Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 155 (Cemburunya Ikbal)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya! ...


...Happy reading...


***


Sandy dan Angga menemani Ikbal yang sedang menghancurkan barang-barangnya di kamar. Kedua sahabat itu sengaja menemani Ikbal agar tak lepas kendali seperti dulu saat kehilangan Erina.


"Argghhh... Brengsek lo Zayyen!" teriak Ikbal dengan menggebu.


Sandy memeluk lengan Angga dengan erat saat dirinya hampir terkena lemparan Ikbal. "Bos udah dong ngamuknya! Kami berdua yang takut nih!" ujar Sandy dengan memelas.


"Apa lo, hah? Mau jadi kelinci percobaan?" bentak Ikbal dengan sangar.


Glukkk..


Sandy dan Angga menelan ludahnya dengan kasar. "Ssttt.. Jangan ganggu singa yang lagi cemburu! Bisa-bisa kita diterkam," bisik Angga dengan takut.


"Tadi kenapa kita ke sini coba? Niatnya kan mau jenguk mamanya," ucap Sandy berbisik.


Prank...


"Kalau masih mau lihat muka kalian mulus tanpa cacat kalian harus diam!" teriak Ikbal dengan dada naik turun menatap nyalang ke arah sahabatnya yang sudah ketakutan akibat tingkahnya.


"Sabar, Bos! Gue yakin Delisha bisa jadi pacar lo kok! Zayyen gak pantas buat Delisha! Yakin deh! Delisha juga udah ada panggilan sayang buat lo kan, Bos! Papi dan mami kucing, jadi jangan cemburu sama Zayyen yang seharusnya bukan level lo buat bersaing untuk dapatin Delisha, Bos!" ujar Angga dengan menelan ludahnya kasar.


"Lagian kita berdua dengar langsung kalau Zayyen sama sekali gak cinta sama Delisha. Delisha hanya jadi pelampiasan untuk melupakan perasaannya sama Cika," ujar Sandy dengan gugup.


"Iya kan, Ga?" tanya Sandy menyikut sahabatnya.


Angga meringis menatap kesal ke arah sandy. Tetapi ia langsung mengangguk membenarkan ucapan Sandy.


Ikbal berhenti mengamuk, ia menatap kedua sahabatnya dengan penuh selidik. Ikbal menghampiri Sandy dan Angga, ia menarik baju Sandy dengan kencang.


"Lo gak bohong, kan?" tanya Ikbal dengan tajam.

__ADS_1


"Lepas dulu baju gue, Bos! Gue bisa ke cekik dan mati mendadak! Biarkan babang Sandy bahagia dulu Bos," ujar Sandy dengan drama.


Ikbal mencibik bibirnya dengan kesal. "Jangan bercanda!" ujar Ikbal dengan tajam.


Sandy menghela napasnya lega saat tangan Ikbal sudah terlepas dari bajunya. "Beneran, Bos! Gue dan Angga gak sengaja melihat Zayyen berbicara seperti itu dengan Zevana. Bahkan Zevana meminta kakaknya untuk bertahan dengan Delisha karena Zevana gak mau Haidar mendekati Delisha karena Zevana suka sama Haidar," ujar Sandy.


"Benar, Bos! Gue sama Sandy dengar langsung!" ujar Angga dengan serius.


"Bangsat! Beri tahu gue lelaki seperti itu harus gue apain?!" ucap Ikbal dengan dingin.


"Masukin ke dalam jurang aja, Bos! Atau gak masukin ke penangkaran buaya terus rebut Delisha dan bahagiain gadis itu. Gue yakin anak lo berdua akan gemesin kayak emaknya," ujar Angga.


"Coba ulangi kata yang terakhir!" ujar Ikbal dengan datar.


"A-ampun, Bos!" teriak Sandy dan Angga keluar dari kamar Ikbal saat lelaki itu mengambil kursi dan sudah ancang-ancang ingin melemparkan keduanya.


"Alhamdulillah selamat dari maut!" ujar Angga mengelus dadanya.


"Cemburuan banget sih jadi manusia!" cibir Sandy di belakang Ikbal jika di depan Ikbal tidak ada keberanian sama sekali untuk mengejek pria itu.


"Mending kita ke dapur minta makan. Tenaga kita udah terkuras habis," ujar Sandy ngos-ngosan.


"Ide yang bagus!"


Akhirnya Sandy dan Angga pergi ke dapur meninggalkan Ikbal yang sedang merenung di dalam kamar dengan keadaan yang sudah sangat berantakan sekali.


Lelaki itu sedang berpikir bagaimana caranya Delisha mengetahui itu semua agar gadis itu membenci Zayyen dan meninggalkan Zayyen. Senyum licik Ikbal terbit di bibirnya saat sudah terlintas cara agar Delisha mengetahui kejahatan Zayyen terhadap perasaan gadis itu.


"Lo akan menyesal setelah Delisha benar-benar pergi dari lo, Zayyen!" gumam Ikbal dengan mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


***


Zidan menghela napasnya dengan berat saat mengetahui fakta tentang anaknya. Zidan mendengar semuanya saat Zayden berbicara dengan Cika. Dengan perasaan yang tak tenang Zidan pulang ke rumahnya untuk menemui istrinya.


"Sayang!"

__ADS_1


"Ay!"


Zidan terus berteriak dengan kencang yang membuat semua penghuni rumah menjadi panik.


Tiara yang sedang berada di dalam kamar langsung menghampiri suaminya. "Kenapa, Mas? Kenapa kamu teriak-teriak," ujar Tiara dengan panik.


Grapp...


Zidan memeluk Tiara dengan sangat erat, bahkan mengetahui fakta tentang Zayden membuat sekujur tubuhnya gemetar.


"Zayden, Sayang! Dia..." Zidan tercekat ia tidak bisa melanjutkan ucapannya karena merasa gagal menjadi orang tua.


"Kenapa dengan Zayden, Mas? Tolong jangan buat aku khawatir," ujar Tiara dengan cemas.


"D-dia... D-dia memiliki alter ego dan ingin menyakiti Cika dan juga Zayyen," ujar Zidan dengan mata berkaca-kaca.


Tiara menutup mulutnya dengan kedua tangannya, air mata Tiara langsung menetes karena mendengar ucapan suaminya. "Feelingku benar kan, Mas! Tolong selamatkan anak kita, Mas! Hiks.. Aku tidak ingin dia menyesal nantinya," ujar Tiara dengan memegang lengan Zidan.


"M-maafkan Mas yang telah gagal mendidik Zayden, Sayang!" ucap Zidan dengan lirih.


Tiara menggelengkan kepalanya. "Ini kesalahan kita, Mas! Kita kurang memperhatikan tingkah, Zayden. Ternyata selama ini dia berpura-pura di depan kita! Ini sangat berbahaya Mas! Nyawa Cika dalam berbahaya," ujar Tiara dengan cemas.


"Lakukan seuatu agar Zayden sembuh, Mas!" pintar Tiara dengan memohon.


Zidan memejamkan matanya. "Semua ini tidak mudah, Sayang! Zayden harus ada keinginan untuk sembuh. Kalau kita paksa sama saja tidak bisa," ucap Zidan dengan frustasi.


"Nanti Mas bertemu psikiater untuk membahas penyakit mental Zayden. Mas minta kamu harus bersikap seperti biasa jika di depan Zayden. Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan. Kamu boleh memancing kehadiran alter ego Zayden jika ada Mas ya, Sayang! Kalau tidak ada Mas jangan pernah kamu lakukan, itu sangat bahaya sekali!" ujar Zidan dengan tegas.


Tiara mengangguk. "Aku akan berusaha, Mas!" ujar Tiara dengan pelan.


Tak tahan dengan sesak yang menghimpit dadanya akhirnya Tiara terduduk di lantai dengan air mata yang masih mengalir. Bagaimana bisa Zayden memiliki alter ego? Anaknya terlihat baik-baik saja tapi mengapa ini semua terjadi.


Zidan berjongkok di hadapan Tiara. "Kita berjuang sama-sama sekali lagi ya, Sayang!" ujar Zidan mengelus pipi Tiara yang dijatuhi air mata.


"Iya, Mas!" ucap Tiara dengan memaksakan senyuman padahal hatinya sedang tidak tenang memikirkan Zayden.

__ADS_1


__ADS_2