Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 227 (Tentang Kenangan)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


***


Seorang wanita yang sudah sangat berubah lebih dewasa dan sangat cantik menghirup udara tanah kelahirannya dengan dalam. Tentang kenangan di tempat kelahirannya berputar bak film yang membuat dadanya sesak namun wanita cantik itu bisa tersenyum dengan manis saat ada tangan seseorang yang memegang tangannya dengan erat, seseorang yang menjadi penyemangatnya selama ini, kepulangannya juga karena seseorang tersebut ingin sekali melihat tanah kelahirannya tempat keluarganya berkumpul.


Zevana, wanita yang berusia 24 tahun itu tersenyum saat tangan anaknya begitu erat menggenggam tangannya. Sang anak yang menjadi penyemangat hidupnya selama ini ketika dirinya hampir menyerah dengan kehidupannya. Anak yang akan selalu Zevana bahagiakan dengan segenap jiwa dan raganya karena hanya anaknya lah harta yang ia punya pemberian Haidar, lelaki yang sampai saat ini ia cintai begitu dalam. Katakan saja Zevana bodoh, tapi memang begitu adanya sampai sekarang. Namun, Zevana sadar ia tidak bisa memiliki Haidar sampai kapan pun. Mungkin lelaki itu sudah bahagia dengan wanita lain atau bahkan sudah menikah dan mempunyai anak, membayangkan itu membuat dada Zevana sesak.


"Ma, kita langsung ke rumah kakek dan nenek, kan? Kata Mama kalau kita sampai di Jakarta kita langsung ke rumah kakek dan nenek untuk memberikan kejutan," ujar anak lelaki yang sangat mirip dengan Haidar bahkan mereka bak pinang di belah dua yang membuat Zevana setiap hari merindukan Haidar ketika menatap wajah anaknya.


"Iya, Sayang! Kita pesan Taxi online dulu ya," ujar Zevana dengan tersenyum yang menular pada sang anak.


Raiden Erlangga, anak dari Zevana dan Haidar itu tampak tersenyum bahagia saat sebentar lagi ia akan bertemu dengan kakek, nenek dan juga kedua om kembarnya. Walaupun Raiden belum pernah bertemu atau berbicara dengan keluarga mamanya tapi tetap saja Raiden bahagia. Apalagi ketika melihat foto papanya, ada semacam rindu yang tak bisa Raiden jelaskan dengan mudah tetapi rindu itu ia simpan dengan rapat karena saat Raiden bertanya kepada mamanya tentang sang papa, mamanya selalu menangis dan Raiden tidak suka ketika air mata menetes di kedua mata mamanya. Raiden tidak terima dan tidak suka ketika mamanya menangis, lebih baik Raiden memendam rasa rindunya dari pada melihat wanita yang telah melahirkan dan memperjuangkan hidupnya sendirian itu menangis.


Zevana dan Raiden memasuki Taxi yang sudah datang. Zevana mengelus rambut anaknya dengan sayang saat melihat betapa anaknya sangat bahagia ketika bisa bertemu dengan para keluarganya.


"Raiden, Mama mau tanya boleh?" tanya Zevana dengan lembut.


"Boleh, Ma. Mau tanya apa?" sahut Raiden dengan pelan.


"Kamu gak akan marah kan jika Mama sama papa tidak bisa bersama kembali. Mama tidak ingin menghancurkan kebahagiaan papa lagi," tanya Zevana yang membuat Raiden terdiam sejenak.


Otak sekecil itu sudah dipaksa dewasa oleh keadaan bahkan dengan segenap jiwa dan raga yang Raiden punya anak itu selalu melindungi mamanya dari kejahatan orang-orang saat mereka hanya tinggal berdua saja.


"Gak apa-apa, Ma. Karena Raiden sudah punya Mama dan om ayah," ujar Raiden dengan tegas tetapi entah mengapa membuat dada Zevana sesak.


"Maafkan Mama ya, Sayang! Suatu saat jika kamu sudah dewasa kamu akan mengerti mengapa Mama dan papa tidak bisa bersama," ujar Zevana dengan meneteskan air matanya.


"Jangan nangis, Ma! Raiden sakit lihat Mama nangis!" ujar Raiden yang membuat Zevana langsung menyeka air matanya dengan cepat, ia tidak boleh menangis di depan Raiden karena anaknya itu memang sangat tidak bisa melihat dirinya menangis.


Akhirnya setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit akhirnya Zevana dan Raiden sampai juga ke rumah kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Terima kasih ya, Pak!" ujar Zevana setelah memberikan uang sesuai dengan jarak tempuh di aplikasi.


"Sama-sama, Mbak!"


Sang supir Taxi membantu Zevana mengeluarkan koper Zevana dan Raiden. Setelah 5 tahun menghilang, Zevana memang benar-benar memutuskan kontak dengan keluarganya maupun Haidar. Jadi, hari ini adalah hari di mana Zevana akan bertemu dengan keluarganya. Zevana tidak tahu kedua orang tuanya masih menerima dirinya atau tidak yang jelas Zevana ingin bertemu dengan mereka, jika setelah bertemu dirinya di usir maka Zevana akan pergi kembali mencari rumah kecil yang nyaman untuk dirinya dan juga Raiden.


Dengan menggeret koper dan menggenggam tangan samg anak Zevana mulai berjalan ke arah pintu utama rumah kedua orang tuanya. Rindu yang sangat menggebu membuat hati Zevana sesak bukan main tetapi Zevana menahannya agar tidak menangis di depan anaknya.


Tokk...tokkk...


Tokk...tokk..


"Kenapa lama sekali, Ma?" tanya Raiden dengan tak sabaran.


"Sabar, Sayang!"


Tok...tokk...


"Iya sia..."


"Kenapa sih, Bi? Kok teriak-teriak," ujar Zidan.


"I-itu, Pak!" tunjuk Bibi pada Zevana.


Brak..


Zevana menjatuhkan kopernya dan berlari ke arah sang papa. Zevana berlutut di kaki papanya setelah melihat sang papa mematung melihat kehadirannya.


"Hiks...hiks...ampuni Zeva, Pa! Zeva salah! Zeva sudah membuat Papa dan mama malu," ujar Zevana berlutut di kaki papanya bahkan sampai mencium kaki papanya.


Raiden hanya diam menatap mamanya, sebenarnya ia sesak melihat mamanya menangis tersedu-sedu seperti itu tetapi entah mengapa kakinya berat untuk melangkah mendekati mamanya.


"Siapa yang datang, Mas?"

__ADS_1


Tubuh Tiara hampir terhuyung ke belakang karena sangking terkejutnya melihat kehadiran Zevana dan sedang bersimpuh di kaki suaminya.


"Mama!"


Zevana tak kuat berdiri ia merangkak mendekati Tiara. "Hiks..hiks...sekali lagi ampuni Zevana, Ma! Z-zeva... Zeva..."


Grep....


Tiara memeluk anaknya dengan sangat erat, tak peduli kesalahan anaknya apa karena Tiara sudah memaafkan anaknya sejak lama. Zidan yang tadinya syok, langsung tersadar dan menatap ke arah Raiden yang sejak tadi terdiam menatap Zevana.


Sebelum memeluk Zevana, Zidan mendekati Raiden dan berjongkok di hadapan Raiden. "Hai jagoan! Coba perkenalkan diri kamu," ujar Zidan yang memang sudah yakin jika Raiden ini adalah cucunya karena terlihat sekali mirip dengan Haidar.


"Namaku Raiden Erlangga, Kek!" ujar dengan tegas yang membuat Zidan tersenyum.


"Sudah besar ya! Ke mana Mama kamu membawa kamu pergi hmm? Kakek tidak bisa menemukan kalian," ujar Zidan dengan menahan air matanya.


"Swiss. Di sana mama membesarkan Raiden di bantu dengan malaikat penolong mama saat mama pingsan di tengah jalan 5 tahun lalu," jawab Raiden dengan lugas yang membuat Zidan tersenyum. Cucunya sudah dewasa dalam berpikir sebelum waktunya, mungkin karena faktor keadaan yang membuat Raiden seperti ini.


"Kamu tidak ingin memeluk Kakek?"


"Sebelum Kakek memeluk mama maka Raiden tidak akan memeluk Kakek! Karena mama yang paling merindukan Kakek dan nenek!" sahut Raiden dengan tegas.


Zidan terkekeh dengan air mata yang mengalir di sudut matanya. Zidan menatap anaknya bungsunya dan dengan sigap Zidan merentangkan tangannya agar Zevana memeluknya.


Grep....


"Papa sudah memaafkan kamu, Sayang! Papa akan terima kamu dengan tangan terbuka," ujar Zidan yang membuat Zevana kembali menangis haru.


"Cucu Nenek! Tampan sekali kamu, Sayang!" ujar Tiara dengan menangis.


Raiden menatap Tiara dengan dalam tangan mungilnya mengusap air mata neneknya dengan lembut. "Selain Mama, Nenek adalah orang kedua yang Raiden hapus air matanya. Jangan nangis lagi, Nek! Raiden sudah kembali bersama dengan mama!" ujar Raiden yang membuat Tiara terharu dan langsung memeluk cucunya dengan erat.


"Raiden dan mama gak akan pergi lagi!"

__ADS_1


Ya Tuhan... Betapa bahagianya hati seorang Tiara dan Zidan karena bisa bertemu dengan Zevana dan Raiden setelah 5 tahun mencari keberadaan anaknya. Mungkin jika ada Zayden dan Zayyen di rumah, kedua anak lelakinya itu juga akan terharu karena kehadiran Zevana dan juga Raiden. Sayang, Zayden sudah berangkat ke kantor dan Zayyen belum kembali dari Inggris karena Zayyen terus melanjutkan pendidikannya mungkin sebulan, dua bulan lagi Zayyen akan kembali.


"Terima kasih Ya Tuhan, Engkau telah mempertemukan aku kembali dengan anakku!"


__ADS_2