan, Pa?" ucap Rose dengan tersenyum.


"Ya boleh. Papa tahu kamu sedang menghindari Delisha agar tidak datang ke pernikahannya, kan?" tanya Barra dengan serius.


"Pa, bisa tidak kali ini diam saja!" ujar Zayyen memelas.


Barra terkekeh. "Adik kamu ada di Inggris juga. Jadi sekalian kamu jaga dia ya," ujar Barra yang membuat Zayyen terkejut.


Barra dan Rose memiliki anak angkat perempuan berbeda 5 tahun dari Zayyen. Anak angkat Barra dan Rose adalah anak sahabatnya Barra yang orang tuanya meninggal akibat kecelakaan pesawat dan anak perempuannya itu memilih tinggal di Inggris untuk melanjutkan pendidikannya di sana dan tentu saja Barra dan juga Rose juga sering mengunjungi anaknya tersebut.


"Papa akan jodohkan kalian berdua agar kamu bisa melupakan Delisha!"

__ADS_1


"A-apa? E-enggak, Pa!"


"ZAYYEN GAK MAU!"


__ADS_2