
...๐ Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...๐ Author peringatkan untuk siapkan tisu ya๐...
...๐Jangan lupa ramaikan novel terbaru author ya. "Suami Bayaran Nona Rania"...
...*...
...*...
...Happy reading...
****
Ruangan Akbar dan Delisha sudah di satukan bahkan Delisha tak mau lepas dari cinta pertamanya tersebut. Delisha selalu menempel dengan Akbar bahkan dirinya meminta ranjang yang besar agar ia bisa tertidur dengan papinya. Kali ini Ikbal mengalah karena ia tahu bagaimana ketakutan Delisha ditinggalkan oleh Akbar.
"Papi, Delisha sayang banget sama Papi!" gumam Delisha memeluk Akbar dengan erat bahkan ia tak mau melepaskan pelukannya sama sekali.
"Papi juga sayang banget sama princess! Sekarang ada dua princess kesayangan Papi!" ujar Akbar dengan tersenyum mengecup kening Delisha dengan pelan.
"Papi bangga gak sama Delisha? Delisha sudah jadi mami dengan tiga anak loh, Pi! Cucu Papi sekarang ada empat," ujar Delisha yang terus bercerita mengabaikan semua keluarganya yang sudah duduk di sofa menunggu dirinya dan Akbar. Keduanya asyik mengobrol tanpa mempedulikan orang-orang di ruangan itu.
"Bangga banget. Dulu Delisha masih kecil Papi gendong ke sana ke mari sekarang sudah jadi mami. Anak Papi hebat banget sama seperti mami kamu. Tapi bagi Papi kamu tetap anak kecil Papi," ujar Akbar dengan tersenyum.
Delisha tersenyum bahagia. "Nanti Papi juga main sama anak Delisha ya! Mereka pasti senang main sama grandpa! Bukan anak Delisha saja sih tapi anak kak Dareel, kak Danish dan kak Daniel. Nanti cucu Papi makin banyak," ujar Delisha yang terus membayangkan kebersamaan keluarganya.
"Sayang, Papi capek!" ujar Akbar dengan pelan.
"Papi beneran capek ya? Papi gak mau melihat cucu Papi bertumbuh dewasa ya? Kenapa dulu Papi gak ketemu Mami lebih awal sih? Kalau lebih awalkan kebersamaan kita lebih lama, Pi!" ujar Delisha dengan pelan yang membuat senyum terbit di bibir pucat Akbar.
Ya memang kisah Akbar dan Fiona dipertemukan saat Akbar sudah menjadi duda dan usianya tak lagi muda. Tapi Akbar bersyukur karena masih bisa bertahan sejauh ini, melihat anak-anaknya bahagia adalah kebahagiaan bagi Akbar juga.
Perkataan Delisha membuat hati Fiona, Ikbal, dan kakak-kakak Delisha menjadi tersayat. Mereka mendekat ke arah Akbar dan Delisha dengan perlahan.
"Papi sudah boleh istirahat, kan? Dari tadi kamu sudah peluk Papi, Nak!" ujar Akbar dengan suara yang melemah.
Air mata Delisha mengalir dengan mudahnya. Ia menyeka air matanya dengan begitu kasar dan mencoba tersenyum di hadapan Papi. Ya, Delisha dan yang lainnya mencoba untuk ikhlas.
__ADS_1
"Hiks....I-iya Papi boleh istirahat kok!" ujar Delisha dengan terisak pelan.
"Pi..."
"Jaga mami kalian dan adek kalian dengan baik ya!" ujar Akbar kepada Danish, Daniel, dan Dareel.
Ketiganya mengangguk dengan lirih. Sesak yang menghimpit dadanya mencoba mereka tahan.
"Grandpa harus sembuh ya! Deon mau main sama Grandpa!" ujar Deon dengan lirih.
Akbar hanya bisa tersenyum dengan tangan menggenggam tangan Fiona seakan mengatakan jika ia sangat mencintai Fiona. Napas Akbar mulai tidak teratur, Danish menuntun papinya dengan berbisik di telinga Akbar. Hingga perlahan mata Akbar terpejam dengan genggaman tangannya yang mulai melemas.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun!"
"PAPI!!!"
"Arghhh.....Delisha sayang papi! Delisha mohon buka matanya, Pi!" teriak Delisha dengan keras.
Ikbal dengan sigap memeluk istrinya. "Yang tenang, Sayang! Papi sudah gak sakit lagi," bisik Ikbal dengan suara bergetar.
Tubuh Fiona lemas seketika. "Mas!" gumam Fiona dengan lirih.
Dokter datang setelah Daniel memanggil, dan benar saja Akbar sudah menghembuskan napas terakhirnya setelah banyak bercerita dengan putri kesayangannya. Setelah memberikan kenangan yang sangat indah dan tidak bisa di lupakan oleh Delisha nantinya.
Tentu saja hati Delisha sangat begitu sakit melihat cinta pertamanya telah pergi meninggalkan dirinya. Seseorang yang selalu pasang badan ketika dirinya terluka, seseorang yang dulu selalu menguatkan dirinya ketika Delisha sudah pasrah dengan penyakitnya, sosok papi yang sangat takut kehilangan anak perempuannya. Kini, telah pergi meninggalkan istri dan anak-anaknya di usia yang memang sudah tak lagi muda. Tugasnya untuk menjaga istri dan anak-anaknya sudah selesai, tubuhnya sudah berada di kehidupan keabadian sebenarnya, walaupun kepergiannya meninggalkan luka yang sangat mendalam.
Bergantian Fiona, Danish, Daniel, Dareel, dan Delisha mengecup kening Akbar yang tubuhnya sangat terasa dingin sekarang.
"Selamat jalan, Pi. Selamat jalan lelaki terhebat Fiona dan Delisha. Always we love you, Papi! Tenang di sana ya!"
****
Kabar meninggalnya Akbar Mahendra sudah terdengar di keluarga Zidan mereka langsung menuju ke kediaman Akbar setelah memastikan jika jenazah Akbar sudah di bawa pulang ke rumahnya.
Zayyen terdiam di samping Anggun dengan pikiran yang terus memikirkan perasaan Delisha. Bagaimana dengan Delisha? Pasti wanita itu sangat terpukul apalagi Delisha sedang hamil. Zayyen mengkhawatirkan kesehatan Delisha dan itu sangat kentara terlihat di mata Anggun.
"Sebaik apapun mas Zayyen kepadaku tetap saja cintanya hanya untuk Delisha," gumam Anggun melirik ke arah Zayyen yang sedang menyetir.
Rumah mewah Akbar sudah ramai dengan para pelayat yang datang, banyak karangan bunga berjejer di halaman rumah Akbar sampai memenuhi pinggir-pinggir jalan.
__ADS_1
Keluarga Mahendra dan Samudra yang paling kehilangan menangis tanpa suara. Bahkan pemandangan yang paling sakit adalah melihat Fiona dan Delisha saling memeluk jasad Akbar di sisi kanan dan kiri, mata mereka tidak lagi mengeluarkan air mata tetapi terlihat sekali jika mereka terus menerus menangis akibatnya mata mereka membengkak.
Ketiga anak Delisha masih berada di rumah sakit dalam perawatan dokter. Tetapi Delisha memaksa untuk pulang ke rumah, ia ingin mengantarkan papinya ke peristirahatan terakhirnya.
Zidan menepuk punggung Fathan dengan pelan. "Turut berduka cita," gumam Zidan dengan pelan.
"Makasih!" jawab Fathan dengan singkat.
"Sebenarnya Akbar sakit apa?" tanya Zidan dengan pelan yang membuat Zayyen mendengarkan dengan serius.
"Sakitnya mendadak, Zid! Awal hanya demam biasanya sampai pada akhirnya di bawa ke rumah sakit dalam keadaan yang sudah lemah, kaki sudah tidak bisa digerakkan dan terjadi pembengkakan di jantungnya," jawab Fathan dengan pelan.
"Delisha..." Fathan melihat ke arah Zayyen.
"Delisha baru saja melahirkan kemarin karena ketubannya pecah. Sekarang perasaannya masih terpukul makanya Delisha seperti itu. Saat ini Delisha sudah ikhlas dengan kepergian papinya. Dia cuma minta memeluk papinya sebelum jasadnya di kuburkan," ujar Fathan dengan pelan tetapi rasa sakitnya sampai di hati Zayyen.
"Kamu wanita kuat!" gumam Zayyen di dalam hati melihat ke arah Delisha.
***
Delisha memeluk suaminya dengan erat saat melihat papinya mulai di timbun dengan tanah. Ikbal mengecup kening Delisha dengan penuh sayang.
"Ikhlas ya, Sayang!" gumam Ikbal yang di angguki oleh Delisha tetapi hatinya tak sanggup ketika melihat tanah mulai menutupi jasad papinya.
Begitu juga dengan Fiona. Ia di peluk dengan Fathan begitu erat, sedangkan ketiga anaknya masuk ke dalam liang lahat Akbar. "Kak suami Fio..."
"Sstt... Tenang ya! Akbar sudah tenang di sana, Dek. Akbar gak mau kamu sedih," ujar Fathan dengan lirih.
Akbar sudah selesai di kuburkan. Makamnya sudah di taburi bunga mawar yang sangat indah.
Delisha mencium nisan Akbar untuk terakhir kalinya setelah pembacaan do'a selesai dan semua orang sudah berjalan pulang. Kini, tinggal keluarga Mahendra dan Samudra yang masih tetap tinggal.
"Pi, Delisha sudah ikhlas sekarang! Delisha gak nangis lagi, Pi!"
"Mas kami pulang ya! Yang tenang di sana ya, jika sudah waktunya tiba maka kita akan bersama kembali," ujar Fiona dengan lirih.
"Pi, Papi bahagia di sana ya! Danish, Daniel, dan Dareel akan menjaga Mami dan Delisha dengan baik."
"Kami bangga punya Papi!"
__ADS_1