Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 247 (Kebahagiaan Delisha & Ikbal)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


***


Ikbal dan Delisha baru saja pulang dari rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Delisha. Dan mereka sangat bahagia ketika anak yang di kandung Delisha ternyata kembar, penantian 5 tahun mereka akhirnya tidak sia-sia.


"Dedek bayi ini Papi, Sayang. Lagi apa sih di perut Mami?" tanya Ikbal dengan sedikit melororkan celana Delisha dan menaikan baju Delisha agar ia leluasa menciumi perut Delisha yang masih datar itu.


"Lagi tidur di perut Mami, Pi!" jawab Delisha dengan menirukan suara anak kecil yang membuat Ikbal terkekeh.


"Gak nyangka banget kalau kamu hamil kembar tiga, Sayang. perut kamu yang kecil seperti ini kok bisa ya nampung anak kita? Mereka gak kesempitan ya?" tanya Ikbal dengan konyolnya yang membuat Delisha terkekeh.


Delisha mengelus rambut suaminya ketika Ikbal terus menciumi perutnya dengan gemas.


"Muach...muach...muachh... Anak-anak kesayangan Papi, Mami nih!" ujar Ikbal dengan sangat bahagia.


"Hehe... Geli Mas!" ujar Delisha dengan terkekeh saat Ikbal terus menciumi perutnya dengan gemas.


"Mami sama mama minta kita nginap di rumahnya biar ada yang jagain kamu, Sayang. Kamu mau menginap di rumahnya siapa dulu?" tanya Ikbal memeluk istrinya dengan lembut.


"Di rumah Mami dulu boleh gak, Mas? Papi lagi sakit Delisha mau temani Papi," ujar Delisha yang membuat Ikbal tersenyum.


"Boleh dong, Sayang. Nanti biar Mas yang ngomong sama Mama kalau kita menginap di rumah Mami dulu," ujar Ikbal dengan lembut.


"Yeee... Terima kasih suami tampanku! Muach...muach..." Delisha dengan gemas menciumi wajah suaminya yang membuat Ikbal terkekeh.


"Minum susu dulu ya! Sayang mau minum rasa apa?" tanya Ikbal dengan lembut.


"Apa ya? Coklat saja deh, Mas!" ujar Delisha dengan lembut.


"Mas buatkan dulu ya. Duduk di sini jangan kemana-mana," ujar Ikbal mencium kening istrinya.


"Iya, Mas!" ujar Delisha dengan tersenyum melihat kepergian suaminya untuk membuatkan susu hamil untuk dirinya.


"Lihat, Sayang. Papi kamu sangat perhatian sekali. Sehat-sehat ya di dalam perut Mami," gumam Delisha dengan mengelus perutnya lembut.


Tak lama Ikbal sudah kembali dengan segelas susu hangat untuk Delisha. Ikbal tersenyum menatap istrinya. "Susunya harus dihabiskan karena ini buatnya dengan sepenuh hati," ujar Ikbal.


"Terima kasih, Papi!" ucap Delisha dengan terkekeh.


"Sama-sama Mami!" sahut Ikbal dengan lembut.


Delisha meminum susu buatan suaminya dengan pelan hingga susu itu tak lagi tersisa di dalam gelas.


"Enak banget," ujar Delisha.


"Sebentar lagi kita ke rumah Papi sama Mami ya. Mas belum puas cium perut kamu," ujar Ikbal dengan berbaring di atas paha Delisha yang menjadi bantalnya.

__ADS_1


"Iya, Mas!" ujar Delisha dengan terkekeh.


Ikbal menatap perut Delisha dengan rasa tak percayanya. Bagaimana bisa nanti istrinya membawa tiga anak sekaligus, pasti perut Delisha akan sangat lucu sekali. Membayangkan itu membuat Ikbal terkekeh sendiri dan Delisha menatap suaminya dengan bingung.


"Kenapa sih Mas? Semenjak aku hamil kamu tuh kadang senyum-senyum sendiri, terkekeh sendiri," ujar Delisha dengan heran.


"Aku bayangin perut kamu besar, Sayang. Pasti sangat lucu dan menggemaskan. Jadi gak sabar dedek bayi keluar. Kapan ya keluarnya?" tanya Ikbal dengan menautkan jemari Delisha dengan jemarinya.


"Kurang lebih 7 bulan lagi, Mas. Kan kata pakde Fathan usia kandungan aku ternyata sudah dua bulan," ujar Delisha dengan terharu.


"Iya, Sayang. Pokoknya kamu gak boleh capek-capek ya, kalau butuh apa-apa langsung panggil pelayan. Rumah Papi sama kak Dareel dekat langsung telepon mereka kalau memang Mas tidak ada di rumah," ujar Ikbal dengan tegas.


"Iya suamiku!"


***


"Ya ampun ibu hamil satu ini. Sombong sekali ternyata, kakaknya datang tidak dilihat," ujar Dareel dengan menggelengkan kepalanya saat ia baru saja datang ke rumah kedua orang tuanya bersama Mikaela dan Deon.


Delisha malah asyik dengan makanan ringan yang ada di toples bahkan isinya tinggal setengah.


Betapa bahagianya Dareel saat mendapatkan kabar jika sang adik sedang hamil, Dareel yang saat itu masih tidak ada di rumah ingin segera sampai rumah dan ketika sudah berada di rumah Dareel tidak sabar ingin bertemu dengan adiknya.


Delisha terkekeh saat kakak ketiganya menggendong dirinya.


"Reel, anak gue di dalam itu!" teriak Ikbal waspada.


"Pelit amat lo! Gue juga mau nyapa keponakan gue," ujar Dareel dengan mendengkus kesal melihat keposesifan sahabatnya kepada Delisha.


"Mana ada seperti itu. Anak kalian kembar?" tanya Dareel dengan berbinar.


"Lebih tepatnya kembar tiga, Kak!"


"Wah Deon mau punya sepupu sekaligus tiga. Senang gak Deon?" tanya Dareel dengan terkekeh.


"Yah gak asyik ah. Nanti mainan Deon diambil mereka lagi. Beban hidup Deon tambah banyak," keluh Deon.


"Eh kerjaan kamu cuma makan sama ngabisin duit Papi bilang beban kamu banyak lagi," ujar Dareel dengan kesal.


"Wah Papi perhitungan sama anak. Deon cuma beli mainan uangnya gak bakal habis," ujar Deon dengan kesal.


"Tante, kalau Tante punya anak sendiri masih sayang kan sama Deon? Masih mau kasih Deon mainan gratis, kan?" tanya Deon mendekati Delisha dan juga Ikbal.


"Ya ampun Deon. Kamu itu tetap keponakan kesayangan Tante dan Om," ujar Delisha dengan terkekeh melihat Deon merajuk seperti ini.


"Kak Mika kapan nyusul anak kedua?" tanya Delisha kepada kakak iparnya.


"Ini lagi program Delisha. Kakak kamu tuh yang gak sabaran banget, padahal Kakak maunya biar Deon SD dulu," sahut Mikaela.


"Biar sekalian, Sayang!" ucap Dareel dengan entengnya.

__ADS_1


"Deon gak mau punya adik! Papi gak ngerti ih!" ujar Deon dengan bersilang dada.


"Papi maunya punya anak banyak kamu bisa apa?" ejek Dareel kepada anaknya.


"Seharusnya beban hidup Deon itu cuma Papi jangan tambahin lagi," ujar Deon yang membuat Dareel gregetan.


"Papi Ikat kamu di sayap pesawat lama-lama, Deon. Ngeselin banget jadi anak," ujar Dareel dengan kesal.


"Papi yang ngeselin jadi Papi!" ujar Deon.


"Kalian ini kalau bertemu selalu ribut mulu. Deon masih di dalam perut Mikaela kamu ajak ribut juga Dareel dan sekarang Deon sudah sebesar ini kamu tetap gak bisa mengalah sama anak. Astaga, Dareel!" ujar Akbar dengan menggelengkan kepalanya.


"Kasihan dimarahi grandpa! Saat ini Deon cucu kesayangan grandpa, Papi jangan macam-macam sama Deon!"


"Dih bentar lagi juga ada saingannya," ujar Dareel tak mau kalah.


"Mami, Papi nih! Nanti jangan kasih tidur sama Mami ya!" ujar Deon yang membuat Dareel melotot.


"Enak saja kamu. Mami istri Papi!"


"Mami, ibu Deon. Wlekkk..."


Delisha tertawa melihat kakaknya selalu adu mulut dengan Deon. Delisha merasa ada hiburan tersendiri ketika Deon ada bersama dengan kakaknya.


"Sayang buat anak satu lagi yuk. Biar mainan Deon ada yang ambil!"


"Huwaaaa... Papiiii! Mainan Deon gak boleh ada yang pegang!"


"Hahaha..."


****


"Mas!" panggil Delisha dengan lirih.


Ini sudah larut malam dan Delisha terbangun karena menginginkan sesuatu. Ikbal berusaha bangun saat mendengar suara istrinya memanggil dirinya, takut Delisha menginginkan sesuatu dan ia tak kunjung bangun dari tidurnya.


"Iya, Sayang. Mau apa hmm?" tanya Ikbal melihat jam dinding di kamar mereka tepatnya kamar Delisha sewaktu masih gadis dulu.


"Aku pengin sate!" ujar Delisha dengan lirih.


"Ini sudah jam 2 apa ada orang jualan sate jam segini ya? Tapi mungkin masih ada biar Mas pergi cari ya," ujar Ikbal dengan mata yang masih amat mengantuk tetapi demi istrinya Ikbal akan mencari sate keinginan Delisha.


"Pengin banget makan sate ya, Sayang?" tanya Ikbal dengan tersenyum.


"Sebentar Mas cuci muka dulu terus langsung cari satenya," ujar Ikbal.


"Buat sendiri saja, Mas. Delisha tadi lihat di kulkas ada daging ayam. Ayo buat saja," ujar Delisha dengan merengek.


Ikbal terkekeh. "Iya bumilku. Ayo kita buat," ujar Ikbal dengan tersenyum.

__ADS_1


Sebisa mungkin Ikbal mengabulkan keinginan istrinya di saat mengidam seperti ini karena hal seperti ini sudah sangat ia nantikan dari dulu.


__ADS_2