Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 228 (Rasa Rindu)


__ADS_3

...📌Jangan lupa like, komen, dan rate bintang limanya ya!...


...Happy reading...


****


Seminggu berada di Indonesia Raiden tampak lebih bahagia dan sangat ceria dari pada berada di Swiss. Raiden bisa bermain dengan kakek dan neneknya dengan puas, ia ingin dekat dengan Zayden tetapi lelaki itu terlalu sibuk bekerja. Namun, walaupun begitu Zayden terlihat senang dengan kedatangan keponakannya.


"Ma, Zeva izin pergi sebentar jalan-jalan sama Raiden," ujar Zevana setelah mereka sarapan bersama.


Tiara tampak gusar, wanita itu takut Zevana dan Raiden akan pergi dari rumah ini lagi. Zevana yang tahu mamanya takut dirinya pergi lagi langsung menenangkan hati mamanya dengan mengenggam tangan mamanya.


"Ma, Zeva gak akan pergi lagi. Sudah cukup lima tahun Zeva menenangkan diri, Zeva cuma mau mengenalkan Jakarta sama Raiden agar dia terbiasa di sini," ujar Zevana yang membuat hati Tiara langsung tenang.


"Iya, Sayang. Di antar sama supir ya!" ujar Tiara dengan lembut.


"Gak usah, Ma! Zeva naik Taxi saja," ujar Zevana dengan tersenyum.


"Sayang, biarkan Zeva jalan-jalan sama Raiden. Mereka perlu refreshing setelah perjalanan jauh dari Swiss ke Jakarta," ujar Zidan dengan tenang.


"Tapi..."


"Ma, Zeva gak akan pergi lagi! Percaya sama Zeva!" ujar Zevana dengan lembut dan meyakinkan mamanya yang masih terlihat sangat takut jika dirinya akan pergi lagi.


Tiara menghela napasnya dengan perlahan, entah mengapa ia sangat takut Zevana akan pergi kembali dari rumah ini. Padahal Zevana tidak akan pergi kemana-mana setelah 5 tahun wanita itu menenangkan diri. 5 tahun terberat yang pernah Zevana rasakan tanpa keluarga, melahirkan tanpa sosok suami di sisinya untung saja ada malaikat penolong yang mau mengazankan anaknya waktu itu, lelaki yang sangat baik dan sudah menganggap Raiden anaknya juga, lelaki yang sudah mengatakan niat baiknya untuk menjadikan dirinya seorang istri tetapi Zevana tidak mencintai lelaki itu sebaik apapun dia, karena di hatinya hanya ada seorang Haidar sampai sekarang. Papa kandung dari anaknya sendiri, seseorang yang telah melukai fisik dan hatinya tetapi Zevana tetap mencintainya dengan tulus.


"Kalian jangan lama-lama perginya ya! Kalau butuh jemputan nanti telepon saja Mama biar nanti supir yang menjemput kalian berdua," ujar Tiara yang pada akhirnya menyetujui jika anak dan cucunya akan pergi jalan-jalan sebentar.


"Iya, Ma. Jangan khawatir Zeva akan pulang dengan cepat," ujar Zevana dengan tersenyum.


Raiden yang sejak tadi diam mulai menatap sang nenek. "Raiden gak akan pergi lagi, Nek! Raiden betah di sini," ujar Raiden yang membuat Tiara tersenyum bahagia.


"Cucu Nenek sangat pengertian sekali. Ya sudah kalian jalan-jalan ya, jika om Zayden belum berangkat kerja kalian bisa bersama tapi akhir-akhir ini dia sangat sibuk, tunggu kepulangan om Zayyen ya! Dia akan pulang secepatnya," ujar Tiara yang diangguki oleh Zevana dan Raiden secara bersamaan.


"Kami pergi dulu ya Ma, Pa!" pamit Zevana dengan lembut.


"Pergi ya Nek, Kek!"


"Iya Sayang hati-hati ya!"


"Iya, Ma. Raiden salim tangan kakek sama nenek!"


"Iya, Ma!"


****


Zevana menatap anaknya yang sangat senang bermain di taman bermain khusus anak-anak. Zevana mengawasi anaknya dari kursi tempatnya duduk yang tak jauh dari anaknya.


"Ternyata senyum kamu lebih terlihat lepas di sini, Nak. Mama gak salah bawa pulang kamu ke Indonesia, kan? Tempat dimana papa dan kakek, nenek dari pihak papamu juga berada di sini. Apa nanti jika kalian bertemu kamu akan langsung memeluk papamu?" gumam Zevana menatap anaknya dengan dalam.


Raiden anak itu terlihat asyik bermain sendiri bahkan bahagianya membuat senyum melengkung di bibirnya. Tetapi ada yang membuat Raiden terdiam, di sana tak jauh dari keberadaannya sekarang ia melihat seorang anak lelaki yang sedang di temani dengan kedua orang tuanya dengan rasa bahagia mereka bahkan bercanda seperti tidak ada beban.


Ada rasa iri yang menyusup hati Raiden saat ini. Ia ingin seperti anak lelaki itu juga, memilki kedua orang tua yang lengkap dan saling bersama. Tetapi dirinya? Bahkan Raiden belum sama sekali bertemu dengan papanya, entah apa yang membuat mamanya pergi tapi satu alasan yang Raiden tahu yaitu mamanya tidak mau merusak kebahagiaan papanya jika sang mama tetap bertahan sejak saat itu. Bahkan otak kecil Raiden dipaksa harus mengerti keadaan mengapa kedua orang tuanya tidak bersama.


"Awww..."


"RAIDEN!"

__ADS_1


Zevana tampak berlari dengan panik menghampiri anaknya yang terjatuh dari ayunan. Raiden memegangi lututnya yang terasa perih karena luka dan mengeluarkan darah yang lumayan lama.


"Hiks..hiks...ayo kita ke rumah sakit, Sayang!" ujar Zevana dengan panik. Raiden-nya tidak boleh terluka sedikit pun! Hanya Raiden yang Zevana punya dari Haidar.


"Ma, it's okey. Raiden gak apa-apa ini cuma luka sedikit," ujar Raiden dengan tenang.


"Gak! Kita harus ke rumah sakit. Mama takut kamu infeksi!" ujar Zevana dengan menangis padahal Raiden yang terluka, tetapi anak itu terlihat tenang dan tidak ada kesakitan di wajahnya hanya ringisan kecil saat jatuh tadi dan setelah itu Raiden biasa saja karena memang Raiden jarang menangis hanya karena terluka tetapi jika ada yang menyakiti mamanya maka Raiden akan langsung menangis tetapi tetap ingin menjadi yang terdepan melindungi mamanya.


"Ma, jangan nangis!" ujar Raiden menghapus air mata mamanya.


Zevana tidak bisa menghentikan air matanya sendiri, hatinya tidak tenang jika melihat Raiden terluka seperti ini. Dengan cepat Zevana menggendong Raiden dan memesan Taxi untuk mengantarkannya ke rumah sakit.


"Raiden gak apa-apa, Ma!"


"Gak apa-apa gimana? Darah kamu keluar terus nanti kalau dibiarkan terlalu lama bisa infeksi," ujar Zevana sedikit meninggi yang membuat Raiden terdiam membiarkan mamanya membawa dirinya ke rumah sakit padahal mamanya adalah lulusan dokter dengan predikat terbaik tapi kenapa tidak mamanya sendiri yang mengobati dirinya? Panik apakah membuat mamanya menjadi pelupa?


Zevana harus mencari rumah sakit terdekat di sekitar taman karena jika harus ke rumah sakit milik Fathan terlalu jauh dari taman ini. Zevana tidak mau anaknya sakit.


***


"Dok, ada pasien bernama Raiden Erlangga yang baru saja datang karena terjatuh dari sebuah ayunan di taman bermain," ujar Suster tersebut menghampiri dokter anak.


"Raiden Erlangga?" ulang Dokter tersebut seperti salah mendengar.


"Iya, Dok. Nama belakang anak itu sama dengan nama Dokter," sahut Suster tersebut yang membuat Haidar langsung terdiam dengan jantung berdetak lebih keras dari biasanya.


Haidar adalah dokter anak di rumah sakit milik papanya sekarang. Bukan tanpa alasan Haidar menjadi seorang dokter anak karena ia merindukan Zevana dan anaknya yang masih di dalam kandungan waktu itu. Mungkin sekarang anaknya sudah besar seperti anak seusianya.


"Bawa dia masuk!" ujar Haidar yang diangguki oleh Suster tersebut.


"Dok, cepat periksa anak saya! Dia tadi jatuh dari Ayunan saat bermain! Saya takut terjadi infeksi," ujar Zevana yang belum melihat wajah dokter tersebut yang ternyata adalah Haidar.


"Zeva..."


"Dok cepat periksa anak saya!" ujar Zevana yang tak memberikan akses untuk Haidar berbicara.


Zevana menahan dirinya untuk tidak memeluk Haidar saat ini karena dirinya sudah sadar diri jika cinta dipaksakan akan membawa kesakitan untuk diri sendiri. Sedangkan Haidar sangat ingin memeluk Zevana sekarang juga tetapi melihat anak kecil yang di dalam gendongan Zevana, Haidar jadi mengurungkan niatnya dulu.


"Bawa Raiden ke brankar itu!" ujar Haidar dengan mata yang tak pernah lepas dari wajah Zevana. 5 tahun tidak bertemu ternyata Zevana sangat berubah, ia menjadi wanita yang sangat cantik yang membuat Haidar berdebar sedangkan Zevana merutuki pertemuan mereka, mengapa banyaknya rumah sakit Haidar harus bekerja di sini?


Zevana mengangguk, ia berjalan ke arah brankar dan menidurkan anaknya dengan perlahan di sana.


"Ma, Raiden gak apa-apa!" ujar Raiden mengusap air mata mamanya yang masih tersisa.


"K-kita bersihkan dulu ya lukanya," ujar Haidar yang membuat Raiden menatap Haidar dengan dengan dalam.


"Iya pa..Dokter..." Raiden cepat-cepat mengkoreksi perkataannya ia tidak mau mamanya bersedih gara-gara Raiden memanggil papanya.


Haidar tampak tersenyum kecil walaupun ucapan Raiden begitu pelan. Haidar tampak menangkap kosa kata yang akan Raiden keluarkan untuknya.


"Anak yang hebat!" puji Haidar dengan dada yang begitu sesak melihat anaknya sudah sebesar ini. Ya, Haidar sangat meyakini Raiden adalah anaknya karena mereka sangat mirip sekali. Raiden bukan anak Zevana dari lelaki lain! Ia tidak bisa dibodohi!


"Sudah selesai!"


"Hati-hati, Sayang!" ujar Zevana saat anaknya hendak bangun.


"Zeva!" panggil Haidar dengan lirih.

__ADS_1


"Iya!"


"Kita butuh bicara!"


"Maaf, Dok. Anda siapa ya? Mengapa anda mengenal saya?" tanya Zevana dengan berbohong. Padahal ia sangat ingin berbicara dengan Haidar saat ini tetapi hatinya belum siap untuk itu. Bagaimana nanti jika Haidar sudah memiliki istri? Zevana tidak mau mengambil resiko yang akan menyakiti perasaannya lagi.


Haidar sangat syok saat Zevana tidak mengenal dirinya lagi.


"Zeva, jangan bercanda please! Kita sudah 5 tahun tidak bertemu karena kamu menghilang. Kakak berusaha mencari keberadaan kamu tapi nihil! Kamu tidak ditemukan," ujar Haidar dengan frustasi.


"Saya tidak bercanda, Dok! Saya tidak mengenal anda!"


"Zeva, aku tahu kamu bohong. Raiden ini anak kita, kan?"


"Dok, jangan aneh-aneh! Kita baru saja bertemu," ujar Zevana dengan tenang.


Raiden tampak diam. Ia bingung dengan mamanya yang berbohong tidak mengenal papanya. Tetapi ia tidak berani bersuara dan memilih bungkam.


"Ze..."


Drrt..drtt..


"Halo Mas!"


"...."


"Iya maaf aku lupa mengabari kamu jika aku sudah ada di Jakarta seminggu ini. Aku ada di rumah sakit karena Raiden jatuh dari ayunan."


"....."


"Sudah di tangani oleh dokter anak khusus, Mas.Tenang saja Raiden tidak apa-apa," ujar Zevana dengan tersenyum. Senyum yang entah mengapa membuat Haidar takut sekaligus cemburu.


"...."


"Raiden, ayah mau ngomong sama kamu!" ujar Zevana tetapi Raiden menggelengkan kepalanya entah mengapa ia sangat menjaga perasaan papanya saat ini.


"Mas, Raiden tidak ingin berbicara dulu. Mungkin nanti setelah pulang dari rumah sakit aku telepon balik ya," ujar Zevana dengan lembut.


"...."


"Sampai jumpa!"


"Kamu teleponan sama siapa?" tanya Haidar dengan dingin.


"Suami saya!"


"Dok, tuliskan resep obat untuk anak saya ya! Saya mau pulang," ujar Zevana.


"Karena Zeva gak mau berlama-lama di sini, Kak! Zeva sangat merindukan Kakak tapi Zeva sadar Zeva bukan istri kak Haidar lagi," gumam Zevana di dalam hati.


"Enggak! Kamu harus tetap ada di sini!"


"Dok..."


Grepp...


"I miss you!!"

__ADS_1


Tiga kata dari Haidar yang membuat tubuh Zevana mematung dengan hebat.


__ADS_2