
...Jangan lupa ramaikan part ini....
...Happy reading...
***
Saat ini Zayden sedang berada di kantor. Ia sedang memeriksa berkas dengan serius, ketukan pintu membuat Zayden merasa terganggu.
Tok...tok...
"Masuk!" ujar Zayden dengan dingin.
Ceklek...
Pintu terbuka, terlihat perempuan dengan rok pendek memasuki ruangan Zayden.
"Ini berkas yang Bapak inginkan!" ujar perempuan tersebut dengan bibir yang sangat merah menggoda.
"Letakkan di meja!" ujar Zayden dengan datar.
Perempuan tersebut dengan perlahan meletakkan beberapa berkas yang ia bawa di meja atasannya. Senyum wanita itu sangat menggoda tetapi Zayden sama sekali tak tertarik, hingga Zayden terkejut saat perempuan itu jatuh di atas pangkuannya.
Perempuan tersebut tersenyum. "M-maaf Pak saya tidak sengaja," ujar perempuan yang bekerja sebagai sekretaris Zayden dengan tersenyum dan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Widya, perempuan yang baru 3 bulan Zayden pekerjakan karena sekretaris dirinya yang lama sudah tidak bekerja. Tangan Widya memainkan kancing kemeja Zayden tanpa berniat untuk bangun dari pangkuan Zayden. Widya sengaja ingin menggoda Zayden. Namun, Sayang lelaki itu sama sekali tidak tergoda. Ia sangat geram dengan wanita penggoda seperti Widya.
"Ay, aku bawa mak..."
Brak...
Cika terkejut melihat Zayden sedang berduaan dengan sekretaris barunya bahkan posisi mereka sangat intim sekali. Cika menjatuhkan box nasi yang ia bawa ke lantai hingga isinya berhamburan. Cika terkejut, matanya berkaca-kaca melihat sesuatu yang di depannya.
Jadi ini maksud Zayden menyuruhnya datang ke kantor pria itu untuk melihat kemesraan Zayden dengan sekretaris barunya?
"AY!" teriak Zayden dengan keras saat Cika berlari keluar ruangannya.
"Brengs*k!" umpat Zayden dengan tajam. Ia mendorong tubuh Widya hingga jatuh ke lantai.
"Jal*ng murahan!" teriak Zayden murka.
__ADS_1
"P-pak, saya tidak sengaja!" ucap Widya menelan ludahnya dengan kasar saat melihat tatapan Zayden yang sangat berbeda dari biasanya.
"Akhhh..."
Zayden mencekik leher Widya dengan kencang hingga Widya tidak bisa bernapas, kali ini Zayden tidak akan melepaskan Widya begitu saja. Ia sudah sering melihat Widya menggodanya tetapi ini sudah keterlaluan karena membuat kekasihnya menangis dan pergi meninggalkan dirinya.
Widya kehabisan napas saat Zayden mencekiknya dengan kencang, matanya sudah melotot.
"DENGAR! SAYA TIDAK AKAN MELEPASKAN KAMU BEGITU SAJA! BERANI MENGGODA SAYA DAN MEMBUAT KEKASIH SAYA SALAH PAHAM MAKA HABIS KAMU DI TANGAN SAYA, WIDYA!" geram Zayden dengan tajam.
"Setelah saya kembali dan jika kamu masih berada di sini jangan harap nyawa kamu akan selamat!" ujar Zayden dengan tajam.
Bruk....
Zayden mendorong Widya dengan keras. Ia menendang perut Widya dengan kencang hingga perempuan itu terbatuk dan mengeluarkan darah segar dari dalam mulutnya. Zayden tak segan-segan menyakiti siapa saja yang mengganggu ketenangannya, termasuk perempuan sekali pun.
"SAYA TIDAK AKAN MEMBUAT HIDUPMU TENANG SETELAH INI JAL*NG!" teriak Zayden begitu marah. Mata pria itu memerah karena emosi.
Uhuk...uhuk...
"A-ampun P-pak! S-saya t-tidak s-sengaja," ujar Widya berusaha untuk membela dirinya tetapi Zayden sama sekali tidak peduli.
Widya sudah menganggu ketenangannya dan Zayden tak akan melepaskan wanita licik yang berada di depannya ini.
Widya begitu malu dan merasa semua badannya sakit karena amukan Zayden kepadanya. Ternyata Zayden sangat menyeramkan, lelaki itu bukan seperti lelaki di luar sana yang pernah ia kenal dan tergoda akan rayuannya.
Satpam datang dengan berlari menuju ruangan Zayden. Betapa terkejutnya mereka saar melihat keadaan Widya yang sangat mengenaskan sekali.
"Bawa wanita jal*ng ini keluar dari perusahaan saya! Jika saya masih melihat wajahnya maka kalian yang akan saya pecat!" ujar Zayden dengan tajam.
"P-pak maafkan saya! Tolong jangan pecat saya!" ucap Widya dengan memohon dalam keadaan yang sangat lemah. Ia merasa perutnya sangat sakit dan kepalanya begitu berdenyut setelah Zayden menginjak kepalanya. Zayden tak ada belas kasihan sedikit pun walaupun Widya adalah seorang wanita.
"Baik, Pak!" ucap Satpam itu dengan tegas karena perintah Zayden harus mereka segerakan.
Zayden berlalu pergi meninggalkan Widya yang sudah setengah sadar, wajahnya amat sangar saat ini dan yang ada di dalam pikirannya sekarang adalah Cika.
Zayden menghubungi Cika tetapi teleponnya sama sekali tak diangkat dan sekarang Cika mematikan ponselnya yang membuat Zayden semakin marah. Ia marah dengan Widya dan Zayden marah dengan dirinya sendiri yang tidak segera mencegah Widya dan membuat Cika salah paham.
Tangan Zayden mengepal dengan sangat erat. Ia memasuki mobilnya dan memukul stir dengan kuat.
__ADS_1
"ARGHH...." Zayden berteriak dengan kencang.
Zayden sangat kalut sekarang, hatinya merasa tak tenang karena tak menemukan Cika berada di kantornya lagi.
Zayden melajukan mobilnya dengan kencang. Tak peduli dengan keselamatannya yang terpenting ia menemukan Cika dengan segera.
****
Cika menangis tanpa suara di sebuah taman yang menjadi tempat favoritnya selama ini. Kenapa rasanya sangat sakit saat melihat Zayden sangat intim dengan perempuan lain?Apa Zayden sering melakukan itu saat tak ada dirinya? Memikirkan semua itu membuat kepala Cika pusing.
Jika dirinya tidak datang apakah Zayden akan melakukan sesuatu yang lebih dengan perempuan itu?
Nyut...
Hati Cika kembali berdenyut sakit, tangisannya kembali pecah hingga sesuatu yang dingin menempel di pipinya.
"Menangis butuh energi!" ujar Zayyen yang membuat Cika mendongak dan menatap Zayyen dengan tersenyum.
Cika mengusap air matanya dengan kasar. Ia mencoba tersenyum saat Zayyen duduk di sebelahnya. Zayyen membukakan minuman dingin yang ia beli, sebenarnya ia tak sengaja bertemu dengan Cika saat dirinya sedang bersama dengan Delisha.
Gadis itu memaksanya untuk jalan ke taman. Saat ini memang dirinya sedang libur dan Delisha juga sedang libur liburan. Saat Zayyen membelikan minuman untuk Delisha ia tak sengaja melihat Cika seorang diri di taman ini.
"Kamu kok bisa di sini?" tanya Cika dengan pelan.
"Makasih!" ucap Cika saat Zayyen memberikan minuman yang sebenarnya untuk Delisha bahkan lelaki itu membukakannya untuk Cika.
Zayyen sama sekali tak ingat Delisha yang sudah menunggunya dengan keadaan yang sudah sangat haus karena gadis itu makan banyak bakso dan telur gulung.
"Lagi jalan-jalan sendiri dan gak sengaja lihat kamu di sini," ucap Zayyen berbohong.
Cika mengangguk. Ia meminum minuman yang Zayyen berikan kepadanya.
"Mau cerita?" tanya Zayyen menatap Cika dengan dalam. Ia menghapus air mata Cika dengan lembut.
Cika merasa nyaman dengan Zayyen. Setelah terdiam gadis itu mulai bercerita tentang vapa yang ia lihat fi kantor Zayden dan Zayyen mendengarkannya dengan baik tanpa memotong pembicaraan Cika sedikit pun. Zayyen sengaja seperti itu agar Cika kembali tenang.
Tanpa di sadari keduanya Delisha melihat semuanya. Tangan gadis itu terkepal dengan erat, mata Delisha sudah berkaca-kaca tetapi Delisha berpura-pura tidak mengetahui apapun. Se-berusaha apa Delisha untuk berpikir positif tetap saja hatinya terluka saat tatapan Zayyen begitu lembut kepada kakak sepupunya.
Delisha merasakan tangan kekar menutup kedua matanya.
__ADS_1
"Jangan melihat sesuatu yang membuat hati kamu sakit!" gumam seseorang yang sangat Delisha kenali.
"Kak Ikbal!"