Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 220 (Mulai Kehilangan)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


***


Haidar kembali ke apartemen tepat pukul jam 8 malam. Tubuhnya sangat lelah karena pekerjaan kantor yang sangat banyak.


Haidar merebahkan dirinya di sofa. "Zeva, ambilkan gue minum dingin! Gue haus!" ujar Haidar memijat pelipisnya yang terasa sakit.


"Zeva lama banget sih!" ujar Haidar dengan keras.


"Ze... Ahhh sial gue lupa kalau dia sudah pergi!" ujar Haidar dengan datar.


Dengan malas Haidar bangun dari rebahannya dan menuju dapur untuk mengambil minum yang ia inginkan.


"Kak mau minum apa?"


"Lo pulang?" tanya Haidar dengan terkejut.


Zevana tersenyum dan Haidar mendekatinya namun setelah Haidar ingin memegangnya Zevana menghilang. Haidar memijat pelipisnya, saat ini ia sedang berhalusinasi jika ada Zevana di dapur.


"Kak mau mandi? Zevana siapkan air hangatnya ya?" ujar Zevana dalam halusinasi Haidar saat ini.


"Iya siapkan cepat!"


Haidar kembali terkejut saat Zevana kembali menghilang.


"Ah sial!" umpat Haidar dengan datar.


Haidar meminum minumannya dengan sekali tegukan. Rasanya begitu mencekik lehernya sekarang, Haidar hampir frustasi saat ia melihat Zevana tersenyum padanya dan terkadang menawarkan sesuatu untuknya.

__ADS_1


Haidar mengacak rambutnya dengan frustasi. Ia menatap Zevana dengan tajam. "Kalau lo mau pergi, pergi saja! Jangan buat gue seperti ini!" ujar Haidar dengan tajam.


Haidar dengan kesal berjalan ke dalam kamar mandi yang berada di dekat dapur miliknya. Harum semerbak sabun dan sampo milik Zevana masuk ke indra penciumannya. Hatinya mendadak terhimpit dan terasa sangat sesak.


Haidar membasuh mukanya dengan air yang berada di wastafel. Berulang kali Haidar menghela napasnya dengan berat dengan menatap pantulan dirinya di cermin yang berada di depannya. Apakah ini efek di tinggalkan oleh Zevana? Atau karena rasa bersalahnya dengan Zevana selama ini karena Haidar telah menyiksa Zevana.


Haidar mematikan air wastafel, ia mengambil tisu dan mengeringkan wajahnya. Namun, matanya tak sengaja melihat sesuatu di balik tong sampah yang menarik hatinya untuk segera mengambil sesuatu tersebut.


Dengan perlahan Haidar mengambil benda pipih yang membuat dirinya penasaran. "Test pack?" gumam Haidar dengan perasaan yang semakin sesak.


"Z-zeva, Zeva hamil?" tanya Haidar pada dirinya sendiri.


Haidar menggenggam test pack itu dengan erat. Pria itu berjalan ke arah kamar Zevana dengan tidak sabaran, ia harus memastikan sesuatu yang berhubungan dengan test pack yang ia temukan di tong sampah di dalam kamar mandi.


Haidar menggeledah kardus milik Zevana dengan hati yang begitu berdebar. Dengan pikiran yang tak menentu Haidar mengambil buku diary yang menarik dirinya.


Dengan tangan gemetar Haidar membuka diary milik Zevana.


Dengan tak sabaran Haidar membuka lembar demi lembar yang berhubungan dengan test pack yang ia temukan.


{Kami sudah menikah karena perbuatanku yang menjebak kak Haidar agar dia mau menikah dengaku.Ya, dia mabuk waktu itu dan memudahkan rencanaku untuk memilikinya. Bahagia? Tentu saja karena kak Haidar adalah pria yang sangat aku cintai}


{Aku pikir dengan menikah dengan kak Haidar semua akan berjalan dengan lancar dan kami akan bahagia. Tetapi aku salah ternyata ini adalah penderitaan untuk aku yang berlaku curang. Sebenci itukah kak Haidar kepadaku saat ini? Bahkan dia tega dengan aku. Aku tidur di ruangan yang dulunya gudang, aku begitu takut di dalam kamar ini karena ada tikus dan kecoa yang berkeliaran. Tetapi aku di tuntut harus berani, tapi aku sama sekali tidak bisa tertidur karena dinginnya lantai menusuk tulangku. Aku tidak boleh menyerah, aku harus terbiasa dengan kehidupanku yang baru tanpa sebuah kemewahan yang sering aku dapatkan dari papa dan mama maupun kedua kakakku}


{Kami kehilangan anak kami yang belum kami ketahui keberadaannya. Tapi di sini aku yang bersedih dan tidak untuk kak Haidar. Dia terlihat baik-baik saja bahkan dia tidak tahu betapa hancurnya hatiku saat kehilangan anakku karena perlakuan kasar kak Haidar kepadaku. Mungkinkah dia juga enggan memiliki anak dari rahim wanita murahan sepertiku?}


{Setelah 4 bulan aku keguguran kini aku hamil kembali. Bahagia tentu saja! Tapi apakah harus memberitahu berita bahagia ini kepada kak Haidar? Tapi aku takut kehilangan anakku lagi? Aku harus bagaimana?}


{Akhirnya aku memutuskan sesuatu yang sangat besar untuk hidupku. Ya, aku akan pergi dari kehidupan kak Haidar dan membawa sesuatu yang berharga yang diberikan olehnya. 7 hari permintaanku untuk menjadi suami istri sungguhan di setujui olehnya. Ini keputusan terberat yang aku ambil tetapi tak mengapa asal anakku sehat dan terus bersamaku. Karena setelah kehilangan kak Haidar dan keluargaku, aku hanya mempunyai anakku yang akan ku besarkan seorang diri}


{Selamat tinggal kak Haidar. Bahagia selalu ya karena beban hidupmu sudah pergi jauh sekali. Jangan cari aku ya kak karena aku tidak mau semakin mencintai dirimu. Sungguh aku tidak bisa membencimu walaupun fisik dan batinku terluka karenamu}

__ADS_1


Haidar menutup buku diary Zevana yang tertinggal. "Argghh.....Zeva, lo nyiksa gue!" ujar Haidar dengan mata memerah menahan tangisnya.


"Lo pergi bawa anak gue!" ujar Haidar dengan sesak.


"ZEVA BALIK LO!" teriak Haidar dengan keras.


Haidar frustasi sekarang. Ternyata begitu dalam rasa cinta Zevana untuk dirinya tetapi rasa kecewanya menutup mata hatinya.


"Haha... Bagus mending lo pergi bawa anak itu! Hiks...hiks...Tapi hati gue sakit banget!" ujar Haidar dengan lirih.


Haidar terdiam dengan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya. Seperti film semua perbuatan kasarnya seakan berputar di pikirannya. Bagaimana perlakuan kasar dirinya kepada Zevana, bentakan yang membuat hati Zevana terluka, dan bahkan ketika Zevana keguguran karena ulahnya.


"Gue harus cari lo kemana?" tanya Haidar kepada dirinya sendiri.


Tanpa sadar Haidar ketiduran setelah terdiam dengan air mata penuh penyesalan. Haidar tidak tahu jika hidupnya akan semakin berat setelah ini, raganya hidup tetapi seakan tak bernyawa karena kesalahannya pada Zevana yang membuat istrinya menghilang tanpa jejak.


***


Tiara sama sekali tidak bisa tertidur. Sejak kepulangannya dari apartemen Haidar kemarin, pikirannya terus bercabang yang membuat Tiara tidak bisa memejamkan matanya dengan nyenyak.


Zidan membuka matanya dengan perlahan saat merasakan jika tidur istrinya sangat gelisah. Dengan hati-hati Zidan membawa Tiara ke dalam pelukannya.


"Kenapa, Sayang? Ini sudah malam dan kamu belum tidur sama sekali?" tanya Zidan dengan lembut.


Tiara menatap suaminya dengan pandangan yang amat sendu. "Aku gak bisa tidur karena gelisah memikirkan Zevana, Mas. Apa sikapku kemarin keterlaluan? Aku bahkan gak mengangkat teleponnya kemarin," ujar Tiara dengan sendu.


"Besok kita ke apartemen Haidar. Bagaimanapun Zevana itu anak kita, kesalahan sebesar apapun dia tetap anak kita. Jangan sampai apa yang kamu alami dulu terjadi pada Zevana, Sayang! Di usia Zevana yang masih sangat muda sifatnya masih begitu labil, terkadang ia tidak memikirkan kedepannya dengan apa yang ia lakukan sekarang. Mas memang sangat menyayangkan tindakan Zevana tetapi kita tidak boleh membencinya," ujar Zidan yang membuat air mata Tiara mengalir begitu saja.


"Aku mama yang jahat, Mas! Hiks... Pasti Zevana sangat merasa bersalah kepada kita. Pokoknya besok kita harus ke apartemen Haidar dengan cepat ya, Mas. Entah mengapa aku sangat merindukan Zevana!" ujar Tiara dengan memohon.


"Iya, Sayang. Sekarang kamu tidur ya biar besok tidak kesiangan ke apartemen Haidar," sahut Zidan dengan lembut.

__ADS_1


Zidan memeluk istrinya dengan erat. Sebenarnya apa yang dirasakan Tiara, dirasakan juga olehnya cuma Zidan hanya diam dan tidak ingin semakin membuat Tiara gelisah.


__ADS_2