Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 30 (Luka Yang Mendalam)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya. Tinggalkan jejak kalian dengan bom like, dan komentar sebanyak-banyaknya....


...Happy reading...


***


Zidan mengejar Tiara yang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. "Shittt... Siapa yang mengajarinya mengendarai mobil ugal-ugalan seperti itu?" umpat Zidan dengan memukul setirnya.


Zidan tahu Tiara adalah gadis penakut, berulang kali dulu Zidan mengajari mobil tapi Tiara tidak kunjung bisa karena gadis itu selalu gemetaran saat mengendarai mobil, bahkan pernah mobilnya sampai menabrak tembok, tetapi untung saja mereka tidak apa-apa hanya mobilnya saja yang lecet. Dan setelah 5 tahun tidak bertemu Zidan seakan menemukan dua sosok dalam satu tubuh, ya Zidan seperti tidak mengenali Tiara dalam keadaan tertentu. Seperti sekarang ia melihat Tiara seperti bukan Tiara!


"Ay....pelankan mobilnya Mas mau bicara sebentar!" teriak Zidan memgejar mobil Tiara.


Tiara hanya diam menatap lurus ke depan dengan pandangan tajamnya. Air matanya ia hapus dengan kasar, tamparan mamanya tidak sebanding dengan kesakitannya selama ini, Tiara sudah biasa di perlakukan tidak adil oleh kedua orang tuanya tetapi kenapa rasanya tetap menyakitkan seperti ini? Jika boleh memilih Tiara tidak ingin di lahirkan ke dunia.


"Ay berhenti!"


"Tiara!"


Tiara tetap diam, ia semakin menginjak pedal gas hingga mobilnya kembali melaju dengan kencang. Saat ini ia tidak ingin bertemu dengan siapa pun termasuk Zidan.


"Malam ini aku biarkan kamu menangis Tiara! Tetapi tidak dengan besok!" ucap Tika dengan datar.


"Tamparan ini aku akan membalasnya!" ujar Tika yang tak lain adalah alter ego Tiara dengan dingin, ia memegangi pipinya yang memerah, dendam menguasai hatinya saat ini.

__ADS_1


Tiara membelokkan mobilnya masuk ke parkiran apartemen miliknya. Tiara membuka pintu mobilnya dan menutupnya dengan kuat, langkahnya begitu cepat memasuki memasuki lift hingga sampai di kamar dirinya. Tiara masuk, emosinya kembali memuncak mengingat semuanya yang membuat kedua orang tuanya kembali membencinya.


"Argghhh... Ini semua gara-gara Zidan!" teriak Tiara dengan murka.


Brak...


Prang.....


Tiara melempar dan membanting apa saja yang ia temukan di kamarnya bahkan kasur dan bantal menjadi sasarannya, isi dalam bantal beterbangan karena ulahnya dan matanya menatap tajam ke arah buku diary-nya selama ini, semua rasa ia ungkapkan di dalam buku ini termasuk rahasia yang selama ini ia tutupi.


Tiara mengambil buku itu dan membukanya, saat menemukan apa yang ia cari Tiara langsung menatapnya dengan tajam. Tiara merobek foto dirinya dan Zidan hingga foto itu terbelah dua. "Seharusnya aku tidak mengenalmu Zidan Alfahri! Aku membencimu! Kamu merusak semua rencanaku untuk menikah dengan Fathan! Padahal jika aku menikah dengan Fathan, mama dan papa tidak akan seperti ini kepadaku! Kenapa kamu jahat, hah? Kamu meninggalkan aku di saat aku ingin bersamamu tetapi sekarang kamu datang! JAHAT! ARGGHH...."


Tiara menatap bengis serpihan kaca dari bingkai foto yang ia banting, ia menyeringai sinis saat mengambil serpihan kaca tersebut dan menggoreskannya di tangannya sendiri, tidak ada ekspresi sakit yang ia perlihatkan wajahnya tetap datar saat darah segar dari tangannya menjatuhi lantai.


Tiara membuka lemari tersebut dan membuangnya semua yang berkaitan dengan Zidan. Selama ini Tiara masih menyimpan semua barang yang berkaitan dengan Zidan tetapi tidak untuk malam ini Tiara harus membuangnya tanpa sisa termasuk benda pipih yang menjadi kesakitannya selama ini seorang diri tanpa diketahui oleh Zidan.


*****


Zidan memasuki kawasan apartemen Tiara dengan tergesa-gesa. Kilasan memori lamanya dengan Tiara berputar seperti film di ingatannya, sekarang Zidan sudah berada di depan kamar Tiara. Ia mendengar barang-barang jatuh di dalam kamar Tiara yang membuat Zidan khawatir.


"Ay buka pintunya!" ucap Zidan berteriak tetapi ia sadar akan mengganggu penghuni apartemen yang lainnya.


Dengan ragu Zidan memasukkan pasword pintu apartemen Tiara yang dulu karena ia yakin pasword pintu tersebut sudah diganti oleh Tiara. Tetapi dugaannya salah saat ia memasukkan pasword dengan tanggal jadian mereka pintu itu terbuka membuat Zidan menghela napas lega sekaligus bahagia karena Tiara masih menyimpan memori kenangan mereka walau hanya berupa pasword.

__ADS_1


Apartemen ini juga Zidan yang memberikan kepada Tiara sewaktu gadis itu memilih pergi dari rumahnya karena selalu merasa iri dengan kakaknya. Zidan tanpa ragu masuk ke apartemen milik Tiara, ia menatap sekelilingnya tidak banyak yang berubah hanya saja tidak ada lagi foto dirinya dan Tiara yang terpajang hingga memenuhi ruangan ini.


Zidan berjalan ke arah kamar Tiara dengan jantung yang berdegup kencang karena khawatir. "ASTAGA AY APA YANG KAMU LAKUKAN?" teriak Zidan dengan syok saat melihat kamar Tiara berantakan dengan banyaknya darah di lantai.


Tiara tidak merespon apapun pandangannya kosong dengan terduduk di lantai, semua barang yang berkaitan dengan Zidan berserakan di lantai. Tiara sedikit tenang setelah mengkonsumsi obat anti depresan yang selama ini ia minum.


Zidan berjongkok di depan Tiara. Tangannya mengambil obat yang tergeletak di lantai, ia menatap sendu ke arah Tiara. "S-sejak kapan kamu mengkonsumsi obat ini, Ay?" tanya Zidan dengan bibir bergetar menahan tangis.


Sikap dingin yang selama ini hilang seketika saat melihat Tiara seperti ini. "Tangan kamu terluka Ay! Telapak kaki kamu juga, Mas obati ya!" ucap Zidan dengan lembut.


Zidan mencari kotak P3K di laci karena dulu selalu menyimpan kotak obat di sana. Dan mungkin menjadi kebiasaan Tiara juga karena Zidan langsung menemukan kotak obat di sana. Zidan memejamkan matanya saat melihat berbagai jenis obat depresan di dalam laci tersebut.Ya Tuhan.... Zidan semakin merasa bersalah karena sudah meninggalkan gadis itu tanpa pamit dan tanpa kabar.


Zidan kembali berjalan ke arah Tiara. "Kita obati di sofa ya?!" ucap Zidan meminta persetujuan dari Tiara tetapi gadis itu tidak merespon sama sekali.


Zidan langsung menggendong Tiara dan mendudukkan di sofa dengan perlahan. Zidan meringis saat melihat kaca menancap di kaki Tiara. "Kamu tahan sebentar sakitnya ya, Ay. Mas mau mencabut kaca yang menancap di kaki kamu," ucap Zidan dengan pelan.


Zidan melihat ke arah wajah Tiara. Gadis itu sama sekali tidak berekspresi saat Zidan dengan perlahan mencabut serpihan kaca tersebut. Ini bukan Tiara! Tiara yang ia kenal banyak berekspresi yang membuat Zidan gemas bahkan jatuh hati kepada gadis lembut, baik, cengeng, penakut, dan sangat membutuhkannya dan yang paling penting sikap manja Tiara yang sangat ia suka. Apakah karena kepergiannya Tiara menjadi berubah seperti ini? Kenapa bertanya lagi tentu saja jawabannya iya! batin Zidan mengumpat dirinya sendiri.


Bahkan sampai selesai Zidan mengobati luka itu Tiara tetap diam. Zidan bangun dan membereskan kekacauan akibat ulah Tiara. Zidan berjongkok mengambil foto diri linya dan Tiara yang sudah robek menjadi dua.


"Apa pun Mas lakukan agar kamu kembali seperti dulu, Ay. Mas tidak akan tinggal diam, Ay. Maaf Mas harus menyita obat kamu ini, kamu tidak memerlukan ini, Ay!" gumam Zidan dengan lirih.


Zidan kembali membereskan barang-barang yang berantakan hingga matanya menemukan benda di satu titik yang membuat degup jantungnya menggila. Dengan tangan gemetar Zidan mengambil benda pipih yang sudah terlihat usang itu.

__ADS_1


"Testpack?"


__ADS_2