Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 73 (Pemenang)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini....


...Happy reading...


****


"Sebagaimana bukti yang telah kalian bawa di persidangan ini. Dan semua pembelaan kalian yang sudah saya dan wakil hakim ketua telaah maka kami memutuskan hak asuk anak atas Zayyen akan jatuh kepada Tuan Zidan dan Nona Tiara!" ucap ketua Hakim dengan tegas.


"Alhamdulillah!"


Tok...


Tok...


Palu di ketuk pertanda persidangan sudah berakhir dan di menangkan oleh Zidan dan juga Tiara.


"Tidak bisa begitu Yang Mulia! Zayyen sudah menjadi anak saya sejak ia bayi!" ujar Barra dengan dingin.


Rose menangis. Ia merasa sakit hati ketika hak asuh Zayyen jatuh kepada Tiara dan Zidan selaku orang tua kandung dari Zayyen.


Ketua hakim tak lagi menjawab mereka keluar dari ruang persidangan dengan perlahan.


"Sudah saya katakan jika kami yang akan menang. Kalian sangat egois Barra, Rose! Jelas-jelas anda dan istri anda sudah menandatangani surat perjanjian tersebut. Surat tersebut sudah sangat jelas jika Tiara boleh mengambil Zayyen kapan saja dan kalian menyetujuinya. Tiara sudah sangat baik untuk menitipkan Zayyen kepada anda tetapi kalian mengingkari perjanjian tersebut. Jika kalian mau memberikan Zayyen secara baik-baik saat itu mungkin kita bisa berdampingan membesarkan Zayyen bersama," ujar Zidan dengan tegas.


Barra mengepalkan tangannya dengan erat melihat sang istri menangis karena kalah dalam persidangan memperebutkan hak asuh anak membuat Barra menatap benci ke arah Zidan dan Tiara.


"Kali ini kalian boleh menang. Tapi Saya pastikan jika Zayyen akan kembali kepada kami sebagai orang tuanya!" ujar Barra dengan tajam.


Tiara tersenyum sinis. "Ternyata saya salah memilih orang tua pengasuh untuk Zayyen. Kalian boleh sangat menyayangi anak saya dengan tulus tetapi yang perlu kalian ingat darah yang mengalir di dalam tubuh Zayyen tidak bisa dipisahkan oleh apapun. Darah tetap lebih kental dari pada air. Mungkin saat ini Zayyen memang lebih menyayangi kalian, tetapi dengan berjalannya waktu Zayyen akan melihat betapa kami sangat menyayangi Zayyen!" ujar Tiara dengan tegas lebih tepatnya alter ego Tiara lah yang berbicara.


Tika, Alter ego Tiara benar-benar sangat tidak suka dengan para pengkhianat seperti Barra dan Rose. Jika dulu ia tidak mengingat betapa hancurnya seorang Barra dan Rose mungkin Tiara akan menyembunyikan anaknya disebuah panti asuhan yang terjamin, tetapi karena melihat Barra yang sangat putus asa dan Tiara melihat jika Barra bisa menyayangi Zayyen maka Tiara memberikan Zayyen kepada Barra dan Rose dengan perjanjian hitam di atas putih.


"Dimana Zayyen? Kami akan membawanya pulang ke rumah!" ujar Tiara dengan dingin.

__ADS_1


Tiara berjalan ke luar ruangan untuk mencari keberadaan Zayyen yang diikuti oleh Barra dan juga Rose tak lupa Zidan selalu bersama dengan Tiara untuk menemani wanita itu.


Setelah melihat Zayyen di luar bersama dengan pengasuhnya Tiara tersenyum hangat. Tiara mendekat ke arah Zayyen dengan langkah tegas dan terkesan terburu-buru, wanita itu langsung memeluk Zayyen dengan erat.


"Kita akan pulang bersama, Nak!" gumam Tiara dengan lirih.


"Lepas! Zayyen gak mau ikut bersama dengan kalian!" ujar Zayyen dengan tajam.


"Zayyen akan tetap tinggal bersama dengan kami, Tiara! Kamu tidak boleh membawanya pergi dari kami!" ujar Rose dengan lirih air matanya sudah menetes sejak tadi, Rose tidak sanggup kehilangan Zayyen yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.


"Zayyen anak Mama Tiara dan Papa Zidan. Jadi, Zayyen harus ikut dengan Mama dan Papa!" ujar Tiara dengan tegas.


"ENGGAK! KALIAN ADALAH ORANG TUA YANG JAHAT. KALIAN TWGA MEMBERIKAN ZAYYEN DENGAN ORANG LAIN, LALU DENGAN SEENAKNYA MENGAMBIL ZAYYEN DARI PAPA BARRA DAN MAMA ROSE! ZAYYEN BENCI KALIAN!" teriak Zayyen dengan tajam.


Zayyen benar-benar memberontak di pelukan Tiara dan dengan sigap Zidan menggendong Zayyen saat anaknya akan lari ke arah Barra dan juga Rose.


"Papa, Zayyen gak mau di bawa sama mereka! Mereka penjahat! Zayyen gak mau tinggal bersama dengan penjahat! Lepaskan!" teriak Zayyen dengan dingin.


Kali ini Zayyen banyak bicara karena ia benar-benar tidak mau di bawa Tiara dan Zidan.


Zidan terkekeh sinis. "Kalian juga manusia tidak tahu diri. Sudah di emban amanah untuk menjaga anak kami sampai kami mengambilnya tetapi tidak mau memberikan Zayyen saat kami ingin mengambilnya. Kamu sebagai seorang wanita seharusnya paham bagaimana perasaan seorang ibu yang harus kehilangan anaknya tetapi kalian malah egois dan ingin menguasai Zayyen seorang diri!" ujar Zidan menatap Rose dengan tajam.


Ayah Felix dan ibu mala hanya bisa diam menyaksikan perdebatan anaknya dengan Barra.


"Ayo kita pulang!" ujar Zidan dengan tegas.


"Lepas! Kalian penjahat!" ujar Zayyen dengan keras.


Tangan Zayyen yang kecil memukul-mukul dada Zidan tetapi Zidan maupun yang lain sama sekali tidak bergeming, mereka meninggalkan Barra dan Rose begitu saja.


"ZAYYEN!"


"ZAYYEN JANGAN TINGGALKAN MAMA, NAK!"

__ADS_1


"ZAYYEN!"


"MAMA!"


Brukk...


"Sayang!"


Barra terlihat sangat khawatir melihat istrinya terjatuh dari kursi roda karena terus memanggil nama Zayyen dengan berlinang air mata.


"Hiks... Zayyen telah pergi, Mas! Zayyen sudah meninggalkan kita! Aku gak sanggup jika harus kehilangan Zayyen, Mas!" ujar Rose dengan menangis rasa sakit karena terjatuh dari kursi roda sama sekali tidak ia rasakan, hatinya jauh lebih sakit saat ia harus kehilangan Zayyen.


"Mas akan membawa Zayyen pulang ke rumah kita bagaimana pun caranya, Sayang! Kamu gak perlu khawatir akan hal itu ya, sekarang kita pulang kamu butuh istirahat!" ujar Barra dengan lembut.


"Lihat saja Zidan, Tiara, aku akan membuat perhitungan dengan kalian!" gumam Barra di dalam hatinya.


****


Flashback...


Saat ini Tiara sedang berada di rumah sakit, Zayyen bayi terus menangis saat Zayden bayi sudah di bawa oleh kedua orang tuanya dan Sabrina. Mendadak tubuh anaknya panas yang membuat Tiara harus ke rumah sakit untuk meriksa kesehatan anaknya.


Seperti tak ingin terpisah dari kembarannya Zayyen hampir terkena step karena panasnya terlalu tinggi bahkan badannya juga sudah membiru, beruntung Tiara langsung sigap membawa Zayyen ke rumah sakit dan mendapatkan pertolongan hingga keadaan anaknya mulai membaik.


Saat ini Tiara hampir putus asa karena kedua orang tuanya sudah mengetahui tentang Zayyen bahkan mereka sudah mengirimkan pesan untuk mengambil Zayyen darinya jika Tiara tidak segera membuang Zayyen atau memberikannya pada orang lain. Ibu mana yang rela anaknya di asuh oleh orang lain? tidak ada! Begitu pun dengan Tiara tetapi keadaan harus memaksanya untuk melakukan itu.


Di saat Tiara hampir putus asa, ia melihat seorang lelaki yang sedang menangis di depan pintu ruang ICU. Tiara menguping pembicaraan Barra dengan para dokter di sana.


"Maaf Tuan Barra. Kecelakaan yang istri anda alami menyebabkan kakinya lumpuh permanen, satu lagi kabar buruk yang harus saya sampaikan jika istri anda keguguran, rahimnya mengalami luka yang cukup parah. Istri anda harus segera melakukan operasi pengangkatan rahim," ujar dokter yang menangani Rose (pakai bahasa Inggris ya bestie. aku gak mau ribet jadi pakai bahasa indo aja haha)


Barra tentu saja syok bahkan ia tidak bisa berdiri dengan tegak. Kakinya seperti jelly hingga ia jatuh ke lantai dengan keadaan yang sangat memprihatinkan.


"Apa tidak ada cara lain, Dok?" tanya Barra dengan serak. Ia menangis! Air matanya adalah air mata penuh kesakitan.

__ADS_1


Dokter menggeleng. "Tidak ada Tuan Barra. Jika rahim istri anda tidak diangkat maka nyawa istri anda adalah taruhannya, anda akan kehilangan istri anda!"


Tiara merasa iba melihat keadaan Barra setelah mendengar percakapan mereka. Dari situlah Tiara menemui mereka dan melakukan perjanjian menyerahkan Zayyen kepada Bara dan Rose sampai Tiara kembali dan mengambil Zayyen bila waktunya telah tiba. Mereka menyetujuinya dan membuat Tiara sedikit lebih lega, setidaknya kedua anaknya tidak merasakan kesakitan yang ia rasakan saat ini.


__ADS_2