Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 24 (Setelah Sah)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya. Tinggalkan jejak kalian dengan bom like,dan komentar, dukungan dari kalian membuat aku semangat!...


...Maaf gengs part ini di revisi!...


...Happy reading...


****


hujan mengguyur desa kedua orang tua Tri malam ini, genteng yang bocor sudah tersedia baskom di bawahnya, bunyi kodok juga bersautan di sana membuat Cika tertawa merasa suasana ini sangat berbeda, bukannya merasa takut Cika ikut menadahkan air hujan bersama dengan kakek dan nenek barunya.


"Pasti kodoknya suka dengan air hujan," ucap Cika dengan suara imutnya.


"Hahaha... Kok Cika bisa ngomong gitu?" tanya Pak Bagus dengan tertawa semenjak ada Cika di rumahnya dunia lebih berwarna karena para cucunya berada di desa sebrang.


"Iya Kek soalnya mereka ribut terus suaranya jadi seperti musik. Cika betah deh di sini," ucap Cika dengan polosnya.


"Rumah Nenek dan Kakek tidak sebagus rumah Cika. Nih lihat rumah Nenek banyak yang bocor, kan?!" ucap Bu Harni dengan tersenyum.


"Nanti Cika suruh Papa buat perbaiki rumah Nenek dan Kakek biar nanti kalau Cika main ke sini tidak bocor lagi dan kakek sama Nenek tidak kedinginan lagi," ucap Cika dengan tulus membuat pak Bagus dan Bu Harni tersenyum.


"Melihat mama Cika bahagia bersama dengan papa Cika kami sudah merasa senang, Sayang!" ucap Pak Bagus dengan tersenyum.


Fathan keluar dari kamar Tri setelah membantu sang istri membereskan kamar yang sudah bertumpuk kado dari keluarga Tri. Ia melihat ada 5 wadah baskom untuk menadah air yang jatuh ke lantai karena genteng bocor.


"Mas mau aku buatkan kopi?" tanya Tri saat ikut keluar dari kamar.


"Boleh. Saya ke bapak dan ibu dulu ya sekalian buatkan kopi dan teh untuk bapak dan ibu," ucap Fathan dengan tersenyum.


"Iya, Mas. Aku buatkan dulu ya," ucap Tri dengan lembut.


Fathan mengangguk sebelum Tri pergi ke dapur Fathan mengecup kening sang istri. Kedua adik Tri sudah pulang ke rumah masing-masing karena jika mereka menginap tidak ada lagi tempat tidur, hanya ada ruang Tv tetapi itu pun bocor terkena air hujan.


"Pak" panggil Fathan dengan sopan.


"Iya Nak Fathan ada apa? Kenapa belum tidur? Kasurnya tidak nyaman ya? Maaf ya hanya itu yang ada," ucap Pak Bagus tak enak hati melihat menantunya ini yang serba tidak kekurangan lalu menginap di rumahnya dan dengan keadaan hujan seperti ini.


"Masih jam 8 malam, Pak. Masih belum mengantuk juga," ucap Fathan dwngan tersenyum.


"Pak, Bu besok saya, Hanum, dan Cika harus kembali ke Jakarta," ucap Fathan yang dengan pelan.


"Kok cepat banget? Kamu tidak betah ya di rumah Ibu?" tanya Bu Harni dengan sendu.


"Bukan begitu, Bu. Saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya di rumah sakit," ucap Fathan dengan tersenyum.


Pak Bagus dan bu Harni mengangguk mengerti walau merasa berat jika ketiganya harus kembali ke Jakarta terutama Cika.


"Ooo iya, Pak. Sawah yang di samping rumah Bapak dan Ibu milik siapa ya?" tanya Fathan serius.


Sebelum pak bagus menjawab Tri datang dengan membawa kopi dan teh serta bakwan yang tadi ia goreng. "Ini kopinya Pak, Mas," ucap Tri dengan halus.

__ADS_1


"Terima kasih, Ndok!"


"Terima kasih, Hanum!"


Tri mengangguk dengan tersenyum lalu ia memberikan teh kepada ibunya. Tri ikut bergabung duduk lesehan di dekat suaminya, Cika dengan cepat merebahkan kepalanya di paha Tri. "Ma, Cika ngantuk," ucap Cika dengan menguap.


"Tidur, Sayang!" ucap Tri dengan mengelus rambut Hanum.


"Bagaimana Pak? Bapak belum jawab pertanyaan saya," ucap Rasyad kembali bertanya.


"Ooo itu sawah milik pak Rahmat, orang terkaya di kampung ini," ucap Pak Bagus dengan tersenyum. "Memang kenapa, Nak?" tanya Pak Bagus penasaran.


"Kira-kira dijual tidak, Pak?" tanya Fathan.


"Bapak tidak tahu, Nak. Kayaknya tidak dijual mungkin jika dijual pun harganya sangat mahal," ucap Pak Bagus.


"Berapa pun harganya akan saya beli, Pak!" ucap Fathan yang membuat pak Bagus, Bu Harni, dan juga Tri terkejut.


"Mas mau beli sawah untuk apa?" tanya Tri dengan penasaran.


"Iya untuk apa, Nak?" tanya Pak Bagus.


"Bagini, Pak, Bu. Saya berniat ingin merenovasi rumah Bapak dan Ibu. Di masa tua Bapak dan Ibu harus merasa nyaman tinggal di rumah sendiri," ucap Fathan dengan tegas.


"T-tidak usah, Nak. Rumah ini sudah cukup untuk kami berdua," ucap Bu Harni merasa tidak enak.


Fathan tersenyum. "Bapak dan Ibu jangan sungkan kepada saya. Sekarang saya adalah menantu Bapak dan Ibu sudah sepantasnya saya membahagiakan kalian di hari tua. Jangan menolak pemberian saya Pak, Bu, saya tulus memberikan ini," ucap Fathan tersenyum.


"Tidak ada yang berlebihan, Hanum! Orang tua kamu adalah orang tua saya juga. Saya rasa sudah jelas, besok Bapak bisa menemani saya bertemu dengan pak Rahmat? Mungkin kepulangan kami akan kami tunda keesokan harinya, jika sudah jelas semuanya saya sudah siap menyuruh tukang profesional untuk membangun rumah Bapak dan Ibu, selama rumah itu di bangun Bapak dan Ibu bisa tinggal di kontrakan sementara, kalian tenang saja semuanya saya yang akan bayar," ucap Fathan dengan tegas.


"Terima kasih, Nak! Kami berhutang budi pada Nak Fathan!" ucap Pak Bagus dengan mata berkaca-kaca begitu pun dengan bu Harni yang sudah menangis karena bahagia mendapatkan menantu yang sangat menyayangi mereka.


"Saya yang harusnya berterima kasih kepada Bapak dan Ibu karena sudah melahirkan wanita cantik di sebelah saya," ucap Fathan dengan tenang tetapi berhasil membuat pipi Tri bersemu merah. Sederhana tetapi sangat menyentuh hatinya, itulah Fathan!


Akhirnya mereka berbincang hingga tengah malam dan Cika sudah tidur di pangkuan Tri. Semua bersiap-siap untuk ke kamar dan Cika akan tidur bersama dengan kedua kakek dan neneknya.


****


Fathan membaringkan tubuhnya di sebelah Tri. "Geser sedikit Hanum ini sangat sempit," ucap Fathan dengan sengaja menggeser tubuhnya.


"Mas, aku bisa jatuh!" protes Tri dengan refleks memeluk Fathan dengan erat agar dirinya tidak terjatuh ke lantai.


Fathan terkekeh, Tri menatap suaminya dengan menyipitkan matanya. "Mas sengaja ya?!" ucap Tri dengan kesal. "Ih jahat!" ucap Tri memukul dada suaminya.


Fathan tertawa lirih dan ikut memeluk Tri dengan erat. Fathan menatap Tri dengan dalam, ia membelai pipi Tri dengan lembut membuat Tri gugup. Walau mereka sudah melakukan hubungan terlarang sebelum menikah tetapi Tri tetap saja merasa gugup jika Fathan sudah menatapnya seperti ini.


Cup...


Cup...

__ADS_1


Fathan mengecup bibir Tri dengan bertubi-tubi karena ia merasa gemas dengan wajah sang istri sekarang. ia terkekeh geli melihat wajah Tri yang gelisah dan memerah karena perbuatannya.


Tri bergerak gelisah karena ulah Fathan, gerakannya hanya terbatas karena ranjangnya tidak seluas milik Fathan. Fathan terkekeh dengan mengelus pipi Tri dengan lembut.


"Kamu cantik jika wajah kamu seperti ini,Sayang!" ucap Fathan dengan lembut.


"Jangan memujimu seperti ini, Mas. Aku malu!" ucap Tri menutup mukanya dengan kedua tangannya.


Fathan semakin gemas dengan sang istri, sungguh wajah Tri tidak seperti wanita berumur 30 tahun, wajah Tri terlihat seperti wanita berumur 22 tahun dengan bentuk tubuh yang sempurna di matanya. Terkadang Fathan tidak percaya jika istri sudah umur 30 tahun.


"Ya Tuhan, sungguh indah ciptaanmu!" puji Tri di dalam hati memandang wajah tegas suaminya yang sangat tamosn


Tri membekap mulutnya sendiri kala Fathan menyentuhnya dengan lembut karena Tri tidak ingin suaranya terdengar sampai ke kamar orang tuanya, bisa malu dirinya.


"Kamu itu lucu!" kekeh Fathan yang membuat Tri semakin memerah seperti tomat. Kenapa malam ini Fathan sangat suka mengejeknya?


"Mas sengaja melakukan itu, kan? Agar bapak dan ibu dengar?" tanya Tri dengan ketus.


"Bisa iya bisa tidak!" jawab Fathan dengan santai membuat Tri mendengus kesal tetapi malu.


"Ih nakal!" ucap Tri yang membuat Fathan tertawa lirih.


Mata Tri berkunang-kunang, Fathan memang sengaja menguji dirinya. Tri tidak tahu sejak kapan keduanya benar-benar polos, saat Fathan bergerak bunyi ranjang membuat mereka terdiam.


Krekkk....


Ciittt...


Fathan dan Tri saling menatap saat bunyi decitan ranjang mereka. " Hahaha....Sungguh menantang sekali, Sayang!" kekeh Fathan saat mendengar suara bunyi kaki ranjang milik Tri.


"Semoga tidak roboh hahaha," doa Fathan dengan tertawa.


"Mas, gimana ini," ucap Tri dengan panik.


"Tidak usah takut. Suara decitan kamar akan menjadi saksi kita untuk pertama kalinya saat sudah menjadi suami istri," ucap Fathan dengan pelan.


"Bapak dan ibu pasti mendengarnya, Mas!" sahut Tri dengan panik.


"Mereka pernah menjadi pengantin baru dan saya yakin mereka mengalaminya," ucap Fathan kelewatan santai.


Tri ingin protes tetapi Fathan sengaja bergerak yang membuat suara ranjang itu semakin nyaring.


Krekkk....


Krekkk...


Semuanya sudah terlanjur. Tidak mungkin Tri menyudahi kegiatan mereka, Tri yang sudah tidak berdaya hanya pasrah di bawah kuasa Fathan tidak peduli dengan bunyi ranjangnya yang terdengar oleh kedua orang tuanya.


"Mas Fathannn!" teriak Tri dengan lirih saat Fathan bergerak. Tri sangat mengagumimu tubuh Fathan, ia bahkan tak henti-hentinya memuja tubuh berotot itu.

__ADS_1


Fathan memejamkan matanya saat merasa kenikmatan itu datang kepadanya. Tubuh keduanya berbanjir keringat, Fathan banyak berdoa semoga setelah ini ada penerusnya hadir di rahim Tri.


"I love you!"


__ADS_2