
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...📌Dukung terus cerita baru author "Suami Bayaran Nona Rania"...
...*...
...*...
...Happy reading...
***
Fiona bangun lebih awal karena Akbar tak enak badan sejak semalam, ia merasakan suhu badan Akbar sangat panas menjelang subuh yang membuat Fiona langsung terbangun.
"Papi!" panggil Fiona dengan pelan.
Akbar membuka matanya dengan perlahan, ia menatap istrinya dengan pandangan yang sangat berbeda, kosong sekali dan itu membuat Fiona sangat khawatir dengan keadaan suaminya.
"Papi kita ke rumah sakit ya!" ujar Fiona dengan cemas.
"M-mi, jaga diri baik-baik ya! P-papi gak bisa selamanya jaga Mami," gumam Akbar dengan lirih.
"Papi ngomong apa sih? Sebentar ya Mami panggil anak-anak dulu," ujar Fiona dengan menahan tangisnya, pikirannya sudah buruk sekali dengan keadaan suaminya.
"Sebentar ya, Pi!" ujar Fiona dengan pelan.
Fiona turun dari kasur dengan perlahan. Ia keluar dari kamar untuk memanggil semua anak dan menantunya karena semalam semua menginap di rumah ini menjaga Akbar yang sakit.
"Danish, Daniel, Dareel, Delisha, cepat keluar, Nak!" panggil Fiona dengan suara yang sudah bergetar menahan tangisnya.
Danish, Daniel, Dareel langsung membuka pintu kamar mereka diikuti oleh istri-istri mereka dan terakhir Delisha yang di bantu Ikbal berjalan karena kakinya membengkak.
"Ada apa, Mi? Kenapa pagi-pagi gini muka Mami kelihatan panik!" tanya Danish dengan lembut.
"Mami tenang ya. Ada apa cerita sama kami?" tanya Daniel dengan pelan.
"Badan Papi panas banget. Ayo kita bawa ke rumah sakit! Mami takut," ujar Fiona yang membuat semuanya langsung panik dengan perasaan yang tidak enak.
"Sayang tenangkan Mami sebentar. Aku mau melihat keadaan Papi," ujar Dareel kepada Mikaela.
"Iya, Mas!"
Semua berjalan ke arah kamar Fiona dan Akbar. Delisha tampak panik dan selalu bergumam semoga papinya baik-baik saja.
__ADS_1
Fiona di tenangkan oleh ketiga anak menantu mereka karena Delisha juga di tenangkan oleh Ikbal.
"Papi!" panggil Danish dengan pelan.
"Kita ke rumah sakit yuk, Pi. Danish bantu jalan biar Papi cepat sembuh," ujar Danish dengan pelan.
"K-kaki Papi tidak bisa digerakkan, Nish!" jawab Akbar dengan terbata karena ia merasa kesulitan berbicara.
Daniel membuka selimut yang menutupi tubuh papinya. "Coba gerakin perlahan, Pi!" ujar Daniel dengan pelan.
Akbar berusaha menggerakkan kakinya tetapi tidak bisa. Akbar menggelengkan kepalanya yang membuat semua anaknya menatap sendu apalagi Fiona.
"Gendong Papi, Nak. Ayo bawa Papi sekarang ke rumah sakit!" ujar Fiona dengan panik.
"Papi pasti sembuh ya! Sembuh demi Delisha ya!" ujar Delisha dengan lirih.
Akbar hanya tersenyum tipis. "P-papi sayang banget sama Delisha. Princess papi! Sebelum ke rumah sakit Papi mau bilang ke anak-anak Papi semuanya. Tolong jaga Mami dengan segenap jiwa dan raga kalian ya karena tak selamanya Papi bisa menjaga Mami. Papi takut gak bisa bicara ini ke kalian sesampainya di rumah sakit nanti," gumam Akbar yang membuat pikiran buruk istri dan anak-anak Akbar membuat hati mereka tidak tenang sama sekali.
"Papi, kami akan selalu jaga Mami dan Papi dengan senang hati. Papi gak pernah khawatir ya," ujar Daniel dengan tersenyum.
"Kak ayo bopong Papi!" ujar Daniel.
"Pelan-pelan, Kak!" ucap Ikbal dengan cemas memeluk istrinya.
Danish, Daniel, dan Dareel menggendong Akbar dengan perlahan. Mata Akbar tak pernah lepas dari wajah istrinya, seakan ingin mengatakan jika Fiona tak boleh menangis karena dirinya tetapi entah mengapa suaranya sulit sekali di keluarkan.
"T-tapi papi gak bisa jalan. Mami takut sekali," gumam Fiona yang membuat Delisha sedih.
"Papi gak akan meninggalkan kita kan, Mi?" tanya Delisha dengan sangat takut.
"Enggak, Sayang. Kita berdo'a ya untuk kesembuhan Papi," ujar Fiona mencoba menenangkan anaknya walaupun ia sendiri sangat takut sebenarnya.
Delisha berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Mereka berjalan mengikuti Danish, Daniel, dan Dareel yang menggendong Akbar.
Mereka menggunakan dua mobil untuk berangkat ke rumah sakit. Tentu saja dengan Fiona yang terus menemani suaminya bahkan sebenarnya Fiona tidak tidur dengan nyenyak semalam.
"Sayang tenangkan diri kamu ya!" ujar Ikbal dengan lembut karena tak ingin terjadi sesuatu dengan istri dan ketiga anaknya.
"Iya tenang ya, Dek!" ujar Mikaela yang menggendong Deon karena anaknya itu masih tertidur. Mikaela tak mungkin meninggalkan anaknya begitu saja karena takutnya Deon akan menangis ketika bangun tidak ada dirinya.
"Aku yakin Papi akan baik-baik saja," ujar Keisya yang mencoba memenangkan hatinya.
Naura mengelus pundak adik ipar sekaligus sahabatnya. Naura sangat tahu bagaimana Delisha sangat menyayangi kedua orang tuanya, wajar saja jika Delisha bersikap sepanik ini tapi Naura juga khawatir karena Delisha sedang hamil.
***
__ADS_1
Akbar sudah di tangani oleh dokter di ruangan UGD. Fiona dan semua anaknya menunggu dengan cemas bahkan mereka masih memakai pakaian tidur mereka, terburu-buru untuk mengantarkan Akbar ke rumah sakit membuat semuanya tak mempedulikan pakaian mereka seperti apa.
"Fiona!" panggil Fathan dengan pelan.
Fathan dam yang lainnya langsung ke rumah sakit miliknya setelah mendapatkan kabar jika Akbar masuk rumah sakit.
"Apa yang terjadi?" tanya Fathan memeluk adiknya dengan sayang bahkan Fiona menangis di pelukan kakak kandungnya.
"Semalam Papi demam, Pakde. Dan pagi ini kakinya sudah tidak bisa digerakkan bahkan saat di perjalanan tadi Papi sudah tidak bisa ngomong," jawab Danish dengan sendu.
"Ya Allah... Ma, tolong peluk Fiona sebentar Mas mau masuk untuk melihat keadaan Akbar," ujar Fathan pada istrinya.
"Iya, Pa!" sahut Tri dengan pelan.
Fiona hanya sebentar memeluk Tri karena sepertinya ia ingin bersama dengan anak-anaknya.
"Mami gak boleh berpikir macam-macam ya. InsyaAllah Papi pasti sehat," ujar Danish memeluk maminya dengan erat menenangkan sang Mami yang terlihat terpukul sekali.
"Mami jangan nangis!" ujar Nadine dengan sendu.
"Papi Akbar pasti sembuh," ujar Nadine dengan mata berkaca-kaca karena ia tidak bisa melihat orang bersedih.
Tak lama saat Fathan masuk ke ruang UGD brankar di mana Akbar berbaring di bawa keluar.
"Kak, Mas Akbar mau di bawa kemana?" tanya Fiona dengan menangis saat melihat kondisi suaminya.
"Kita harus memindahkan Akbar ke ruang ICU keadaannya benar-benar tidak stabil kalian berdo'a lah!" ujar Fathan yang membuat hati semua orang tak menentu.
"Mas!" panggil Fiona dengan menangis tetapi Akbar hanya bisa menatap Fiona tanpa bisa berbicara.
Mata Akbar benar-benar kosong yang membuat Fiona dan lainnya tak sanggup melihat kondisi Akbar yang sekarang.
Fiona dan yang lainnya mengikuti brankar Akbar dengan perlahan, mereka hanya bisa menatap Akbar dari balik jendela kaca saat tubuh Akbar mulai di pasang alat untuk mendeteksi detak jantung entah apa yang terjadi pada Akbar yang jelas mereka semua sangat takut kehilangan Akbar.
"Fio, apa Akbar ada jatuh?" tanya Fathan dengan pelan.
"Enggak, Kak. Pagi kemarin mas Akbar baik-baik saja cuma dia bilang dadanya sedikit sakit terus malamnya badan mas Akbar panas sampai sekarang. Fio pikir demam biasa," ujar Fiona dengan suara bergetar.
"Kamu yang sabar ya! Tekanan darah Akbar sangat tinggi mungkin itu penyebab kakinya tidak bisa di gerakkan dan terjadi pembengkakan jantung," ujar Fathan yang membuat Fiona lemas.
"Gak mungkin!" ujar Fiona dengan berlinang air mata.
"DOKTER KEADAAN TUAN AKBAR SEMAKIN BURUK. TIBA-TIBA TUAN AKBAR TIDAK SADARKAN DIRI!"
"Papi!!" teriak Delisha dengan panik.
__ADS_1
Semua orang tampak panik saat melihat dokter khusus yang menangani Akbar mulai berdatangan. Ini mendadak sekali bagi Fiona dan anak-anaknya, rasanya mereka belum siap jika harus kehilangan Akbar.