
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Tiara dan Zidan langsung lemas setelah mendapatkan kabar dari kedua besan mereka jika Zevana masuk ke rumah sakit setelah mengalami pendarahan, baru saja mereka sampai di rumah Zayyen langsung memutar balik dan langsung ke rumah sakit.
"Ya Allah, anakku! Hiks selamatkan dia Ya Allah!" ujar Tiara dengan menangis.
Zidan memeluk istrinya dengan erat, hatinya juga ikut merasa hancur ketika mendapatkan kabar jika anaknya masuk rumah sakit dengan kondisi yang belum di pastikan baik-baik saja.
"Zeva itu adik saya?" tanya Zayden kepada kedua orang tuanya serta kembarannya.
"Iya. Dan Zeva paling dekat dengan kamu," jawab Zayyen yang membuat Zayden terdiam.
Ada rasa yang tidak bisa dijabarkan oleh dirinya sendiri. Rasa khawatir, sedih, marah, semuanya bercampur menjadi satu yang tak bisa Zayden jelaskan secara gamblang.
"Dia kenapa?" tanya Zayden dengan dada yang terasa sesak.
"Pendarahan. Sepertinya adik kamu hamil," ujar Zidan yang sangat mengerti karena dirinya adalah dokter kandungan.
Zayden tak banyak bicara lagi, pria itu hanya diam dengan pandangan yang sulit diartikan. Membiarkan Zayyen mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat menuju rumah sakit.
***
Haidar menatap Fathan dengan wajah yang begitu gusar.
"Kamu tidak tahu jika Zevana hamil?" tanya Fathan dengan tegas. Bagaimanapun Zevana adalah anak dari sahabatnya dan juga anak dari adik kandung istri pertamanya yang telah meninggal.
"Tidak, Dok!" ujar Haidar dengan lirih.
"Zevana keguguran! Dia pendarahan dan anak kalian terlambat terselamatkan, di lihat dari pendarahan yang terjadi apa tadi kalian sedang melakukan hubungan badan?" tanya Fathan dengan tegas.
Haidar mengangguk, dia tidak bisa mengelak karena memang benar adanya. "Tadi Zeva kelihatan sehat makanya kami melakukannya," ujar Haidar dengan tenang agar Fathan tidak mengetahui permasalahan rumah tangganya dengan Zevana yang tidak baik bahkan sangat tidak baik karena Haidar menyiksa batin dan fisik Zevana. Untung saja kali ini Haidar tidak menyiksa Zevana yang bisa meninggalkan bekas keunguan yang akan membuat Fathan curiga.
Hati Haidar bak kesambar petir saat Fathan mengatakan jika Zevana hamil dan sekarang keguguran karena dirinya tetapi Haidar tidak akan mengakui perbuatannya di hadapan Fathan, orang tuanya serta kedua orang tua Zevana sekali pun.
"Kehamilan muda apalagi dengan usia Zevana yang masih sangat muda rentan sekali keguguran apalagi melakukan hubungan suami istri. Saya tidak bisa mengatakan apapun lagi karena Zevana sudah keguguran sejak kamu membawanya ke rumah sakit," ujar Fathan yang membuat Haidar terdiam.
__ADS_1
"Tapi tidak ada masalah dengan rahimnya kan, Dok?" tanya Haidar dengan raut wajah yang tidak bisa Haidar gambarkan sendiri.
Sedih, kecewa, khawatir, marah, dan juga senang bercampur menjadi satu karena dia telah berhasil membuat Zevana menderita tetapi di dalam hati kecilnya ia merasa sakit saat anaknya yang belum ia ketahui sudah tiada. Anak yang belum ia sadari kehadirannya. Apakah setelah ini Zevana akan pergi meninggalkan dirinya? Seharusnya Haidar merasa senang karena tujuannya menyiksa Zevana agar pergi dari kehidupannya tetapi saat membayangkan itu terjadi mengapa Haidar merasa tidak rela?
"Sejauh ini setelah melakukan kuret dan pemeriksaan tidak ada masalah dengan rahimnya. Tetapi Zevana harus bed rest untuk memulihkan keadaannya," jawab Fathan dengan tegas.
"Baik terima kasih, Dok!" ujar Haidar dengan tegas.
"Haidar!" panggil Fathan dengan pandangan yang sangat dalam kepada Haidar.
"Iya, Dok!"
Fathan menghela napasnya dengan berat lalu memperbaiki duduknya. "Saya tahu kamu tidak mencintai Zevana. Pernikahan kalian terjadi karena sebuah insiden. Saya berbicara seperti ini bukan menjadi dokter melainkan menjadi om-nya Zevana. Tolong jaga Zevana dengan baik, Tiara dan Zidan sangat menyayanginya karena mereka tidak ingin kehidupan Zevana seperti Tiara. Jangan sakiti dia jika memang kamu tidak menginginkannya pulangkan Zevana secara baik-baik kepada orang tuanya," ujar Fathan dengan tegas.
"Saya mencoba menerima pernikahan ini, Dok!" jawab Haidar dengan tenang tanpa memperlihatkan ekspresi wajah yang akan membuat Fathan curiga.
"Karena entah mengapa saya tidak bisa melepaskannya begitu saja!" lanjut Haidar di dalam hati.
Fathan mengangguk dengan pelan. Ia hanya bisa mengela napasnya dengan perlahan karena merasa kasihan dengan Zevana yang telah kehilangan janinnya.
"Saya permisi, Dok!" ucap Haidar dengan pelan.
"Iya silahkan!"
Haidar kembali ke ruangan Zevana setelah menemui Fathan. Hatinya mencolos melihat wajah Zevana yang sangat pucat.
Kejam!
Iblis!
Tidak berperasaan!
Itulah kata yang cocok untuk seorang Haidar. Namun, semua sikapnya karena Zevana yang melakukan segala cara untuk mendapatkan dirinya. Dia muak dengan Zevana! Karena Zevana, Haidar seakan kehilangan masa mudanya. Haidar juga sudah melihat CCTV yang berada di dekat bar dan apartemennya, saat itu memang Haidar sedang mabuk tetapi Zevana tak harus menggodanya dan mengaku-ngaku sebagai Delisha, kan? Zevana bisa saja memghajar dirinya saat itu! Tetapi memang dasarnya Zevana murahan maka Haidar tidak akan melunak kepada Zevana walau saat ini keadaan wanita itu tidak baik-baik saja.
"Apa kata dokter, Haidar?" tanya Diana, mama Haidar dengan cemas.
"Setelah keguguran Zevana harus bed rest, Ma! Tapi tidak ada masalah apa-apa dengan rahimnya. Saat melakukan itu Haidar benar-benar tidak mengetahui kalau Zevana hamil," ujar Haidar dengan pelan.
"Zevana!"
__ADS_1
Tiara membuka pintu ruangan Zevana dengan cepat hatinya merasa sakit saat melihat anaknya terbaring lemah dengan kondisi yang belum sadarkan diri.
Haidar dan Diana mundur untuk memberikan ruang kepada Tiara. Tiara langsung memeluk anaknya dengan erat dan menangis terisak di sana hingga membuat Zevana terusik dan akhirnya membuka mata karena sebenarnya Zevana sudah sadar saat Haidar masuk ke ruangannya hanya saja Zevana tidak mempunyai keberanian untuk berbicara dengan Haidar, hatinya begitu sakit saat mengetahui jika dirinya telah keguguran padahal Zevana belum mengetahui jika anaknya telah hadir di rahimnya.
"Hiks...anakku!" gumam Tiara dengan menangis.
"Mama!" panggil Zevana dengan lirih yang membuat Tiara langsung menghapus air matanya dengan kasar.
"Sayang, mana yang sakit hmm?" tanya Tiara dengan lirih.
"Perut Zeva, Ma! Zeva sudah kehilangan anak Zeva!" adu Zevana dengan meneteskan air matanya yang membuat hati Haidar dan yang lainnya mencolos.
Zidan mendekati anaknya. Zidan tahu bagaimana rasa sakitnya keguguran. "Gak apa-apa, Zeva harus sehat dulu ya!" ujar Zidan dengan serak.
"Papa!" Zevana memeluk Zidan dengan erat, ia menangis di pelukan papanya menumpahkan rasa sakit yang selama ini ia pendam sendiri tanpa berbicara dengan orang lain. Zevana tidak mempunyai keberanian untuk mengadukan perbuatan Haidar yang telsh melukai fisik dan batinnya kepada kedua orang tuanya karena lelaki itu mengancam dirinya dan membongkar semua niat jahatnya untuk menjebak Haidar. Zevana belum siap dibenci oleh keluarganya sendiri.
"Sakit, Pa! Perut Zeva sakit hiks.." Zevana terus meracau di pelukan papanya yang membuat Zidan meneteskan air matanya.
Zidan tahu jika tak hanya perut anaknya saja yang sakit tetapi hati anaknya juga sakit karena kehilangan anak yang belum sempat Zevana ketahui.
"Papa periksa boleh?" tanya Zidan dengan lirih.
"A-anak Zeva sudah gak ada, Pa! Hiks...Zeva bahkan belum mengetahui keberadaannya di perut Zeva!" ujar Zeva dengan sesak.
Zevana hampir histeris karena ia merasa gagal melindungi anaknya sendiri dari kejahatan Haidar. Zevana menatap Haidar dengan pandangan penuh luka, ingin sekali Zevana mengatakan semuanya kepada kedua orang tuanya tetapi ucapannya seakan tertahan di tenggorokan.
Entah dorongan dari mana Zayden mendekati adiknya setelah ia melihat dari kejauhan padahal kedua orang tuanya serta Zayyen sudah bergantian menenangkan Zevana.
Mata Zayden dan Zevana saling memandang dan tanpa kata Zevana memeluk kakak keduanya dengan erat.
"Kakak kembali!" gumam Zevana dengan lirih.
"Iya. Tapi maaf saya tidak mengingat kamu!" ucap Zayden yang membuat Zevana tersenyum miris.
"Hiks...hiks..."
Zevana menangis kembali, sepertinya cara seperti ini yang mampu melegakan perasaannya yang sejak tadi terasa sesak karena menahan semuanya seorang diri. Sungguh batin Zevana sangat tersiksa sekarang.
Tidak ingin membuat keluarga Zevana curiga, Haidar mendekati istrinya dan memeluk Zevana dengan erat.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kita masih sangat muda untuk mempunyai anak. Mungkin Tuhan memberikan kita waktu agar aku dan kamu siap menjadi orang tua. Jangan menangis lagi," ujar Haidar seakan menjadi sosok suami yang sangat pengertian.
Lagi dan lagi Zevana menangis. "Andai ini bukan sebuah kepura-puraan di hadapan keluargaku, aku pasti sangat merasa bahagia dan tenang saat ini, Kak. Tapi apa yang kamu lakukan saat ini bukan karena tulus menyayangiku tapi karena kamu tidak mau di anggap menjadi lelaki brengsek di hadapan keluargaku maupun kekuargamu! Sungguh Kak rasa ini begitu dalam kepadamu hingga membenci dirimu saja aku tak mampu!" gumam Zevana di dalam hati.