
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
****
Seminggu kemudian...
Akbar menatap sang istri dengan pandangan yang sangat dalam. Bagaimana bisa Fiona dengan santainya berjalan di depan dirinya hanya menggunakan handuk sebatas lutut. Gadis itu membuka lemari dan mencari sesuatu yang membuat Akbar menelan ludahnya dengan kasar, imannya kembali diuji dengan tingkah polos istrinya.
"Cari apa?" tanya Akbar saat melihat tangan istri mungilnya menggeledah isi lemari.
"Cel*na dal*m Fio yang warna pink ada bunga mawarnya mana ya Mas suami? Mas suami ada lihat gak?" tanya Fiona dengan berbalik menatap ke arah Akbar.
Akbar menelan ludahnya dengan kasar saat ia tak sengaja melihat belahan dada milik Fiona san paha mulus istrinya.
"Ihh..Mas Suami malah bengong sih! Mas Suami ada lihat gak nih celana Fiona yang cantik itu loh!" ucap Fiona dengan merengek kepada Akbar.
Akbar yang saat ini tengah berada di atas kasur langsung turun dan menghampiri istrinya.
"Biasanya kan kamu taruh di laci ini!" ucap Akbar yang menarik laci di dalam lemari khusus untuk barang dalam mereka.
Fiona menepuk jidatnya sendiri. "Fio lupa, tadi kan Fio pakai terus udah Fio cuci waktu mandi hehehe," ucap Fiona yang membuat Akbar menghela napasnya gemas.
Ia menyentil kening Fiona dengan gemas. "Gak biasanya kamu mandi pagi banget. Udah selesai haid?" tanya Akbar berharap-harap cemas, Akbar sangat berharap jika Fiona memang benar sudah selesai haid.
Fiona menggaruk alisnya dengan perlahan, lalu ia menampilkan deretan gigi putihnya. "Udah Mas? Kok Mas tahu sih? Mas peramal ya?" ucap Fiona yang membuat Akbar bernapas lega. Akhirnya, ia bisa menjadikan Fiona istri seutuhnya.
__ADS_1
Akbar semakin mendekat ke arah Fiona dan menarik pinggang Fiona hingga menempel ke tubuhnya. Saat dada Fiona bersentuhan dengan dadanya Akbar merasakan jika jantungnya berdetak dengan sangat kencang.
Akbar melotot saat handuk yang dipakai Fiona terjatuh di lantai menampilkan tubuh Fiona yang polos tanpa menggunakan apapun.
"F-fio..."
Fiona hanya diam. Ia masih terpaku dengan handuknya yang terjatuh di lantai, hingga Fiona terkejut saat Akbar menggendongnya menuju ke kasur. Dengan perlahan Akbar menidurkan Fiona dengan Akbar yang menindih tubuh Fiona.
"Kamu sengaja menggoda suamimu ini hmm?" tanya Akbar dengan serak.
Fiona menggelengkan kepalanya. "Handuk Fio jatuh bukan Fio yang menggoda Mas suami! Salahkan aja handuk Fio kenapa bisa lepas!" ujar Fiona dengan santai.
"Haidnya sudah selesai. Sesuai janji kamu waktu itu Unboxing segera dilakukan," ucap Akbar tak ingin berlama-lama lagi.
"Ya udah unboxing aja, Mas. Niat Fio tadi mau bilang kalau Mas udah bisa unboxing Fio!" sahut Fiona yang membuat Akbar menyeringai.
Akbar menatap Fiona dengan dalam, perlahan namun pasti Akbar mulai mencium bibir Fiona dengan lembut. Ciuman lembut itu tak berlangsung lama ketika ciuman Akbar berubah menjadi ciuman yang banyak menuntut dari Fiona. Erangan lirih Fiona sudah terdengar di telinga Akbar, seperti alunan nada yang sangat merdu ketika di dengar telinganya.
Tangan Akbar juga tak tinggal diam, ia menyentuh kedua dada Fiona yang sangat pas di genggaman tangannya. Napas Fiona tersengal-sengal saat Akbar melepaskan tautan bibir mereka dan kini berpindah pada leher jenjang Fiona meninggalkan jejak kepemilikan di sana.
Bak bayi yang kehausan Akbar dan baru mendapatkan minumannya Akbar terlihat kalap hingga dia tak menyadari perubahan ekspresi wajah Fiona yang seperti menahan sakit.
"Arrghhh.." Fiona mendorong tubuh Akbar saat kepalanya berdenyut sakit.
Akbar terkejut. Ia menatap Fiona dengan khawatir.
"S-sayang kenapa?" tanya Akbar dengan cemas.
__ADS_1
Fiona membuka matanya dengan napas yang memburu. "Fio bingung. Tadi kepala Fio sakit terus Fio lihat sesuatu, banyak cowok dengan tatapan menyeramkan ke arah cewek, muka cewek itu Fio gak tahu! Gak jelas!" ucap Fiona dengan napas yang memburu.
"Mas Suami. Fio gak jadi anak indigo setelah Mas suami cium, kan?" tanya Fiona dengan cemas.
Shitt.... Bisa-bisanya Fiona bercanda disaat seperti ini. Fiona tidak tahu bagaimana khawatirnya Akbar melihat Fiona tiba-tiba berteriak kesakitan.
"Maaf ya Mas suami unboxing-nya tertunda beberapa menit. Sakarang ayo mulai lagi!" Fiona mengerjapkan matanya yang membuat Akbar gemas dan kembali menindih tubuh Fiona.
Akbar sengaja tak ingin bertanya lebih kepada Fiona tentang ingatan yang Fiona ingat barusan, ia takut Fiona akan histeris saat ingatan itu kembali pada sang istri. Akbar iuga takut kejiwaan istrinya akan terganggu jika mengingat bagaimana sadisnya 11 orang lelaki yang ingin memperkosa Fiona saat itu.
Erangan Fiona kembali terdengar, Akbar juga sudah melepaskan baju kerjanya. Padahal Akbar sudah mau berangkat kerja saat Fiona selesai mandi tetapi niat itu harus tertunda karena memiliki Fiona adalah sesuatu yang harus disegerakan.
"Huh..S-sakit. Burung Mas gak ada paruhnya kenapa matuk Fio sakit?" tanya Fiona dengan lirih saat milik Akbar berusaha menerobos dinding penghalang milik Fiona. Akbar beruntung karena ia masih menjadi orang pertama yang menyentuh istrinya.
Urat-urat leher Akbar menegang sempurna saat miliknya terus berusaha masuk pada milik Fiona. "Hanya sebentar, Sayang! Setelah itu bakal enak!" ujar Akbar dengan serak.
" Arghh..." Fiona berteriak saat milik Akbar tertanam dengan sempurna di milik Fiona. Akbar benar-benar menjadikan Fiona miliknya seutuhnya, napas mereka memburu bersama.
Akbar tersenyum dan mengecup mata Fiona yang mengeluarkan air mata. "Punya Fio robek! Mas maksa banget masukin burungnya kan punya Fio kecil!" ujar Fiona dengan lirih.
Akbar tersenyum, ia kembali mencium bibir Fiona dengan lembut bersamaan dengan Akbar yang mulai bergerak perlahan. Suara erangan keduanya kembali terdengar, keringat sudah membasahi tubuh keduanya. Di pagi hari ini keduanya menyatu dengan di saksikan matahari yang bersinar terang seakan menyambut penyatuan keduanya dengan bahagia.
Jangan tanyakan Akbar bagaimana. Yang jelas pria berusia 50 tahun itu seperti mendapatkan air di gurun pasir, lega dan sangat membahagiakan pagi ini. Tak hanya sekali dua kali bahkan Akbar meminta pada Fiona berulang kali dengan gaya bercinta yang Akbar tahu, ia ingin Fiona belajar jika tugas suami istri tak hanya saling menyanyangi namun saling memuaskan di atas ranjang.
Walau Akbar tahu jika istrinya tak sempurna sejak kecil tetapi bagi Akbar Fiona-nya lah wanita yang paling sempurna yang membuat Akbar seperti muda kembali. Gadis yang membuatnya kesal dan gemas sekaligus saat ini sudah menjadi istri seutuhnya untuk Akbar. Bahkan Akbar sampai melupakan kerjaannya, dering ponsel sekretarisnya pun tak lagi ia hiraukan yang penting bercinta dengan Fiona sampai mereka lelah. Tubuh Fiona adalah candunya sekarang, hanya Fiona yang mampu membuat Akbar uring-uringan tidak jelas.
"Di mata orang-orang kamu memang tidak sempurna, Sayang. Tapi, di mata saya kamu adalah wanita yang paling sempurna. Kini tinggal kita berusaha bagaimana caranya kamu hamil walaupun harapan itu hanya beberapa persen saja!"
__ADS_1