Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 84 (Mantan Istri Vs Calon Istri)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


****


Fiona naik ke punggung Akbar saat gadis itu ikut meninjau pembangunan mall yang sedang dilaksanakan oleh Akbar dan perusahaannya. Gadis itu terlihat nyaman berada di gendongan Akbar.


Fiona melihat wajah Akbar dari samping lalu ia tersenyum geli dengan menusuk-nusuk rahang Akbar dengan telunjuknya.


"Tangannya bisa diam tidak Fio?" tegur Akbar dengan tegas padahal di dalam ia merasa senang dengan perbuatan Fiona.


"Om Akbar ganteng. Suami Fiona ganteng," ujar Fiona dengan terkekeh.


Akbar mengulum senyumnya saat Fiona dengan gamblang memuji ketampanannya. "Kita duduk di situ ya!" ucap Akbar dengan lembut.


Fiona menganggukkan kepalanya, dagunya ia letakkan di atas bahu lebar Akbar.


Cup...


Dengan gemas Fiona mengecup tengkuk Akbar yang membuat Akbar meremang. Andai sedang tidak berada di tempat umum, sudah Akbar habisi bibir Fiona yang sudah kurang ajar membuat hasratnya kembali datang.


Akbar menggeram, ia menurunkan Fiona di kursi dan menatap tajam pada gadis itu yang terlihat sangat santai dan tidak merasa bersalah sedikit pun.


"Mau itu!" rengek Fiona menujuk es krim.


Akbar menghela napasnya dengan pelan, ia harus sabar menghadapi Fiona. "Saya belikan kamu es krim tapi kamu harus membayarnya," ucap Akbar dengan menyeringai.


"Bayar? Duit Fiona gak ada Om? Boleh hutang dulu gak?" tanya Fiona dengan mengerucutkan bibirnya lucu yang membuat Akbar gemas.


Tangan Akbar menarik bibir Fiona dengan gemas. "Gak boleh hutang. Kamu harus membayarnya lunas jika kita sudah sampai di rumah, bagaimana?" sahut Akbar dengan menyeringai.


"Fio gak punya uang. Masa habis dari mall mulung sih, Om? Fio Gak mau mulung, Om!" ucap Fiona dengan merengek.


Akbar mendekat ke arah telinga Fiona. "Bayarnya tidak usah memakai uang. Kita sistem barter saja, Fio. Saya belikan apa saja yang kamu mau di sini mumpung saya sedang baik hati dan kamu berikan ciuman kepada saya. Bagaimana? adil kan, sayang?" ucap Akbar dengan pelan menarik dagu Fiona dengan lembut sampai mata mereka bertemu pandang.


"Gak mau ahhh... Om Kalau cium Fio lama banget sampai Fio gak bisa napas terus bibir Fio bengkak kayak habis makan pedas," tolak Fiona dengan ngedumel lucu.


Akbar terkekeh. Ia mengusap bibir menggoda Fiona dengan ibu jarinya. "Ya sudah kamu gak usah beli apa-apa di sini. Puasa aja selama di sini ya," ucap Akbar dengan serak.


Fiona mengerucutkan bibirnya. Ucapan Akbar membuatnya bimbang. Mana tahan Fiona dipaksa puasa tiba-tiba di mall seperti ini., Akbar memang bisa membuat Fiona bimbang.


"Iya deh boleh cium Fiona tapi 5 menit ya Om!" ucap Fiona.

__ADS_1


"5 menit ya? Boleh! Tapi kamu hanya boleh makan es krim satu cup ya itu pun yang paling kecil," ujar Akbar menahan senyumannya.


"Satu cup es krim yang paling kecil?" tanya Fiona dengan menunjukkan jari telunjuknya di depan Akbar.


Akbar mengangguk. "Iya. Adil, kan?" sahut Akbar.


Fiona menggeleng. "10 menit 2 cup es krim ukuran besar?" tawar Fiona menatap Akbar.


"No. Makan sepuasnya dan saya boleh cium kamu sepuasnya! Gak ada tawar menawar lagi Fio!" ucap Akbar yang membuat Fiona menekuk wajahnya dengan lesu.


"Kalau bibir Fio bengkak itu gara-gara, Om Akbar. Lama-lama Om seperti tawon yang nyengat bibir Fio mulu. Tapi enak sih gak sakit," ucap Fiona dengan polosnya yang membuat Akbar tertawa mengacak rambut Fiona dengan gemas.


"Good... Jika seperti ini kamu terlihat pintar, Sayang!" ujar Akbar dengan terkekeh karena setelah ini Akbar menang banyak karena bisa mencium Fiona sepuasnya.


"Ya Fio emang pintar. Buktinya bisa cari suami ganteng, kaya raya, sayang sama Fio. Semuanya terlihat sempurna yang minus cuma umur Om yang udah tua, tapi gak apa-apa masih gagah dan kuat gendong Fio," ucap Fiona terkikik geli.


Wajah Akbar terlihat masam. Gadis itu sangat pintar memujinya dan sangat pintar pula menjatuhkan mentalnya, tapi sayangnya Akbar sangat mencintai gadis yang selalu membuat darahnya mendidih dalam sewaktu-waktu.


"Duduk dengan tenang di sini. Saya ambilkan es krim dulu," ucap Akbar dengan datar.


"Yeee... Rasa coklat ya, Om!" ucap Fiona dengan senang.


Akbar mengangguk. Akbar ingin melangkah menuju penjual es krim tak jauh dari mereka tetapi sebuah suara membuat Akbar mengurungkan niatnya.


Fiona melihat wanita yang memanggil calon suaminya dengan lembut. Jika bisa kepalanya mengeluarkan tanduk dan hidungnya keluar api mungkin saat ini Fiona sudah seperti itu apalagi wanita itu tersenyum manis ke arah Akbar dan Akbar membalas senyuman wanita itu.


"Aurel, ngapain di sini?" tanya Akbar.


"Lagi belanja seperti biasa. Lagi meninjau proyek ya? Masih sibuk kayak dulu," tanya Aurel dan tak melihat ke arah Fiona yang sudah mengeluarkan taringnya. Aurel menganggap jika Fiona tidak ada di sana yang membuat wajah Fiona sangat kesal


Akbar tersenyum. "Ya kamu tahu aku sibuk dari dulu," ucap Akbar.


"Ya, aku tahu banget dan karena itu aku marah besat ke kamu," ucap Aurel tersenyum pedih mengingat masa lalunya dengan Akbar.


Akbar terlihat masam.


"Fio haus!" ucap Fiona mencari perhatian Akbar.


Akbar melirik ke arah Fiona sekilas. "Sebentar saya ambilkan dulu," ucap Akbar dan meninggalkan Fiona dan Aurel begitu saja.


Aurel menatap Fiona dengan pandangan penuh tanya. "Kamu siapa?" tanya Aurel dengan sinis.


"Seharusnya Fio yang tanya sama Tante. Tante itu siapa? Sok akrab dengan suami Fio!" ucap Fiona dengan ketus.

__ADS_1


"S-suami?" tanya Aurel dengan terkejut.


Fiona mengangguk dengan santai. "Pasti Tante mantan istri Mas Akbar ya? Pantes sih jadi mantan mukanya udah tua gitu gak hot lagi makanya cerai sama om Akbar, udah keriput sih," ucap Fiona.


Aurel terkejut dengan ucapan Fiona yang terlihat sangat santai. "Kamu jangan kurang ajar sama orang yang lebih tua ya!" geram Aurel.


"Tuh kan benar Tante udah tua. Muka Tante itu kayak ngajakin balikan mantan tahu gak sih, Tan. Tapi, Fio gak akan biarin itu terjadi karena Fio udah belajar dari sinetron ikan terbang bagaimana cara menindas pelakor," ujar Fiona dengan ketus.


Aurel geram. Ia ingin menjambak rambut Fiona tetapi niat itu ia urungkan saat Akbar datang membawa tiga es krim di tangannya.


"Ini buat Fio!" ucap Akbar dengan lembut.


"Ini buat Aur..."


Saat Akbar ingin memberikan es krim itu kepada Aurel tangan Fiona langsung mencegahnya dan mengambil semua es krim yang ada di tangannya.


"Tante ini gak bisa makan es krim, Om. Takut lemaknya ngumpul di perut dan jadi gelambir," ucap Fiona dengan santai.


Aurel menatap Akbar. "Jadi ini alasan kamu menghindar dari aku Mas? Kamu gak bilang sama aku kalau kamu sudah menikah lagi dengan bocah? Dia itu sudah tidak sopan denganku," ucap Aurel dengan mata yang berkaca-kaca.


"Drama!" ucap Fiona menjilat es krimnya.


Akbar menatap keduanya. "Mumpung kalian bertemu di sini. Kalian harus berkenalan!" ucap Akbar dengan tegas.


" Tidak perlu!" ucap Fiona dan Aurel berbarengan.


"Aurel duduk!" ucap Akbar dengan tegas.


Aurel mau tidak mau duduk di depan Fiona. Ia menatap sinis ke arah Fiona sedangkan Fiona menjulurkan lidahnya mengejek ke arah Aurel.


"Aurel, ini Fiona. Dia adalah calon istri saya dan sebentar lagi kami akan menikah. Selama ini aku menjauh dari kamu karena aku menghargai Fiona," jelas Akbar.


"Fiona, ini Aurel mantan istri saya sekaligus sahabat saya. Kalian bisa berteman baik setelah ini," ucap Akbar.


"Fio udah kenal!" jawab Fiona.


"Dari mana kamu kenal Aurel, Fio?"


"Dari mukanya yang masih memuja Mas Akbar!" ucap Fiona sengaja memanggilnya Akbar tanpa embel-embel om karena ia tak mau kalah dari mantan istri Akbar. Calon istri Akbar harus maju di depan.


"Fio gak suka! Mas Akbar punya Fio!" ucap Fiona dengan tegas.


Aurel geram, ia mengepalkan tangannya. Jika ia bertemu lagi dengan Fiona maka Aurel akan mencakar wajah Fiona yang sangat menyebalkan kepadanya.

__ADS_1


"Dimana-mana istri sah harus menang! Ya walau Fio belum di sah kan tapi Fio sudah mau jadi istri. Enak saja mau merebut Om Akbar dari Fio kalau berani Fio jadikan daging guling!" gumam Fiona dengan kesal.


__ADS_2