
...Jangan lupa ramaikan part ini...
...Happy reading...
***
3 bulan kemudian....
Tepat pada pukul 3 pagi Tri terbangun dari tidurnya karena kontraksi yang ia rasakan. Sebenarnya kontraksi tersebut sudah Tri rasakan sejak sore, namun ia masih bisa menahannya agar Fathan tidak terlalu mengkhawatirkan keadaannya.
Tri bersandar di kepala ranjang sambil mengatur napas yang sudah Fathan ajarkan kepadanya sejak lama. Beruntung sekali ia mempunyai suami yang berprofesi sebagai dokter kandungan karena pasti Fathan lebih mengerti dirinya yang sedang hamil.
Tri mencoba membangunkan Fathan yang baru saja tidur jam 12 malam karena kerewelannya yang tak bisa tidur karena posisi perutnya yang sudah di bawah dan sesak yang ia rasakan.
"M-mas bangun! Perutku sakit!" gumam Tri depan pelan.
Belum ada pergerakan sama sekali di diri Fathan karena memang lelaki itu sangat terlihat lelap sekali.
Tri menepuk lengan Fathan sedikit kuat. "Mas aku mau melahirkan!" ucap Tri menahan sakitnya.
Fathan yang samar-samar mendengar suara istrinya mencoba bangun. Fathan langsung menatap istrinya dengan pandangan cemas.
"Kenapa? Kontraksi lagi, Sayang?" tanya Fathan mencoba tenang. Walaupun dirinya adalah dokter kandungan yang sudah sering memeriksa pasien dan membantu pasien melahirkan tetap saja jika istrinya sendiri yang ingin melahirkan rasanya sangat berbeda, ada kecemasan sendiri yang tak bisa Fathan jabarkan, yang jelas sekarang Fathan masih mencoba untuk tenang seperti biasanya ketika menghadapi pasien.
Tri mengangguk dengan meringis kecil. "Sakitnya udah mulai intens," ucap Tri dengan pelan.
"Mas periksa pembukaan dulu ya. Setelah itu kita langsung ke rumah sakit," ucap Fathan dengan tenang walau hatinya terus berdetak tak karuan.
Tri mengangguk dengan pelan. Ia hanya memperhatikan suaminya saat Fathan sudah di hadapannya dan melepas celananya, Tri hanya bisa menahan napasnya saat jari Fathan mulai memeriksa pembukaannya.
"Rileks, Sayang!" ucap Fathan dengan lembut.
Keringat sudah bercucuran di dahi Tri. Fathan melihat ke arah istrinya. "Sudah pembukaan 7, Sayang. Kamu masih bisa tahan? Atau mau melahirkan di rumah aja? Nanti Mas suruh suster datang ke rumah membawa alat-alat medis yang Mas perlukan," ucap Fathan dengan lembut menyeka keringat Tri dengan pelan.
"Di rumah aja, Mas! Lebih nyaman," gumam Tri dengan pelan.
Fathan menganggukkan kepalanya. Memang semua sudah ia pertimbangkan sejak usia kandungan Tri memasuki bulan ke 7. Karena Tri dan kedua anaknya terlihat baik-baik saja, dan bisa untuk melahirkan normal.
"Mas telepon rumah sakit dulu ya!" ucap Fathan yang di angguki oleh Tri.
Fathan mengambil ponselnya tetapi tatapannya terus tertuju pada Tri yang terlihat meringis pelan, tangan Fathan yang satunya membantu Tri untuk berdiri dan berjalan di dalam kamar untuk membantu kontraksi istrinya agar lebih cepat.
"Sus, datang ke rumah saya dan bawa semua alat medis yang saya perlukan. Istri saya mau melahirkan," perintah Fathan dengan tegas.
__ADS_1
"Baik, Dok!" ucap suster Pipit dengan cepat karena dari nada atasannya, suara Fathan terlihat gemetar walau terkesan tenang.
Setelah selesai menelepon suster Pipit. Fathan mematikan ponselnya ia melihat ke arah Tri yang sedang berjalan dengan berpegangan tembok.
"Mas panggil bapak dan ibu dulu ya. Biar mereka yang menjaga kamu sebentar, Mas mau ambil infus di ruang kerja," ucap Fathan dengan pelan.
Tri menarik napasnya dengan perlahan. "Jangan lama ya, Mas. S-sakit," ujar Tri dengan mata yang berkaca-kaca.
Fathan mengangguk. Ia dengan cepat keluar dan memanggil kedua mertuanya yang memang sudah ada di rumahnya sejak dua minggu yang lalu. Karena Fathan yang memang menyuruh mertuanya datang untuk menemani Tri saat dirinya bekerja sekaligus menemani Tri melahirkan.
Tak lama setelah itu ibu dan bapak Tri sudah datang, keduanya menatap Tri dengan cemas.
"Kamu mau melahirkan, Ndok? Nak Fathan tadi yang membangunkan ibu dan bapak," ucap Bu Harni membantu anaknya berjalan tak lupa pak bagus juga membantu di sebelah kiri Tri.
"Iya, Bu! Kata mas Fathan sudah pembukaan tujuh. Sakit banget, Bu!" ucap Tri meringis saat gelombang kontraksi itu kembali datang hingga membuatnya sedikit membungkuk.
"Gak mau ke rumah sakit aja?" tanya pak Bayu dengan cemas.
Tri menggeleng. "Gak, Pak. Di rumah aja, Mas Fathan juga bilang gak apa-apa di rumah karena kondisi aku dan anak kami baik-baik aja," sahut Tri yang diangguki oleh bu Harni dan pak Bagus karena pastilah Fathan lebih mengetahui tentang kondisi istrinya bahkan USG rutin selalu Fathan lakukan untuk mengecek kondisi dan posisi anaknya dari bulan ke bulan.
Fathan datang dengan membawa berbagai peralatan infus di belakangnya ada suster Pipit yang sudah datang bersama dengan perawat laki-laki yang membantu suster Pipit membawa alat yang Fathan perlukan.
"Bu, tolong letakkan ini di kasur," ucap Fathan meminta tolong pada mertuanya untuk meletakkan kain tambahan yang agar darah istrinya tidak mengenai kasur nanti.
Kini, yang ada di dalam kamar hanya ada Fathan, Tri, bu Harni, dan suster Pipit. Fathan sebisa mungkin membuat istrinya nyaman. Infus sudah terpasang di tangan Tri.
"S-sakit Mas! Arghh.." ucap Tri dengan mengatur napasnya.
"Iya, Sayang. Rileks ya. Tarik napas dan hembuskan dengan perlahan, seperti yang Mas ajarkan agar menghindari robekan. Jangan mengejan dulu ya, kamu masih ingat merode tiup-tiup yang Mas ajarkan agar persalinan tidak terlalu terasa sakit?" ucap Fathan dengan lembut sambil mengelus punggung istrinya. di sisi kiri Tri ada ibu Harni dan di sisi kanan Tri ada suster Pipit, sedangkan Fathan sudah memposisikan dirinya di hadapan sang istri memantau pembukaan Tri.
Sedangkan Cika, calon kakak itu masih terlelap di kamarnya. Fathan sengaja tak membangunkan sang anak agar tidak terjadi keributan yang membuat ia dan yang lainnya panik.
Tri mengerti. Hal ini sudah ia pelajari dari suaminya sejak lama, jadi Tri paham. Dan banyak juga para pasien Fathan yang berhasil melahirkan tanpa adanya robekan. Tetapi Tri sedikit pesimis karena ia akan melahirkan anak kembar.
"Sudah membukaan sepuluh, Sayang. Ayo kita mulai. Tarik napas dan tiupkan perlahan, lakukan berulang-ulang ya!" intruksi Fathan pada istrinya.
Tri melakukan apa yang diperintahkan Fathan. Keringat dingin muncul di dahinya dan dengan sigap suster Pipit mengelapnya dengan tisu.
"Huuuuu...huuuu..."
"Bagus, Sayang. Ayo lakukan lagi kepala anak kita sudah keluar," ujar Fathan dengan tersenyum saat melihat kepala anaknya muncul.
"Huuuuu...huuu...huuu..."
__ADS_1
Tri terus melakukan apa yang diperintahkan suaminya hingga suara bayi memecahkan heningnya malam.
Fathan tersenyum dan setelah itu membersihkan anaknya dari darah yang menempel di tubuh sang anak. Ia mengendong anaknya. "Hallo baby boy. Tangisanmu sangat kencang sekali," ucap Fathan berkaca-kaca.
Tri tersenyum begitu pun dengan bu Harni. Tri tampak lelah tetapi rasa semangatnya kembali berkobar saat melihat wajah anaknya. Fathan langsung memotong tali pusar anaknya. Dan dengan sigap suster Pipit mengambil ahli anak atasannya tersebut.
"Tampan sekali, Bu!" ucap Suster Pipit yang membuat Tri tersenyum mengelus pipi anaknya.
Tri merasakan kontraksi kembali datang. "M-mas sakit!" ucap Tri mencekeram tangan ibunya dengan kuat.
Fathan sigap. "Lakukan seperti tadi, Sayang!" ucap Fathan yang diangguki oleh Tri.
Tri kembali menarik napasnya dengan perlahan dan mengeluarkannya dengan perlahan juga. Hal itu Tri lakukan berulang-ulang hingga 15 menit kemudian terdengar suara bayi yang sangat keras seperti tadi.
"Halo baby girl cantik sekali," ucap Fathan dengan sudut mata yang berair. Akhirnya anak kembar sepasang dirinya dan Tri sudah lahir ke dunia.
Tri bisa bernapas lega saat rasa sakit yang ia rasakan tadi sudah terbayar dengan kelahiran kedua anaknya.
Fathan melakukan hal yang sama kepada anak perempuannya. Setelah tali pusarnya sudah ia potong Fathan memberikan anaknya kepada Tri untuk ia letakkan di dada istrinya. Kini kedua bayi kembar berbeda jenis kelamin itu sudah tenang di dekapan ibunya.
Sebelum mengazankan kedua anaknya. Fathan membersihkan Tri terlebih dahulu, benar saja tak ada robekan di sana.
"Sayang, mau dijahit gak biar rapet lagi?" tanya Fathan dengan jahil dan mata yang mengerling nakal.
"Masss!! Ada ibu!" ucap Tri dengan malu.
Ibu Harni hanya bisa tertawa geli melihat kem*suman menantunya. Sedangkan suster Pipit hanya bisa tersenyum malu, ternyata dokter yang selama ini terkenal dingin menyimpan sebuah rahasia yang hanya diketahui istrinya yaitu m*sum.
Fathan terkekeh. Sedangkan Tri mengalihkan tatapannya, ia lebih memilih menatap kedua anaknya yang mencari kehangatan kepadanya.
"9 bulan Mama mengandung kalian ternyata lahir mirip Papa semua," gumam Tri dengan terkekeh.
"Iya benar. Mirip Nak Fathan semua, Tri gak kebagian satu pun," ucap Bu Harni yang mengundang gelak tawa Fathan.
"Berarti anak ibu sangat mencintai saya!" ucap Fathan dengan pedenya.
"Kamu tidak? Jadi, siapa yang dengan percaya dirinya mendatangi ibu dan bapak untuk meminta restu?" tanya Bu Harni.
Fathan terkekeh. "Iya saya, Bu. Saya sangat mencintai anak ibu," ujar Fathan dengan tulus.
Setelah selesai membersihkan Tri, Fathan menggendong anak pertamanya dan mulai mengazani anaknya bergantian dengan anak keduanya. Bertambahlah sudah kebahagiaan mereka dan pasti saat Cika bangun tidur, anaknya itu akan kaget setelah melihat kedua adiknya sudah lahir.
"Selamat datang di dunia anak-anak Papa dan mama!"
__ADS_1