
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
***
Pagi ini entah mengapa Zayyen mau keluar dari kamarnya sejak semalam terdiam dan termenung di kamarnya seorang diri karena Zayden tidur bersama dengan Zidan di sofa sedangkan Tiara di kamarnya sendiri. Bukan Zidan tak mau menemani anaknya tetapi ia memberikan ruang untuk Zayyen agar paham dan mengerti jika ia adalah anak dari dirinya dan Tiara.
Zayyen terus merenung menatap foto dirinya dan Tiara. Ia terus mencari sesuatu di kamarnya dan Zayyen menemukan berbagai banyak hadiah ulang tahun di dalam lemari. Zayyen membukanya dan yang membuat hatinya sedikit melunak adalah tulisan Tiara di dalam kotak kado berisikan baju bayi.
'Maafkan Mama yang gak bisa merawat kalian! Semoga kalian bahagia sampai waktunya tiba kita akan berkumpul kembali. Mama ingin sekali melihat kalian memakai baju pemberian Mama! Selamat ulang tahun yang pertama anak-anak Mama'
Tiara yang melihat Zayyen keluar dari kamarnya tersenyum bahagia. Bahkan Zayyen duduk di kursi makan bersamaan dengan kedua orang tuanya dan kembarannya.
"Sudah merenungnya semalam? Apa yang kamu dapatkan?" tanya Zidan mengelus kepala anaknya dengan sayang.
Zayyen terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa, semuanya mendadak bagi Zayyen yang membuat hati kecilnya belum bisa menerima orang tuanya sepenuhnya.
"Kalau kamu gak bisa jawab gak apa-apa! Yang terpenting kamu mau keluar dan makan bersama Papa, mama, dan Zayden!" ucap Zidan mengalah.
"Kamu suka ikan, kan? Mama tahu kamu alergi seafood seperti Mama," ucap Tiara yang membuat Zayyen terkejut. Selama ini yang tahu dirinya alergi seafood adalah Barra dan Rose, jadi Zayyen masih merasa tidak terbiasa dengan semuanya.
Tiara mengambil sarapan untuk ketiga pria tampan di depannya dan memberikannya dengan perlahan.
"Makasih, Ay!"
"Makasih, Ma!"
Zidan dan Zayden berbarengan mengucapkan kata terima kasih untuk wanita cantik yang sudah membuat keduanya bahagia sedangkan Zayyen masih diam dengan wajah dingin dan datarnya, rasanya ia masih enggan berada tengah-tengah mereka.
"Kak bilang makasih sama mama!" ucap Zayden dengan cepat melihat raut wajah sedih mamanya.
"Makasih T-tante," ucap Zayyen sangat pelan nyaris tak terdengar tetapi ketiganya masih bisa mendengar dengan baik.
"Mama, Kak! M-a-m-a!" ucap Zayden penuh penekan.
"Jangan dipaksa kakak kamu, Zayden! Mungkin dia belum terbiasa memanggil Mama!" ucap Tiara dengan tersenyum kecut.
"Jangan dimasukkan hati, Ay! Kita tahu Zayyen butuh waktu," gumam Zidan menggenggam tangan Tiara erat.
Tiara mengangguk. "Ayo makan!" ucap Tiara mencoba tersenyum lebar.
"Aku mau sekolah!" ucap Zayyen yang membuat Tiara meletakkan sendoknya kembali.
__ADS_1
"Selama kamu belum bisa menerima Mama dan Papa kamu akan homeschooling! Nanti Mama akan menyuruh guru kamu ke sini!" ujar Tiara dengan tegas.
"Enggak! Aku mau sekolah seperti biasa!" ujar Zayden dengan tajam.
Tiara geram. "Kali ini kamu bisa dengarkan Mama gak? Sekali Mama bilang gak ya gak!" ucap Tiara dengan tajam.
Prankk....
Zayyen melempar gelas ke lantai. Ia tidak suka jika ada yang menghalangi niatnya untuk sekolah selama ini Zayyen lebih suka belajar walau ia lebih sering menyendiri dibandingkan bermain dengan teman-temannya.
Brakkk...
"Mama punya rasa sabar Zayyen! Selama ini Mama sabar untuk menanti jika kita akan bersama kembali. Kamu tahu apa yang Mama rasakan jika kamu sekolah seperti biasa? Mama takut Barra dan Rose akan mengambil kamu dari Mama! Kamu paham gak ketakukan Mama! Mama gak banyak meminta sesuatu dari kamu! Hanya ingin kamu memanggil Mama dengan tulus!" teriak Tiara dengan keras.
"M-mama! A-aku janji akan bersama m-mama kalau aku boleh sekolah seperti biasa," ujar Zayyen dengan terbata.
Zidan menghampiri Tiara. "Yang tenang Ay! Zayyen bisa takut sama kamu! Kita izinkan saja Zayyen sekolah seperti biasa! Kalau Barra dan Rose macam-macam kita lapor polisi saja," ucap Zidan menenangkan anaknya.
Sedangkan Zayden melihat ke arah kembarannya. Ada rasa iba saat melihat Zayyen dimarahi oleh mamanya tetapi Zayden tidak bisa melakukan apa-apa selain berdoa jika semua akan kembali membaik.
Tiara menghembuskan napasnya dengan kasar. "Besok kamu boleh sekolah. Mama dan papa yang akan mengantarkan dan menjemput kamu dan Zayden!" ucap Tiara mengalah. Hatinya sedikit luluh saat Zayyen memanggilnya dengan sebutan 'mama' satu kata yang sangat berarti di hidup Tiara saat ini bahkan ia tidak lagi memikirkan bagaimana caranya menikah dengan Fathan karena yang ada pikirannya hanya ada Zayyen dan Zayden.
"Maafkan Mama!" gumam Tiara memeluk Zayyen yang masih diam enggan membalas pelukan mamanya. Semua yang Zayyen lakukan hanyalah sebuah keterpaksaan agar ia bebas sekolah tanpa dilarang oleh mama dan papanya. Artinya ketika Zayyen memanggil Tiara dengan sebutan mama itu tidak tulus dari dalam hatinya. Entah sampai kapan Zayyen bisa menerima Tiara yang jelas saat ini ia belum bisa menerima.
Papa Ezra perlahan membuka matanya yang terasa pening. Ia menatap sekelilingnya dengan terkejut, tempat ini sangat gelap dan terasa pengap hingga cahaya mulai tampak saat terdengar pintu terbuka.
"Siapa kalian?" tanya Papa Ezra dengan panik saat melihat tiga orang berjalan ke arahnya. Ia belum bisa melihat wajah ketiga orang tersebut.
Papa Ezra masih bingung kenapa ia bisa berada di sini. Sebelumnya ia dan sang istri ingin bertemu dengan Sabrina dan membicarakan soal Tiara! Papa Ezra dan mama Erlin sudah mengetahui jika Tiara sudah berkumpul dengan kedua anaknya, mereka bermaksud ingin memisahkan ketiganya karena mereka tak ingin publik tahu jika Tiara mempunyai anak di luar nikah. Ini sangat memalukan sekali! reputasinya bisa hancur karena Tiara dan kedua anak haramnya.
"Siram mereka!" ujar seseorang yang suaranya sangat dikenali oleh papa Ezra.
"Tiara itu kamu?" tanya Papa Ezra dengan dingin.
Byurr...
Byurr..
Guyuran air di dalam ember yang dilemparkan oleh kedua orang berbadan kekar kepada kedua wanita yang masih menutup matanya membuat Tiara puas saat keduanya terbangun dengan keadaan yang sangat syok.
"Sayang sekali Papa sudah bangun. Padahal aku ingin membangunkan Papa seperti mereka!" ucap Tiara mendekat ke arah papanya.
Papa Ezra menatap waspada ke arah Tiara. Ini bukan Tiara yang selama ini ia kenal, wajah Tiara terlihat begitu tajam ketika menatapnya.
__ADS_1
"Tiara, apa yang kamu lakukan? Lepaskan Mama! Kamu memang kurang ajar sekali!" ujar Mama Erlin dengan marah, tubuhnya sudah basah akibat di siram dengan air hingga membuat dirinya syok bukan main.
"Aww...aku takut sekali," ejek Tiara yang membuat kedua lelak berbadan kekar yang bersama Tiara tertawa.
"Lepaskan kami Tiara! gue bisa laporkan lo ke polisi!" teriak Sabrina mencoba melepaskan tangannya yang diikat dengan kencang. Sabrina tidak tahu mengapa dirinya bisa di sekap oleh Tiara seperti ini yang jelas ia hanya mengingat saat dirinya pergi ingin menemui kedua orang tua Tiara.
"Polisi? Silahkan aja kalau lo bisa, Sabrina!" ujar Tiara dengan santai.
Tiara mengambil pisau lipat dari kantung jaketnya dan memainkannya di depan ketiga orang tersebut.
"Bagaimana kalau kita bermain-main dulu?" tanya Tiara pada kedua orang suruhannya untuk menculik ketiga orang yang sangat menyakiti hatinya.
"Hahaha itu sangat bagus Nona. Kami ingin mencicipi darah segar mereka," ujar kedua orang tersebut tertawa.
Papa Ezra, mama Erlin, dan Sabrina terlihat ketakutan saat Tiara mendekat ke arah mamanya.
"Ma, aku pikir menjadi anak bungsu akan di sayangi oleh Mama bahkan di manja! Tetapi aku salah, Mama adalah wanita yang membuat aku berpikir ingin melenyapkan Mama!" gumam Tiara di telinga mama Erlin dengan memainkan pisau lipat di leher mamanya.
"J-jauhkan pisau itu dari Mama!" ucap Mama Erlin dengan terbata.
Tiara tersenyum sinis. Alter egonya benar-benar menguasai tubuhnya hingga tak ada belas kasih lagi yang Tiara rasakan.
Tiara mendekat ke arah papanya yang membuat mama Erlin bisa bernapas dengan lega.
Sama seperti yang Tiara lakukan kepada mama Erlin kini Tiara mendekat ke arah papa Ezra. "Seharusnya Papa adalah cinta pertama Tiara! Tetapi Papa adalah orang pertama yang mematahkan hati Tiara!" gumam Tiara dengan lirih setelah itu ia tertawa dengan keras, tawa yang penuh tersirat akan kesakitan.
"APA SALAHKU HINGGA KALIAN TAK MENYAYANGIKU? AKU TAHU SEMUA ORANG TUA PASTI MEMPUNYAI ANAK YANG PALING DI SAYANG TETAPI MEREKA TAK MENAMPAKKANNYA DI HADAPAN ANAK MEREKA YANG LAIN. KALIAN TAHU RASANYA DIBANDING-BANDINGKAN DENGAN KAKAK KANDUNG SENDIRI? RASANYA SANGAT MENYAKITKAN! SEHARUSNYA KELUARGA ADALAH RUMAH YANG PALING NYAMAN TETAPI BAGIKU KALIAN ADALAH NERAKA HINGGA AKU INGIN SEKALI MELENYAPKAN KALIAN! SELAMA INI AKU MENERIMA TETAPI KETIKA SUDAH MENYANGKUT DENGAN ANAK-ANAKKU AKU TIDAK BISA MEMAAFKAN KALIAN LAGI!" teriak Tiara menggelegar yang membuat ketiganya ketakukan.
Tiara mendekat ke arah Sabrina. "Dan kamu sahabat yang aku pikir bisa menjadi teman berbagai ternyata sama saja! Pengkhianat!" ucap Tiara dengan tajam.
Sabrina menatap sinis ke arah Tiara. "Lo wanita lemah! Dan gue satu-satunya wanita yang boleh memiliki Zidan. Lo gak pantas mendapatkan cinta Zidan!" ucap Sabrina dengan berani.
Tiara menatap bengis ke arah Sabrina.
Srek...
"Arrghhh..."
Sabrina berteriak kesakitan saat tangannya di sayat oleh pisau lipat dengan Tiara.
"KATAKAN SELAMAT TINGGAL PADA DUNIA SABRINA!"
"JANGAN!!"
__ADS_1
"ARGHHH..."