
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya. Siapkan tisu satu dus🤣🤣🤣...
...Happy reading...
***
Zevana tampak bahagia karena sejak tadi ia sedang mendekorasi apartemen Haidar yang luas menjadi ruangan yang sangat cantik. Zevana melakukannya sendiri karena Haidar entah pergi kemana, Zevana tak bertanya tetapi Zevana tahu jika Haidar muak berlama-lama dengan dirinya.
Zevana juga sudah menghubungi kedua orang tua, kedua kakaknya, serta kedua mertuanya untuk datang ke apartemen Haidar malam ini. Zevana juga sudah menyiapkan makan malam untuk mereka semuanya.
"Selesai!" ujar Zevana dengan tersenyum.
Ternyata lelah juga mendekor ruangan sendirian walau tak banyak tetapi Zevana gampang lelah akhir-akhir ini.
Mendengar suara pintu terbuka membuat Zevana buru-buru menghampiri Haidar karena ia tahu suaminya lah yang datang.
Zevana tersenyum saat Haidar pulang. "Kakak capek ya? Mau Zeva siapkan air hangat untuk mandi?" tanya Zevana dengan lembut.
"Hmmm...."
Haidar menatap dekorasi yang dibuat oleh Zevana. "Semua ini lo yang buat?" tanya Haidar dengan datar.
"Iya, Kak! Cantik, kan?" tanya Zevana dengan mata berbinar.
"Setelah selesai perayaan gak berguna lo ini. Lo segera beresin semuanya! Gue gak mau apartemen gue berantakan karena ulah gak penting lo ini," ujar Haidar dengan tajam. ucapannya sudah setajam pisau yang baru saja di asa.
"Iya Kak. Zeva akan beresin semuanya sebelum pagi, Kak!" ujar Zevana dengan tersenyum.
"Kak!" panggil Zevana saat Haidar berjalan ke arah kamarnya.
"Apa? Mau minta kado? Lo ribet ya lama-lama!" sentak Haidar yang membuat Zevana terkejut.
"E-enggak, Kak! Zeva gak minta apa-apa dari Kakak maupun yang lainnya. Cuma Zeva mau kita malam ini berkumpul itu aja! Zeva tadi cuma mau tanya Kakak mau mandi gak?" ucap Zevana dengan terbata.
"Siapkan air hangat untuk gue!" ujar Haidar dengan datar.
"Iya, Kak! Sebentar ya!" ujar Zevana dengan tersenyum.
Zevana masuk ke dalam kamar Haidar dan menyiapkan air hangat untuk Haidar mandi. Haidar tidak tahu saja di balik senyuman Zevana ada tangis di dalam hatinya ini. Haidar masuk ke dalam kamar mandi, ia memperhatikan Zevana yang sedang menyiapkan air hangat untuknya. Kenapa setiap menatap Zevana hati Haidar merasa sesak sekali.
"Ini sudah, Kak! Sebentar lagi mama dan papa datang. Zevana juga mau siap-siap dulu ya, Kak!" ujar Zevana dengan tersenyum.
"Terserah lo!" ujar Haidar dengan dingin.
Mata Haidar tak pernah lepas dari Zevana seakan wanita itu tidak akan pernah ia lihat lagi. Haidar menggelengkan kepalanya saat pikirannya begitu buruk.
"Apaan sih yang gue pikirin? Emang mau kemana tuh anak? Gak yakin gue dia bisa jauh dari gue!" ujar Haidar dengan datar.
Haidar melepas pakaiannya dan mulai berendam untuk menghilangkan beban yang menghimpit dadanya. Semakin ia melukai Zevana semakin ia merasa bersalah kepada wanita itu dan semakin sakit hatinya. Siapa yang tidak terluka saat harus kehilangan calon anak mereka? Walaupun Haidar membenci Zevana tetapi ada sebagaian hatinya yang ikut bersedih saat harus kehilangan anaknya sebagian hatinya merasa puas karena ia tidak mendapatkan anak dari wanita murahan seperti Zevana. Sangking berat beban yang ia pikul Haidar memejamkan matanya di bathtub.
***
Hari ini adalah hari ulang tahunnya seharusnya Zevana merasa bahagia tetapi hatinya seakan merasa kosong tanpa ada kebahagiaan yang menyapanya.
keluarganya sudah datang untuk memberikan selamat dan merayakan ulang tahunnya tetapi Zevana malah terasa hampa.
"Ulang tahun yang ke 18 tahun boleh gak Mama Minta cucu?" ujar Diana, mertua Zevana dengan hati-hati.
Zevana tersenyum kecut. "Do'ain ya, Ma!" sahut Zevana dengan memeluk mertuanya.
__ADS_1
"Mama selalu do'akan yang terbaik untuk rumah tangga kalian, Sayang! Walaupun pernikahan kalian terjadi karena sebuah insiden tetapi Mama harap kalian bisa saling mencintai. Kamu tahu kan Mama tidak mempunyai anak lagi selain Haidar. Dan Mama sudah anggap kamu sebagai anak kandung Mama sendiri," ujar Diana yang membuat Zevana tersenyum karena hatinya merasa hangat.
"Ini kapan di mulai acaranya?" tanya Zayden yang sudah merasa risih karena Cika selalu menempel kepadanya.
"Sekarang saja! Karena setelah makan malam ada yang mau Zeva katakan ke kalian semua," ujar Zevana dengan menatap Haidar yang seakan enggan untuk menatapnya.
Tiara dan Zidan menatap anaknya dengan dalam. Entah mengapa hati keduanya merasa teramat sedih padahal ini adalah ulang tahun anaknya. Seharusnya mereka bahagia bukan? Tetapi hati mereka kenapa malah sedih seperti ini?
"Di malam ini tepat di ulang tahun Zevana yang ke 18. Zeva hanya ingin Papa, Mama, kak Zayyen, kak Zayden, kak Cika sehat dan juga kak Haidar, papa Fahmi, mama Diana sehat. Kalian selalu bahagia walaupun Zeva sering buat kalian kesal," ujar Zevana dengan tulus menatap satu persatu wajah keluarganya.
Tiara memeluk anaknya, entah mengapa Tiara merasa dirinya tidak bisa memeluk Zevana lagi. Ada apa ini? Kenapa sejak tadi ia sangat gusar.
"Sudah jangan sedih-sedih sekarang kita rayakan ulang tahun kamu, Dek!" ujar Zayyen yang entah mengapa dadanya terasa sesak.
Zayyen mengangguk. Semua orang yang hadir termasuk Cika menyayikan lagu selamat ulang tahun untuk Zevana. Tetapi Haidar menyanyikan lagu tersebut dengan rasa malas.
"Yeee....Selamat ya, Zeva! Do'a Kakak hari ini semoga kamu bahagia dengan Haidar dan diberikan anak kembali," ujar Cika dengan bahagia memeluk Zevana.
"Do'akan Kakak juga cepat meluluhkan beruang kutub itu ya. Huh... Nanti kalau dia sudah ingat Kakak akan ngambek sama kakak kamu," ujar Cika dengan berbisik di telinga Zevana yang membuat wanita itu terkekeh dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Kakak ada kado buat kamu. Kado kami berdua sih! Semoga suka ya!" ujar Cika memberikan kado kepada Zevana.
"Mama dan papa juga ada kado buat kamu sayang. Semoga kamu sehat selalu, bahagia selalu, bisa menjadi istri yang baik untuk Haidar. Semua terbaik akan Mama dan papa do'akan untuk kamu, Sayang!" ujar Tiara dengan memeluk Zevana erat bergantian dengan Zidan.
"Anak Papa sudah dewasa!" ujar Zidan dengan mengecup puncak kepala anaknya dengan sayang.
"Do'a yang terbaik untuk kamu, Sayang!" ujar Zidan dengan mata yang penuh haru.
Anak yang begitu ia sayangi kini sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan juga sudah menjadi seorang istri. Tetapi mengapa anaknya semakin terlihat kurus? Apakah Zevana tidak bahagia? Tetapi melihat binar mata Zevana tidak mungkin Zevana tidak bahagia karena Zidan tahu selama ini Zevana sangat mencintai Haidar.
Semua bergantian memberikan kado dan mengucapkan do'a terbaik untuk Zevana. Kini, semua mata menatap ke arah Haidar yang sejak tadi diam.
Haidar menghela napasnya dengan perlahan. "Haidar selalu mendoakan Zevana yang terbaik. Untuk kado sudah Haidar siapkan dan Papa serta yang lainnya tidak boleh tahu," ujar Haidar tersenyum untuk menutupi semua kebohongannya karena Haidar tidak ada menyiapkan kado apapun untuk Zevana.
"Ternyata kamu bisa sosweet juga ya, Nak!" ujar Diana dengan terkekeh.
Zevana tersenyum untuk mengikuti sandiwara Haidar. "Kak Haidar emang suami yang sangat baik, Ma! Tapi sering kali Zeva buat dia kesal karena sifat Zeva yang masih kekanak-kanakan," ujar Zevana dengan tersenyum.
Zevana tidak mau kalau Haidar di benci keluarganya karena ia mengatakan yang sebenarnya jika Haidar sering memukulinya. Biarlah ia pendam sendiri.
"Tidak apa-apa, Sayang! Mama ngerti kamu masih sangat muda!" ujar Diana dengan tersenyum.
"Kita makan malam ya terus dansa!" ujar Zevana menatap keluarganya.
"Terus Kakak sama siapa dansanya hmmm? Ya sudah kalian dansa saja Kakak akan merekam malam bahagia ini," ujar Zayyen dengan lembut karena ia juga akan merindukan momen seperti ini karena Zayyen akan melanjutkan kuliahnya di Inggris agar ia bisa menjadi dokter spesialis jantung seperti yang Delisha inginkan waktu itu.
"Hehehe... Makanya cari istri, Kak!" ujar Zevana dengan tersenyum.
***
Tepat jam 10 malam mereka selesai merayakan ulang tahun Zevana. Kini, semuanya sudah duduk santai menunggu Zevana mengatakan sesuatu kepada mereka semua. Haidar menyeringai saat melihat wajah Zevana begitu tegang, Haidar yakin sekarang keberanian Zevana waktu itu sudah menghilang.
"Cih, wanita murahan seperti dia mana berani mengakui kesalahannya. Wanita bermuka dua!" ujar Haidar di dalam hati.
"Apa yang akan kamu katakan, Sayang?" tanya Tiara dengan lembut.
Zevana menghela napasnya dengan perlahan. "Ma, Pa, semuanya. Zeva mau mengakui sesuatu yang mungkin akan membuat kalian benci ke Zevana. Z-zeva, Zeva yang sudah menjebak kak Haidar agar tidur sama Zeva. Hiks...Zeva salah! Zeva terlalu dibutakan oleh cinta saat kak Haidar mabuk karena cintanya tidak di terima oleh Delisha saat itu Zeva memanfaatkan keadaan agar kak Haidar bisa menjadi milik Zeva. Di sini bukan kak Haidar yang brengsek tetapi Zeva yang terlalu murahan. Maafkan Zeva, Ma, Pa, Kak!" ujar Zevana dengan terisak.
Jeder....
__ADS_1
Zidan, Tiara, dan yang lainnya merasa tersambar perir dengan pengakuan Zevana.
"Apa benar semua ini Haidar?" tanya Tiara dengan bibir gemetar dan air mata yang mengalir di kedua pipinya.
"Benar, Ma! Haidar melihat CCTV di apartemen dan di club waktu itu. Kalau kalian tidak percaya kalian bisa lihat ini," ujar Haidar yang memberikan ponselnya dan memperlihatkan rekaman CCTV yang sudah ia salin.
"Mama benar-benar tidak menyangka kamu akan seperti ini, Zeva! Mama kecewa sama kamu!" ujar Tiara dengan sendu.
"Hiks... Ampun, Ma! Zeva memang salah! Zeva sudah membuat kalian malu! Zeva sudah membuat kak Haidar menderita karena pernikahan ini! Z-zeva...Zeva..."
"Apa yang kamu lakukan, Zeva? Apa yang membuat kamu berpikir murahan seperti itu, Nak?" tanya Zidan dengan hati yang teriris kecewa begitu pun dengan Zayyen dan Zayden yang tampak seperti kecewa dengan adiknya.
"K-karena Zeva... Karena Zeva sangat mencintai kak Haidar, Pa!" sahut Zevana dengan terisak.
"Maafkan, Zeva!"
"Mana dan Papa kecewa sama kamu, Zeva! Kami tidak pernah mengajarkan kamu seperti itu!" ujar Tiara dengan hati yang begitu sakit.
Zevana bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya. "Ampuni Zeva, Ma!"
Tiara terhuyung. "Mama mau pulang dulu! Mama belum bisa mencerna semuanya," ujar Tiara dengan sendu.
"Kami pamit dulu!" ujar Zidan membawa istrinya yang tampak sangat syok begitu pun dengan Zayyen, Zayden, dan Cika yang mengikuti kedua orang tuanya.
Zevana menangis terisak melihat kepergian keluarganya. Ini salahnya dan pasti sekarang keluarganya sangat membenci dirinya.
"Pa, Ma. Maafkan Zeva karena Zeva sudah menjebak anak kalian," ujar Zevana memohon ampun.
"Mama dan papa kecewa sama kamu Zeva. Tidak adakah cara lain agar tidak menjadi wanita murahan? Tapi nasi sudah menjadi bubur, kami bisa apa? Yang paling kecewa di sini adalah keluarga kamu! Kami permisi dulu! Renungkan kesalahan kamu dan untuk pernikahan kalian bisa di rundingkan mau berpisah atau tetap bertahan! Tapi jangan paksa anak Mama jika dia tidak mau bertahan dengan kamu," ujar Diana dengan raut wajah penuh kekecewaan.
Semua orang sudah pergi kini tinggal Zevana dan Haidar yang berada di dalam. Haidar menyeringai dengan tajam menatap Zevana.
"Semua orang sudah kecewa sama lo! Lo sadar gak lo menghancurkan diri lo sendiri dan gue dengan senang hati membantu kehancuran diri lo!" ujar Haidar dengan tajam.
"Oke... Ini sudah 7 hari dan besok kita sudah seperti biasa. Tangan gue sudah gatal untuk menyiksa tubuh lo lagi. Gue belum mau kita pisah karena gue belum puas menghancurkan tubuh lo yang murahan ini," ujar Haidar dengan tajam.
Haidar mendorong Zevana hingga terjatuh terduduk. Haidar menarik rambut Zevana dengan kencang. "Bereskan semua barang gak berguna lo ini! Besok pagi jika gue masih melihat apartemen gue kotor habis lo sama gue," ujar Haidar dengan tajam.
Haidar meninggalkan Zevana begitu saja. Wanita itu menangis dalam diam, hatinya hancur tak ada yang diharapkan lagi dalam hidupnya. Zevana tidak mau keluarganya bertambah malu karena memiliki anak murahan seperti dirinya. Dengan menangis Zevana mencoba membersihkan semua dekorasi yang ia buat seharian dengan susah payah. Wajahnya pucat, tetapi Zevana tidak akan menyerah untuk membuat apartemen Haidar kembali bersih.
Tepat pukul jam 1 dini hari Zevana menyelesaikan semuanya dan membuangnya di tong sampah luar agar Haidar tidak akan marah kepadanya. Dengan perasaan yang campur aduk Zevana memasuki kamar Haidar dengan perlahan, ia menatap Haidar yang ternyata sudah tertidur sejak tadi.
Dengan perlahan Zevana duduk di pinggir kasur memperhatikan wajah Haidar. "Aku pergi, Kak! Selamat tinggal! Aku pergi bukan karena aku tidak mencintai kamu lagi tapi aku sadar jika aku tetap di sini kamu akan menderita. Biarkan aku pergi dengan membawa seluruh cintaku untukmu serta membawa sesuatu yang berharga yang kamu berikan untukku. Aku tidak membencimu tapi aku membenci diriku sendiri," ujar Zevana dengan hati yang begitu sesak.
"Kak Haidar! I love you! Always love you!"
Cup....
Zevana mengecup kening Haidar dengan lembut. "Jaga diri baik-baik ya, Kak. Kamu pasti sangat senang aku pergi, kan? Semoga kamu menemukan cinta sejatimu, Kak! Aku pamit ya Kak!" ujar Zevana dengan lirih meninggalkan Haidar dengan berat hati.
Hancur!
Sedih!
Terluka!
Dan sekarang tidak punya tujuan untuk kemana?!
Haruskah Zevana mati sajasaja?
__ADS_1