
...📌 Jangan lupa ramaikan part iinni ya!...
...Happy reading...
***
Ikbal menggenggam tangan Delisha dengan erat kala Fathan masih memeriksa sang istri, Ikbal benar-benar takut terjadi sesuatu dengan Delisha bahkan ia tidak berani mengabari mertuanya dan ketiga kakak iparnya jika Delisha belum sadarkan diri.
"Pakde gimana?" tanya Ikbal dengan wajah yang masih amat panik, takut terjadi sesuatu dengan sang istri yang amat ia sayangi dan cintai.
"Delisha gak apa-apa, Bal. Dia cuma kecapean apalagi sepertinya Delisha sedang mengandung," ujar Fathan dengan tersenyum yang membuat Ikbal mematung.
"M-mengandung? M-maksud Pakde istri Ikbal hamil?" tanya Ikbal dengan terbata karena masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Sepertinya begitu, Bal. Untuk lebih jelasnya besok kita langsung USG saja," ujar Fathan dengan bahagia.
"Selamat sebentar lagi kamu akan menjadi papa. Impian kamu sejak dulu, kan?" ujar Fathan menepuk punggung Ikbal dengan pelan.
Mata Ikbal berkaca-kaca. Akhirnya sesuatu yang sangat ia tunggu-tunggu hadir juga, Delisha-nya hamil, istrinya hamil.
Cup...
Cup...
Ikbal menciumi wajah Delisha dengan lembut bahkan air matanya sampai menetes di pipi Delisha karena sangking bahagianya mendengar kabar jika sang istri hamil.
"Di dalam perut kak Delisha ada dedek bayinya ya, Pa?" tanya Nadine dengan bahagia.
"Iya, Sayang. Kenapa Nad senang kan punya adek?" tanya Fathan mengelus rambut anaknya dengan sayang.
"Senang banget. Nad mau ajakin main barbie dan princess sama-sama. Iya kan Kak Ikbal?" tanya Nadine dengan tersenyum yang amat manis.
Tangan kecil Nadine memegang perut datar Delisha dengan mengelusnya dengan lembut.
"Dedek bayi sehat-sehat di dalam sana ya sampai keluar dari perut kak Delisha. Biar kita main bareng," ujar Nadine dengan suara yang amat menggemaskan sekali yang membuat Tri, Fathan, Nayla, dan Ikbal tersenyum.
"Pasti Tante cantik," gumam Ikbal dengan menirukan suara anak kecil yang membuat Nadine cemberut.
"Nad bukan tante-tante! Panggil Nad, Kakak Nad!" ujar Nadine dengan penuh penekanan yang membuat Ikbal terkekeh.
"Hahaha baiklah Kakak Nad yang paling cantik," ujat Ikbal dengan terharu.
"Nad, kecil-kecil gini kamu juga di panggil Tante sama anaknya Delisha," ujar Nayla yang membuat Nadine mengembungkan pipinya.
"Enggak mau! Nad bukan tante-tante, Kak! Panggil Nad itu Kakak!" ujar Nadine dengan tegas.
"Haha terserah kamu deh Nad! Suka-suka kamu," ujar Nayla.
"Mama, Nad mau temani kak Delisha. Nad mau jaga dedek bayi biar dia gak nakal di perut kak Delisha! Nad mau ikut ke rumah kak Delisha dan kak Ikbal boleh ya?" ujar Nadine yang takut jika tidak diizinkan lagi menginap di rumah adik sepupunya yang tetap ia panggil kakak karena Nadine masih kecil, ia mengatakan tidak sopan memanggil yang lebih tua dengan sebutan nama atau adik.
"Jangan, Sayang. Kak Delisha masih kurang fit nanti takut ngerepotin," ujar Tri dengan lembut.
__ADS_1
"Mamaaa!" rengek Nadine dengan mata yang berkaca-kaca.
"Gak apa-apa, Bude. Mungkin tadi Delisha ngidam mau bawa Nadine nginap di rumah kami. Biar Nadine ikut kami saja Bude, sekalian mau ke rumah papi dan mami mau kasih tahu kabar bahagia ini," ujar Ikbal dengan tersenyum yang membuat Nadine sangat senang.
"Papa!" panggil Nadine kepada Fathan dengan suara yang amat lembut dengan mata yang mengerjap lucu menatap papanya meminta izin agar diperbolehkan ikut bersama dengan Ikbal dan Delisha.
"Iya, Sayang!" sahut Fathan dengan pelan.
"Boleh ikut kak Ikbal ya! Cuma 2 hari Papa!" ujar Nadine yang membuat Fathan terkekeh.
"Iya boleh, Sayang! Tapi jangan rewel ya!" ujar Fathan dengan lembut.
"Yeee iya Papa!"
"Eughh..." Delisha melenguh dengan pelan yang membuat Ikbal menatap sang istri dengan tatapan lembutnya.
"Sayang!" panggil Ikbal dengan pelan dan membantu istrinya untuk bangun dari tidurnya.
"Mas pusing banget. Tiba-tiba aku mual terus kepala aku berputar," gumam Delisha dengan lirih.
"Minum dulu Delisha," ujar Tri memberikan minum air putih kepada Delisha.
"Terima kasih, Bude!" gumam Delisha dengan pelan.
"Delisha gak apa-apa kan, Mas?" tanya Delisha dengan cemas.
Ikbal tersenyum dengan lembut. "Gak apa-apa, Sayang. Tadi anak kita sepertinya ingin memberitahu kehadirannya di perut kamu," ujar Ikbal yang membuat Delisha terdiam.
"A-anak? M-maksud Mas apa? Jangan buat Delisha berharap terus," gumam Delisha dengan sendu.
"A-apa benar Pakde?" tanya Delisha dengan terisak.
"Benar, Delisha. Kamu sedang hamil muda sekarang. Selamat ya sudah jadi calon mama. Pakde pesan ke kamu jangan terlalu capek-capek sekarang karena ada anak kamu di dalam perut kamu," ujar Fathan yang semakin membuat Delisha terisak bahagia dengan memeluk suaminya.
"Hiks..hiks... Delisha hamil Mas? Delisha akan jadi Mami?" tanya Delisha dengan tidak percaya.
Ikbal menyeka air matanya yang tiba-tiba saja menetes karena ucapan istrinya. "Iya, Sayang. Kamu hamil dan kita akan jadi orang tua," gumam Ikbal dengan tersenyum.
"Delisha mau ke rumah Papi! Mau kasih tahu kabar bahagia ini!" ujar Delisha dengan tak sabaran.
"Kamu sudah kuat berjalan, Sayang?" tanya Ikbal dengan lembut.
"Ya Delisha sudah kuat, Mas! Delisha mau ketemu papi sama mami," ujar Delisha dengan tersenyum.
"Nad juga ikut!" ujar Nadine yang membuat Delisha langsung mengangguk setuju.
"Iya Kak Nad-Nad harus ikut Delisha!" ujar Delisha dengan tersenyum senang.
"Let's go!" teriak Nadine yang sudah tidak sabaran.
***
__ADS_1
Fiona sedang memijat kaki suaminya dengan pelan. Akhir-akhir ini Akbar mengeluh kakinya sakit yang membuat Fiona takut tiba-tiba suaminya akan pergi meninggalkan dirinya.
"Sayang! Mami kenapa?" tanya Akbar mencoba mencari posisi yang membuat dirinya nyaman.
"Gak apa-apa, Pi!" ujar Fiona dengan serak menahan tangisnya saat pikiran negatifnya terus menghantui dirinya.
Akbar tahu ketakutan istrinya dan Akbar pun sangat takut meninggalkan Fiona. Akbar takut anak-anaknya tidak ada yang baik menjaga istrinya. Ketakutan itu yang membuat Akbar berusaha terlihat sehat di depan sang istri walau sebenarnya tubuhnya sudah tidak sekuat dulu. Tapi Akbar yakin ke-empat anaknya akan menjaga Fiona dengan baik karena selama ini Akbar memberikan pelajaran tentang kasih sayang keluarga yang tidak bisa di tukar dengan apapun jika sewaktu-waktu dia harus pergi dari dunia ini.
"Gak kenapa-kenapa tapi matanya berkaca-kaca seperti itu. Papi gak apa-apa, Mi! Wajar saja Papi sudah tua kalau punya penyakit kaki seperti ini," ujar Akbar dengan tersenyum.
"Mami takut!" gumam Fiona dengan jujur.
"Mi..."
"MAMI, PAPI. NAD DATANG," ujar Nadine dengan bahagia yang membuat Fiona dan Akbar menatap Nadine yang berada di gendongan Ikbal.
"Nad. Semakin gemoy saja kamu," ujar Fiona dengan gemas.
"Iya dong, Mi! Papi kenapa, Mi?" tanya Nadine.
"Kaki Papi sakit, Nad!" jawab Akbar dengan tersenyum.
Akbar menatap Delisha dengan Ikbal. "Sayang, kenapa wajah kamu pucat? Kamu sakit?" tanya Akbar dengan cemas.
"Kamu sakit, Sayang?" tanya Fiona dengan khawatir.
"Tadi kak Delisha pingsan di rumah Papa," ujar Nadine yang membuat Fiona dan Akbar menatap anaknya dengan cemas.
"APA PINGSAN?" ucap Danish dan Daniel berbarengan. Mereka langsung keluar kamar saat mendengar suara Nadine yang sangat menggemaskan sekali.
"Benar begitu, Bal?" tanya Akbar memastikan.
"Iya, Pi. Itu karena Delisha sedang hamil muda sekarang," ujar Ikbal yang membuat semua orang tercekat.
"K-kamu hamil, Sayang?" tanya Fiona dan Akbar dengan perasaan haru.
"Hiks..hiks... Iya Pi, Mi, Kak! Delisha hamil! Delisha akan jadi Mami! Mami dan Papi akan jadi grandma dan grandpa, kak Danish, kak Daniel, dan kak Dareel akan jadi om," ujar Delisha dengan menyeka air matanya.
Delisha menghampiri kedua orang tuanya dan memeluk mereka dengan erat. "Papi sama Mami harus sehat-sehat terus buar bisa temani Delisha lahiran," ujar Delisha dengan penuh harap.
Akbar dan Fiona membalas pelukan Delisha dengan tak kalah eratnya, sungguh mereka sangat terharu dengan kehamilan Delisha yang memang sudah sangat mereka tunggu.
"Papi bahagia sekali, Sayang. Papi mau cucu cewek ya," ujar Akbar dengan menangis.
"Biar kayak Nad ya, Pi?" tanya Nadine yang tak mau dicuekin.
Akbar terkekeh. "Lucu kayak Nad!" ujar Akbar.
Danish dan Daniel bergantian memeluk sang adik. Mereka sangat bahagia mendengar jika Delisha sekarang sedang hamil, mungkin jika Dareel ada di rumah pria itu juga senang mendengar kabar ini. Sayangnya Dareel sedang terbang ke Australia sekarang.
"Selamat, Dek! Kakak sudah tidak sabar menunggu anak kamu lahir," gumam Danish dengan terharu.
__ADS_1
"Iya, Kak. Kakak juga segera menikah ya!"
Betapa bahagianya keluarga Mahendra sekarang mendengar kabar jika Delisha sudah hamil. Dan tentu saja mereka akan bertambah posesif dengan Delisha apalagi Ikbal, ia tidak akan membiarkan istrinya kelelahan sedikit pun.