Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 82 (Penyesalan Zayyen)


__ADS_3

...Jangan lupa ramainkan part ini ya....


...Happy reading...


****


Zidan memasuki ruangan Tiara dengan perlahan. Ia tersenyum saat melihat Tiara tertidur saat jam istirahat, akhir-akhir ini ia melihat wajah lelah Tiara yang membuat Zidan mencemaskan kesehatan calon istrinya.


"Ay..." panggil Zidan dengan lembut.


Tiara membuka matanya dengan perlahan, matanya terlihat sayu dengan lingkar mata yang menghitam.


"Aku capek banget habis operasi pasien, Mas!" gumam Tiara dengan lirih.


Zidan mendekat ke arah Tiara dengan perlahan ia menggendong Tiara menuju sofa panjang agar Tiara rileks. Tiara bersandar di dada bidang Zidan dengan memejamkan matanya mencari kenyaman dari setiap elusan tangan Zidan di punggungnya.


"Ibu dan ayah meminta pernikahan kita segera dipercepat, Ay. Kamu gimana?" tanya Zidan dengan pelan menunduk menatap wajah cantik Tiara.


"Mas urus saja semuanya," gumam Tiara dengan pelan.


Zidan tersenyum mengelus pipi Tiara. "Ini pernikahan kita berdua, Ay. Aku maunya kita saling terlibat satu sama lain, pernikahan ini adalah sesuatu yang sakral. Mas gak mau gagal lagi," ucap Zidan dengan tegas.


Tiara membuka matanya, ia membenarkan posisi duduknya. "Boleh seminggu lagi kita urus Mas? Aku beneran capek banget rasanya aku ingin tidur panjang tanpa ada yang menggangguku," ujar Tiara dengan pelan.


Zidan menautkan kedua alisnya, kata-kata Tiara membuat hati Zidan tak tenang, terdengar ambigu di telinganya. "Kamu ini ngomong sembarangan! Kalau capek silahkan tidur, Sayang. Setelah itu bangun pasti badan kamu fresh lagi," ucap Zidan dengan lembut.


Tiara mengangguk, ia menatap Zidan dengan dalam dan mengelus rahang Zidan dengan lembut. "Aku sayang kamu, Mas!" gumam Tiara dengan tulus.


Deg...


Zidan mematung mendengar ucapan Tiara. Setelah sekian lama akhirnya Tiara kembali mengucapkan kalimat yang dulu sering Tiara katakan kepadanya.


"C-coba katakan sekali lagi, Ay!" pinta Zidan dengan bergetar.


"Aku sayang kamu, Mas!" ulang Tiara sesuai yang diinginkan Zidan.


Zidan memeluk Tiara dengan erat dan mengecup puncak kepala Tiara dengan bertubi-tubi. "Aku juga sayang kamu, Ay. Sayang banget!" gumam Zidan dengan bahagia.


"Udah dulu pelukannya, Mas! Kita harus menjemput dua jagoan kita di sekolahnya," ujar Tiara dengan merengek manja.


Zidan bahagia dengan perubahan sifat Tiara yang perlahan mulai lembut kembali.


Cup...


Zidan menangkup wajah Tiara dengan kedua tangannya dan mengecup bibir Tiara sekilas.


"Sebentar lagi ada pasien yang akan melahirkan, Sayang. Mas gak bisa jemput mereka kali ini. Maaf ya, Ay. Kamu bisa jemput mereka sendiri? Atau gak Mas telepon ayah dan ibu suruh jemput mereka ya, Mas gak tega melihat kamu kelelahan seperti ini," ucap Zidan dengan lembut.


"Aku bisa jemput mereka sendiri, Mas. Biar aku bisa dekat dengan mereka, terutama Zayyen yang belum bisa menerima aku sepenuhnya. Aku ingin menciptakan memori indah bersama mereka," ujar Tiara dengan binar bahagia.


"Yakin?" tanya Zidan memastikan. Entah mengapa ia terlihat berat melepas Tiara pergi sendiri kali ini.


"Iya, Mas. Jangan khawatir aku bisa menjaga diriku sendiri. Sampai bertemu lagi calon suami," ucap Tiara mengecup pipi Zidan.


Zidan mematung mendapatkan hal istimewa itu kembali dari Tiara. Hatinya membuncah karena rasa bahagia.


"Bawa anak-anak kita ke rumah sakit ya calon istri. I love you!" ucap Zidan memegang pipinya yang tiba-tiba memerah karena dicium dan mendapatkan panggilan cinta dari Tiara.


Tiara terkekeh dan menganggukkan kepalanya, lalu keduanya berbarengan keluar dari ruangan Tiara. Tiara melambaikan tangannya ke arah Zidan tetapi entah mengapa ia tidak suka dengan lambaian tangan Tiara yang seakan mengatakan sebuah perpisahan kepadanya.


"Kenapa dengan hari ini? Tiara? Semuanya terlihat berat sekali saat melihat Tiara melangkah keluar rumah sakit," gumam Zidan dengan gelisah. Tetapi Zidan berusaha menepis rasa gelisah dan pikiran buruknya, ia tak mau berakibat fatal untuk pasien ia nantinya.


"Tidak akan terjadi apa-apa Zidan!" gumam Zidan meyakinkan dirinya sendiri.


****

__ADS_1


"Zayyen!" panggil Barra dengan senang akhirnya ia bisa menemui Zayyen sebelum Tiara duluan yang datang.


"Papa!" Zayyen berlari ke arah Barra dan memeluk lelaki itu dengan erat.


Barra membalas pelukan Zayyen tak kalah eratnya.


"Lepaskan kakakku!" teriak Zayden dengan marah.


"Kakak gak boleh bertemu dengan orang ini lagi. Dia jahat, Kak!" ucap Zayden dengan keras.


"Dia papaku bukan orang jahat!" ucap Zayyen dengan dingin.


"Dia mau memisahkan Kakak dari Mama! Kakak menjauh dari om itu!" ucap Zayden dengan tegas.


Zayden tidak suka dengan Barra. Entah mengapa ia menganggap Barra adalah orang yang sangat berbahaya bagi keluarganya.


"Zayyen, ayo ikut Papa!" ucap Barra tanpa mempedulikan Zayden yang menatapnya dengan nyalang, walau sebenarnya ia kesal dengan Zayden. Barra mengabaikan Zayden karena fokusnya adalah Zayyen agar mau kembali bersama dengan dirinya.


"T-tapi..."


"Mama sakit! Mama butuh Zayyen!" sela Barra dengan cepat.


"Mama sakit? Zayyen mau bertemu dengan Mama!" ucap Zayyen dengan cepat.


Barra menggendong Zayyen dengan cepat akhirnya tanpa bersusah payah ia mendapatkan Zayyen kembali.


"Kakak gak boleh pergi! Sebentar lagi Mama datang!" ucap Zayden dengan panik tetapi Zayyen sama sekali tak mendengarkan ucapan kembarannya.


Barra menggendong Zayyen dengan cepat. Ia membawa Zayyen ke mobilnya, sedangkan Zayden mengejar mereka.


"Zayden tunggu!" ucap Cika dengan keras karena sejak tadi ia diam bingung mendengar percakapan ketiga orang di depannya.


"Orang itu akan membawa kakakku pergi. Aku harus mengejarnya!" ucap Zayden dengan panik.


Zayden menghampiri mamanya. "Ma, Zayden sudah mencegah kak Zayyen tapi kakak gak mau mendengarkan Zayden!" ujar Zayden dengan sendu.


Tiara panik saat mobil Barra akan melaju. "Zayden di sini dulu sama Cika. Itu mamanya Cika datang! Mama harus mengejar mobil yang membawa kakak kamu pergi," ujar Tiara dengan cepat.


Zayden mengangguk mengerti, ia melihat kepergian mamanya dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Kenapa kalian di sini gak menunggu di sana?" tanya Tri dengan cemas.


"Mama, Zayyen dibawa pergi oleh orang asing dan tante Tiara sedang mengejarnya," ucap Cika.


"Apa? Kalau begitu Zayden pulang sama tante ya," ucap Tri dengan lembut. Pantas saja ia melihat Tiara kembali melajukan mobilnya tanpa membawa Zayden ternyata ini alasannya. Tri menjadi kasihan dengan Tiara, pasti rasanya sangat menyesakkan hati jika menjadi Tiara.


"Iya, Tante!" ucap Zayden pelan.


Sedangkan Tiara terus mengejar mobil Barra yang melaju dengan kencang. "BARRA BERHENTI! KEMBALIKAN ZAYYEN!" teriak Tiara dengan keras.


Zayyen melihat ke arah belakang. Ia menjadi takut sendiri melihat mobil Barra dan Tiara saling mengebut.


"Pa, berhenti!" ucap Zayyen dengan cepat.


Barra menggeleng tegas. Ia tidak akan berhenti sedikit pun, Barra menyeringai sinis menatap dari kaca spion jika mobil Tiara masih mengejarnya.


"Papa gak akan melepaskan kamu lagi, Zayyen! Kamu juga gak bahagia tinggal bersama dengan mereka, kan? Papa akan membawa kamu ke tempat yang paling jauh agar Tiara dan Zidan gak bisa menemukan kamu," ucap Barra dengan tegas.


"BARRA KEMBALIKAN ANAKKU!" teriak Tiara dengan marah. Tangan Tiara begitu kuat memegang stir mobil, emosinya kembali datang menguasainya.


"Bajing*n kamu Barra!" umpat Tiara lebih tepatnya alter ego Tiara yang sedang marah.


Tiara menambah kecepatan mobilnya kembali untuk bisa mengejar mobil Barra.


"Kamu gak akan bisa mengambil Zayyen dariku Tiara!" gumam Barra dengan sinis.

__ADS_1


"Pa, aku turun aja!" ucap Zayyen yang kasihan kepada Tiara.


"GAK ZAYYEN! KITA AKAN PERGI JAUH DARI SINI TAPI TUNGGU! SEBELUM KITA BENAR-BENAR PERGI PAPA HARUS MELENYAPKAN TIARA!" ujar Barra dengan tajam nada bicaranya mulai meninggi yang membuat Zayyen sedikit takut.


"Ini saatnya!" ujar Barra menyeringai seperti iblis.


"Apa yang Papa lakukan?" tanya Zayyen dengan panik saat Barra membanting stir ke arah kiri saat ada truk yang melaju dengan kencang di depan mereka.


Tiara panik. Rem mobilnya blong, ia tidak bisa menghentikan mobilnya. Hingga tabrakan itu tidak bisa dihindari lagi. Suara tabrakan itu terdengar sangat nyaring sekali.


Brakkk...


Brakk....


"MAMA!" teriak Zayyen dengan keras saat melihat dengan mata kepalanya sendiri mobil mamanya terseret oleh truk hingga hancur.


Zayyen membuka pintu mobilnya dengan cepat.


"Mau kemana kamu Zayyen? Kamu di sini saja! Mama kamu sudah mati!" ucap Barra dengan tersenyum sinis.


"PAPA JAHAT! PAPA PEMBUNUH! AKU MAU MENEMUI MAMA!" teriak Zayyen berurai air mata.


"ZAYYEN!"


Shitt..


Barra mengumpat dengan kasar saat Zayyen keluar dari mobilnya. "Hahaha Tiara pasti sudah mati!" ucap Barra tersenyum licik.


"A-aku pembunuh?!" ucap Barra dengan bergetar. Saat mendengar suara sirine mobil polisi Barra di landa ketakutan.


-E-enggak aku bukan pembunuh!" ucap Barra dengan takut.


Barra melajukan mobilnya meninggalkan Zayyen begitu saja. Ia ketakutan, bayangan dirinya yang telah membuat rem mobil Tiara blong membuat Barra ketakutan setengah mati hingga akhirnya ia pergi begitu saja meninggalkan Zayyen yang menangis dan syok dengan kejadian yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana mobil mamanya menghantam truk besar hingga remuk.


Tubuh Zayyen mematung saat mendekat ke mobil Tiara yang sudah dipenuhi banyak orang yang sedang membantu mengeluarkan mamanya dari dalam sana.


"M-mama!" gumam Zayyen dengan bergetar.


"Dek awas!" ucap seorang lelaki yang sedang menggotong tubuh mamanya yang berumur darah.


"MAMA!" teriak Zayyen dengan histeris


Tubuh mengenaskan Tiara di letakkan di aspal sebelum ambulance datang. Zayyen terduduk dengan kakinya yang amat terasa lemas.


"Ma, ini Zayyen!" ucap Zayyen dengan pelan. Anak kecil itu begitu terguncang melihat banyaknya darah yang mengalir dari kepala mamanya.


Orang-orang di sama mencoba menenangkan Zayyen tetapi Zayyen terus berteriak memanggil Tiara.


"MAMA JANGAN TINGGALKAN ZAYYEN! BANGUN, MA!" teriak Zayyen dengan histeris.


Zayyen trauma! Zayyen menyesal karena pergi dengan Barra.


Tangan kiri Tiara bergerak perlahan. Tetapi ia sudah tidak merasakan apapun pada tangan kanannya, Tiara mencoba membuka matanya. "M-mama s-sayang Z-zayyen," gumam Tiara dengan terbata.


Kepala sangat sakit sekali hingga rasanya ingin pecah.


Uhuk...uhuk...


Tiara terbatuk dan muntah darah di hadapan Zayyen.


"Z-zayyen sayang mama! Zayyen janji gak akan pergi lagi, Ma!" ucap Zayyen menangis.


Tiara tersenyum. Ia sudah tidak kuat menahan rasa sakit pada kepalanya. "AARGHHH....." Tiara berteriak kesakitan setelah itu Tiara kembali memejamkan matanya yang membuat Zayyen histeris.


"MAMA!"

__ADS_1


__ADS_2