Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 263 (Ngidamnya Delisha)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...📌Dukung juga novel terbaru author 'Suami Bayaran Nona Rania'...



...*...


...*...


...Happy reading...


***


Tomi sedang duduk bersama dengan Daniel dan Ikbal. Saat ini Naura sudah tinggal bersama dengan Tomi dan Claudia setelah pulang dari rumah sakit kemarin.


"Gimana dengan Iwan?" tanya Tomi kepada Ikbal dan Daniel.


Keduanya menyeringai dengan saling menatap satu sama lain. "Para investor sudah tidak mau bekerjasama sama dengan Iwan, Pa!" jawab Ikbal dengan tenang.


Tomi terkekeh. "Perusahaan kecil seperti milik Iwan bisa saja Papa gulingkan sekarang juga tapi Papa mau melihat bagaimana perlakuan Iwan kepada Jesica karena pusing yang ia derita. Menekan mereka sepertinya sangat menyenangkan sekali," ujar Tomi dengan tersenyum.


"Benar, Om! Saya dengar juga karyawan yang sangat Iwan percaya menggelapkan uang perusahaan dan membawa kabur uang tersebut setelah perusahaan Iwan terancam bangkrut. Bukan terancam lagi sih tapi lebih tepatnya memang sudah bangkrut. Kita lihat saja bagaimana usaha Iwan untuk memulihkan perusahaannya," ujar Daniel dengan tersenyum tipis.


"Sulit, Niel! Apalagi istri dan kedua anaknya sangat suka berbelanja," ujar Tomi dengan terkekeh.


"Lagian Papa kenapa bisa menikah dengan wanita seperti tante Jesica?" tanya Ikbal dengan datar.


Tomi menghela napasnya dengan pelan. "Itu masalalu Papa jangan dibahas lagi, Bal! Kita sudah berdamai," ujar Tomi dengan pelan.


"Iya-iya," jawab Ikbal dengan cuek.


Ternyata benar kebangkrutan yang Iwan alami adalah campur tangan Tomi, Ikbal dan Daniel. Ketiganya tidak akan membiarkan Jesica berbahagia bersama dengan Iwan karena telah menelantarkan Naura begitu saja. Ibu macam apa yang bisa berfoya-foya saat anaknya menderita bahkan saat Naura meminta uang 200 ribu saja tidak diberikan, sungguh ketiganya sangat emosi sekarang.


"Mas Ikbal!" rengek Delisha menghampiri suami, kakak, serta mertuanya.


Ikbal langsung menatap Delisha dengan lembut. "Kenapa, Sayang?" tanya Ikbal dengan pelan.


"Kamu mau apa, Dek?" tanya Daniel dengan sigap.


"Delisha mau ketemu kak Sandy dan kak Angga! Mereka sekarang sombong ih," ujar Delisha dengan tiba-tiba.


Ikbal menatap was-was ke arah istrinya. "Mau ngapain ketemu mereka, Sayang?" tanya Ikbal dengan menahan rasa kesalnya.

__ADS_1


"Delisha cuma mau cubit kak Angga dan kak Sandy. Boleh ya, Mas! Mau cubit sedikit saja," ujar Delisha dengan merengek.


Daniel terkekeh. "Kamu mau ketemu mereka bukan karena kangen tapi mau cubit mereka, Dek? Astaga... Hahahaha... Kalau mereka tahu pasti mereka gak mau datang," ujar Daniel yang membuat Tomi tertawa, ada-ada saja tingkah menantunya saat sedang hamil.


"Papa jangan ketawain Delisha, Ih! Ini kemauan ketiga cucu Papa tahu!" ujar Delisha dengan mengerucutkan bibirnya.


"Iya-iya, Nak. Papa gak ketawa lagi tapi kamu itu semenjak hamil semakin lucu Papa gemas sekali," ujar Tomi dengan menghentikan tawanya agar Delisha tidak ngambek.


"Papa, Ini istri Ikbal kalau mau gemas sama mama saja!" ujar Ikbal dengan cemburu.


"Cemburuan sekali kamu, Bal!" ujar Tomi dengan menggelengkan kepalanya.


Daniel terkekeh. "Sini peluk Kakak sebentar!" pinta Daniel yang sangat merindukan adiknya.


Delisha masuk kepelukan Daniel dengan senang hati. "Delisha senang deh Kakak akhirnya baikan sama Naura. Kan jadinya Delisha sekarang punya tiga kakak ipar yang cantik-cantik," ujar Delisha dengan tersenyum.


Daniel mengusap perut adiknya dengan lembut dan mencium kening Delisha dengan sayang yang membuat Ikbal sangat cemburu.


"Kak bisa gak sih lo gak cium-cium Delisha! Gak lo, gak Danish, gak Dareel, selalu buat gue cemburu!" ujar Ikbal dengan kesal.


"Sayang jangan lama-lama peluk kak Daniel mending peluk Mas saja sini," ujar Ikbal dengan memelas.


"Delisha adek gue, Bal! Sekarang yang sering sama Delisha itu lo, suaminya. Gue sudah gak pernah tidur bareng adek kesayangan gue lagi semenjak dia nikah. Jadi, wajarlah gue cium sama peluk dia," ujar Daniel dengan sorot mata penuh kerinduan terhadap sang adik. Rindu dengan kebersamaan mereka seperti dulu.


"Hiks..hiks..Kakak, maafin Delisha!" ujar Delisha dengan menangis.


"Eh Dek. Kakak gak bermaksud buat kamu sedih," ujar Daniel merasa bersalah.


"Sekarang Delisha sedang sensitif, Kak. Lo tahu sendiri dia sedang hamil anak kembar," ujar Ikbal mencoba menenangkan sang istri.


"Sayang, kamu itu gak salah. Kak Daniel cuma kangen sama kamu. Jangan nangis lagi ya. Kita telepon kak Sandy sama kak Angga mau?" bujuk Ikbal dengan lembut.


Delisha menghapus air matanya dengan cepat. "Mau! Jangan bilang Delisha mau cubit mereka ya, Mas! Nanti mereka gak mau datang," ujar Delisha dengan sesegukan yang membuat Daniel merasa bersalah.


"Jangan nangis lagi ya! Nanti Kakak belikan sesuatu biar kamu bahagia lagi," ujar Daniel mengusap pipi Delisha dengan sayang.


"Iya, Kak!" ujar Delisha dengan tersenyum.


"Ayo telepon kak Sandy sama kak Angga cepat, Mas!" rengek Delisha yang membuat Ikbal langsung mengambil ponselnya yang berada di saku celananya.


"Iya sebentar, Sayang!" ujar Ikbal mencari kontak kedua sahabatnya yang memang sekarang sibuk dengan bisnis mereka masing-masing.


Untuk Naura sedang berada di dalam kamar bersama dengan Claudia dan juga Aldo, sebenarnya Delisha juga ada di sana. Namun, karena keinginannya harus segera terwujud akhirnya Delisha memilih keluar menemui suaminya.

__ADS_1


****


"AARGHHH...SAKIITTTT DELISHA!!"


"INI GIGI ATAU APAAN SIH. SAKIT TAHU!"


Angga dan Sandy berteriak dengan keras saat Delisha menggigit tangan mereka secara bergantian. Baru juga datang sudah dibuat menderita oleh bumil satu ini.


"Jangan teriak-teriak, Kak! Nanti anak Delisha kaget tahu!" protes Delisha saat sudah selesai menggigit Sandy dan Angga.


Awalnya Delisha hanya ingin mencubit keduanya tetapi setelah melihat kedatangan mereka entah mengapa Delisha ingin sekali menggigit tangan Sandy dan juga Angga.


"Anak jombi kali pakai gigit-gigit segala," ujar Angga mengusap tangannya yang sudah ada cap gigi Delisha.


"Om gak kasihan sama ketiga keponakan om ya? Mereka hanya ingin menyapa om-nya tahu!" ujar Delisha dengan raut wajah tak bersalah.


"Makhluk di muka bumi ini yang paling menakutkan adalah wanita hamil!" ujar Sandy dengan bergidik ngeri.


"Menyapa sih menyapa tapi gak usah gigit segala kali pakai ninggalin cap gigi lagi!" ujar Angga dengan menggerutu.


"Badannya besar! Tangannya kecil, gigi bertaring kalau menggigit rasanya sakit sekali. Bumil, bumil, bumil namanya!" ujar Angga dengan bernyanyi menirukan nyanyi yang lagi viral sekarang.


Delisha cemberut mendengar Angga bernyanyi dan menyindir dirinya.


"Mas, badan Delisha sudah besar ya? Delisha gak cantik lagi ya?" tanya Delisha dengan sendu.


"Ayo loh, Angga! Bumil nangis!" ujar Sandy dengan terkekeh.


"Ihhh Delisha kesal lihat muka kak Angga sama kak Sandy!" ujar Delisha dengan kesal.


"Eh gak boleh kesal-kesal sama kami berdua, Delisha. Kami sudah bela-belain datang ke sini, kami pikir mau di kasih makanan enak tahunya di gigit. Sakit tahu!" ujar Sandy dengan memelas.


"Nanti kembar mirip kami berdua loh!"


"AMIT-AMIT!" ujar Ikbal dengan keras mengusap perut Delisha.


"Jangan mirip kedua om kamu yang jelek itu ya, Sayang. Mirip sama Papi sama Mami saja ya," ujar Ikbal mengelus perut Delisha dan mengajak anaknya berbicara.


"Biasanya gitu loh, Bal! Bumil yang benci seseorang anaknya akan mirip dengan seseorang tersebut," ujar Angga dengan sok bijak.


"Gak ada begituan!" jawab Ikbal dengan dingin.


"Gak mau! Delisha gak mau ketiga anak Delisha mirip kak Angga sama kak Sandy! Delisha buatnya sama Mas Ikbal!" ujar Delisha dengan polosnya yang membuat Sandy dan Angga melongo.

__ADS_1


"JOMBLO DIAM SAJA DEH! GAK BAIK BUAT KESEHATAN!"


__ADS_2